
Nofan mengambil ranting-ranting kayu yang berserakan di hutan itu karena memang tak ada yang mengambilnya.
Zaman sudah cagih, penggunaan kayu bakar untuk masak dan lain sebagainya sudah mulai berganti dengan kompor yang lebih lengkap dan praktis.
"Dari pada kamu ikuti aku, mending kamu bantu aku ngambil kayu ini, biar pekerjaan aku lebih cepat" suruh Nofan.
Alica langsung mengambil kayu-kayu yang berjatuhan, dalam waktu singkat ia mengumpulkan banyak ranting-ranting kayu di tangannya.
"Ayo kita kembali ke tenda lagi, mereka pasti lagi nungguin kita" ajak Nofan.
Alica mengangguk patuh dan kembali ke tenda bersama Nofan dengan kayu di tangannya.
Prakk
Kayu-kayu yang Nofan kumpulkan langsung ia di jatuhkan di tengah-tengah hamparan tanah.
"Nih aku udah cari kayunya, sekarang kamu buat api unggun. Gak ada alasan lagi buat nolak" suruh Nofan.
Calvin langsung cekatan membuat api unggun. Setelah api unggun di nyalakan kegelapan sedikit menyingkir.
Mereka semua menghangatkan diri di dekat api unggun.
"Mana yang lain, kenapa cuman kamu doang, Reza sama Dimas kemana?" Nofan tak menemukan batang hidung kedua temannya.
"Tidur, ngapain lagi, mereka emang suka molor, katanya mereka mau tidur dulu biar gak ngantuk pas ronda nanti malam" jawab Calvin di balas anggukan oleh Nofan.
"Fan, ini kita gak ada kegiatan apa?" Bisik Calvin di telinga Nofan.
"Gak ada, pak Bambang gak bolehin ada acara malam ini, mungkin besok bakal ada acara, kalau malam ini mereka di suruh istirahat aja, takut kecapean, kalau sampai mereka sakit kita kan yang berabe" jawab Nofan.
Calvin langsung diam dan bertanya lagi.
Mereka duduk-duduk di batang pohon itu sambil sesekali mengobrol. Malam yang semakin larut mengharuskan mereka untuk masuk ke dalam tenda masing-masing buat beristirahat.
Tapi tidak untuk kelompok yang harus ronda malam ini demi menjaga keamanan peserta di ikuti oleh anggota OSIS yang berjenis kelamin laki-laki.
Nofan berkeliling memeriksa semua tenda, takut ada bahaya yang mengancam, baik dari makhluk halus, hewan maupun manusia.
Sepanjang Nofan berjalan tak ada sesuatu yang aneh, semuanya tampak aman dan tidak ada yang mencurigakan.
Tiba-tiba langkah Nofah terhenti di sebuah tenda, dekat tenda itu terdapat batu besar.
Nofan terkejut melihat seorang gadis berambut panjang, mata bulat sempurna, wajah pucat pasi, duduk di batu besar seorang diri.
"Siapa dia, kenapa aku gak pernah liat ada murid di sekolahan yang kayak dia" batin Nofan merasa asing dengan gadis itu.
"Apa mungkin dia anak baru ya, aku kan gak masuk selama 1 Minggu bisa aja ada anak baru yang masuk" Batin Nofan menatap intens gadis itu yang diam tanpa pergerakan.
Wajah gadis itu begitu pucat, pucatnya begitu luar biasa.
Satu demi satu, kaki Nofan melangkah, mendekati gadis itu yang diam di tempat tanpa berkedip.
"Kok jam segini kamu belum, ini udah malem loh, sana masuk ke dalam tenda istirahat yang banyak biar besok kamu bisa ikut kegiatan yang akan di selenggarakan" suruh Nofan lembut.
Bibir gadis itu bergetar."Dingin"
Hanya itu yang keluar dari bibirnya, Nofan mengerutkan alis tak paham akan maksud gadis itu.
"Kenapa dia, apa yang tadi dia bilang, dingin? Kalau udah tau dingin kenapa dia masih ada di luar seharusnya dia masuk aja ke tenda" batin Nofan tak paham kemana jalan pikiran gadis itu pergi.
"Dingin" ucap gadis itu kedinginan.
Wajahnya begitu putih yang menandakan kalau dia begitu kedinginan, tak hanya wajah bibirnya agak membiru.
