
"Halah alasan, bilang aja kalau kalian pengen numpang hidup sama nenek aku" bantah Bilqis tak mau menerima penjelasan mereka.
Wajah Alica memanas bak udang rebus, ucapan Bilqis tanpa sadar membangkitkan amarahnya.
Nofan mengusap punggung Alica, ia melakukan itu agar Alica tak kepancing emosi dan bikin suasana makin kacau.
"Awas aja kalau besok kalian gak pergi dari sini, aku sendiri yang akan seret kalian keluar dari tempat ini" kecam Bilqis lalu meninggalkan mereka berdua.
Alica dan Nofan saling menatap."Fan kenapa Bilqis segitunya sama kita, emang kita salah apa, kita kan gak ngelakuin apapun, tapi dia segak suka itu sama kita"
"Udah kamu jangan masukin ke hati, di sini kan kita orang asing, mungkin aja Bilqis gak suka kalau ada orang asing masuk kekeluargaannya" timpal Nofan.
Alica merungut, kata-kata Bilqis begitu menyakiti hati mungilnya.
"Pokoknya besok kita harus pergi dari sini, aku gak mau tinggal di sini lagi, apalagi ketemu sama si Bilqis itu" tutur Alica terlanjur sakit hati.
"Iya, sekarang kamu ke kamar gih, istirahat, besok baru kita pulang" suruh Nofan.
Tanpa menyahut Alica bangun dan masuk ke dalam kamarnya. Wajah Alica masih manyun, namun ia tak punya pilihan lain selain diam di tempat tanpa memberontak.
Alica merebahkan tubuh di kasur, matanya menatap ke langit-langit kamar.
"Kenapa aku bisa terjebak di sini, aku kan ingin pulang tapi malah masuk ke jalan yang aneh dan gak ada orang, siapa yang harus aku tanyai biar semua permasalahan yang ada di pikiran ku terjawab" Alica mikir keras, ia tidak akan bisa tenang sebelum tau di mana lokasinya berada.
"Papa, ya ampun kenapa aku sampai lupa sama papa. Papa kan hantu, dia bisa langsung datang dong ke sini dan bisa jawab semua pertanyaan aku. Bodoh, kenapa aku gak kepikiran dari tadi, seandainya aku ingat sama papa mungkin aku gak akan ikut ke rumah nenek kayak gini" Alica meratapi kebodohannya, ia masih punya orang dalam untuk menjawab misteri ini.
Alica tanpa pikir panjang memanggil papanya, satu-satunya orang yang menjadi harapan terakhirnya.
"Papa" panggil senang Alica melihat sang papa muncul di kamarnya.
Pangeran William duduk di tepi kasur. Sementara Alica langsung memeluk erat tubuh papanya.
"Papa kemana aja, kenapa tadi papa gak ada di rumah Anna?" Penasaran Alica.
"Tadi papa balik ke alam papa dulu, papa gak sempat ke sana" jawab pangeran William.
__ADS_1
"Pa, sekarang aku ini ada di mana, kenapa aku berada di tempat aneh kayak gini, papa tau gak aku ada di sama?" tanya Alica memberitahukan sesuatu yang sudah mengganggu pikirannya.
"Kamu berada di desa gaib, nenek-nenek yang bantu kamu itu bukan manusia, dia makhluk halus sama seperti papa" jelas pangeran William.
Alica tersentak kaget, matanya melotot sempurna. Jauh dari ekspektasi jika nenek-nenek baik yang ia temui di pinggir jalan ternyata bukan manusia.
"Yang bener aja pa, masa mereka makhluk halus dan kenapa Alica bisa masuk ke alam gaib" kaget Alica.
Alica tak sadar bahwa dirinya berada di alam yang berbeda, sedikitpun ia tak menyadari jika nenek-nenek itu adalah makhluk halus.
"Ada orang yang sudah membawa kamu ke alam ini" sahut pangeran William.
"Siapa orang itu dan apa keuntungannya bawa aku ke sini?" Makin penasaran Alica.
"Setelah di tinjau sebenarnya keluarga Anna itu bersekutu dengan ketua iblis lewat bantuan dukun, dukun itu meminta tumbal anak indigo dan yang mereka ingin jadikan tumbal itu kamu, mata biru mu yang mencolok telah membuat mereka gila dan ingin kamu mati. Dukun itu juga yang telah membawa mu ke alam gaib ini bersama teman mu Nofan" jelas pangeran William.
Alica menutup mulut tak percaya, selain menipunya, mereka juga ingin memanfaatkannya.
"K-kenapa mereka setega itu pa, kenapa mereka jahat banget mau jadiin Alica tumbal" kecewa Alica.
