Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Kabur dari desa gaib


__ADS_3

Nofan telah berdiri tepat di belakang pemuda itu, secara tiba-tiba Nofan langsung membekap mulutnya dan membawanya ke tengah kegelapan.


"Mmpp" pemuda itu berusaha untuk melepaskan cengkraman kuat tangan Nofan.


Ia terkejut akan perlakukan Nofan yang terdengar tiba-tiba tanpa aba-aba.


"Sstt diam, aku bukan orang jahat, aku akan menyelamatkan mu dari tempat ini" bisik Nofan tepat di telinga pemuda itu.


Serempak pemuda itu langsung diam, ia tidak memberontak dan pasrah Nofan akan membawanya kemana.


Dengan penuh perjuangan Nofan membawa pemuda asing itu pada Alica.


Senyum terukir indah di wajah mulus Alica, ia senang karena Nofan berhasil membawa pemuda itu ke hadapannya dengan selamat.


Nofan melepaskan tangannya yang membekap mulut pemuda itu.


"Kalian siapa?" Tanya pemuda itu ketakutan melihat mereka berdua.


"Kami manusia, sama seperti mu, kami datang untuk menyelamatkan mu. Ayo kamu ikutlah dengan kami, kami akan bawa kamu keluar dari tempat ini" jelas Alica.


"Yang benar kalian manusia" shock pemuda itu tak menyangka ia akan bertemu dengan manusia di alam gaib.


Pemuda itu setengah tak percaya melihat Alica dan Nofan.


"Iya, kami beneran manusia, udah jangan bicara lagi, mending sekarang kita langsung pergi sebelum mereka sadar kalau kamu udah gak ada di sana" ajak Nofan panik.


Serempak kaki mereka berlari meninggalkan tempat itu sejauh mungkin.


Di gelapnya malam mereka berupaya untuk kabur dari desa gaib, di saat semua penduduk tengah menikmati hajatan milik salah satu penduduk.


"Alica, papa menunggu mu di gapura desa, cepatlah kamu ke sini" suara pangeran William terdengar di telinga Alica.


"Eh gais, papa aku bilang kalau dia nunggu kita di gapura. Ayo kita ke sana, papa aku akan nunjukin kita jalan keluar dari tempat ini" tutur Alica dengan kaki terus berlari.


Mereka pun mengangguk, kaki mereka berlari mendekati gapura yang sudah tidak lama lagi.


"Aaaaarrrrggghh"


Terdengar suara teriakan keras, sampai burung-burung pun berterbangan.


Mereka pun panik, mereka menoleh ke belakang yang sepi, di perkirakan teriakan itu tak jauh dari sana.


"Gawat sepertinya mereka sudah tau kalau kita pergi dari sana, ayo buruan kita harus sampai ke gapura itu sebelum mereka nangkap kita" panik Nofan.

__ADS_1


Mereka mempercepat langkah, dari kejauhan gapura telah terlihat.


Senyuman mengambang di wajah Alica."Liat itu gapuranya, ayo kita lebih cepat lagi, kita harus segera sampai di sana sebelum mereka ngejar kita"


Entah mengapa saat detik-detik akan tiba di gapura kaki mereka sulit untuk melangkah, kaki mereka terasa berat, peluh-peluh bercucuran sepanjang perjalanan.


"Kalian mau kemana, tunggu jangan pergi!" Teriak seseorang dari belakang.


Mereka menoleh ke belakang dan terdapat segerombolan orang yang mengejar mereka.


"Gawat, mereka ngejar kita, kita harus cepat-cepat sampai di sana, kita gak boleh ke tangkap sama mereka" panik Nofan makin mengencangkan laju larinya.


Mereka bertiga semaksimal mungkin berlari mendekati gapura yang berada di depan mata.


"Jangan lari, tunggu" teriak seorang nenek-nenek yang tak asing di telinga Alica dan Nofan.


Mereka tak menggubris, mereka fokus ke depan dan terus berlari.


Brukkk


"Arrrrrggh" pekik pemuda itu, terjatuh akibat tersandung batu.