Nofan yang terus mendengar kalimat dingin keluar dari bibir gadis itu langsung melepas jas OSIS-nya, kemudian ia menyelimuti tubuh gadis itu menggunakan jasnya.
"Pakailah ini, biar kamu gak dingin lagi" ujar Nofan.
Tak ada tanggapan, gadis itu diam tak menanggapi Nofan.
"Kamu kalau dingin masuk aja ke dalam tenda, biar gak kedinginan di luar" suruh Nofan.
__ADS_1
Diam, gadis itu tetap diam, ia tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk membalas ucapan Nofan.
"Aku pergi dulu, kamu jaga diri baik-baik, kalau ada masalah atau kamu perlu bantuan kamu bisa datangin aku" kata Nofan memperingati gadis tersebut.
Kepala gadis itu mengangguk, dia seperti ketakutan pada Nofan, padahal Nofan tak menunjukkan sesuatu yang bisa membuatnya ketakutan.
Nofan melangkah meninggalkan gadis itu yang diam di tempat, meskipun ia sudah menyuruhnya untuk masuk ke dalam tenda.
Nofan lanjut berkeliling, ia akan memastikan kalau malam ini tidak akan ada yang terjadi, semuanya harus aman, mengingat hutan yang ia singgahi cukup angker dan berbahaya. Tetapi guru-guru tak merespon walau Nofan telah mengajukan untuk ganti hutan lain.
Nofan mendekati semua orang yang pada berkumpul di sebelah selatan, mereka adalah orang yang Nofan perintahkan untuk meronda malam ini.
"Gimana, apa ada yang aneh atau ada masalah yang kalian dapatkan saat ronda?" Tanya Nofan.
"Gak ada, semuanya aman" jawab mereka semua.
"Bagus kalau begitu" sahut Nofan.
Hati Nofan lega kala mendengar kalau semuanya baik-baik saja, ia bisa tenang walaupun berada di tempat yang angker.
"Fan jas kamu kemana, tadi kayaknya kamu pake jas, kenapa pas balik malah gak ada" Calvin mendapati keanehan dari diri Nofan.
"Owh jas, aku kasih sama anak baru yang lagi duduk di dekat batu, dia katanya kedinginan, ya udah aku kasih jas aku biar dia gak kedinginan lagi" jawab Nofan menjelaskan kemanan jasnya menghilang.
"Anak baru? Di dekat batu? Kedinginan? Perasaan gak ada anak baru di sekolahan deh" heran Dimas tersentak kaget.
Setahu Dimas Tidak ada anak baru yang masuk dalam selang waktu dekat ke dalam sekolahan sehingga ia begitu terkejut ketika Nofan menyebut kata anak baru.
Nofan tersentak kaget."Yang benar aja, masa gak ada anak baru saat aku gak masuk seminggu waktu itu!"
Kepala mereka menggeleng."Gak ada fan, gak ada anak baru, di kelas manapun gak ada penambang siswa" ujar Reza.
"Terus kalau emang gak ada anak baru, yang aku temui barusan itu siapa?" Nofan mikir keras, ia kira gadis yang duduk di dekat batu adalah anak baru sehingga ia tak mengenalinya.
"Mana aku tau, kamu pasti salah liat kali" timpal Ical.
"Enggak, aku gak mungkin salah liat, tadi aku benar-benar ketemu sama dia, dia lagi duduk di dekat batu, aku kira dia anak baru" Nofan meyakinkan mereka kalau dia benar-benar bertemu dengan orang saat meronda.
"Beneran aku gak salah liat, pengelihatan ku masih bagus, gak mungkin aku salah liat, kalian harus percaya sama aku, kalau aku ketemu sama anak baru, dia lagi duduk di sana" kekeh Nofan agar mereka percaya dengan apa yang ia katakan.
Perdebatan mereka tak kunjung selasi, Nofan masih kekeh dengan pendiriannya, sedangkan mereka berusah meyakinkan Nofan kalau tidak ada anak baru yang masuk ke dalam sekolahan selama kurang lebih 1 Minggu ini.
"Udah-udah, kalian jangan pada debat" lerai Kavca.
"Dari pada kalian berbedat masalah anak baru, mending kita samperin aja ke sana, kita liat siapa anak baru yang Nofan tentu" usul Kavca bijaksana.
