
Pak Burhan yang sudah sampai di Kalimantan terus saja merasa gelisah dengan semua yang ia dengar dari Pak Amin, sampai akhirnya mobil yang beliau tumpangi sampai di halaman rumahnya.
"Tuan, kita sudah sampai rumah," ujar Supir Pak Burhan karena melihat majikannya terus saja melamun dan tidak kunjung turun dari dalam mobil.
"Makasih Pak," ucap Pak Burhan singkat, kemudian turun dari mobil.
"Tumben Tuan kelihatan murung, apa Tuan ada masalah ya? tapi bukan urusanku juga" gumam Supir Pak Burhan, kemudian memasukan mobil ke dalam garasi.
Pak Burhan mengucapkan Salam ketika masuk ke dalam rumah, dan Pak Burhan langsung menyunggingkan senyuman ketika melihat Mama Neti, Aisyah dan Nala yang terlihat asyik bercengkrama.
"Ayah tumben baru satu hari udah pulang lagi?" tanya Aisyah.
"Ayah lagi gak enak badan Nak," jawab Pak Burhan yang terlihat lesu.
"Sebaiknya sekarang Ayah langsung istirahat saja, jangan gendong Nala dulu," ujar Aisyah, karena saat ini Pak Burhan terlihat menggendong Nala.
"Ya sudah kalau begitu sekarang Ibu antar Ayah ke kamar dulu ya Nak," ucap Mama Neti kepada Aisyah, dan kedua orangtua Aisyah pun masuk ke dalam kamarnya setelah Pak Burhan menurunkan Nala dari pangkuannya.
Setelah di dalam kamar, Mama Neti bertanya kepada Pak Burhan tentang hasil pencarian Pak Imron dan Ratna.
"Pa, bagaimana hasil pencarian Imron dan Ratna, apa Papa sudah berhasil bertemu dengan mereka?" tanya Mama Neti, dan Pak Burhan tiba-tiba menangis, sehingga membuat Mama Neti merasa heran.
"Papa belum sempat mencari Ratna, karena Papa mendapatkan berita buruk ketika mencari Imron."
"Memangnya berita buruk apa yang Papa dapatkan?" tanya Mama Neti yang sudah merasa penasaran.
"Ma, kita telah menyebabkan Imron meninggal dunia, kita telah banyak melakukan dosa besar Ma," ujar Pak Burhan dengan menangis.
"Apa maksud Papa? jadi Imron sudah meninggal dunia? kapan imron meninggal?" tanya Mama Neti yang terlihat syok.
"Imron terkena serangan jantung, kemudian meninggal dunia ketika Mama kabur bersama Papa."
__ADS_1
"Tidak mungkin Pa, terus selama ini siapa yang sudah membesarkan Aisyah kalau Imron meninggal dunia, apalagi saat itu Aisyah baru berusia 1 tahun?" tanya Mama Neti yang masih belum percaya dengan apa yang dia dengar.
"Raihan Ma, kita sudah membuat Raihan yang berusia 7 tahun harus membanting tulang demi menghidupi Aisyah sejak masih bayi," jawab Pak Burhan.
Degg
Jantung Mama Neti berdetak kencang, beliau tidak pernah mengira jika Raihan sampai mengorbankan hidupnya demi membesarkan Aisyah, padahal Mama Neti yang sudah menyebabkan Raihan sengsara, karena sudah memisahkan Raihan dari kedua orangtua kandungnya.
"Bagaimana bisa seperti itu Pa? selama ini Mama yang sudah membuat Raihan terpisah dari kedua orangtuanya, Mama sudah berdosa kepada Raihan," gumam Mama Neti dengan berlinang airmata.
"Raihan sekarang sudah menjadi Menantu Mama," ucap Pak Burhan dengan lirih, sehingga membuat Mama Neti semakin terkejut.
Pak Burhan menceritakan semua yang beliau dengar dari Pak Amin, termasuk tentang Raihan dan Aisyah yang sudah dihakimi oleh warga, sampai hilangnya Aisyah yang saat ini masih Raihan cari.
"Apa yang harus kita perbuat Ma? jika kita mengembalikan Aisyah kepada Raihan, kita akan kehilangan Aisyah, karena besar kemungkinan Raihan akan membenci kita, begitu juga dengan Aisyah jika sampai nanti ingatannya pulih," ujar Pak Burhan.
