
Bukannya makin tenang Alica malah makin gelisah, saat putar arah suasana makin tak karuan, jauh dari ekspektasinya.
Pohon-pohon seram telah membangkitkan bulu kuduk Alica, seakan-akan semua pohon-pohon itu menertawakan Alica, tapi bukannya ikut tertawa Alica malah takut.
"Fan, fan gimana ini, kenapa semuanya makin kacau kayak gini" keluh Alica mengumpat di belakang punggung Nofan.
"Kamu gak perlu takut, ada aku di sini, yakinlah semuanya akan baik-baik saja" tutur Nofan terus fokus mengemudikan kendaraannya.
Mata Alica melihat ke kanan dan kiri yang penuh dengan pohon dan pohon.
"Di mana ini, kenapa aku bisa terjebak di sini, tempat apa ini sebenarnya" batin Alica ketakutan.
Berada di tempat ini adalah mimpi buruk bagi Alica, sudah tak ada orang suasana tempat itu juga mendukung kesan mistisnya.
Motor terus melaju, tiba-tiba di pertengahan jalan hujan lebat turun dan dengan cepat membuat mereka berdua basah kuyup.
"Fan gimana ini, kita harus teduh di mana, di sini gak ada rumah yang bisa kita singgahi" panik Alica saat butir-butir air hujan dengan lebat membasahi tubuhnya.
Nofan melihat sekeliling mencari tempat yang bisa mereka jadikan tempat berteduh.
"Kita teduh di bawah pohon itu aja, pohonnya gak aneh, normal-normal aja kok, nanti kalau hujannya udah berhenti kita lanjut jalan lagi" tunjuk Nofan pada sebuah pohon, berdiri di pinggir jalan, ukurannya paling besar dari yang lain.
Pohon yang Nofan maksud adalah satu-satunya pohon paling normal yang mereka jumpai.
Alica setuju, mereka pun berhenti dan berteduh di sana.
Ranting-ranting pohon yang panjang, daun-daun yang lebat sedikit menghalangi air hujan yang berjatuhan, dedaunan pohon itu seakan menjadi atap untuk melindungi mereka berdua.
Cukup lama hujan mengguyur, hingga membuat kedua sahabat itu basah kuyup dan kedinginan.
Setelah hampir 30 menit, baru hujan berhenti dan membuat mereka lega meski belum sampai di lokasi yang mereka inginkan.
__ADS_1
"Ujannya udah berhenti ca, ayo kita pulang, sebelum ujannya urun lagi" ajak Nofan khawatir hujan lagi.
Alica mengangguk, mereka pun beranjak dari tempat duduk.
Angin semilir menerpa tubuh mereka, bibir Alica bergetar karena kedinginan, bajunya yang basah saat di tiup angin berhasil membuatnya kedinginan.
"Dingin banget, ayo fan kita harus pulang ke rumah, di sini dingin banget" usul Alica tak tahan berada di tempat sedingin itu.
"Iya" balas Nofan.
Nofan melangkah ke pinggir jalan tepat di mana ia memarkirkan kendaraannya.
"Loh kemana motor aku, tadi aku parkir di sini, kok malah gak ada" terkejut Nofan saat tak melihat motor miliknya.
Kosong, di pinggir jalan itu tak ada apapun yang mereka lihat, tanda-tanda keberadaan motor milik Nofan tak tampak sama sekali.
"Iya ya, kok bisa ilang, tadi jelas-jelas kamu markir motor di sini, kok bisa gak ada. Di sini kan cuman ada kita berdua, gak ada orang lain lagi, tapi kenapa bisa ilang" kaget Alica merasa ada yang aneh.
"Gak beres ini, dari awal tempat ini udah aneh, makin ke sini makin aneh aja" Nofan geleng-geleng kepala sambil melihat sekelilingnya barang kali motornya ketemu.
