Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Tindakan kejam penuh dendam Nofan


__ADS_3

Nofan dan Alica meninggalkan desa Anna, tempat panas dan banyak hal-hal negatif apalagi di rumah Anna dengan geram, amarah masih menyebar luas di tubuh Nofan.


Kemarahan Nofan masih belum kelar, tubuhnya makin lama makin di selimuti amarah yang kian menjadi-jadi.


Alica kembali ketar-ketir saat Nofan mengendari motor dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan.


"Fan, fan kamu sadar dong, aku tau kamu marah, tapi ulah kamu kali ini akan mengantarkan kita ke akhirat. Kamu jangan gila napa" cemas Alica ketakutan parah.


Nofan menyadari kesalahannya ia langsung memelankan laju kendaraannya.


Hati Alica langsung lega, walaupun ia tau jika Nofan lagi di selimuti kemarahan setidaknya Nofan masih memikirkannya selamat.


"Kamu akan bawa kita aku kemana fan, apa kita akan langsung pulang?" Penasaran Alica.


"Masa iya aku bawa kamu pulang jam segini, papa aku akan marah kalau tau aku pulang bukan pada waktunya, aku gak mau mereka tau kalau kita dapat masalah gara-gara Anna. Kamu rahasiain ini, aku gak mau mereka cemas gara-gara biang kerok itu" titah Nofan.


Alica mengangguk setuju, ia juga tidak mau memberitahukan keluarganya tentang kejadian yang menimpanya di sekolah. Alica akan pendam dan selesaikan sendiri tak mau melibatkan keluarganya.


"Terus sekarang kamu akan bawa aku kemana kalau gak pulang ke rumah?" Makin penasaran Alica.


"Udah kamu diam aja, nanti kamu juga akan tau aku akan bawa kamu kemana" sahut Nofan fokus mengendari motor.


Tak ada cara lain selain diam dan melihat apa yang akan Nofan lakukan, karena di sini Nofan yang menjadi supir sekaligus penentu arah.


Setelah menjauh dari wilayah kawasan desa Anna, Nofan banting setir ke sebelah kanan.


Alica lantas mengerutkan alis."Kok ke sini, sebenarnya dia mau bawa aku kemana sih" batin Alica makin penasaran.


Arah tujuan Nofan kali ini tak dapat Alica tebak, dari pada Nofan marah gara-gara dia banyak tanya, ia pun terpaksa diam dan mengikuti alurnya, ia yakin Nofan tidaka akan membawanya ke tempat yang enggak-enggak.


Di jalanan yang terkesan sepi dan hanya ada beberapa kendaraan yang melintas, Nofan melajukan motornya tanpa henti, suasana yang jauh dari kata ramai membuatnya dengan mudah menguasai jalanan.


Tak lama kemudian motor yang Nofan kendarai terhenti di sebuah tempat sepi dan lumayan jauh dari permukiman penduduk.


Alica turun dan menatap sekitar yang rata-rata pohon dan pohon, suara gemericik air terdengar seperti alunan musik di telinga.


Tempat yang Alica pijak asing, ia tak mengenali tempat itu.


"Kenapa kamu bawa aku ke sini, kita akan ngapain di sini?" Heran Alica tak paham maksud Nofan membawanya ke tempat itu.


"Nenangin diri apalagi, pikirkan ku lagi kacau, aku butuh tempat-tempat kayak gini" sahut Nofan ketus.


Alica tak memasukkan ke hati sikap Nofan yang nyeleneh, ia mengambil duduk di sebuah batu besar dekat danau kecil, di depan Alica adalah air terjun yang airnya berjatuhan dan begitu seger.


Nofan tanpa aba-aba langsung menceburkan diri ke dalam danau kecil yang ada di area sekitar air terjun.


"Nofan!" Kaget Alica akan tindakan Nofan yang tiba-tiba itu.


Byuurrr!


Suara air terdengar keras saat Nofan menceburkan diri ke sana. Ia mandi di air terjun yang dingin, kebetulan tempat itu sepi sehingga pas banget untuk Nofan menenangkan pikirannya yang berkecamuk.


Alica gelang-gelang kepala melihat Nofan yang benar-benar stres gara-gara Anna. Sampai-sampai Nofan membawanya ke tempat sepi agar isi pikirannya jernih dan emosinya menyingkir.


