Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Kemarahan Nofan


__ADS_3

"Nofan, kamu itu udah salah masih aja melemparkan kesalahan sama orang yang gak salah" timpal Bu Mesi terdengar membela Anna.


"Iya, seharusnya kamu akui saja semua kesalahan kamu, tidak perlu kamu mengkambing hitamkan orang lain" ucap Bu Wirda ikut membela Anna.


"Nofan, kami kecewa sama kamu, kamu itu ketua OSIS tapi kelakuan kamu benar gak bisa di tolerir lagi, seharusnya kamu itu bisa di jadikan contoh untuk yang lain, tapi nyatanya kamu malah merusak reputasi sekolah!" Lantang pak Bambang kecewa berat pada Nofan.


Nofan tersentak kaget, ia tercengang saat semua guru malah berpihak pada Anna, satupun dewan guru tak ada yang memihak padanya, mereka semua termakan isu gak benar itu.


"Owwwh jadi kalian semua gak percaya sama saya?" Tanya Nofan, dapat di baca lewat mata kalau Nofan saat ini benar-benar kecewa sama mereka.


"Jelas kami tidak percaya, gak akan ada juga orang yang percaya sama kamu, nama kamu itu udah rusak, kelakukan kamu benar-benar di luar nalar!" Sahut Bu Mesi.


Jantung Nofan seakan di tikam ribuan pedang tajam dan membuatnya terluka.


"Oke baik, kalau semua udah gak percaya lagi sama saya fine, saya akan berhenti jadi ketua OSIS, saya akan mengundurkan diri, percuma juga saya mempertahankan segalanya jika saya tidak mendapatkan kepercayaan lagi dari kalian" Nofan yang kecewa melepas jas OSIS-nya dan melempar ke atas meja dengan kasar.


Tanpa ekspresi ia langsung keluar dari kantor, kekecewaannya begitu mendalam, Nofan mengira kalau dia akan di bela oleh guru-guru tapi yang dia dapatkan malah sebaliknya.


Para guru panik, tak hanya para guru anggota OSIS lainnya ikutan panik, kemarahan Nofan tak main-main, ia rela melepas gelarnya demi membuktikan kalau dirinya tidak bersalah.


"Nofan, Nofan tunggu dulu, Nofan kamu mau pergi kemana!" Teriak pak Bambang panik.


Saat Nofan menjabat menjadi ketua OSIS, sekolahan tentram, semuanya dapat di kendalikan dengan mudah, mereka tak perlu repot-repot memikirkan ragam permasalahan yang timbul.


Tapi apa ini, Nofan malah mengundurkan diri, jelas mereka semua panik kehilangan sang ketua OSIS.


"Calvin cepat kejar Nofan, bawa dia kemari" perintah pak Bambang, orang paling panik di ruangan itu.


Secepat kilat Calvin dan kawan-kawannya langsung berlari mengejar Nofan yang tak seberapa jauh itu.


"Fan, Nofan, fan tunggu fan" teriak mereka berusaha menghentikan Nofan.


Kaki Nofan tetap melangkah, tak menoleh sedikitpun ke belakang, kekecewaannya terlihat jelas.


"Fan tunggu, kamu jangan kayak gini, kita bisa selesain masalah ini dengan kepala dingin, kamu jangan mutusin sesuatu di saat emosis" Calvin panik parah saat Nofan mengundurkan diri.


"Iya fan, kamu jangan marah dulu, kita bisa selesain malah ini dengan baik-baik, kamu jangan mengundurkan diri kayak gini" ujar Dimas tak rela kehilangan Nofan.


"Udah kalian gak perlu pikirin aku lagi, aku udah gak mau jadi ketua OSIS, semua orang gak percaya sama aku, untuk apa lagi aku masih mempertahankan itu semua. Sekarang kalian balik saja ke kantor, laksanain tugas kalian, kalian bisa kok urus semuanya" jawab Nofan, kakinya terus melangkah tak mau berhenti sama sekali.


Mereka yang mengejar Nofan kewalahan, wajah mereka makin panik saat Nofan serius untuk beranjak pergi dari jabatannya.


"Gak fan, kami gak bisa harus ada kamu, gak bisa urus semuanya sendiri, kami tidak secerdik itu" tolak Reza terus berupaya keras agar Nofan kembali.


"Aku udah gak bisa jadi ketua OSIS lagi, guru-guru udah gak percaya sama aku, aku minta sama kalian jaga sekolahan dengan baik, kalian bisa meneruskan perjalanan ku" titah Nofan.


