Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Bab 62 ( Membuat kenangan baru )


__ADS_3

Pak Burhan terlihat berpikir ketika mendengar pertanyaan Aisyah yang memintanya untuk menginap di kediaman Sanjaya, karena sebenarnya Pak Burhan juga masih berat untuk meninggalkan Aisyah, meski pun saat ini Aisyah sudah berada bersama orang yang tepat.


"Baiklah, untuk malam ini Ayah akan menginap di sini," ujar Pak Burhan dengan tersenyum, dan Aisyah terlihat bahagia mendengarnya.


Aisyah sepertinya sangat dekat sekali dengan Pak Burhan. Wajah mereka juga mempunyai kemiripan seperti Ayah dan Anak kandung, ucap Raihan dalam hati.


"Sayang, sebaiknya sekarang kita istirahat, Aisyah pasti cape setelah melakukan perjalanan jauh. Aisyah juga belum tau kamar kita di sini kan?" ujar Raihan yang terlihat semangat, dan semuanya terlihat bahagia karena Raihan yang dulu akhirnya kembali lagi.


"Iya Nak, sekarang sebaiknya Raihan ajak Aisyah ke dalam kamar kalian, biar Nenek yang jaga Nathan dan Nala," ujar Nenek Rose.


"Tapi bagaimana kalau nanti Nenek kewalahan menjaga Nathan dan Nala yang lagi aktif-aktifnya?" ujar Aisyah.


"Aisyah tidak perlu khawatir, nanti Nenek minta bantuan sama Asisten rumah tangga untuk membantu menjaga si kembar."


"Iya Nak, Aisyah tenang saja, ada kedua Kakek nya juga yang ikut menjaga," ujar Papa Herdi.


Setelah Raihan dan Aisyah pergi ke kamar mereka, Pak Burhan berniat untuk mengatakan kejadian yang sebenarnya tentang seorang perempuan paruh baya yang hendak mencelakakan Aisyah.


"Tuan, sebenarnya ada yang masih belum saya ceritakan ketika menemukan Aisyah, karena saya takut kalau Raihan akan terkejut mendengarnya," ujar Pak Burhan.


"Apa itu Pak?" tanya Papa Herdi.


"Sebenarnya saya menemukan Aisyah bukan di Desa Nelayan, tapi di pinggir jurang. Saat itu mobil ban saya kempes ketika hendak menuju Desa Nelayan, dan saya begitu terkejut ketika melihat ada seorang perempuan paruh baya yang hendak mendorong Aisyah yang masih pingsan ke dalam jurang."


"Astagfirullah siapa yang tega mempunyai niat buruk kepada Aisyah?" gumam Papa Herdi.


"Apa selama ini Aisyah mempunyai musuh?" tanya Pak Burhan.


"Setahu saya Aisyah tidak pernah mempunyai musuh, karena Aisyah dan Raihan hidup sebatang kara semenjak masih kecil, bahkan Ibu kandung Aisyah sendiri tega meninggalkan Aisyah yang masih bayi," jawab Papa Herdi.

__ADS_1


Hati Pak Burhan terasa tercubit mendengar perkataan Papa Herdi, karena pada kenyataannya, bukan hanya Ibu kandung Aisyah saja yang meninggalkan Aisyah, tapi dia sendiri selaku Ayah kandungnya juga tega menelantarkan Anak kandungnya sendiri.


"Saya turut prihatin dengan kejadian yang menimpa Aisyah dan Raihan," ucap Pak Burhan tertunduk sedih.


"Saat saya mengetahui kalau Aisyah adalah Anak dari perempuan jahat yang telah menculik Raihan, tadinya saya mempunyai niat untuk membalaskan dendam kepada Aisyah dengan memisahkan Aisyah dan Raihan, tapi setelah saya tinggal di Desa Nelayan bersama dengan mereka, saya tidak tega karena ternyata Aisyah adalah Anak yang baik. Apalagi Aisyah adalah alasan hidup Raihan, dan saya tidak tau akan bagaimana jadinya hidup Raihan seandainya Aisyah tidak kembali lagi. Saya sudah berhutang budi kepada Pak Burhan, kalau ada yang bisa saya bantu, Pak Burhan jangan sungkan ya," ujar Papa Herdi.


"Saya hanya ingin Aisyah bahagia Tuan. Semoga saja perempuan yang berniat mencelakakan Anak saya, bisa segera ditemukan, karen saya takut kalau Aisyah masih berada dalam bahaya," ujar Pak Burhan.