"Ada-ada aja anak ini, kenapa dia bisa tau kalau di sekitar sini ada air terjun" batin Alica tak pernah menduga hal itu sebelumnya.


Nofan berdiri tepat di mana titik air terjun berjatuhan, tubuhnya terasa segar, sedikit beban dan masalahnya menyingkir, ia memang tak salah mencari tempat untuk menenangkan diri.


Dalam waktu sekejap tubuh Nofan seger begitu juga dengan pikiran dan hatinya.


"Fan kok kamu tau kalau ada air terjun di sekitar sini, kamu tau dari mana?" Tanya Alica sedikit berteriak karena suara air terjun begitu mendominasi.


"Dari Calvin, rumah neneknya gak jauh dari sini, aku pernah main ke neneknya dan dia ngajakin aku ke air terjun ini, dari situlah aku tau kalau di tempat ini ada air terjun. Tempatnya emang sepi sih tapi suasana kayak gini cocok buat orang yang mau nenangin diri dari masalah yang lagi di hadapi" jelas Nofan.


"Owwwh, pantesan aja kamu bisa tau, soalnya tempat ini jauh dari keramaian, sedikit aneh sih saat kamu tiba-tiba tau tempat ini, padahal aku gak pernah dengar tuh tentang keberadaan air terjun ini" Alica mewajarkan mengapa ia ketinggalan berita akan tempat pariwisata yang cocok bagi orang yang suka air dan alam.


Hanya dehaman yang Nofan keluarkan, ia fokus mandi di sana, airnya begitu jernih dan seger, lebih seger dari air sumur.


Alica menatap sekitar, ia langsung mengerutkan alis."Kok kayak ada yang lewat di sana!"

__ADS_1


Pandangan Alica jatuh pada sebelah Utara air terjun yang tumbuh sebuah pohon besar dan di tempat itu pula Alica tak sengaja menangkap ada yang tiba-tiba melintas dari sana.


"Aduuuh!" Pekik Alica keras saat tiba-tiba Nofan mencipratkan wajahnya dengan air.


"Iiih kamu ngapain sih, basah kan baju aku jadinya" kesal Alica.


"Habisnya suruh siapa kamu bengong, kalau ngapain bengong terus nanti kesambet loh" balas Nofan.


Alica tak menanggapi, ia mengelap air yang mengenai wajahnya, tak lupa ia memberikan tatapan maut pada sahabatnya yang begitu bahagia saat melihatnya tertekan.


Nofan begitu menikmati keindahan alam yang ada di daerah pelosok itu, air terjun yang begitu segar telah mampu membuat hatinya yang panas menjadi dingin.


Alica hanya diam di tempat, ia enggan untuk mandi di sana karena ia tak membawa baju ganti.


"Fan ayo kita pulang, udah lama kita di sini, nanti ayah nyariin kalau kita telat pulang" ajak Alica.


Nofan yang sudah tenang pun setuju, ia keluar dari air dan langsung membawa Alica pulang ke desa.


...•••...


Keesokan harinya.


Alica mendatangi rumah Nofan sudah siap dengan pakaian seragamnya.


Belum sempat Alica teriak, Nofan sudah keluar dan mendekati gadis itu.


Alica terkaget-kaget."Kok tumben Nofan jam segini udah siap, biasanya dia enteng banget dan suka aja molor. Apa dia berubah semenjak dia gak jadi ketua OSIS lagi, dia kan selama ini bebas ke sana kemari gara-gara jadi ketua OSIS" batin Alica.


"Woy, bengong aja, ayo berangkat nanti kita telat" bentak Nofan membuat lamunan Alica buyar.


Alica langsung setuju dan berangkat bareng Nofan ke sekolahan.


Sepanjang jalan Alica memikirkan apakah baik atau buruk perubahan Nofan ini, kalau di pikir secara logika baik, tapi jika di pikir menggunakan batin tentu saja tidak baik.


"Ada baiknya juga Nofan gak jadi ketua OSIS, dia jadi gak suka bolos, tapi kasihan juga sih nih anak, dia kayak gini gara-gara aku. Kalau aku gak ngotot buat bantuin Anna, mungkin semuanya akan berjalan seperti biasa gak begini" gumam Alica sepanjang perjalanan.