Mereka menggeleng, mereka tak bisa melakukan itu semua, walaupun mereka anggota OSIS, tapi selama ini Nofan yang mengurus segalanya, mereka hanya mendapatkan perintah saja.


"Fan jangan gitu dong, aku tau kamu marah, kami percaya kok sama kamu, kami yakin kamu gak kayak gitu. Kami akan bantu kamu bersihin nama kamu yang udah tercemar" timpal Calvin.


"Udah gak bisa, nama ku udah rusak, gak perlu ada yang di perbaiki lagi. Sana kalian balik ke kantor, jangan kejar aku, aku ada urusan" suruh Nofan.


Mereka serempak menghentikan langkah, menatap punggung Nofan dengan sedih, kehilangan ketua OSIS sakitnya melebihi kehilangan pacar.


Satu demi satu kaki Nofan melangkah, keputusannya sudah bulat, ia terlanjur kecewa dengan tanggapan para guru yang menilainya dengan sepotong berita, tanpa melihat bahwa dia sudah sangat berjasa bagi sekolahan ini.


Nofan masuk ke dalam kelas Alica, matanya melotot tajam saat salah satu anak melempar bangku ke arah Alica.


Dengan cepat Nofan pasang badan, bangku itu mengenai tubuhnya.


Semua orang tercekat, mereka panik dan tegang ketika melihat siapa yang datang secara dadakan.


Tangan Nofan berdarah, salah satu paku yang tertancap di bangku mengenai tangannya.


"Kak Nofan" terkejut mereka.


Tatapan maut Nofan keluar, amarah makin menjadi-jadi, kekesalannya makin bertambah besar, otaknya seakan mendidih.


"Apa-apaan ini, kalian mau apa hah, mau membunuh dia, kalian pikir setelah kalian bunuh dia kalian akan hidup tenang?" Maki Nofan berteriak keras.


Suara Nofan terdengar lantang, Nofan melampiaskan segalanya pada mereka.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, kalian akan terkena sanksi pidana. Tindakan kalian ini benar-benar tidak bisa di diamkan lagi, kalian sudah lama membuat Alica menderita, pembullyan yang kalian lakukan kelewat batas, aku akan bawa masalah ini ke jalur hukum" lantang Nofan.


Semua orang panik, ucapan Nofan tidak bisa di remehkan, mereka kenal betul siapa Nofan, ancaman selalu terbukti.


"Jangan kak, jangan" ucap Eka panik, takut jika Nofan beneran akan membawa masalah ini ke pihak berwajib.


"Tidak, aku tidak akan berhenti, kalian sudah sangat keterlaluan, ulah kalian sudah di luar nalar. Kalian tunggu besok apa yang akan terjadi" teriak Nofan mengancam dengan mengeluarkan tatapan terseramnya.


Alica melepas paksa kedua tangannya yang di pegang erat oleh Becca dan Aurel.


Nofan menarik tangan Alica dan membawanya keluar dari dalam kelas.


Semua orang di kelas Alica panik, Nofan tak pernah mengancam separah ini, mereka takut jika Nofan beneran akan memenjarakan mereka.


Kekesalan yang besar membuat Nofan tak memikirkan lagi reputasi sekolahan yang akan rusak jika ia membawa kasus ini ke jalur hukum, sudah lama ia memberantas yang namanya pembully, tapi makin lama pembullyan makin merajalela, ia sudah memberi peringatan keras, tak segan-segan ia menghukum mereka yang terlibat, namun semua usahanya tak ada hasil, mereka tetap melakukan hal yang sama.


Kini ia akan memperparah keadaan, namanya telah rusak, akan ia buat mereka semua tercengang dengan ulahnya. Tak hanya Anna yang bisa membuat seisi sekolah membencinya, ia juga mampu membuat semua orang tak bisa tidur nyenyak gara-gara ulahnya.


"Fan, Nofan tangan kamu berdarah, ayo kita ke UKS, aku akan obati luka mu" cemas Alica melihat tetesan demi tetesan darah yang keluar di tangan Nofan, kini berceceran di sepanjang jalan.


Hanya dehaman yang keluar, Nofan malas bicara, amarah dan kekesalannya masih bergejolak di hatinya.


Nofan di baringkan di ruangan UKS, Alica mengobati lukanya dengan sangat hati-hati.


Mata Nofan menatap langit-langit, pikirannya kacau, namanya telah di rusak oleh orang yang paling ia benci di muka bumi ini.


"Sakit gak fan?" Tanya Alica membersihkan luka di tangan Nofan dengan hati-hati.


"Enggak" balas Nofan.


Luka di tangannya tak seberapa di bandingkan luka di hatinya. Luka yang ada di hati Nofan begitu dalam dan suit untuk di sembuhkan.