Keluarga Anna yang sudah ia percayai ternyata keluarga yang ingin berbuat jahat padanya.
Alica makin kecewa dengan keluarga Anna, ucapan ibu-ibu yang ia temui di rumah Anna 100 persen benar. Alica mengucap syukur karena bisa di pertemukan dengan ibu-ibu itu.
"Tapi kamu gak perlu khawatir Lica, mereka akan papa beresin, papa jamin mereka tidak akan menumbalkan orang lain lagi" Pangeran William menaruh dendam pada keluarga mereka dan semua orang yang tersangkut paut dalam masalah ini.
Tak hanya Alica, pangeran William sebagai ayah tidak akan membiarkan mereka hidup tenang, ia sudah mewanti-wanti makhluk halus untuk jangan mengganggu putrinya, tapi mereka tetap saja bandel.
Kali ini Alica tak melarang, keluarga mereka sudah keterlaluan dan ada banyak orang yang menderita karena perbuatan keji mereka.
"Terus gimana ini pa, aku mau pulang, nanti ayah akan khawatir sama aku kalau aku gak pulang" gelisah Alica.
Setelah tau di mana ia berada Alica makin tak bisa diam, di pikirannya hanya ada pak Anton yang pastinya cemas menunggu dia pulang.
"Papa gak bisa nolong kamu hari ini" ucap pangeran William.
__ADS_1
Sontak Alica langsung kaget, jawaban pangeran William membuatnya terkejut.
"Kenapa? Kenapa papa gak bisa nolongin aku?" Tanya Alica.
"Kamu udah dewasa nak, dan papa ingin lihat bagaimana kamu memecahkan masalah mu sendiri. Sedikit cuplikan di desa ini juga ada seorang pemuda yang terjebak sama seperti mu, dia pemuda baik dan ayah yakin kamu bisa menolongnya dan membawanya pulang bersama mu sebelum terlambat. Ayah yakin kamu bisa melakukan ini semua" jelas pangeran William.
Alica terdiam, merenungkan kata-kata ayahnya.
"Di mana pemuda itu?" Tanya Alica.
"Dia ada di sini juga, kamu cari saja, rumahnya gak jauh dari sini, tolong kamu bantu dia, jangan biarkan dia menderita karena bersama dengan spesies yang berbeda dengannya" titah pangeran William.
"Tapi ayah, bagaimana kalau aku gak berhasil bawa dia pulang, seraya kan ini tempat ini bukan alam manusia, aku takut kalau penghuni alam ini marah" kekhawatiran Alica.
"Kamu tenang aja, papa gak sepenuhnya biarkan kamu berjuang sendiri, papa akan pantau kamu dari kejauhan, papa gak akan biarkan mereka menyentuh mu walau sedikit saja" jawab pangeran William.
Meski begitu Alica tetap saja tak bersemangat karena kali ini papanya tak mau membantunya keluar dari alam gaib ini.
Pangeran William dapat menebak jika putrinya keberatan dan tidak mau melakukan apa yang dia minta.
"Ya udah begini aja, kamu sekarang cari pemuda yang papa maksud, kalau udah ketemu kasih tau papa, papa akan langsung tunjukin jalan keluar dari alam ini gimana kamu setuju gak?" Pangeran William meminta pendapat Alica terakit ide barunya.
Seketika senyum merekah di bibir Alica, kepalanya langsung mengangguk cepat.
"Nah gitu dong pa, kan aku mau, kalau papa gak mau bantu aku keluar dari sini itu akan memberatkan aku. Kalau kayak gini kan aku mau, hari ini juga aku akan cari pemuda yang papa maksud" Alica tak perlu pusing-pusing lagi harus keluar dari alam ini dengan cara apa lagi.
"Hmm, ya sudah kamu sekarang cari dia, papa akan pantau gerak-gerik kamu dari belakang, papa akan segera nolongin kamu kalau ada bahaya yang mendekati mu" janji pangeran William.
Alica mengangguk senang, ia memeluk erat tubuh papanya.
"Kamu gak perlu khawatir, papa mu tidak akan membiarkan mu terluka" pangeran William menenangkan putri kecilnya yang begitu ia sayangi.
"Makasih pa, sekarang papa pergilah, aku pasti akan laksanain tugas yang papa berikan dengan sebaik mungkin" ujar Alica.
"Iya, papa pergi dulu, kamu gak usah takut sama mereka, kamu harus pura-pura tidak terjadi apapun biar mereka gak curiga" suruh pangeran William.
__ADS_1
"Iya pa" jawab Alica.
Pangeran William lantas pergi, kini di kamar itu hanya ada Alica seorang.