Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Informasi miring prihal hutan Pinus


__ADS_3

Keesokkan paginya.


Jam lima Nofan dan Alica sudah berangkat ke sekolah dia antar oleh pak Anton.


Setibanya di sekolah hanya ada beberapa orang yang sudah datang, mereka menyalami punggung tangan pak Anton lalu mendekati anak-anak yang menungggu di depan gerbang.


"Fan apa aja nanti kegiatan selama kita camping?" Penasaran Alica.


"Kamu gak perlu tau, ini rahasia, peserta gak boleh tau biar seru" sahut Nofan.


Alica mengerucutkan bibir kesal, ia kira bahwa Nofan akan langsung memberitahukannya namun sayangnya Nofan malah ingin merahasiakannya.


Ketika jarum jam mau menunjukkan pukul 6, satu persatu orang-orang berdatangan, begitu pula dengan dewan guru serta bus yang akan membawa mereka pergi.


Senyum merekah di bibir murid-murid, piknik di hutan adalah sesuatu yang menurut mereka begitu menyenangkan.


Setelah semua orang sudah tiba di lokasi, mereka lantas masuk ke dalam bus, kemudian bus membawa mereka ke hutan Pinus yang jauh dari sana.


Alica berpisah dengan Nofan, ia beda bus dengan sahabatnya, tapi tak ada yang mengganggu Alica, semua orang kini takut saat teringat momen di mana Alica menjambak dan menampar keras Anna.


Terbit senyum di wajah Alica."Ternyata dengan aku jadi garang gak ada yang ganggu aku, kalau aku tau bakal kayak gini dari dulu aku akan lakuin ini semua, aku malas di tindas" batin Alica senang.


Bus melaju dengan kecepatan normal, 12 bus membawa murid-murid ke lokasi camping, ada banyak pula anak yang tidak ikut acara ini, sebab sakit, terhalang izin orang tua dan lain sebagainya.


Perjalanan ke hutan Pinus memakan waktu sekitar 5 jam, baru mereka tiba di lokasi.


Alica dan murid-murid lainnya turun dari bus setelah lama duduk di bangku bus.


Mereka menghirup udara yang begitu segar tanpa polusi.


Di saat semua orang begitu bahagia, senang dan gembira dengan adanya camping di hutan Pinus beda dengan Alica yang diam di tempat tanpa pergerakan.


Dari posisinya berdiri Alica melihat hutan Pinus di dalamnya dengan lekat, di mata orang lain hutan itu begitu bersih, indah dan lain sebagainya tapi di mata Alica hutan tersebut sedikit suram dan terkesan ANGKER.


"Kenapa harus ke hutan ini" Pelan Alica merasa tak srek saat tau tempat yang akan mereka jadikan piknik.


"Kenapa emangnya, hutan ini di pilih langsung sama wakasek" jawab Nofan, berdiri di dekat Alica.


"Gak papa sih" timpal Alica.


Nofan mengerutkan alis, ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Alica dan ia dapat merasakannya.


"Ayo anak-anak kita masuk ke hutan Pinus, kita akan camping di sini selama 1 Minggu. Sekarang kita masuk dan dirikan tenda" ajak pak Bambang menggunakan speaker.


Sorak gembira anak-anak terdengar, mereka dengan antusias masuk ke dalam hutan Pinus di temani oleh guru-guru dan di pandu oleh pak Bambang sendiri.


Suasana makin menyejukkan dan begitu indah, sebab pohon-pohon Pinus berdiri di kanan dan kiri dengan rapih.


Alica begitu aneh sejak tiba di lokasi, ia menjadi lebih pendiam, tak banyak bicara dan terus saja berjalan mengikuti semua aturan tanpa melanggar sedikitpun.


Langkah Alica tiba-tiba terhenti, ia menajamkan mata.


Sosok bersagul tersenyum di dekat pohon Pinus, tangannya melambai pqda Alica seraya meminta Alica untuk mendekatinya.


Alica pelan-pelan keluar dari rombongan, dengan hati-hati ia mendekati sosok itu.