Alica berhenti berlari, melihat pemuda itu yang jatuh ia langsung mendekatinya.


Keringat-keringat dingin bercucuran, jarak antara Alica dan penduduk-penduduk desa begitu dekat.


Mereka panik saat sebentar lagi penduduk desa akan menangkapnya.


Sebelum tangan seorang pria bertubuh kekar menyentuh mereka, mereka keburu lari dengan kencang.


"Ayo ca buruan" teriak Nofan kini telah berada di ambang pintu gapura.


Alica dan pemuda itu dengan sisa tenaga berlari mendekati Nofan.


Setelah berjuang sekeras baja mereka pun telah sampai di tempat tujuan.


Alica, Nofan dan pemuda itu langsung bersembunyi di belakang tubuh pangeran William.


Seketika semua penduduk desa tercengang melihat pangeran William yang berdiri dengan mata tajam tanpa ekspresi.


"Raja" shock mereka saat pangeran William berdiri melindungi ketiga anak manusia.


Serempak penduduk-penduduk desa membungkukkan badan, menghormati pangeran William yang kini telah menjadi raja di wilayah tersebut.

__ADS_1


"Raja kenapa ada di sini?" Terbata-bata nenek begitu terkejut saat raja penguasa alam itu berada di desa kecil dan jauh dari kata mewah.


"Menjemput putri ku" jawab pangeran William.


"P-putri mu" shock mereka akan jawaban pangeran William.


"Ya, gadis bernama biru itu putri ku dan kini ingin kalian jadikan tumbalnya" sebut pangeran William tegas.


Sontak mereka terkejut hebat, mereka saling memandang, mereka tak ada yang tau jika Alica adalah anak dari pangeran jin yang mereka hormati dan mereka takuti.


"T-tidak raja, tidak seperti itu kami cuman-


"Semuanya sudah jelas, tidak perlu kalian mengelak lagi, aku dapat melihat secara langsung bagaimana kalian berusaha keras untuk menghabisi putri ku. Aku sudah memperingati kalian untuk jangan mengganggu putri ku, tapi kalian masih aja membangkang" geram pangeran William.


Mereka semua gugup dan menunduk takut, tak pernah mereka sangka jika Alica adalah anak dari ketua mereka. Anak yang ingin mereka jadikan tumbal merupakan anak dari ketua mereka yang begitu mereka takuti.


"Raja kami sungguh tidak tau kalau Alica adalah putri mu, tolong maafkan kami" sesal pria kekar tersebut.


"Itu bukan alasan, aku sudah pernah memberitahu kalian jika putri ku bermata biru, tapi kalian tetap saja melanggarnya. Untuk itu aku akan beri kalian hukuman berat" tutur pangeran William.


Mata semua penduduk melotot sempurna. Kepala mereka serempak menggeleng dengan wajah panik.


"J-jangan raja, tolong jangan lakuin itu" titah nenek tak mau terkena hukuman.


"Tidak bisa, tindakan kalian sudah sangat fatal dan tidak bisa di tolerir lagi" kecam pangeran William tak ada ampun.


Mereka serempak diam, meski hati mereka mengatakan tidak, namun mulut mereka bungkam. Yang ada di hadapan mereka bukan orang biasa, mereka tak dapat memberontak.


"Sebagai hukumannya desa kalian akan ku kunci, selama 100 tahun kalian tidak akan bisa keluar dari desa ini" lantang pangeran William.


Mereka semua panik, hukuman pangeran William tak main-main.


Pangeran William mengeluarkan kekuatannya.


"Jangan raja" titah mereka panik dan tak mau selamanya terkurung di desa gaib itu.


Splash


"JANGAN" teriak para penduduk terpental jauh ke dalam desa.


Tembakan sihir pangeran William tak mampu mereka tandingi atau mereka elak lagi, walaupun mereka berusaha untuk memberontak.


Desa tersebut di kunci, tidak ada yang bisa masuk, tidak ada yang bisa keluar dan tidak akan ada pula yang bisa merusaknya.

__ADS_1


__ADS_2