Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Hukuman setimpal bagi Anna dan 6 orang pembully


__ADS_3

Pagi setelahnya Anna dan bapaknya berangkat ke sekolah, saat akan sampai di sekolah bapak Anna turun, tak mungkin Anna membawa bapaknya ke sekolah karena itu akan membuat rencana mereka terendus oleh Alica ataupun Nofan.


"Anna di mana anak indigo yang kamu maksud itu?" Tanya pak Basuki, memelankan volume suara.


Anna diam, celingukan mencari keberadaan anak perempuan satu-satunya yang memiliki mata biru di sekolahan ini dan itu membuat orang mudah mengenali Alica, atau bisa di sebut ciri fisik utama Alica yang mencolok.


Terbit senyum di wajah Anna."Nah itu orangnya pak"


Tangan Anna menunjuk pada seorang gadis yang baru sampai di sekolah dan tak lupa di sampingnya pasti ada yang namanya ketua OSIS yang kebetulan teman masa kecilnya.


"Mana?" Pak Basuki mencari-cari orang yang Anna maksud.


"Itu pak yang namanya Alica, dia adalah indigo satu-satunya di sekolahan ini yang memiliki mata biru, murah di kenali bukan?" Kepala pak Basuki mengangguk, pandangannya menatap lekat Alica walau dari kejauhan.


Senyum sinis terukir."Anak kecil itu akan jadi target kita, dia akan mati hahahaha"


Tawa menggelegar meluncur keluar, kebengisan dan jiwa penuh iblis telah menyatu dan sudah mendarah daging di tubuh pak Basuki.


"Begitulah ceritanya kenapa keluarga ku ingin menjadikan Alica sebagai tumbalnya, sungguh tidak terbesit sedikitpun kalau kami akan menghancurkan nama baik Nofan, kami terpaksa melakukan ini untuk mencari aman, saya tau kalau cara ini buruk dan merugikan orang lain. Saya hanya bisa mengatakan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak yang terkait atau terlibat dalam masalah ini" jelas Anna menyudahi cerita singkat mengapa keluarganya mengincar Alica dan mengapa pula ia merusak nama baik Nofan.


Pak Bambang mengacak rambutnya kasar."Kenapa kamu harus lakuin ini Anna, kamu tau gak apa yang udah kamu lakuin itu fatal. Gara-gara kebohongan kamu kami tidak mempercayai Nofan dan menuduh Nofan yang bukan-bukan"


Tak habis pikir pak Bambang, untuk mencari rasa aman keluarga Anna berserta Anna sekaligus sampai tega melakukan sesuatu yang jelas-jelas salah dan membuat hati orang lain terluka.


Anna tertunduk, ia mengakui kalau apa yang ia lakukan salah besar, ia hanya bisa pasrah apa yang akan pihak sekolah lakukan padanya.


"Maaf pak, saya tau saya salah, saya juga kepaksa ngelakuin ini" Anna meremas jemari tangannya yang basah.


Kesalahan yang ia perbuat benar-benar tak bisa di tolerir lagi, saking fatalnya sang ketua OSIS untuk meyakinkan semua orang kalau dia tak bersalah sampai melepas gelarnya.


Walaupun pahit, kejujuran adalah cara terbaik untuk memecahkan masalah, Anna kini sudah menyudahi kebohongannya walaupun menyakiti, tapi setidaknya sedikit memperbaiki suasana yang kacau balau.


"Anna kami benar-benar kecewa sama kamu, tindakan kamu fatal, kami terpaksa skors kamu dari sekolahan selama 1 Minggu" keputusan pak Bambang.


Diskors selama 1 Minggu adalah hukuman terbaik untuk Anna saat ini.


"Baik pak, saya menerimanya dengan lapang dada, saya memang bersalah di sini. Tolong maafkan kesalahan saya" timpal Anna tak memberontak karena ia tau kalau dirinya salah.


"Sekarang kamu keluar, saya gak mau liat wajah kamu lagi" usir pak Bambang.


Masalah Nofan dan Anna sudah membeludak di kepala pak Bambang di tambah lagi dengan masalah kasus bully yang Nofan bawa ke jalur hukum dan membuat itu semua makin besar.