"Siapa kamu, kenapa kamu minta aku ke sini?" Tanya Alica.


"Jangan macem-macem saat berada di hutan ini, penunggu di sini tidak suka dengan orang yang datangnya untuk melakukan hal yang aneh-aneh. Aku peringatkan pada mu dan juga teman-teman mu untuk menjaga sikap saat berada di sini" perintah sosok itu dengan nada seram.


Alica menelan ludah pahit, perubahan mimik wajah sosok itu begitu draktis.

__ADS_1


"Aku akan lakukan itu, aku ingin tanya kenapa hutan ini terlihat lebih angker dari pada hutan yang lain?"


"Ada banyak orang yang meninggal di sini, sebagai orang menjadikan hutan ini sebagai tempat pembuangan mayat, banyak mayat yang bisa kau temukan di sini" jelas sosok itu, lalu menghilang dengan sendirinya.


Alica terkejut hebat, pantas saja hutan yang ia pijak memiliki aura yang begitu gelap.


"Pantesan aja aku ngerasa ngeri saat masuk ke sini, jadi ini yang bikin hutan ini menjadi kayak angker begini"


"Aku harus peringati semua orang biar mereka gak melanggar aturan" Alica berlari masuk ke dalam rombongan yang mulai menjauh, ia tidak mau tersesat apalagi ke nyasar di hutan sebesar ini.


"Kamu dari mana aja?" Dingin Nofan sadar saat Alica keluar dari rombongan.


"Ada urusan, nanti aku akan kasih tau kamu" balas Alica.


Mereka terus berjalan sampai terhenti di sebuah tempat yang biasanya di jadikan tempat piknik.


"Nah kita sudah sampai, sekarang kalian dirikan tenda terlebih dahulu, sebelum keburu matahari tenggelam" suruh pak Bambang.


Mereka pun langsung melaksanakan tugas, waktu makin berlalu mereka harus menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum matahari terbenam. Mereka di bagi menjadi beberapa kelompok, dalam satu tenda terdiri atas beberapa orang. Dalam satu kelompok saling bahu membahu untuk mendirikan tenda agar bisa di jadikan tempat beristirahat.


Tenda Alica dan kawan-kawannya sudah berdiri, tas-tas besar mereka sudah masuk ke dalam.


Tak hanya tenda Alica saja, tenda orang-orang juga sebagian besar sudah berdiri.


Alica melirik sekitar yang perlahan-lahan mulai gelap, ia langsung mendekati Nofan yang lagi santai bersama kawan-kawannya.


"Fan" panggil Alica.


Nofan menoleh, ia langsung berhenti ngobrol saat melihat Alica menghampirinya.


"Apa, kamu mau ngomong apa?" Nofan menyadari jika ada sesuatu yang ingin Alica utarakan.


"Aku dapat informasi miring dari sosok penunggu hutan ini jika ternyata hutan ini di jadikan tempat pembuangan mayat, serta di hutan ini juga sering terjadi pembantaian" jelas Alica dengan nada pelan agar tak terdengar oleh orang lain.


"Yang bener aja!" Kaget Nofan dan kawan-kawannya.


"Iya bener, aku gak bohong, aku di kasih tau langsung sama sosok yang jaga tempat ini, sungguh aku gak mungkin bohong apalagi ngarang cerita, buat apa juga aku melakukan itu" jawab Alica meyakinkan mereka.


Mereka diam sejenak, mencerna kembali infomasi yang telah membuat mereka tercengang.


"Jadi hutan ini bahaya dong" kesimpulan Dimas.


"Nah bisa jadi, soalnya di sini rawan pembunuhan, tapi yang jelas bukan orang yang piknik di sini yang di incer tapi orang yang memang punya dendam atau apapun dan tempat pembuangannya di sini biar gak di curigai oleh polisi" jawab Alica.


"Gimana ini, apa kita kasih tau aja guru-guru akan informasi ini?" Calvin meminta pendapat mereka.


"Jangan, kita jangan kasih tau guru-guru, kita simpan aja. Sekarang kita cuman perlu jaga murid-murid selama piknik di sini, kita optimalkan keselamatan mereka" cegah Nofan.