"Aku akan cari cara untuk bisa bantah semua tuduhan itu, aku gak bisa biarkan Nofan galau gulana kayak gini gara-gara Anna. Aku akan bikin wanita berbisa itu mengakui kesalahannya, aku akan bersihkan nama baik Nofan yang tercemar" gumam Alica geram jika teringat dengan gadis bernama Anna.


Motor terhenti di sebuah parkiran, kedua sejoli itu berjalan masuk ke dalam sekolahan.


Tatapan tak suka dan benci keluar, semua orang menatap mereka begitu semuanya gara-gara Anna. Isu yang Anna kembangkan begitu mengguncang seisi sekolahan.


"Fan" lirih Alica.


"Udah kamu tenang aja, biarkan aja mereka kayak gitu, nanti mereka juga akan bungkam sendiri" sahut Nofan tak mempermasalahkan sikap mereka.


Alica tak bisa berbuat banyak selain diam dan terus berjalan. Tak bisa ia menutup mulut mereka satu persatu, tapi ia janji akan bungkam mulut mereka yang sukanya nyinyirin hidup orang.


"Kak Nofan di panggil ke kantor sama kepala sekolah" salah satu murid menghampiri mereka.


Deheman aja yang keluar dari bibir Nofan, ia malas untuk berbicara, apalagi suasana hatinya masih panas jika teringat perbuatan keji Anna padanya.


"Makasih infonya" sahut Alica ramah.


Gadis itu membalas dengan senyuman lalu pergi dari sana.


"Fan, kenapa kamu di panggil ke kantor, apa karena masalah ini ya?" tebak Alica.


Masalah yang di hadapi oleh Alica terutama Nofan tengah panas-panasnya dan mampu mengguncang seisi sekolahan.


"Entah, udah kamu gak usah mikirin masalah ini, kamu tunggu di kantin atau gak di taman aja, jangan masuk ke kelas dulu, aku hanya khawatir betina-betina jahanam itu ganggu kamu lagi" suruh Nofan begitu cuek.


"Masalah ini biar aku yang urus, kamu gak perlu pikirin, aku yang akan selesain sendiri" sambung Nofan.


Kepala Alica mengangguk, lalu menuruti perintah Nofan, Alica kali ini tak mau membuat sahabatnya marah lagi, biar suasana tak semakin panas.


Nofan dengan cool berjalan menuju kantor, di koridor banyak sekali murid baik siswi maupun siswa, namun Nofan gak peduli akan tatapan mereka yang terlihat gak suka.


Setibanya di kantor sudah ada banyak para guru yang menunggu di sana.

__ADS_1


"Permisi" ucap Nofan.


"Masuk" suruh pak Bambang panik.


Nofan masuk, mengambil duduk di dekat salah satu orang yang panik dan takut setengah mati.


Senyum tipis terbit di wajah Nofan sekilas, lalu wajahnya kembali serius.


"Kenapa kamu lapor polisi terkait masalah ini!" Murka pak Bambang.


Bukan masalah Anna yang kini menjadikan pembahasan di meja pada guru, tapi masalah baru yang Nofan perbuat. Tapi masalah ini jauh lebih besar dan urgent.


"Mereka sudah keterlaluan pak, ulah mereka hampir menewaskan nyawa sehabat saya, saya gak terima dan saya terpaksa lakukan ini" jawab Nofan.


Alica bisa ia jadikan sebagai alasan, karena memang mereka selalu mengganggu sahabatnya, mereka tak segan-segan melukai Alica. Semua orang sudah tau kalau yang mereka jadikan target adalah Alica.


"Kenapa kamu gak musyarawah dulu pada kami?" tak habis pikir pak Bambang.


Keputusan yang di buat Nofan mampu menggegerkan seisi sekolah dan membuat semua guru panik.


"Karena itu percuma pak, persoalan ini sudah lama, mereka sudah di beri peringatan tapi tetap saja tidak ada perubahan" jawab Nofan.


"Tapi perbuatan kamu ini merusak nama baik sekolahan, kamu gak mikirin hal itu apa hah!" Marah besar pak Bambang.


"Nama baik sekolahan ini sudah rusak pak, anda sebagai kepala sekolah seharusnya menindak tegas masalah pembullyan yang merajalela di sekolahan ini. Justru dengan di bawanya kasau ini ke jalur hukum, para pembully yang berada di naungan sekolah ini bisa sadar kalau perbuatan mereka itu salah dan akan terkena sanksi berat!" Tegas Nofan tak akan mau kalah walaupun lawannya adalah kepala sekolah yang memiliki jabatan tertinggi di sekolahan ini.


