
12 tahun kemudian.
Gadis bermata biru bernama Alica itu kini sudah tumbuh dewasa dan sangat cantik seperti mendiang ibunya Viera dan ada perpaduan pangeran William di wajahnya sehingga wajah Alica tampak lebih ke barat-baratan.
Namun sayangnya semua orang malah menjauhi Alica karena Alica dapat berkomunikasi dengan makhluk astral dan mereka menganggap Alica aneh.
Tapi gadis bernama Alica itu tetap semangat menjalani kehidupannya karena ada dua ayah yang selalu menjaga dan memberinya semangat.
Di pagi yang terik Alica sudah siap dengan seragam sekolahnya dan kini ia berdiri di depan sebuah rumah yang berada di samping rumahnya.
"Nofan ayo, ayo kita berangkat ini udah telat nanti kita di hukum" teriak Alica keras.
Sudah menjadi rutinitasnya berteriak-teriak di depan rumah itu setiap pagi hanya karena ingin membangunkan salah satu penghuninya.
"Aduh, apa lagi sih, kenapa kamu teriak-teriak!" Maki Nofan membuka pintu balkon dan melihat ke bawah yang terdapat Alica yang sudah siap untuk berangkat sekolah.
Nofan pemuda tampan yang merupakan anak ketiga Karan kini sudah beranjak dewasa.
"Ayo berangkat, masa jam segini masih aja molor. Dasar kebo" balas Alica.
"Ini masih pagi ca, kenapa kamu mesti ganggu aku tidur!" Kesal Nofan lantaran Alica adalah orang yang selalu mengacaukan mimpi indahnya.
"Pagi mata mu, ini udah jam 7 lewat, masa jam segini kamu masih molor. Kamu gak liat apa matahari sudah berada di atas kepala" tutur Alica selalu naik tensi hanya karena ingin membangunkan teman seperjuangannya tapi beda kelas dengannya itu.
"Bentar, tunggu aku 5 menit, dalam 5 menit aku akan selesai siap-siap" suruh Nofan.
"Cepetan, nanti kita telat lagi kayak kemarin" perintah Alica tegang dan gelisah karena lagi-lagi ia harus menunggu temannya selesai bersiap-siap padahal sebentar lagi bel akan berbunyi.
Nofan tak menjawab, ia bergegas mandi dan bersiap-siap.
Di bawah Alica terus saja gelisah.
"Mana Nofan ini, kenapa lama banget, dia bilangnya 5 menit tapi apa buktinya. Ini sudah lebih dari 15 menit, matilah aku, pasti aku akan kena hukuman lagi" Alica mengerucutkan bibirnya sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Nofan, ayo cepetan, nanti kita telat" teriak Alica sekali lagi.
__ADS_1
"Iya bentar, ya ampun ya gusti, teriak-teriak aja kerjaan mu. Aku gak budeg ya, aku dengar, telinga ku masih berfungsi dengan baik!" Gerutu Nofan muak mendengar teriakan Alica.
"Habisnya lama banget sih, bilangnya cuman 5 menit, tapi ini apa udah lebih dari 15 menit tau" balas Alica.
Nofan tampak santai, tak ada kekhawatiran sama sekali yang terpancar di wajahnya.
"Udah ah, dari pada kamu ngomel-ngomel gak jelas mending kita berangkat" ajak Nofan dengan entengnya.
Alica mengembuskan nafas kasar, Nofan benar-benar membuatnya merasa tertekan pagi-pagi begini namun ia tak punya pilihan lain lagi karena selama ini hanya Nofan satu-satunya teman terbaik yang dia miliki.
Nofan melajukan motor Vario berwana hitamnya sementara Alica selalu menebeng padanya. Mereka mulai dari kecil selalu berangkat dan pulang bersama, selama ini mereka tak pernah terpisahkan.
Bahkan Nofan dan Alica hanya selisih beberapa tahun saja, saat ini Alica duduk di bangku kelas 2 SMA sementara Nofan duduk di bangku kelas 3 SMA.
Pernah satu kali Nofan tidak naik kelas karena sengaja nunggu Alica masuk sekolah agar dia selalu bersama dengan teman karibnya itu.
"Cepetan bisa gak sih, ini udah siang, kita akan di hukum kalau kamu bawa motornya lelet begini" gelisah Alica tak henti-hentinya.