"Sekarang kalian udah tau kan kalau Nofan gak bersalah, jadi berhenti lempar semua masalah sama Nofan" pertegas Alica, lalu pergi meninggalkan mereka.


Di luar semua orang tampak heboh saat mendengar kalau Nofan tidak bersalah tapi Anna yang bersalah.


Alica tak peduli tentang kehebohan itu, ia mencari-cari keberadaan Nofan di tengah keramaian.


"Mana anak itu, pergi kemana dia, tadi katanya ke kantor tapi kenapa pas di kantor malah gak ada, sembunyi di mana dia"


Mata Alica terus mencari batang hidung Nofan namun tetap saja tak ada.


Alica pun melangkah ke taman sekolah barang kali di tempat itu ada orang yang lagi ia cari-cari.


Bener saja jika orang yang Alica cari di sepanjang koridor tengah duduk termenung di taman, dengan tatapan kosong, pikirannya kacau balau.


"Itu dia orangnya, pantesan aja di cari-cari gak ketemu-ketemu ternyata dia ngumpet di sini" ucap Alica dari kejauhan sudah dapat mengenali sahabatnya.


Tanpa basa-basi Alica langsung mendekati Nofan yang galau, galau karena nama baiknya di rusak habis-habisan oleh orang bernama Anna.


"Nofan" panggil Alica.


Sepints Nofan melirik, lalu kembali menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Kamu ngapain di sini, di sini gak orang" merasa aneh Alica.


"Tapi aku suka di sini" sahut Nofan nada malas.


Alica duduk di dekat pemuda yang tengah galau brutal menatapi nasibnya yang malang.


"Udah kamu jangan galau, sekarang nama kamu udah bersih, Anna udah mengakui kesalahannya, semua orang juga udah tau kalau dia yang jahat bukan kamu" ujar Alica.


Sontak Nofan menoleh kaget."Apa kamu bilang? Anna mengakui kesalahannya? Gak mungkin, dia itu gak mungkin ngaku secepat itu, dari kemarin-kemarin dia ngotot banget dan gak mau ngaku sama sekali walau udah aku paksa!"


Serasa tak percaya Nofan saat gadis ular berbisa itu mengakui kesalahan yang sudah ia perbuat.


"Iya bener, Anna udah ngaku, dia sekarang diskors 1 Minggu dari sekolahan, nama kamu urus bersih, kamu gak usah galau lagi" jelas Alica.


Terbit senyum di wajah Nofan."Kok bisa dia ngaku, siapa yang bikin nenek lampir itu ngaku!"


"Aku, siapa lagi, habisnya aku gedeg banget sama tuh anak, aku paksa dia buat ngaku, walaupun harus mengeluarkan jurus yang ekstrim" jawab Alica tampak kesal jika teringat dengan Anna.


Nofan masih tak nyangka kalau nama baiknya telah kembali, dan itu semua berkat Alica, orang yang selama ini ia lindungi.


"Yang bener aja, masa nenek lampir itu ngaku, kesurupan setan mana dia kok bisa-bisanya dia ngaku padahal kemarin dia sengotot itu untuk buat gak ngaku"


"Karena aku yang udah desak dia, aku bikin dia menderita biar dia tau rasa, aku jambak rambut dia, lalu seret dia ke kantor, kebetulan di sana ada polisi, dia gak berkutik dan terpaksa mengakui kesalahannya" jawab Alica geram.


"Widih, gila-gila" takjub Nofan tak menyangka kalau sahabatnya yang sudah mengembalikan nama baiknya.


"Sekarang kamu gak usah galau lagi, nama kamu udah bersih, dan si nenek lampir itu udah minggat dari sini, kamu gak usah mikirin dia lagi, karena pelan-pelan nama kamu akan kembali seperti semula, pandangan orang jelas akan berbeda dan kembali seperti dulu" tutur Alica.


Nofan mengangguk, pikirannya langsung plong saat mendengar kalau musuh bebuyutannya telah mengakui kesalahan yang sudah ia perbuat dan pastinya nama baiknya juga akan kembali seperti semula.