"Kalau masalah itu Pak Burhan tenang saja, saya pasti akan mengerahkan Anak buah saya supaya bisa menemukan perempuan jahat tersebut. Terimakasih karena Bapak sudah sangat menyayangi Aisyah seperti Putri kandung Bapak sendiri. Kalau yang tidak tau hubungan Bapak dan Aisyah yang sebenarnya, pasti akan menganggap Bapak dan Aisyah adalah Ayah dan Anak kandung, karena kalian mempunyai kemiripan," ujar Papa Herdi dengan tersenyum.


Aisyah memang Anak kandung saya, tapi kami tidak mempunyai keberanian untuk mengakui semua itu. Maafkan Ayah Nak, maaf, ucap Pak Burhan dalam hati.


"Nak Burhan, sebaiknya sekarang Nak Burhan beristirahat dulu sebelum kami menyiapkan makan siang," ujar Nenek Rose.


"Terimakasih banyak Nyonya, maaf saya jadi merepotkan," ujar Pak Burhan.


......................


Aisyah yang saat ini sudah berada di dalam kamar bersama Raihan masih saja terlihat melamun, karena Aisyah masih belum mengingat apa pun tentang masalalunya.


Raihan yang baru ke luar dari dalam kamar mandi, langsung memeluk tubuh Aisyah dari belakang, karena saat ini Aisyah sedang melamun dengan melihat ke arah luar jendela kamar mereka.


"Kenapa Aisyah melamun terus?" tanya Raihan.


"Aisyah sedang mencoba untuk mengingat masalalu kita Kak," jawab Aisyah.


"Jangan terlalu memaksakan diri, suatu saat nanti Aisyah pasti akan mengingat semua kenangan indah kita," ujar Raihan.


"Tapi bagaimana kalau ingatan Aisyah tidak kembali?" tanya Aisyah.

__ADS_1


Raihan kini membalikan tubuh Aisyah supaya menghadap kepadanya, kemudian Raihan menangkup kedua pipi Aisyah dengan tangannya.


"Jika ingatan Aisyah tidak kembali, kita akan membuat kenangan indah yang baru," ujar Raihan dengan menatap lekat wajah Aisyah, kemudian mengecup keningnya, dan turun pada bibir Aisyah.


Aisyah hanya bisa diam mematung tanpa bisa menolak semua perlakuan Raihan, apalagi saat ini hati Aisyah terasa berdebar-debar.


"Sekarang sebaiknya kita istirahat dulu," ujar Raihan dengan menggandeng Aisyah menuju tempat tidur. Meski pun Aisyah masih merasa canggung terhadap Raihan, tapi pelukan Raihan selalu terasa hangat dan nyaman, sampai akhirnya Aisyah terlelap dalam dekapan Raihan.


Terimakasih Ya Allah, karena Engkau telah mengembalikan kebahagiaanku, ucap Raihan dalam hati dengan tiada hentinya mengucap syukur atas kembalinya Aisyah dan Nala.


Satu jam kemudian, Aisyah terbangun karena teringat dengan kedua Anaknya yang belum makan siang.


"Kenapa Aisyah sudah bangun lagi?" tanya Raihan ketika melihat Aisyah membuka mata.


"Kak Raihan tidak tidur ya?" tanya Aisyah.


"Kakak ingin melihat wajah Aisyah dengan puas," jawab Raihan yang masih ketakutan kalau Aisyah akan hilang lagi.


"Kak, insyaallah Aisyah tidak akan meninggalkan Kakak lagi. Meski pun Aisyah belum mengingat masalalu kita, tapi Aisyah sangat yakin kalau Kakak adalah Suami dan Ayah yang baik,"


"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita makan siang dulu, Kakak juga lapar sekali karena dari kemarin belum makan," ujar Raihan dengan tersenyum malu.


"Kak, kalau ada masalah, kita jangan sampai melupakan makan, menangis juga membutuhkan tenaga."


"Iya sayang, kalau ada Aisyah, Kak Raihan pasti akan makan yang banyak, supaya bisa cepat gemuk lagi."


Aisyah tersenyum melihat Raihan yang bersemangat dan hatinya selalu terasa menghangat ketika di dekat Raihan, apalagi Raihan selalu saja memeluk tubuhnya.


Meski pun aku belum mengingat apa pun tentang masalalu kami, tapi sepertinya aku telah jatuh cinta kepada orang yang sama, ucap Aisyah dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2