"Betul itu, tumben otak mu bekerja dengan baik kav" timpal Effendie.
"Biasa, aku gitu loh" sahut Kavca bangga akan dirinya.
"Ayo kita ke sana, aku akan tunjukin kayak apa anak baru yang aku temui barusan" ajak Nofan.
Untuk membuktikan kebenarannya, Nofan mau mengajak kawan-kawannya ke tempat di mana ia bertemu dengan seorang gadis, wajahnya pucat, dan begitu asing sehingga ia menyebut bahwa gadis itu adalah anak baru.
Mereka pun setuju, dengan berbondong-bondong mereka berjalan menuju tempat di mana Nofan berjumpa dengan gadis yang tidak di ketahui siapa.
"Di mana, kemana gadis yang kamu temui itu, kami ingin liat" tagih Calvin tak menemukan seorang pun di dekat batu besar satu-satunya yang ada di sana.
Nofan celingukan mencari kemana gadis itu menghilang, ia tadi berjumpa dengan gadis itu di sana, Nofan masih ingat betul tempat di mana ia berjumpa dengan gadis misterius.
"Tadi dia ada di sini, dia tadi duduk di sini, tapi kemana dia pergi, kenapa malah gak ada" Nofan mencari-cari keberadaan gadis yang ia temui, ia ingin membuktikan kalau ia benar-benar bertemu dengan gadis itu pada kawan-kawannya.
"Tapi nyatanya di sini gak ada apapun fan, kamu kayaknya ngantuk kali" timpal Reza dengan teganya.
"Enggak, aku gak ngantuk sama sekali, jelas-jelas tadi aku jumpa sama dia di sini, dia lagi duduk, aku jalan, karena aku liat dia keluyuran di tengah malam, ya udah aku samperin" jelas Nofan begitu meyakinkan.
"Tapi fan di sini gak ada orang yang kamu maksud, paling kamu salah liat" ujar Calvin.
"Enggak, aku gak mungkin salah liat, aku sempat ngobrol sama dia, gak mungkin au salah liait" Nofan masih tetap mempertahankan pendiriannya.
"Apa kamu gak nanya siapa namanya?" Ali melempar pertanyaan.
__ADS_1
Persoalan yang mereka perdebatkan tak kunjung menemukan titik akhir, satu sama lain saling mempertahankan pendirian masing-masing, tak ada yang mau kalah sama sekali.
"Enggak, aku gak sempet nanya, aku gak tau siapa namanya bahkan aku belum pernah ketemu sama dia, baru pertama kali ini aku liat dia, aku kira dia anak baru mangkanya aku gak ngenalin dia. Mangkanya aku pengen nanya sama kalian siapa anak baru yang masuk ke sekolah, tapi kata kalian gak ada anak baru satupun" sahut Nofan.
"Beneran loh fan, kami gak bohong kalau emang gak ada anak baru yang masuk ke dalam sekolahan kita, saat kamu gak masuk aja fan ada murid baru yang masuk" ucap Dimas.
"Terus kalau orang yang aku temui di sini bukan anak baru, siapa dong?" Nofan mikir keras.
Tak hanya Nofan mereka pun ikutan mikir, persoalan yang terjadi terbilang sepele tapi tak ada titik terangnya.
Suara hewan-hewan kecil yang terdengar, semua orang tak dapat memberikan jawaban.
"Jangan-jangan..."
Ucapan Ical menggantung, membuat mereka semua pun penasaran.
"Jangan-jangan apa?" Kompak mereka ikutan penasaran.
"Jangan-jangan orang yang Nofan jumpai di sini itu HANTU" sambung Ical penuh penekanan di bagian kata HANTU.
Nofan, Reza, Calvin dan Dimas menegak ludah pahit, mereka telah mendapatkan bocoran kalau hutan ini angker dan banyak kesan mistisnya.
Mereka yang lain saling berdekatan, mereka terlihat takut ketika keluar kata hantu di bibir Ical.
"Bisa jadi, bisa aja kalau orang yang Nofan temui itu hantu" Fattah memiliki pemikiran yang sama.
Hanya hantu yang dapat di curigai di sini sekarang.