"Kenapa kita gak kasih tau aja fan sama guru-guru, kalau ada apa-apa kan kita gak susah sendiri" ujar Reza.


Reza tak ingin menyimpan beban sendiri, karena kali ini persoalan yang ada di hutan ini dapat membuat nyawa seseorang melayang.


"Ya udah nanti kita ke guru-guru, kita bilang tentang hutan ini yang sejujur-jujurnya, mau mereka percaya atau enggak itu terserah mereka yang penting kita udah kasih tau" pasrah Nofan.


Demi keamanan para siswa, mereka harus melakukan sesuatu agar siswa di sekolahan ini selamat dan gak ada masalah selama camping di hutan Pinus yang di sebut banyak kesan-kesan mistis serta kriminal.


"Ayo kita ke guru-guru sekarang, mumpung murid-murid lagi sibuk dirikan tenda, ini moment pas buat kita kasih tau mereka kalau di hutan ini banyak hal-hal negatifnya" ajak Dimas tak mau menyimpan beban sendirian.


Mereka langsung bangun dari duduk, serempak kaki mereka berjalan mendekati tenda-tenda guru yang berada di sebelah Utara.


"Permisi pak Bu" ucap mereka kompak.

__ADS_1


"Ada apa, apa ada masalah, apa mungkin ada kendala saat mendirikan tenda?" Tanya pak Lukman.


"Bukan pak, tapi kami barusan mendapatkan informasi kalau hutan ini di jadikan tempat pembuangan mayat oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab, di sini juga sering terjadi pembantaian" jelas Nofan mengutarakan maksud dan tujuan mereka mendekati para guru yang sedang bersantai.


Aneh, tapi ini nyata, para guru tak bereaksi apapun, mereka tak terkejut sama sekali dengan berita yang Nofan beritahukan.


"Kami sudah tau itu semua dari penjaga hutan yang bernama pak Joko" ujar pak Bambang.


"Lalu gimana ini pak, apa kita pindah aja ke hutan lain demi keselamatan anak-anak" usul Calvin.


"Terus perlu, kita tidak perlu pindah lagi, kita tetap aja ada di sini, kata pak Joko mereka hanya membuang mayat di tempat ini, kalau masalah membantai memang sering kali ada. Tapi itu di lakukan oleh orang-ornah yang memiliki dendam, mereka menjadikan tempat ini sebagai tempat penentuan. Siapa yang menang dia akan pergi dari sini dan siapa yang kalah berati dia telah mati di sini. Kalian tidak perlu takut, karena orang-orang itu tidak menyerang wisatawan tapi mereka sudah terlibat konflik sebelumnya" jelas pak Bambang.


"Tapi bagaimana kalau terjadi apa-apa sama murid-murid pak" kekhawatiran Reza.


"Gak usah takut, semuanya pasti akan baik-baik saja. Kalian hanya tinggal jaga mereka dengan baik, awasi setiap gerak-gerik mereka, saya yakin jika kalian melaksanakan tugas dengan baik tidak akan ada yang terjadi pada anak-anak selama kita berada di hutan ini" tegas pak Bambang, enggan untuk meninggalkan hutan Pinus walau telah mengetahui hal miring yang terjadi di sini.


Mereka menghela nafas kasar, mereka hanya anggota OSIS, pangkat mereka di bawah guru-guru, mereka tak bisa berkutik jika sang kepala sekolah sudah turun tangan.


"Sekarang kalian awasi semua murid-murid, kalau terjadi masalah langsung lapor pada saya. Kalian tidak perlu hiraukan fakta-fakta miring yang ada di hutan ini, karena itu tidak akan terjadi pada kalian. Kalian tidak usah takut" suruh pak Bambang.


Mereka kembali dengan kecewa, mereka kira pak Bambang akan bertindak tegas namun nyatanya malah begini.


Mereka kembali berkumpul di tempat yang tadi.