"Fan, kenapa kamu bawa kasus bully itu ke pihak berwajib?" Penasaran Alica.


Alica kira Nofan hanya menggetartak mereka saja agar mereka takut rupa-rupanya dia benar-benar serius.


"Jadi kamu ngelakuin ini karena hal itu?" Kaget Alica.


"Gak semerta-merta karena itu, aku juga udah muak dengan kelakukan mereka, karena mereka ada siswi yang sampai furtasi dan meninggal dunia, aku gak tega aja kalau sampai ada orang lain lagi yang bernasib sama seperti Inayah" jawab Nofan.


"Terus gimana ini sekarang fan, guru-guru pasti lagi pusing masalah laporan yang sudah kamu bikin" ujar Alica.


"Biarin aja, biar mereka tau rasa, mereka kan udah gak perlu aku lagi, yang udah sekarang mereka tanggung aja resikonya, aku ingin liat bagaimana mereka menyelesaikan masalah yang melanda sekolahan ini. Dari dulu mereka sangat takut jika repotasi sekolahan rusak, dan karena itu juga kasus Inayah selesai dengan sendirinya. Sekarang biarkan aja mereka pusing sendiri" balas dendam yang Nofan berikan gak main-main.


Sekalinya Nofan bertindak, tak hanya Anna yang kena imbasnya ke satu sekolahan.


Kegeraman Nofan sudah berada di tingkat paling tinggi, sudah lama ia diam dan mendengar hal-hal miring yang ada di sekolahan ini, dan itu selesai dengan uang.


Laporan yang ia berikan pada pihak berwajib lengkap berserta bukti, kasus yang lama juga telah ia buka kembali, ia benar-benar tak peduli akan nasib 6 pembully jika mereka masuk ke dalam jeruji besi.


"Kak Nofan"


Mereka menoleh ke arah siapa yang memanggilnya.


"Ada apa?" Dingin Nofan.


"Kakak di panggil ke kantor sekarang" jelas siswi itu.


"Baik aku akan ke sana" sahut Nofan.


"Aku ikut fan, aku mau tau apa yang akan mereka lakukan, aku yakin kamu di panggil ke sana karena masalah ini" titah Alica tak ingin ketinggalan berita penting.


"Ya udah ayo ikut" setuju Nofan.


Alica dengan senang hati ikut ke kantor bersama sahabatnya, prediksinya tak jauh kalau nanti yang akan di bahas masalah Anna atau pembully itu.

__ADS_1


Setibanya di kantor enam anak pembully masih stay di sana, tiga aparat negara juga masih berada di tempat, terlihat jelas wajah guru-guru yang pucat pasi, sebab masalah ini menyeret mereka semua.


"Kalian duduklah" suruh pak Bambang.


Nofan dan Alica duduk di sana bersama yang lain.


Jika di perhatikan wajah pak Bambang makin lama makin memucat, bersamaan dengan itu senyum tipis terukir di bibir Nofan.


"Ada apa lagi kalian manggil saya kemari?" Tanya Nofan tak bersahabat.


"Nofan, kami minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu karena kami gak tau kalau sebenarnya yang salah itu Anna bukan kamu. Kami minta maaf karena udah nuduh kamu yang bukan-bukan, tolong maafkan kami" ujar pak Bambang menyesali perbuatan gegabahanya.


"Oke, saya dengan lapang dada akan memaafkan kalian semua" jawab Nofan.


Mereka lega, mereka pikir kalau Nofan akan bersikeras untuk tetap marah dan menolak permintaan maaf mereka.


"Nofan kami mohon sama kamu tolong cabut laporan itu, kamu jangan bikin nama baik sekolah kita rusak, kalau sampai murid di sekolah ini masuk ke dalam penjara repotasi sekolahan ini akan hancur, kami mohon sama kamu kerja samanya" titah Bu Mesi.


"Kalian hanya memikirkan repotasi sekolahan, kalian tidak peduli ada banyak anak yang tertekan hanya karena ulah mereka berenam. Tindakan mereka sudah tak bisa di maafkan lagi, mau tidak mau mereka harus masuk ke dalam jeruji besi!" Tegas Nofan.


