Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Bab 63 ( Pertemuan Pak Burhan dengan Bu Ima )


__ADS_3

Pada saat Aisyah dan Raihan ke luar dari kamarnya menuju meja makan, semuanya sudah terlihat berkumpul menunggu mereka berdua.


"Akhirnya kalian ke luar juga, padahal Nenek baru saja mau menyuruh Asisten Rumah Tangga untuk memanggil kalian supaya bergabung di meja makan," ujar Nenek Rose.


"Maaf sudah membuat semuanya menunggu, tadi Aisyah ketiduran," ucap Aisyah yang merasa tidak enak kepada semuanya.


"Tidak apa-apa Nak, Nathan dan Nala juga sekarang sedang tidur siang setelah tadi Nenek menyuapi mereka," ujar Nenek Rose.


"Makasih banyak ya Nek, maaf kalau Aisyah sudah merepotkan."


"Nathan dan Nala adalah Permata bagi keluarga Sanjaya, dan mereka berdua adalah kesayangan kami, jadi Aisyah tidak boleh berkata seperti itu," ujar Nenek Rose, kemudian mengajak semuanya makan.


"Sayang, ini Kak Raihan sudah mengambil nasinya buat kita makan," ujar Raihan dengan memberikan piring yang sudah diisi dengan nasi dan lauk untuk dimakan bersama dengan Aisyah.


"Kenapa piringnya cuma satu Kak?" tanya Aisyah yang terlihat heran.


"Aisyah lupa ya kalau kita selalu makan sepiring berdua semenjak kita kecil," ujar Raihan.


"Maaf ya Kak, Aisyah masih belum mengingat apa pun."


"Tidak apa-apa sayang, Kak Raihan kan sudah bilang kalau kita akan membuat kenangan indah yang baru jika sampai Aisyah tidak mengingat kenangan indah kita dulu," ujar Raihan kemudian menyuapi Aisyah.


"Aisyah bisa sendiri Kak, sebaiknya Kak Raihan makan juga biar badan Kakak kembali gemuk," ujar Aisyah, dan Raihan akhirnya makan dengan lahap setelah beberapa bulan ini nafsu makan Raihan menghilang.


Pak Burhan yang melihat keharmonisan rumah tangga Aisyah merasa bahagia, apalagi keluarga Raihan terlihat sangat menyayangi Aisyah.


Ayah tenang meninggalkan Aisyah bersama orang-orang yang menyayangi Aisyah, meski pun Ayah masih takut jika perempuan paruh baya yang berusaha mencelakai Aisyah akan kembali berbuat nekad. Semoga saja Allah SWT selalu melindungi Aisyah dan keluarga, ucap Pak Burhan dalam hati.


......................

__ADS_1


Keesokan paginya, Pak Burhan pamit kepada Aisyah dan keluarga Sanjaya, meski pun Pak Burhan berat untuk berpisah dengan Aisyah, begitu juga dengan Aisyah yang terlihat terus menangis.


"Nak, kalau ada waktu, Ayah pasti akan berkunjung untuk menengok kalian. Jadi, Aisyah jangan sedih ya," ujar Pak Burhan dengan memeluk tubuh Aisyah.


Biasanya Raihan yang posesif akan selalu cemburu jika melihat Aisyah dekat dengan lelaki lain, tapi Raihan merasa aneh karena dia tidak merasa cemburu melihat Aisyah dan Pak Burhan berpelukan.


Biasanya aku selalu cemburu kalau Aisyah dekat dengan lelaki lain, apalagi Pak Burhan sampai memeluk Aisyah, tapi tumben ya aku gak cemburu, apa karena Aisyah menganggap Pak Burhan sebagai Ayah kandungnya, begitu juga dengan Pak Burhan yang menganggap Aisyah sebagai Anak kandungnya sendiri, batin Raihan kini bertanya-tanya.


"Ayah jaga diri baik-baik ya, semoga Ibu juga cepat sembuh. Aisyah pasti akan merindukan Ibu dan Ayah."


"Begitu juga dengan Ayah yang akan selalu merindukan Aisyah dan keluarga," ujar Pak Burhan.


"Aisyah jangan sedih ya, kapan-kapan kita bisa main ke Kalimantan untuk menemui Ayah dan Ibu," ujar Raihan dengan memeluk tubuh Aisyah.


Akhirnya Pak Burhan meninggalkan kediaman Sanjaya menuju Desa Nelayan, karena Pak Burhan berencana akan menemui Ratna serta meminta maaf kepada Ima atas kesalahan yang telah ia lakukan di masalalu.