"Terus gimana ini fan, kita harus apa, aku mau pulang tapi pulang pake apa, rumah kita jauh woy, kalau jalan kaki sore kita akan sampai di rumah" makin resah Alica.
Keanehan yang menimpa mereka berdua makin kebangetan, mulai dari jalanan dan pohon-pohon yang aneh, kini kendaraan mereka hilang tak berbekas.
"Aku juga gak tau ca, kamu jangan nanya sama aku, kita ini udah satu paket, sama-sama terjebak di sini dan sama-sama gak punya solusi untuk mengatasi masalah ini" jawab Nofan.
Alica rasanya ingin marah namun tak tau sama siapa, keinginannya untuk pulang ke rumah serasa di persulit bahkan seperti tidak di izinkan untuk pulang sama sekali.
Pengelihatan Alica menatap sekitar tempat yang makin lama makin seram dan bertambah menakutkan. Apalagi kondisi langit yang mendung makin membuat hutan itu sedikit gelap.
"Kenapa kita mesti terjebak di tempat kayak gini sih, gak ada orang lagi. Kita mau minta bantuan sama siapa" bingung Alica tak bisa berpikir jernih.
__ADS_1
"Ca, ca, ca" panggil Nofan berulang kali.
"Apaan?" Ketus Alica telah lelah dan ingin istirahat.
"Liat, di sana ada nenek-nenek, coba kita hampiri dia dan tanya kita ada di mana serta di mana jalan keluarnya, mungkin aja nenek-nenek itu tau" tunjuk Nofan pada seorang nenek-nenek bungkuk, memegang tongkat, melangkah dengan pelan-pelan untuk menyebrang jalan di sebelah Utara.
Mata Alica berbinar, tanpa banyak cengcong ia pun langsung berlari mendekati nenek-nenek tersebut. Karena di sini hanya nenek-nenek itu saja satu-satunya manusia yang mereka jumpai.
"Nenek, nenek tunggu, nenek jangan pergi" teriak Alica takut nenek-nenek harapan terakhir mereka pergi.
"Tunggu kami nek" teriak Nofan membantu Alica untuk menghentikan nenek-nenek itu yang akan pergi.
Mendengar teriakan sekeras itu, terpaksa nenek bungkuk itu pun berhenti dan menatap sinis ke arah mereka berdua yang menghampirinya.
"Nenek, nenek jangan pergi dulu" titah Alica ngos-ngosan sambil mengatur nafas yang habis.
"Ada apa kalian menghentikan ku?" Tanya nenek sinis dengan wajah tak bersahabat.
Dari tampangnya saja dapat di nilai jika nenek bungkuk itu tipikal orang yang tak suka basa-basi apalagi tersenyum.
"Nenek, kami tersesat, kami tidak menemukan jalan keluar, kami sudah mencoba mencari jalan keluar tapi gak ketemu-ketemu juga. Nek tolong bantulah kami keluar dari sini, kami ingin pulang nek. Plis bantulah kami" mohon Alica menjelaskan permasalahan yang menimpanya.
"Iya nek, tolong bantu kami, hanya nenek harapan terakhir kami, sungguh kami bingung harus minta tolong sama siapa lagi, karena di sini tidak ada orang yang bisa kita mintai tolong, hanya nenek satu-satunya orang yang kita jumpai" tambah Nofan membujuk nenek tua itu agar mau membantu mereka di masa sulit ini.
Nenek misterius itu menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan tajam dan serius.
Sedangkan yang di tatap menegak ludah pahit, di tatap setajam itu membuat jantung mereka memompa dengan kencang.
"Kalau seperti itu ikutlah dengan ku" ajak nenek misterius, berjalan ke sebelah barat yang merupakan hutan gelap tanpa menunggu respon mereka.
Mereka berdua pun langsung bergegas mengikuti nenek sebelum kehilangan jejaknya. Mereka senang karena nenek-nenek itu mau membantunya.
__ADS_1