Semua guru terdiam, pikiran mereka berkecamuk, tiga polisi yang di panggil untuk mengusut tuntas adanya kasus kekerasan dan perundungan di sekolahan ini tambah membuat mereka makin tak bisa tenang.


Jika di gali lebih dalam akan ada banyak orang yang terlibat dalam kasus ini.


"Kalian ingat dengan anak bernama Inayah yang saking stres dan frustasi karena terus menerus di bully habis-habisan oleh teman-temannya melakukan tindakan BUNUH DIRI!" penuh penekanan Nofan.


"Kalian bisa liat kan dampak buruk adanya perundungan di sekolah" ungkit Nofan akan masalah yang terjadi beberapa tahun lalu, yang menimpa salah satu siswi.


Berita itu membuat sekolah geger, tapi perlahan-lahan kasus itu di lupakan begitu saja.


"Pembullyan itu merusak mental, jika mental sudah rusak, mereka akan takut berlebihan dengan yang namanya manusia. Saya tidak bisa tinggal diam lagi pak, rata-rata masalah yang timbul di sekolahan ini gak jauh dari yang namanya pembullyan, jika di data mungkin 75% angka pembullyan ada di sekolahan ini" sambung Nofan.


"Dan rata-rata mereka yang suka membully" tatapan maut Nofan melirik enam orang yang duduk dengan gugup serta takut.


Mereka tercengang saat tadi ada 3 polisi yang masuk ke dalam sekolahan dan nama mereka yang di panggil. Kemarin mereka telah mengentengkan ancaman Nofan kini mereka kena batunya.


Pak Bambang menghela nafas."Kalau seperti itu silahkan pak bawa mereka ke jalur hukum, kami pihak sekolahan memberikan izin kepada pihak berwajib untuk menjalankan tugas"


Mereka berenam tercekat, mata mereka terbelalak, mereka tak menduga kalau pak Bambang akan ikut setuju dengan argumentasi Nofan.


"Pak jangan pak" titah Rika.


"Pak tolong jangan lakuin itu pak, kami mohon jangan lakuin itu" mohon Becca.


"Kami janji kami akan berubah, kami akan jadi anak baik, kami gak akan bully orang lagi, asal jangan bawa kami ke kantor polisi" ucap Eka.


Aksi penolakan mereka pun satu persatu di utarakan, mereka berharap bahwa pak Bambang memberi mereka kesempatan kedua untuk berubah dan jadi anak baik.


Mereka memikirkan masa depan yang akan hancur jika mereka masuk ke dalam jeruji besi, ulah mereka yang mereka anggap enteng kini akan menjerat mereka ke dalam tempat terkutuk di muka bumi ini, yakni (penjara).


"Tidak bisa, kalian sudah keterlaluan, kami sudah banyak memberi kalian kesempatan, tapi kalian tetap saja tidak berubah. Kami tidak bisa membantu kalian lagi, kalian tanggung sendiri resiko akibat perbuatan yang sudah kalian lakukan" tolak pak Bambang keras.


Wajah pak Bambang telah menghitam, satu karena nama baik sekolahan tempatnya mengais rezeki tercoreng karena kesalahan mereka, dua karena masalah Nofan yang masih memanas di sekolahan ini. Agar namanya tak makin hancur ia terpaksa setuju dengan Nofan.


Tangis mereka pecah, mereka tak dapat membayangkan bertapa menderitanya mereka jika sampai mereka masuk ke dalam jeruji besi.


"Kak Nofan, kak Nofan tolong jangan lakuin itu, tolong cabut laporannya kak, tolong kasihanilah kami kak" titah Aurel.


Air mata tak terbendung lagi, semuanya pecah dan membuatnya terlihat seperti orang gila saat ia akan di penjarakan padahal kemarin ia dan kawan-kawannya menyepelekan masalah itu.


"Gak bisa, keputusan ku sudah bulat, aku tidak bisa mencabut laporan itu. Aku kemarin sudah bilang aku akan bikin kalian jera!" Kekeh Nofan tak mau berbelas kasih pada mereka.


Mereka menangis kejer, mereka berteriak meminta kesempatan kedua, mereka tak ada yang mau berada di dalam tahanan.

__ADS_1


__ADS_2