Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Bab 58 ( Berada dalam dilema )


__ADS_3

Beberapa hari setelah perayaan Ulang tahun Nala, Pak Burhan memutuskan untuk mencari keberadaan Pak Imron dengan berbekal alamat yang diberikan oleh Bu Neti, yaitu alamat tempat tinggal Aisyah dan Raihan dulu di daerah Sumedang.


Setelah sampai Sumedang, Pak Burhan terkejut karena alamat tersebut saat ini telah dibangun menjadi sebuah Masjid, dan beliau lebih terkejut lagi karena Masjid tersebut dinamai Aisyah-Raihan. Sampai akhirnya Pak Burhan memutuskan untuk bertanya kepada pengurus Masjid tentang alamat rumah Pak Imron yang baru.


"Assalamu'alaikum Pak," ucap Pak Burhan dengan menghampiri pengurus Masjid yang terlihat sedang menyapu.


"Wa'alaikumsalam," jawab pengurus Masjid yang bernama Pak Amin.


"Pak maaf ganggu waktunya, saya mau tanya bukannya yang sekarang di bangun Masjid dulunya adalah rumah Pak Imron?" tanya Pak Burhan.


"Benar Pak. Memangnya Bapak siapa nya mendiang Pak Imron ya?" tanya Pak Amin.


"Saya adalah saudara jauh Pak Imron, dan kami sudah lama tidak berjumpa. Jadi, Pak Imron sudah meninggal dunia?" tanya Pak Burhan yang merasa terkejut.


"Benar Pak, Pak Imron terkena serangan jantung ketika mengetahui bahwa istrinya berselingkuh dan kabur bersama selingkuhannya," jawab Pak Amin.


Degg


Jantung Pak Burhan rasanya berhenti berdetak, dan tubuhnya kini terasa lemas, sampai akhirnya Pak Burhan terjatuh di atas lantai.


Jadi aku dan Neti telah menyebabkan Imron meninggal? kenapa semua ini bisa terjadi, kalau Imron meninggal, siapa yang selama ini telah membesarkan Aisyah? ucap Pak Burhan dalam hati.


"Bapak tidak kenapa-napa kan?" tanya Pak Amin karena melihat Pak Burhan begitu syok mendengar kabar meninggalnya Pak Imron.

__ADS_1


"Pak, bukannya Pak Imron mempunyai dua orang Anak, selama ini siapa yang telah membesarkan mereka?" tanya Pak Burhan yang merasa penasaran, karena Aisyah tumbuh menjadi Anak yang baik meskipun tanpa didikan dari orangtua kandungnya.


"Ketika Pak Imron meninggal dunia, Raihan yang saat itu berusia 7 tahun, berusaha untuk menghidupi Aisyah yang baru berusia 1 tahun. Kasihan Raihan karena semenjak kecil sudah membanting tulang demi Aisyah, Raihan juga yang sudah menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk Aisyah. Sampai akhirnya ketika sudah dewasa Raihan dan Aisyah saling jatuh cinta."


"Apa Raihan dan Aisyah menikah?"


"Mereka menikah, tapi saat itu Aisyah dan Raihan menyembunyikan pernikahannya karena masih belum yakin kalau mereka berdua bukanlah saudara kandung, sampai akhirnya mereka dihakimi warga ketika mengetahui Aisyah hamil, bahkan rumah yang mereka tempati dibakar oleh warga."


"Astagfirullah, kasihan sekali Raihan dan Aisyah. Lalu apa yang terjadi kepada mereka selanjutnya?" tanya Pak Burhan yang ingin mengetahui kisah Aisyah dan Raihan.


"Setelah mereka dihakimi warga, Aisyah dan Raihan memutuskan untuk pergi dari Desa ini."


Kasihan sekali nasib Raihan dan Aisyah yang sudah menderita semenjak kecil. Orangtua macam aku yang telah membiarkan Anak kandungnya sendiri menderita. Maafkan Ayah Nak, atas semua penderitaan yang telah Aisyah dan Raihan rasakan. Seandainya saja dulu Ayah dan Ibu tidak meninggalkan Aisyah, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini, ucap Pak Burhan dalam hati.


