Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Bab 77 ( Menemui Bu Ima dan Ratna )


__ADS_3

Setelah selesai acara Tahlil 40 hari Bu Neti, Aisyah dan keluarga kembali lagi menuju Jakarta, apalagi Aisyah sudah berencana akan menemui Bu Ima dan Ratna ke Desa Nelayan.


"Yah, ujiannya udah beres kan?" tanya Aisyah kepada Raihan.


"Udah sayang, jadi besok Ayah bisa ngantar Ibu sama Ayah Burhan ke Desa Nelayan," jawab Raihan.


"Alhamdulillah kalau seperti itu, karena Ibu takut kalau Ratna tidak akan bisa menerima semuanya," ujar Aisyah dengan tertunduk sedih.


"Kita berdo'a saja, semoga Ratna bisa ikhlas menerima semuanya, karena bagaimana pun juga kalian berdua masih saudara," ujar Raihan dengan memeluk tubuh Aisyah.


......................


Keesokan paginya, Aisyah, Raihan dan Pak Burhan sudah bersiap untuk berangkat menuju Cirebon.


"Nek, maaf ya, Aisyah harus menitipkan Nathan dan Nala lagi," ujar Aisyah yang merasa tidak enak kepada Nenek Rose.


"Sayang, Aisyah tidak perlu sungkan, Nenek bahagia karena bisa menjaga Cicit cicit Nenek yang lucu-lucu ini."


"Makasih banyak ya Nek, kalau begitu Aisyah berangkat dulu," ujar Aisyah, kemudian Aisyah berangkat setelah memeluk dan mencium kedua Anaknya yang sedang asyik bermain.


Sepanjang perjalanan menuju Desa Nelayan, Aisyah terlihat melamun memikirkan semua yang akan terjadi, dan Pak Burhan selalu merasa bersalah kepada Aisyah.


"Nak, maafkan Ayah ya, Aisyah tidak seharusnya menanggung semua beban dosa yang telah Ayah perbuat," ujar Pak Burhan.


"Ayah tidak perlu meminta maaf, kita tidak tau garis takdir yang Allah SWT tuliskan untuk kita, tapi kita harus selalu berbaik sangka, karena di balik semuanya pasti ada hikmah yang bersembunyi," ujar Aisyah.


Saat ini mobil yang Aisyah dan keluarga tumpangi sudah memasuki Desa Nelayan, Aisyah kembali terbayang saat pertama kali Aisyah dan Raihan datang ke tempat ini, dan orang pertama yang mereka temui adalah sosok Bu Ima yang begitu baik hati dan penyayang.


Saat ini Bu Ima sedang terlihat menyapu di depan warung, dan Aisyah yang baru turun dari mobil, langsung berlari memeluk Bu Ima.


"Assalamu'alaikum Bu," ucap Aisyah.


"Wa'alaikumsalam, Aisyah Anak Ibu, Alhamdulillah ternyata Aisyah masih hidup. Aisyah kemana saja? kenapa Aisyah menghilang tanpa jejak?" tanya Bu Ima, dan saat ini Aisyah dan Bu Ima terlihat menangis dengan berpelukan.


"Ceritanya panjang Bu, tapi ada sesuatu hal yang Aisyah baru ketahui, dan Aisyah harap Ibu tidak membenci Aisyah."

__ADS_1


Pak Burhan dan Raihan saat ini menghampiri Aisyah dan Bu Ima.


"Kenapa Aisyah berbicara seperti itu? Aisyah adalah Anak Ibu yang baik, dan Ibu tidak mungkin membenci Aisyah."


"Meskipun kamu mengetahui jika Aisyah adalah Anak kandungku dari Neti?" tanya Pak Burhan.


Prang


Piring yang Ratna pegang terjatuh ketika mendengar semua itu, karena saat ini Ratna baru saja datang membawa gorengan dari dapur untuk di simpan di warung Bu Ima.


"Tidak, itu semua tidak mungkin, kenapa harus Aisyah? kenapa harus Aisyah Anak perempuan yang telah menghancurkan hidup Ibu dan Ratna," teriak Ratna kemudian berlari ke dalam kamarnya.


"Ratna tunggu," teriak Aisyah.


"Jadi Aisyah adalah Anak kandung mendiang Neti?" tanya Bu Ima dengan menghela nafas panjang.


"Iya Bu, apa Ibu juga membenci Aisyah?" tanya Aisyah dengan menangis.


"Nak, Ibu sudah mengenal Aisyah cukup lama, dan Ibu juga tau kalau Aisyah dan Raihan sudah ditelantarkan oleh Ibu kandung Aisyah. Selama ini Aisyah sudah Ibu anggap sebagai Anak kandung Ibu sendiri, meskipun Aisyah adalah Anak kandung dari Neti, tapi semua itu tidak dapat merubah segalanya, karena Aisyah selamanya akan menjadi Anak Ibu," ujar Bu Ima dengan memeluk tubuh Aisyah.