Beberapa jam kemudian, Pak Burhan sampai di Desa Nelayan, dan Pak Burhan berniat untuk makan siang terlebih dahulu di sebuah warung makan.


"Permisi Bu, Saya mau pesan Ayam goreng, sambal dan tumisan ya," ujar Pak Burhan.


"Tunggu sebentar ya Pak," ujar pemilik warung yang ternyata adalah Bu Ima.


Bu Ima tidak sempat melihat wajah Pak Burhan, karena sedang sibuk melayani pembeli, sampai akhirnya ketika Bu Ima memberikan piring yang sudah di isi dengan nasi dan lauk, Bu Ima dan Pak Burhan sama-sama terkejut, bahkan piring yang dipegang Bu Ima hendak terjatuh apabila Pak Burhan tidak membantu memeganginya.


"Ima"


"Mas Burhan"


Bu Ima langsung menangis dan hendak masuk ke dalam rumah, karena Bu Ima kembali teringat dengan pengkhianatan yang telah dilakukan oleh Pak Burhan. Akan tetapi, Pak Burhan mencekal pergelangan tangan Bu Ima dan menahannya supaya tidak pergi.

__ADS_1


"Ima, tunggu sebentar, maafkan aku Ima, aku benar-benar minta maaf karena telah mengkhianati pernikahan kita," ucap Pak Burhan dengan menjatuhkan tubuhnya di depan Bu Ima.


"Bangun Mas jangan seperti ini," ujar Bu Ima yang merasa tidak enak karena banyak orang yang melihat mereka.


"Ima, kita harus bicara, aku harus menebus semua kesalahan yang telah aku perbuat di masalalu, apalagi sekarang Neti terkena gagal ginjal, dan Neti juga mengharapkan maaf darimu," ujar Pak Burhan.


Bu Ima nampak berpikir, semua ini terlalu berat untuknya. Setelah beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar, akhirnya Bu Ima kembali angkat suara.


"Sebaiknya kita bicarakan semuanya nanti setelah Mas Burhan makan," ujar Bu Ima yang bersikap setenang mungkin.


Pak Burhan makan dengan perasaan tidak menentu, dan setelah sekian lama akhirnya Pak Burhan kembali merasakan masakan Bu Ima, tapi hati Pak Burhan kini bertanya-tanya karena rasa masakan Aisyah sama persis dengan buatan Bu Ima.


Apa mungkin perempuan yang Aisyah Angga sebagai Ibu kandung Aisyah sendiri adalah Ima? Aisyah pernah bercerita kalau dia sering membantu perempuan tersebut memasak dan menjaga warung makannya, sayangnya aku tidak sempat menanyakan nama orang tersebut. Dulu Aisyah juga kan tinggal di sini, kemungkinan memang Ima orangnya. Kenapa Dunia ini sempit sekali, ucap Pak Burhan dalam hati.


Setelah Pak Burhan selesai makan, Bu Ima pun menutup warungnya, apalagi masakan Bu Ima sudah habis.


"Sebaiknya kita membicarakan semuanya di dalam rumah saja, Mas Burhan juga pasti ingin bertemu dengan Ratna," ujar Bu Ima, kemudian mengajak Pak Burhan ke dalam rumahnya.


Ratna yang selesai Shalat Dzuhur berjamaah bersama Arif begitu terkejut ketika melihat Bu Ima membawa seorang lelaki ke dalam rumah, karena selama ini Ratna belum pernah bertemu dengan Ayah kandungnya, bahkan Bu Ima sudah membakar semua fhoto Pak Burhan.


"Bu, siapa Bapak ini?" tanya Ratna.


"ini adalah orang yang selalu Ratna tanyakan, Bapak yang ada di hadapan Ratna adalah Ayah kandung Ratna," jawab Bu Ima dengan menahan sesak dalam dadanya.


Ratna menangis dengan memeluk tubuh Arif.


"Jangan menangis sayang, kasihan bayi yang ada dalam kandungan Ratna kalau Ibunya menangis," ujar Arif, karena saat ini Ratna sedang hamil dan usia kandungannya sudah tujuh bulan.


"Nak ini Ayah Nak, maafkan Ayah karena dari semenjak Ratna berada dalam kandungan, Ayah sudah meninggalkan Ratna," ucap Pak Burhan.

__ADS_1


Ratna yang merasa marah pada Pak Burhan pun akhirnya angkat suara.


"Lalu kenapa sekarang Anda datang kesini setelah kami tidak membutuhkan Anda lagi?" tanya Ratna dengan menahan sesak dalam dadanya.


__ADS_2