Alica melilit tangan Nofan yang terluka dengan perban, biar darah tak kembali keluar.


Melihat Nofan diam dengan tatapan kosong Alica menyadari jika temannya memiliki masalah besar.


"Ada apa sama Nofan, kenapa dia jadi pendiam, apa yang udah bikin dia kayak gini. Apa dia marah sama Eka, Aurel dan teman-teman aku yang berusaha buat celakain aku, tapi walaupun marah biasanya gak separah ini" batin Alica menebak hal apa yang sudah membuat sahabatnya berubah 180 derajat.


Sunyi dan sepi, itu lah yang terjadi di UKS, mulut Nofan tertutup rapat, pikirannya berkecamuk, ia butuh tempat sejuk untuk menenangkan diri. Sementara ia memilih untuk diam.


Lagi-lagi respon Nofan hanyalah dehaman, hari ini Nofan terlihat sangat tak bersemangat.


Alica meninggalkan Nofan sendirian di UKS, ia berjalan dengan pikiran tertuju akan sikap Nofan yang aneh.


"Kok Nofan jadi aneh ya, kenapa dia kok jadi pendiam, apa dia marah sama hal tadi?" Mikir keras Alica.


"Tapi walaupun dia marah gak separah ini, biasanya dia cuman akan hukum apa gitu, gak pernah akan ngancem mereka sampai bawa-bawa polisi segala"


"Ada apa ya sama Nofan, kok aku ngerasa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Nofan"


Alica terus bertanya-tanya kenapa sikap Nofan berubah draktis sambil sesekali kakinya melangkah di lantai.


Di koridor ada banyak anak-anak yang nongkrong, Alica berjalan dengan santai menuju kantin.


"Yang bener aja kak Nofan mengundurkan diri jadi ketua OSIS" kaget salah satu siswi saat mendengar berita baru.


Secara tiba-tiba langkah Alica terhenti, obrolan mereka membuatnya terkesiap.


Alica yang tersentak kaget langsung mendekati mereka yang lagi ngobrol dan di tengah obrolan mereka terbawa-bawa nama sahabatnya.


"Apa kata mu, Nofan mengundurkan diri dari ketua OSIS!" Kaget Alica memastikan langsung apakah benar yang barusan ia dengar.


"Iya Alica, kak Nofan mengundurkan diri, dia gak mau jadi ketua OSIS" jawab gadis bernama tag Zaskia.


Mulut Alica terbuka saking terkejut, pernyataan yang ia dengar berhasil membuatnya tercengang.


"Kenapa tiba-tiba Nofan mengundurkan diri?" Penasaran Alica ikutan kaget.


Nofan tak bercerita apapun tentang masalah ini padanya. Ia tau hal ini dari mulut orang lain.


"Katanya sih gara-gara isu yang Anna sebarin kalau kak Nofan bersekutu sama iblis, para guru gak percaya sama kak Nofan lagi, mangkanya kak Nofan mengundurkan diri jadi ketua OSIS" jelas Hanura.

__ADS_1


Alica makin terkaget-kaget, ketika mendengar nama Anna yang tersangkut paut di dalamnya.


Sorot mata tajam Alica keluar, tangannya mengepal kuat.


"Sialan, jadi ini semua terjadi gara-gara Anna lagi. Kurang ajar dia memang, dia gak ada kapok-kapoknya bikin masalah, udah nipu aku dan Nofan sekarang dia mau menghancurkan nama baik Nofan. Aku gak akan tinggal diam" gumam Alica ikutan geram.


Alica bergegas lagi dari sana, niatnya yang akan pergi ke kantin terpaksa di urungkan.


Alica kini menyadari apa yang sudah membuat sahabatnya menjadi pendiam, ternyata masalah yang di hadapi mereka begitu rumit dan berat sampai-sampai Nofan merelakan jabatannya yang sangat di inginkan oleh orang-orang.


Alica yang kesal berjalan sambil celingukan seperti mencari seseorang.


"Gak nyangka ya ternyata kak Nofan kayak gitu" ujar Sisil.


"Iya, dia emang kayak gitu, tampangnya aja sok polos, dalamnya aduh busuk, kebayang gak kalau kak Nofan si ketua OSIS itu bersekutu dengan iblis, pantesan aja keluarganya kaya raya, ternyata kekayaan mereka dari hasil yang gak bener" ucap Anna menjelek-jelekkan nama Nofan pada semua orang.


Plaaaakkk


Tamparan keras mendarat di pipi Anna, suaranya menggelegar dahysat.