"Terimakasih Bu, karena Ibu sudah berlapang dada menerima semuanya dengan ikhlas. Atas nama mendiang Ibu kandung Aisyah, Aisyah juga meminta maaf yang sebesar-besarnya."


"Lalu bagaimana dengan Ratna Bu?" tanya Aisyah.


"Aisyah tunggu sebentar ya, biar Ibu bicara dulu dengan Ratna," ujar Bu Ima, kemudian masuk ke dalam rumah.


Raihan dan Pak Burhan menghampiri Aisyah, kemudian memeluknya.


"Ibu yang sabar ya, kita sudah tau bagaimana sifat Ratna, jadi Ibu jangan terlalu banyak pikiran," ujar Raihan.


Bu Ima saat ini menghampiri Ratna yang terdengar menangis di dalam kamarnya.


"Nak, apa Ratna tidak mau menghampiri Aisyah?" tanya Bu Ima.


"Ratna benci sama Aisyah Bu, Ratna benci sama dia, karena Aisyah adalah Anak dari perempuan yang telah menghancurkan kebahagiaan kita."

__ADS_1


"Nak, apa Ratna tidak ingat dengan semua kebaikan Aisyah, bahkan Aisyah yang sudah membela Ratna ketika Ratna dihina oleh Akbar dulu, dan Aisyah juga selalu ada untuk Ratna sebagai seorang saudara."


"Tapi tetap saja dia adalah Anak perempuan jahat itu, dalam darah Aisyah mengalir darah seorang pelakor," teriak Ratna, dan Aisyah yang mendengar teriakan Ratna terus menangis dalam pelukan Raihan.


Raihan merasa geram kepada Ratna karena sudah membuat istrinya menangis, dan Raihan berniat untuk menghampiri Ratna, tapi Aisyah mencegahnya.


"Sudah Yah, semua perkataan Ratna memang benar," ujar Aisyah.


"Tapi Ayah tidak bisa mendengar oranglain menghina Ibu."


Sesaat kemudian terdengar juga teriakan Bu Ima yang selalu merasa kesal dengan sikap keras kepala Ratna.


"Ratna, seharusnya kamu ingat kalau Aisyah sudah dibuang oleh Ibu kandungnya sendiri, dan tidak adil jika Aisyah harus menanggung semua dosa yang telah diperbuat oleh Ibunya."


"Dari dulu Ibu memang lebih menyayangi Aisyah dibandingkan dengan Ratna, sebenarnya siapa yang Anak kandung Ibu?" tanya Ratna.


Pak Burhan yang mendengar Bu Ima dan Ratna adu mulut, bergegas menghampiri mereka ke dalam rumah.


"Sudah Ima, Ratna, semua ini memang kesalahan Ayah, dan Ayah mohon sama Ratna, jangan sampai Ratna membenci Aisyah yang tidak berdosa," ujar Pak Burhan.


"Terus saja kalian bela Anak kesayangan kalian itu, atau jangan-jangan Ratna memang bukan Anak kandung Ibu?" ujar Ratna.


"Apa maksud kamu Ratna? kenapa bisa kamu mempunyai pemikiran seperti itu Nak?" tanya Bu Ima.


Sesaat kemudian Ratna mengalami kontraksi pada perutnya, karena saat ini sudah masuk taksiran persalinan Ratna.


"Bu sakit," teriak Ratna.


"Astagfirullah Ratna, sepertinya kamu mau melahirkan," ujar Bu Ima.


Bu Ima dibantu oleh Pak Burhan membawa Ratna ke luar dari dalam rumah, meskipun Ratna awalnya menolak bantuan Ayah kandungnya tersebut.


Raihan dan Aisyah membantu Bu Ima menutup warung terlebih dahulu serta mengunci rumah sebelum berangkat, kemudian mereka semua naik ke dalam mobil, apalagi saat ini sudah terlihat darah yang terus mengalir dari jalan lahir Ratna sehingga membuat semuanya merasa khawatir.


"Kita harus bergegas membawa Ratna ke Klinik bersalin," ujar Pak Burhan dengan membantu memasukan Ratna ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Bu, sebaiknya kita langsung membawa Ratna ke Puskesmas tempat Bidan Azizah praktek, karena saat ini Bidan Azizah pasti sedang berada di Puskesmas," ujar Aisyah.


Supir langsung menjalankan mobilnya menuju Puskesmas tempat Kakak iparnya Ratna bekerja, dan Raihan langsung menghubungi Arif untuk memberitahukan kondisi Ratna, karena saat ini Suami Ratna sedang berada di tempat kerja.


__ADS_2