
Pagi harinya.
Alica yang tak tidur sama sekali setelah Anna menghubunginya secepat kilat langsung bergegas mendatangi rumah Nofan.
Alica sudah tau sabar untuk ke rumah Anna, karena hal itu semalam ia tak dapat melanjutkan tidurnya, keresahannya masih tampak jelas di wajahnya.
"Nofan, Nofan bangun, Nofan cepat bangun" Alica berteriak-teriak di kamar Nofan seperti orang kesurupan.
"Fan, fan bangun" teriak Alica lagi.
"Apaan sih ca, ini masih lagi loh, kenapa teriak-teriak, ganggu orang tidur aja" omel Nofan dengan mata terpejam.
Lagi-lagi waktu istirahatnya terganggu dan itu semua gara-gara Alica.
"Fan cepat bangun, kita harus ke rumah Anna lagi, ayo cepat anterin aku ke sana, aku mau ke sana secepatnya" suruh Alica sambil menggoyangkan tubuh Nofan agar pemuda itu bangun dan tidak terus terusan molor.
"Ngapain lagi kamu ke sana, aku gak mau ke sana lagi, di sana itu berbahaya, keluarga mereka itu berbisa, aku curiga sama keluarga mereka, aku merasa ada yang gak beres sama keluarga mereka" sela Nofan.
"Kamu jangan dekat-dekat sama orang yang namanya Anna itu, aku gak suka sama dia, ogah aku ke rumah Anna lagi" tutur Nofan masih merasa janggal pada keluarga Anna yang baik hati.
"Fan, kamu jangan gitu dong, mereka itu baik, mereka gak jahat kok, tapi kenapa kamu segak suka itu sama mereka, apa salah mereka" heran Alica.
Dari pandangan Alica keluarga Anna baik-baik aja, tak ada yang bersikap buruk padanya selama mereka ada di rumah Anna. Tapi tetap aja Nofan tidak menyukai keluarga Anna tanpa sebab.
"Alica, dari awal aku lihat orang yang namanya Anna aku merasa gak srek gitu, aku merasa janggal, tapi gak tau apa yang bikin aku gak suka banget sama keluarga mereka. Apalagi kemarin di makanan aku ada pakunya, aku makin curiga sama keluarga mereka, aku mohon kamu tolong percaya sama aku" balas Nofan.
Nofan berupaya keras agar Alica tak jadi membantu keluarga Anna yang menurutnya aneh.
"Fan, kamu jangan permasalahin hal itu, ayo cepat kita ke sana, tadi malam Anna nelpon aku, dia bilang kalau ibunya meninggal. Ayo kita ke sana, aku mau ke sana, ayo kamu ikut aku juga ke sana" ajak Alica.
Bola mata Nofan terbuka dengan lebar, wajahnya terkejut mendengar kabar tak sedap yang menimpa keluarga Anna.
__ADS_1
"Yang bener aja, masa ibunya Anna meninggal, perasaan kemarin baik-baik aja" kaget Nofan sampai duduk dari tidurnya.
"Iya beneran aku gak boong, ibunya Anna meninggal tadi malam, Anna sendiri yang ngasih tau aku, ayo sekarang cepetan kita ke sana" ajak Alica tak sabaran.
"Bentar aku mau siap-siap dulu" timpal Nofan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Jangan lama-lama" teriak Alica luar.
"Iya" jawab Nofan dari kamar mandi.
Alica menunggu di ruang tamu, berulang kali mata Alica melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya.
"Kemana Nofan ini, dia pergi kemana coba, dia mandi apa semedi, kenapa lama banget" kesal Alica lantaran menunggu tanpa kepastian terus menerus.
"Ayo aku udah siap" ajak pria tampan, berdiri tepat di depan Alica.
"Lama banget sih, udah mau sejam aku nunggu di sini" gerutu Alica meluapkan kekesalannya.
Alica terpaksa memendam amarah dan mengikuti Nofan dari belakang. Mereka berdua meluncur ke rumah Anna dengan menggunakan motor.
Sebelumnya Alica sudah izin terlebih dahulu pada ayahnya mengenai dirinya yang mau ke rumah Anna dan alhamdulilahnya ayahnya mengizinkannya.
Jam saat ini masih menunjukkan pukul 6, jalanan benar-benar sepi sehingga Nofan bisa menguasai jalanan.
"Fan cepetan, kita harus sampai ke sana secepatnya, sebelum ibu Anna di makamin" suruh Alica tak tenang dan ingin segera sampai di lokasi.
"Iya sabar napa, aku ini udah ngebut, kalau makin ngebut lagi itu akan bahaya, ingat keselamatan itu lebih penting ketimbang yang lain" sahut Nofan.
Alica menghela nafas, ingin rasanya dia sendiri yang membawa motor itu dan akan ia tancap gas biar segera sampai di rumah Anna.
Motor yang Nofan kendarai telah memasuki gapura desa Anna, sejak masuk ke sana banyak sekali pohon-pohon yang menjulang tinggi dan hawa desa langsung berubah menjadi agak sedikit gelap serta angker.
__ADS_1
Nofan merasa takut melintasi jalanan yang sepi sekali, tak ada satupun orang yang tampak. Meskipun matahari telah muncul tapi Nofan tetap saja takut.
"Ca, kok gak ada orang ya, kenapa desa ini sepi banget kayak gak ada penghuninya" ucap Nofan membuka suara.
Di sepanjang jalan tak ada satupun batang hidung manusia yang tampak, bulu kuduk Nofan berdiri di tambah lagi dengan udara dingin dan sejuk yang makin membuat suasana terasa angker.
"Palingan orang-orang belum pada bangun, ini masih pagi banget loh, positif thinking aja" jawab Alica santai dan menikmati udara sejuk di pagi hari.
Nofan terus melajukan motornya, walaupun ia merasakan hawa tak nyaman, perasaannya juga mulai tak enak tapi mulutnya tetap saja diam.
Tak lama kemudian motor tersebut berhenti di sebuah rumah yang terpasang bendera kuning.
Orang-orang juga satu persatu memenuhi rumah Anna yang terkena musibah.
Alica turun dari motor dan menatap warga-warga desa yang memenuhi rumah Anna, pandangannya kini jatuh pada seorang gadis yang sebaya dengannya tengah duduk di samping jenazah dengan tangisan yang sesekali terdengar.
"Anna" Alica berlari mendekati Anna yang terpukul karena kehilangan ibunya.
"Alica, Alica ibu huhu" Anna memeluk tubuh Alica, ia tak sanggup melihat ibunya yang kini kaku dan tak dapat ia ajak komunikasi lagi.
Bulir-bulir bening meluncur keluar dari pelupuk mata Alica, walaupun Alica tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu dari sejak kecil, tapi Alica dapat merasakan dengan jelas hidup tanpa ibu di sampingnya.
"Anna, kamu yang sabar, kamu doakan aja semoga ibu kamu tenang di alam sana" Alica mengusap punggung Anna sembari menenangkannya.
Anna menumpahkan semua air matanya di pelukan Alica.
Di ruang tamu banyak para ibu-ibu dan wanita-wanita lainnya yang membaca Yasin, para warga laki-laki tengah menggali kuburan di pemakaman umum yang terdapat di desa tersebut.
Mata Alica menyisir rumah Anna yang padat, bukan padat karena manusia tapi karena makhluk halus. Ragam makhluk halus berkeliaran bebas di rumah tersebut, jumlahnya lebih banyak ketimbang yang kemarin.
Alica tak bisa bergerak bebas lantaran banyak warga di sekitarnya, alhasil Alica duduk diam bersama mereka.
__ADS_1