"Udah deh kamu diam aja, gak akan ada yang berani hukum kita. Teman kamu ini ketua OSIS loh jangan lupakan itu, siapa yang mau marahin aku hah, kagak ada, mereka gak akan ada yang berani hukum aku!" Sahut Nofan sangat santai.
"Mentang-mentang ketua OSIS belagu banget" gerutu Alica.
Sekitar 30 menit mereka tiba di parkiran yang berada di sekolahan.
"Tuh kan udah sepi, ini pasti udah masuk dari tadi. Kamu sih lama banget, liat kita sekarang telat lagi" omel Alica.
"Udah, kamu gak perlu khawatir. Ayo kita masuk aku yang akan tanggung jawab" ajak Nofan tampak santai.
Tak ada pilihan lain bagi Alica selain mengikuti Nofan.
"Pak, buka pintunya" titah Nofan pada satpam.
Dengan cepat satpam membuka pintu gerbang.
Nofan melirik Alica."Ayo masuk"
__ADS_1
Alica melongo."Enak banget ya jadi ketua OSIS, bisa gampang aja merintah-merintah orang, satpam aja gampang nurut. Kalau aku yang minta mau sampai suara aku habis juga gak akan di kasih" batin Alica.
"Kok bengong, ayo masuk, kamu mau jadi satpam apa" hardik Nofan yang seketika membuyarkan lamunan Alica.
"Iya-iya napa, sabar dong" balas Alica ketus.
Kedua sahabat itu melangkah memasuki sekolahan dengan santai. Alica cepat-cepat mengikuti Nofan sebelum satpam kembali menutup gerbang.
"Jahat benar satpam itu, pake natap aku kayak gitu lagi. Kayaknya dia gak suka deh aku ikut masuk bareng kamu" ujar Alica menyadari sikap satpam.
"Mungkin aja, di sekolahan ini hanya aku yang bisa dengan mudah keluar masuk dan gak ada yang berani marahin aku. Kalau kamu mau cari aman datengin aku, semuanya akan aman terkendali" jawab Nofan.
Alica mengamati sekitar yang sepi, semua murid sudah masuk ke dalam kelas masing-masing, hanya mereka berdua yang berada di luar.
"Nofan gimana ini, aku telat, bagaimana caranya aku masuk ke dalam kelas dan sekiranya gak akan kena omel, aku takut apalagi pelajaran pertama itu matematika dan gurunya Bu Mesi. Mati aku di makannya jika aku ke kelas sekarang, tapi kalau aku gak ke kelas aku akan kemana lagi" ujar Alica.
"Udah kamu gak usah panik, ada aku di sini. Sebelumnya aku mau nanya apa kamu mau masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran?" Tanya Nofan.
Terbit senyum tertekan di wajah Alica."Sebenarnya aku gak mau, soalnya jam pertama matematika, aku malas hitung-hitungan. Kamu bawa aku kemana kek gitu, yang sekiranya aku gak akan di hukum kalau ketahuan bolos sekolah"
"Kalau begitu ayo ikut aku" ajak Nofan berjalan terlebih dahulu tanpa aba-aba.
"Kamu akan bawa aku kemana?" Penasaran Alica lalu membuntuti Nofan dari belakang.
"Udah ikut aja, nanti kamu juga akan tau aku akan bawa kamu kemana" sahut Nofan malas memperpanjang masalah.
Alica pasrah dan terus mengikuti Nofan. Ia yakin bahwa Nofan akan membawanya ke tempat yang lebih baik lagi selain ke dalam kelasnya yang kini di huni Bu Mesi guru matematika yang terkenal garang tersebut.
"Hai semua" sapa Nofan.
"Lama banget, dari mana aja kamu, kita udah nungguin kamu sejam loh" omel Calvin, wakil OSIS.
"Biasa kesiangan apalagi" jawab Alica.
Nofan menginjak kaki Alica dan membuat gadis itu kesakitan. Ia malah tersenyum ke arah teman-teman tanpa mempedulikan teriakan Alica.
__ADS_1
"Pantesan aja lama banget, sampai kesemutan kaki aku gara-gara nungguin kamu" tutur Reza.
"Iya maaf, namanya juga kesiangan, aku juga gak rencanain itu kali, sekarang ayo kita mulai. Kita mau bahas apa ini?" Tanya Nofan mengambil duduk bersama mereka.