Sontak semua orang terkejut melihat Alica yang datang dan tiba-tiba menampar keras Anna.


"Kamu udah gila ya, kamu udah gak waras apa gimana!" Maki Anna memegang pipi yang mulai memanas.


"Iya aku emang udah gila, aku memang gak waras dan itu terjadi setelah aku kenal dengan orang seperti kamu" kesal Alica menunjuk ke arah Anna.


Gadis yang ia kira baik dan polos itu ternyata lebih mematikan dari pada pink venom (racun paling mematikan di dunia ini).


"Apaan sih, datang-datang malah nampar aku, pake bilang yang enggak-enggak lagi, udah jelas-jelas teman kamu yang salah masih aja lempar kesalahan sama aku" bantah Anna tak mau ketahuan segala kebusukannya.


"APA! Lempar kesalahan, gak salah dengar, seharusnya aku yang bilang kayak gitu, di sini itu kamu yang udah jelas-jelas lempar semua kebusukan mu pada ku dan Nofan!" Teriak Alica tak ingin kalah.


"Jangan percaya geis, dia itu cuman mau bantu temannya aja, sebenarnya mereka itu sebelas dua belas, sama-sama BUSUK!" tutur Anna.


Plaaaakkkk


Suara kulit bertemu kulit terdengar seisi koridor, perhatian semua orang tertuju pada mereka berdua.


Semua orang tercengang, Alica yang mereka nilai polos, lemah dan tak pernah marah kini berubah 360 derajat.


"Kamu yang busuk, keluarga mu yang busuk, mulut mu yang busuk, jangan melempar kesalahan pada orang lain. Ngerti gak sih!" Teriak Alica keras.


"Hiks hiks hiks ibu" tiba-tiba Anna menangis.


Seorang guru mendekati mereka, Alica melirik guru yang menghampiri mereka. Ia sempat terkejut saat tiba-tiba sikap Anna berubah total.


"Ibu, ibu Alica, ibu Alica nampar saya" Cepu Anna mencari aman berlindung di belakang tubuh Bu Mesi.


Wanita ular itu pintar memainkan peran, ia bisa mengendalikan suasana dan menyeret semua mata untuk berpihak padanya.


"Alica, kamu benar-benar keterlaluan, ibu kecewa sama kamu" omel bu Mesi mengeluarkan tatapan maut.


"Seharusnya saya yang kecewa sama ibu karena ibu lebih memilih membela wanita sialan ini dan membuang Nofan yang udah lama bersama ibu, cuman satu berita gak bener pandangan semua orang langsung berubah dan menganggap aku dan Nofan layaknya monster" teriak Alica tak mau diam lagi, ia sudah muak dengan segalanya.


Menjadi lemah tak akan bisa mengembalikan keadaan yang sudah kacau kalau.


"Seharusnya anda dan seluruh dewan guru mencari tau kebenarannya baru anda mengklaimnya. Tapi apa ini, tanpa bukti, tanpa saksi yang jelas kalian semua malah membuat keputusan yang menyudutkan Nofan. Seakan-akan wanita ular ini yang bener di sini" tunjuk Alica pada Anna.


Dalam sekejap pandangan semua orang berubah, isu yang masih belum pasti telah merusak nama baik Nofan.


"Alica semuanya udah jelas, Nofan bersalah dalam hal ini, kalian gak bisa ngelak lagi, semua orang sudah tau!" Tegas Bu Mesi menolak keras argumen Alica.


Bu Mesi begitu percaya pada Anna, padahal isu itu tak berbukti apalagi bersaksi, tapi nyatanya semua orang percaya sama Anna. Seakan-akan semua orang telah terhipnotis oleh Anna dan keluarganya.


"Oke, kalau begitu, tapi liat aja nanti saya akan pastikan kalian semua menyesal karena percaya pada binatang ini" tatapan maut Alica jatuh pada Anna.


Anna tersenyum penuh kemenangan, lagi-lagi ia menang karena banyak orang yang percaya padanya. Tak sia-sia berakting seperti tadi untuk menarik perhatian semua orang.


"Hahahaha rasain itu, suruh siapa bermain-main dengan ku, kalian tidak tau lagi berhadapan dengan siapa" batin Anna benar-benar licik.


Tubuh Alica yang di selimuti amarah dan dendam berjalan dengan wajah tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Minggir kalian semua!" Teriak Alica kelewat kesal sehingga melampiaskannya pada orang yang tak bersalah.


Semua orang lantas menyingkir, tak mau kena pelampiasan Alica. Tindakan Alica pada Anna membuat mereka bergidik ngeri.


__ADS_2