"Kalau memang dia beneran hantu berarti hutan ini angker dong" bergidik Ryan
"Udah ah ngapain juga kita perpanjang masalah yang jelas-jelas gak penting, mau dia siapa, anaknya siapa, kenapa dia keluyuran, kita jangan pedulikan, jelas-jelas dia bukan anak yang bersekolah di tempat yang sama dengan kita, ngapain juga kita ngurusin dia" Reza menganggap itu semua tak penting dan membuang-buang waktu saja.
Mereka pun terdiam, ucapan Reza membuat segala perdebatan usai, itu sengaja Reza lakukan agar tidak menimbulkan konflik yang berkepanjangan serta tidak membuat mereka semua menjadi takut.
"Kalau begitu ayo kita balik ke tempat tadi, semuanya juga aman, kita kumpul di tempat yang tadi, kalau ada masalah nanti pasti ada yang lapor sama kita" saran Ifdhal.
Mereka pun setuju, mereka kembali ke tempat di mana ada banyak pohon yang tumbang dan bisa mereka jadikan tempat duduk.
Api unggun yang Calvin buat masih menyala, mereka mendapatkan penerangan dari api unggun tersebut.
Nofan masih diam memikirkan kejadian yang baru ia lewati.
"Masa iya gadis yang tadi aku temui itu hantu, dia misterius sih, wajahnya juga pucat ada kemungkinan kalau dia hantu. Tapi herannya kenapa dia datangin aku, apa yang dia inginkan coba, secara kan aku gak ngapa-ngapain, aku juga baru di sini" batin Nofan belum percaya seratus persen kalau orang yang ia temui bukan manusia.
"Tapi kalau dia beneran hantu, kenapa beda, biasanya kan hantu serem, sukanya nampakin wajah seram kayak di film-film, tapi kok ini beda" batin Nofan serasa tak percaya kalau gadis itu adalah hantu.
"Aku harus tanya sama siapa yang sekiranya bisa membenarkan kalau dia itu hantu apa bukan?" batin Nofan kebingungan, terus kepikiran akan gadis itu.
"Alica, yah Alica, dia bisa bantu aku, dia kan sudah tau ragam hantu itu kayak apa, besok aku akan tanya sama dia, aku ingin tau kebenarannya, biar aku gak kepikiran terus" batin Nofan sampai melupakan kalau ia punya teman yang dapat melihat mereka yang tak kasat mata.
Alica adalah orang yang tepat yang bisa Nofan tanyai, kalau ia bertanya pada orang lain, khawatir ada orang yang membocorkannya tentang masalah yang terjadi malam ini.
"Geis kalian ngerasa gak kalau api unggun ini cuman ngasih penerangan di tempat ini aja, kalau kita mau pergi kemana jadi takut karena gak ada cahaya" Syafi'i membuka topik di suasana yang makin mencekam.
"Iya sih tapi mau gimana lagi" sahut Reza.
"Kalian gak punya inisiatif apa gitu biar ada penerangan selama kita berada di sini, kalau mau beraktivitas di malam hari kita gak gelap-gelapan kayak gini, aku yang laki aja takut, apalagi yang perempuan" Dimas meminta usulan mereka.
"Kalau menurut aku, gimana kalau kita pasang aja obor di sekeliling tempat, cahaya dari obor bisa mengurangi kegelapan yang ada di hutan ini serta semua orang gak akan takut kalau mau pergi ke kencing atau apapun" usul Kavca.
"Betul juga, tumben otaknya berfungsi dengan baik" timpal Mansyur.
"Aku gitu loh" bangga Kavca.
"Usulan Kavca ada benernya juga, besok kita bikin obor dari bambu, mungkin di hutan ini ada pohon bambu, kita tebang aja, tapi sebelumnya kita harus izin dulu sama pak Joko pengelola hutan ini" ujar Nofan merasa jika usulan Kavca ada benarnya.
"Tapi kalau pake bambu kita harus beli minyak tanahnya di mana?" Kesulitan Ali.
"Di pasar, aku dengar-dengar di dekat sini ada pasar tradisional, pasti ada kok yang jual minyak tanah walaupun gak banyak" jawab Jefri.
"Ya udah kalau begitu besok kita buat obor yang banyak, pasang di tempat yang gelap, biar gak ada yang takut kalau di malam hari" semangat Calvin, ia juga merasakan hal yang sama yang di rasakan oleh orang-orang.
__ADS_1
Mereka semua pun setuju dengan usulan yang menguntungkan dan menyeluruh persoalan tersebut.