Mama Neti terlihat berpikir dan beberapa kali mengembuskan napas secara kasar, sampai akhirnya Mama Neti kembali angkat suara.
Pak Burhan tidak mengira jika Mama Neti akan mengambil keputusan seperti itu.
"Apa Mama yakin dengan keputusan yang Mama ambil?" tanya Pak Burhan.
"Mama sangat yakin Pa, dulu kita sudah menjadi orangtua yang egois untuk Aisyah karena telah tega meninggalkannya. Dan dari awal Raihan yang telah berperan sebagai Ayah sekaligus Ibu untuk Aisyah, jadi kita tidak memiliki hak atas diri Aisyah."
"Kapan kita harus mengantarkan Aisyah ke Jakarta?" tanya Pak Burhan.
"Besok Papa harus mengantarkan Aisyah supaya bisa kembali berkumpul kembali dengan keluarga kecilnya, karena Mama akan merasa berdosa jika terus memisahkan Aisyah dan Raihan."
"Tapi Ma, Papa tidak mau berpisah dengan Aisyah dan Nala. Papa bahagia dengan kehadiran mereka."
"Begitu juga dengan Mama, tapi Mama tidak tega mendengar kondisi Raihan yang sudah tidak memiliki semangat hidup karena kehilangan Aisyah dan Nala. Sudah cukup Raihan berkorban untuk Aisyah, dan sekarang kita tidak boleh egois lagi karena ingin terus bersama Anak kita," ujar Mama Neti.
__ADS_1
Pak Burhan rasanya berat untuk berpisah dengan Aisyah dan Nala, tapi perkataan Mama Neti benar, kalau mereka tidak boleh egois, karena selama ini mereka tidak pernah ada untuk Aisyah bahkan sudah menelantarkan Aisyah dari semenjak bayi.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan Mama, besok Papa akan mengantarkan Aisyah untuk bertemu dengan kebahagiaannya."
Mama Neti dan Pak Burhan berpelukan dan menangis bersama, mereka menyesali semua yang telah terjadi di masalalu, padahal baru saja Mama Neti dan Pak Burhan mengetahui kalau Aisyah adalah Anak kandungnya, tapi sekarang mereka harus kembali kehilangan Aisyah.
"Kalau begitu sekarang kita harus memberitahukan kepada Aisyah supaya bersiap-siap untuk kepulangannya besok Pa," ujar Mama Neti yang mencoba untuk terlihat tegar di hadapan Aisyah.
Mama Neti dan Pak Burhan kembali menghampiri Aisyah yang masih berada di ruang keluarga bersama Nala.
"Bagaimana keadaan Ayah sekarang? apakah sudah lebih baik?" tanya Aisyah yang melihat Mama Neti dan Pak Burhan menghampirinya.
"Alhamdulillah Ayah sudah merasa lebih baik Nak," jawab Pak Burhan, kemudian duduk di samping Aisyah.
"Nak, Papa sudah mengetahui identitas Aisyah yang sebenarnya, dan besok Papa akan mengantar Aisyah untuk bertemu dengan Suami dan Anak Aisyah," ujar Pak Burhan.
Aisyah begitu terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh Pak Burhan, ada rasa bahagia sekaligus sedih yang saat ini Aisyah rasakan.
"Kenapa Aisyah diam saja?" tanya Mama Neti.
"Aisyah sangat bahagia karena akan berjumpa dengan keluarga Aisyah, tapi Aisyah sangat sedih karena harus berpisah dengan Ayah dan Ibu," jawab Aisyah dengan memeluk tubuh kedua orangtuanya.
"Nak, kapan pun Aisyah ingin bertemu dengan kami, pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk Aisyah dan Keluarga, karena ini juga adalah rumah Aisyah," ujar Mama Neti.
"Makasih Yah, Bu, Aisyah sudah banyak berhutang budi kepada Ayah dan Ibu."
"Tidak Nak, kami yang sudah banyak berhutang budi kepada Aisyah." Kami bahkan mempunyai dosa besar terhadap Aisyah. Maafkan kami Nak, kami bukan orangtua yang baik untuk Aisyah, lanjut Mama Neti dalam hati.
*
*
__ADS_1
Makasih banyak bagi yang sudah berkenan baca Karya receh Author, jangan lupa like nya, siapa tau juga ada yang baik hati mau ngasih vote sama hadiah, 🙈 Sehat dan Sukses selalu untuk semuanya, 🤲🙏