"Gimana ini, pak Bambang gak mau kita pergi dari sini, padahal udah jelas-jelas ada banyak hal yang tidak-tidak di sini, tapi kenapa satupun guru tidak bereaksi atau punya inisiatif buat pindah hutan" heran sekaligus bertanya-tanya Dimas.


Jalan pikiran para guru benar-benar tak dapat di tebak.


"Mereka itu sinting, walaupun mereka tau kalau tempat ini berbahaya mereka tetap diam, mereka egois mereka gak mikirin keselamatan semua orang. Mangkanya kita sebagai orang yang waras harus jaga murid-murid sebaik mungkin, perketat keamanan, agar tak ada hal-hal yang tidak di inginkan terjadi selama kita berada di sini" kata Calvin.


"Betul yang Calvin bilang, kita harus bisa lakuin itu semua. Kalian sekarang kumpulkan semua murid yang bergender laki-laki, suruh mereka kumpul di sini, ada hal yang mau aku kasih tau sama mereka" suruh Nofan memiliki ide untuk meningkatkan keamanan.


"Siap komandan" sahut Dimas dan Reza berbarengan.


"Udah sana berangkat, kenapa masih diam di sini" usir Nigam.


Mereka lantas berangkat dan menjalankan amanah yang sudah Nofan berikan, mereka mengajak semua murid yang berjenis kelamin laki-laki ke hadapan Nofan.


"Lapor komandan, pasukan sudah siap dan berada di lokasi tepat waktu. Tidak ada yang tertinggal walau satupun" lapor Dimas setelah semua orang berada di sana.


"Bagus" jawab Nofan.


"Kak kenapa kumpulin kita di sini, ada apa emangnya?" Salah satu murid bertanya karena yang di panggil hanya yang berjenis kelamin laki-laki bukan keseluruhan.


"Gak ada apa-apa, cuman selama kita berada di sini, kita harus meningkatkan keamanan secara kita lagi berada di hutan. Di hutan selebar ini kita tidak tau ada apa saja di dalamnya bukan, maka dari itu hari ini aku kumpulin kalian semua tak lain dan tak bukan untuk membentuk kelompok keamanan. Tugas kalian cuman pantau tenda-tenda saat di malam hari, nanti aku akan bentuk beberapa kelompok, setiap malam hari harus ada 1 kelompok yang ronda" jeda Nofan.


"Kalau ada masalah atau bahaya, langsung lapor pada ku" sambung Nofan.


Murid-murid terlihat enggan melakukan itu, mereka kira saat piknik mereka hanya akan duduk manis saja tapi ternyata mereka harus di suruh melaksanakan tugas yang mengganggu tidur malam mereka.


"Tapi tenang, gak cuman kalian aja yang gak tidur malam, tapi kami semua, aku dan para anggota OSIS gak akan tidur untuk memastikan keamanan serta keselamatan kalian selama berada di sini biar adil. Biar gak cuman kalian aja yang gak tidur malam, kami juga akan bantu kalian, kami gak akan kabur dari tanggung jawab" seru Nofan.


Nofan sadar kalau ada banyak orang yang kayaknya tak mau melakukan tugas itu, demi berlangsungnya program piknik Nofan harus ikut partisipasi ke dalamnya biar adil dan tidak ada demo besar-besaran dari para anggota.


"Kalian semua setuju?" Tanya Nofan.


"Setuju" jawab mereka dengan nada yang kurang bersemangat.


"Kak sebenarnya kenapa pake harus ronda malam?" Tanya Salah satu siswa yang belum paham.


"Itu kami lakukan agar tidak terjadi hal-hal yang gak di inginkan, kalau tidak ada pengawasan ketika di malam hari, takutnya ada bahaya yang mengintai, kita saat ini ada di hutan, di hutan itu banyak hewan buas kalau tiba-tiba ada hewan buas yang mendekati tenda kita bagaimana, kita gak akan bisa lari bukan" ucap Calvin.

__ADS_1


"Nah maka dari itu, kita membentuk kegiatan ini biar semuanya aman berada di hutan sampai waktunya berakhir" tambah Nofan.


__ADS_2