Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Tak dapat di ajak kompromi


__ADS_3

"Terus sekarang gimana ayah, apa yang kudu kita lakukan, liat dia gak mau pergi, seakan-akan dia natap kita sebagai orang yang udah bunuh dia" tak bisa tenang Alica di tatap setajam itu.


Di tatap seseram itu oleh sosok makhluk halus dengan mudah dapat menjatuhkan pertahanan Alica, walau Alica dapat melihat makhluk tak kasat mata sejak kecil namun tetap saja ia takut pada mereka yang menyeramkan.


"Kamu gak perlu khawatir Alica, sekarang kita minta pertolongan dari Allah saja, semoga nanti dia pergi dan biarkan kita melintas" timpal ustadz Hafidz menenangkan Alica yang panik.


Mereka berdoa dan meminta pertolongan langsung dari sang pencipta.


Mereka ingin sampai di rumah tapi sayangnya di tengah jalan mereka malah di hadang dengan penampakan hantu yang seperti ingin menerkam mereka.


"Ya Allah tolong singkirkan dia dari hadapan kami, kami mohon buatlah dia pergi, hanya engkau yang bisa membuatnya pergi" batin Alica berdoa dengan penuh harapan.


Mata Alica kembali terbuka dan menatap ke depan.


Di depan hantu seram itu masih berdiri menatap tajam mereka semua. Mereka yang di tatap seperti itu menelan ludah pahit.


Darah dari bibirnya mengalir, makin di tatap wajahnya makin menyeramkan.


Bulu kuduk mereka bertiga berdiri, dapat di artikan jika hantu seram itu tak mau pergi dari sana walaupun ia tau kalau mereka bukan pelaku yang udah menabraknya hingga meregang nyawa.


"Om kenapa dia belum juga pergi, apa yang dia mau coba, kenapa dia sepertinya gak mau pergi dari hadapan kita. Aku takut om, tolong om usir dia" titah Alica tak tahan lagi melihat wajah seram hantu itu.


Ustadz Hafidz mengangguk."Kamu tunggulah di sini, biar om yang akan usir dia"


Alica mengangguk patuh, ia diam di tempat dan biarkan ustadz Hafidz yang menghandle semuanya.


"Hafidz kamu mau kemana, jangan keluar" cegah pak Anton.


"Saya akan hadapi dia, dia sudah keterlaluan, kalian tunggulah di sini, kalian tidak perlu khawatir tidak akan ada yang terjadi sama saya" timpal ustadz Hafidz.

__ADS_1


"Tapi Hafidz..."


Perkataan pak Anton terpotong, ustadz Hafidz keburu keluar dan tak bisa pak Anton cegah lagi.


Senyuman sinis terukir di wajah sosok wanita berpakaian putih saat melihat ustadz Hafidz keluar dari dalam mobil. Usaha membuat mangsa keluar dari kandang telah membuahkan hasil.


"Saya mohon pergilah, kami hanya ingin melintasi jalanan ini, kami ingin pulang, kami mohon jangan ganggu kami" titah ustadz Hafidz baik-baik.


Tak semua masalah harus di selesaikan dengan amarah dan emosional, terkadang walaupun tubuh tengah meradang otak harus tetap dingin, biar tidak terjadi kegaduhan dan makin membuat masalah menjadi runyam.


"Tidak, aku tidak akan pergi, tidak akan aku biarkan kalian lewat dengan selamat dari jalanan ini. Jika aku mati di sini, maka aku ingin ada orang lain yang mati di sini juga" balas sosok itu tak bersahabat walau ustadz Hafidz telah berusaha berkompromi dengan nada yang selembut dan sehalus mungkin.


"Orang yang akan melintas di tempat ini tak semuanya jahat, mereka juga bukan orang yang sudah membunuh mu, lantas mengapa kau sebegitu dendam dengan warga-warga di desa ini!" Takjub ustadz Hafidz tak menyangka bahwa sosok di depannya akan sekeras kepala itu.