Tak akan Nofan mencabut laporan yang sudah ia bikin sematang mungkin.


"Mereka pasti bisa berbuah Nofan, kami akan pastikan kalau mereka akan berubah, kami sendiri yang akan mantau gerak-gerik mereka" tambah Bu Sari.


"Tidak, mereka tidak akan berubah, sifat bullyan sudah mengental di darah mereka. Biarkan saja mereka masuk ke dalam penjara, biar mereka tau rasanya hidup di tempat terkutuk!" Tolak keras Nofan.


Dewan guru makin panik dan tegang, Nofan tetap bersikeras untuk melaporkan masalah ini ke jalur hukum, di ajak berdamai berulang kali pun Nofan tetap saja menolak.


Nofan rela kehilangan gelarnya demi menegakkan keadilan yang mulai luntur.


"Pak polisi, bawa mereka, jangan biarkan mereka keluar dari dalam penjara" perintah Nofan.


Mereka berenam menangis histeris, mereka tak mau mendatangi tempat terkutuk itu, mereka memberontak tak bisa diam.


Mereka terus memohon meminta belas kasihan Nofan, tapi hati pemuda itu sekeras batu dan tak bisa lunak walaupun mereka nangis darah sekalipun.


Pihak berwajib menyeret paksa mereka, yang mengharuskan kalau mereka harus masuk ke dalam sel tahanan.


Kepala pak Bambang rasanya meledak, repotasi sekolahan yang ia jaga selama ini hancur dengan waktu yang terbilang singkat.


"Nofan kami kecewa sama kamu, kamu malah mementingkan ego mu dari pada repotasi sekolahan ini" hardik pak Bambang murka pada orang yang pernah ia percayai begitu dalam.


"Nama sekolah akan membaik pak walau serusak apapun, tapi nyawa tidak akan bisa kembali, hidup ini cuman sekali pak, sekali kita mati kita tidak akan bisa hidup kembali" jawab Nofan.


"Ayo Alica kita pergi dari sini" ajak Nofan.


Alica tanpa mengeluarkan sepatah kata pun langsung pergi dari sana meninggalkan para guru yang kebingungan akan kasus yang pastinya dapat merusak nama baik sekolahan.


"Fan, kamu udah keterlaluan, apa yang kamu lakuin itu udah kelewat batas" ucap Alica masih merasa iba pada enam pembully yang hidupnya akan hancur.


"Aku gak peduli, mau mereka hidup bahagia atau enggak aku gak peduli. Yang penting aku udah melaksanakan wasiat terakhir Inayah" jawab Nofan, mata lurus ke depan, sementara kaki terus melangkah.


Kening Alica berkerut."Inayah? Wasiat terakhir? Maksud kamu?"


Alica tak paham apa yang bikin sahabatnya menjadi hitam dan tak peduli dengan orang lain, walau semarah apapun Nofan tak pernah begini.


"Sehari sebelum Inayah menghembuskan nafas dengan cara melompat dari atas atap sekolahan, Inayah minta aku buat tangkap enam pembully yang membuatnya tertekan selama ini. Pada waktu itu aku gak bisa berbuat banyak, aku udah berupaya keras agar kasus Inayah di bawa ke jalur hukum. Namun semua orang tetap saja tak menghiraukan karena orang tua si pembully memberi uang dalam jumlah besar untuk tutup mulut"


"Aku kesel banget, dari dulu aku emang punya tekad untuk bawa mereka ke dalam jeruji besi, dan inilah waktu yang tepat untuk membuat mereka kapok!" Sambung Nofan.


"Aku di hantui rasa bersalah karena tak dapat menjalankan wasiat terakhir Inayah, tapi hari ini beban yang aku pendam udah impas" pertegas Nofan.


Alica terdiam, ia mencerna baik-baik ucapan Nofan, kini ia mewajarkam kenapa Nofan bersikeras untuk membawa masalah ini ke jalur hukum, rupanya ada janji di balik ini semua.

__ADS_1


__ADS_2