"Setelah kejadian itu, ternyata Raihan dan Aisyah tinggal di Desa Nelayan, mereka berdua hidup bahagia dan mempunyai dua Anak kembar, tapi ketika terjadi Bencana alam gempa dan tsunami empat bulan yang lalu, Aisyah dan Putri mereka dikabarkan hilang, dan Raihan sampai saat ini selalu mencari keberadaan mereka berdua, bahkan kondisi mental Raihan masih belum pulih karena masih belum menerima kenyataan Aisyah dan Nala yang hilang tanpa jejak."


"Lalu siapa yang membangun Masjid Aisyah-Raihan ini?"


"Yang membangun Masjid ini adalah orangtua Raihan. Tuan Herdi menamai Masjid Aisyah-Raihan untuk mengenang Raihan dan Aisyah yang dulu pernah tinggal di sini, dan ternyata Raihan adalah Anak pengusaha Properti nomor satu di Indonesia."


"Apa Bapak tau tempat tinggal Raihan saat ini?"


"Raihan sekarang pasti tinggal di rumah orangtuanya di Jakarta, kalau Bapak mau menemuinya, Bapak langsung saja ke alamat ini," ujar Pak Amin dengan memberikan secarik kertas kepada Pak Burhan.

__ADS_1


"Terimakasih banyak atas informasinya Pak, insyaallah saya akan mencari keberadaan Raihan ke Jakarta. Saya ada sedikit rezeki untuk Bapak, mohon diterima," ujar Pak Burhan dengan memberikan uang lima ratus ribu kepada Pak Amin, Pak Burhan juga memasukan uang lima ratus ribu ke dalam kotak amal Masjid.


"Terimakasih banyak Pak atas sedekahnya, semoga Bapak dan keluarga diberikan kesehatan serta rezeki yang semakin berlimpah," ujar Pak Amin yang di Amini oleh Pak Burhan.


"Kalau begitu saya pamit dulu Pak, Assalamu'alaikum," ucap Pak Burhan kemudian kembali masuk ke dalam mobil.


Tadinya Pak Burhan akan langsung mencari keberadaan Ratna ke Cirebon, tapi setelah mendengar kabar bahwa Pak Imron telah meninggal dunia dan yang menjadi penyebabnya adalah Pak Burhan dan Mama Neti, Pak Burhan akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke Kalimantan.


Pantas saja yang pertama kali Aisyah ingat adalah nama Raihan, karena ternyata Raihan adalah Suami Aisyah. Aku harus bagaimana sekarang, jika aku mempertemukan Raihan dan Aisyah, aku dan Neti terpaksa harus berpisah dengan Aisyah, karena Raihan pasti sangat membenci kami, begitu juga dengan Aisyah yang pasti akan merasa kecewa jika ingatannya telah kembali pulih. Apa aku pisahkan saja Raihan dan Aisyah supaya mereka tidak bertemu lagi? tapi selama ini Raihan adalah orang yang paling berjasa dalam hidup Aisyah. Sebaiknya nanti aku meminta pendapat Neti terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan, batin Pak Burhan kini berada dalam dilema.


......................


Gisel dan Evan hari ini memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat Pariwisata, dan semenjak Gisel di dorong oleh Raihan, Gisel tidak pernah lagi berusaha untuk mendekati Raihan.


Sepanjang perjalanan, Gisel terlihat murung karena lagi-lagi Mama Rita mengancam akan bunuh diri jika Gisel tidak berhasil mendapatkan Raihan.


"Kamu kenapa murung terus? apa kamu mempunyai masalah?" tanya Evan.


"Aku tidak apa-apa, hanya saja sedang tidak enak badan," jawab Gisel.


"Apa kita pergi ke Dokter saja? aku tidak mau kalau kamu sampai sakit," ujar Evan dengan memegang dahi Gisel.


"Tidak perlu Van, aku hanya ingin berada di dekatmu, dan itu akan membuatku merasa lebih baik," ujar Gisel dengan tersenyum, dan Evan yang mendengarnya menjadi salah tingkah, begitu juga dengan Gisel yang langsung merasa malu setelah apa yang dia katakan kepada Evan.

__ADS_1


Kenapa aku bisa berbicara seperti itu kepada Evan, sepertinya aku sudah benar-benar jatuh cinta pad sosok Evan yang ternyata sangat perhatian dan pengertian, tapi bagaimana dengan Mama yang selalu saja mengancamku akan bunuh diri jika aku tidak berhasil menikah dengan Raihan, batin Gisel yang saat ini berada dalam dilema.


__ADS_2