"Mereka memang tidak bersalah, memang bukan mereka semua yang sudah membunuh ku, tapi mereka juga terlibat" teriak sosok itu geram dan penuh murka di matanya.


Menurut cerita warga yang menjadi saksi mata detik-detik tragedi kematian sosok itu, yang telah menabraknya adalah seorang pengendara motor, namun sayangnya tak dapat di tangkap karena keburu kabur.


"Warga-warga di desa ini tengah mengambil kesempatan dalam kesempitan, saat aku meninggal dunia bukannya menolong sebagian orang malah mencuri perhiasan ku, mereka mengambil barang-barang ku. Aku tidak terima, aku akan balas dendam" jeda sosok itu mengeluarkan tatapan yang begitu menyeramkan.


"Aku akan pastikan orang yang melintasi tempat ini MATI" tegas sosok itu penuh penekanan.


"Astaghfirullah hal adzim" ucap ustadz Hafidz shock.


Sudah mati tapi sosok itu masih saja menyimpan dendam dan punya niatan jahat pada warga yang tinggal di desa ini.


"Mbak, saya tau kalau kau marah atas perbuatan mereka, tapi jangan sampai kau membuat mereka menderita. Mereka memang salah tapi kalau kau membalasnya kau makin salah" sela ustadz Hafidz.


"Untuk itu saya mohon pada mu jangan lakukan hal yang dapat membuat warga-warga kesusahan, masalah barang-barang mu akan saya cari dan akan saya kembalikan lagi pada mu, dengan syarat kau harus pergi dari sini dan jangan pernah mengganggu ketenangan warga lagi" opini ustadz Hafidz mencari jalan tengah untuk menyelesaikan persoalan rumit ini.

__ADS_1


"TIDAK, aku tidak mau, aku mau mereka mati, kau jangan coba-coba untuk menghentikan niat ku jika kau tidak mau mati di tangan ku" tolak keras sosok wanita itu tetap kekeh dengan pendiriannya.


Ustadz Hafidz mengelus dada, kepalanya menggeleng menatap tak percaya dengan responnya.


Sosok hantu itu begitu keras kepala, dia lebih suka permusuhan ketimbang perdamaian.


Ustadz Hafidz kecewa akan tanggapan sosok itu, ia pun lantas masuk ke dalam mobil dan menutupnya rapat-rapat.


"Gimana ini om, dia gak mau pergi, apa yang harus kita perbuat, masa kita diam di sini dan menyaksikan dia terus menerus" panik Alica mulai ketakutan.


"Pak Anton tabrak dia, dia keras kepala, saya sudah berusaha memecahkan masalah lewat jalan tengah tapi dia menolaknya, dia tidak pantas di beri hati lagi" suruh ustadz Hafidz tak dapat menahan amarah lagi.


Pak Anton mengangguk, ia langsung menancap gas dan menabrak sosok itu yang menghalangi jalannya.


Alica memejamkan mata, ia tak ingin melihat sosok itu dari jarak dekat.


"Arrrrrggh" pekik sosol itu keras saat mobil hitam yang menjadi mangsanya melintas dengan selamat.


"Sialan, mereka lolos, awas aja mereka semua, aku akan tutup mulut mereka, aku akan pastikan mereka menyesal melakukan ini semua" janji sosok itu menatap mobil hitam yang terus berlalu meninggalkan tempat itu.


Di dalam mobil mereka bernafas lega saat mobil sudah menjauhi tempat itu.


Alica menoleh ke belakang yang kosong, sosok itu tak mengikutinya, ia langsung mengucap syukur dan ketakutannya pun sedikit menyingkir.


"Untunglah kita bisa selamat, aku heran loh kok bisa ada hantu sekeras kepala seperti dia" geleng-geleng kepala pak Anton.


"Saya merasa ada sesuatu di balik sikap keras kepalanya, nanti saya akan cari tau" sahut ustadz Hafidz.


"Om bagaimana dengan hantu itu, bagaimana kalau dia dendam sama kita karena kita ngotot pergi dari sana dengan cara yang terbilang gak baik-baik kayak tadi" gelisah Alica.

__ADS_1


__ADS_2