
Nofan mengangguk, hatinya sedikit tenang, walau rasa takut tak kunjung menghilang.
Setidaknya sekarang di samping Nofan ada Alica, Alica telah paham betul dengan para makhluk halus. Nofan yakin Alica dapat membereskan masalah yang membuat Nofan menjadi pendiam karena di serang ribuan trauma.
Alica kepikiran terus pada Rea yang tega mengganggu sahabatnya sendiri sampai Nofan ketakutan parah seperti itu.
"Kenapa Rea ingkar janji, apa yang udah bikin dia berpaling, ada yang gak beres ini. Aku harus temui dia, aku harus tanya langsung kenapa dia begini" gumam Alica tak dapat menahan diri lagi.
Makin di pikir-pikir Alica makin tercekik akibat penasaran dan geramnya pada Rea.
Jelas-jelas tadi siang mereka sudah sepakat, mereka sudah membuat perjanjian dan sama-sama saling setuju. Tapi mengapa setelah matahari terbenam saah satu di antara melanggar kesepakatan itu.
"Fan aku mau pergi dulu, aku ada urusan kamu di sini aja, sebentar lagi aku akan balik ke sini lagi, aku gak lama kok" pamit Alica.
Dengan cepat Nofan melarang."Jangan ca, ini masih malam, kamu jangan pergi kemana-mana, kalau nanti kamu ketemu sama hantu yang barusan ganggu aku gimana, siapa yang akan nolong kamu kalau dia macem-macem sama kamu"
Trauma terbesit di hati Nofan, cukup Nofan saja yang merasakan takutnya di ganggu hantu gadis korban pembunuhan di air terjun jangan orang lain, apalagi Alica ia patut Nofan lindungi dari segala macam bahaya.
"Aku cuman sebentar fan, habis ini aku akan balik lagi, aku gak akan lama kok. Kamu gak perlu khawatir, aku akan baik-baik aja, akku bisa jaga diri"
Aica tak dapat menunda-nunda lagi, pokoknya ia akan pastikan kalau malam ini juga ia bertemu dengan gadis pucat itu, akan ia selesaikan urusannya dengan gadis pucat biar Alica bisa tidur dengan nyenyak.
"Jangan ca, kamu jangan ngeyel bapa, aku mohon sama kamu hari ini aja turuti apa yang aku bilang, aku itu cuman khawatir sama kamu, gak ada yang lain"
Alica terdiam sejenak, memikirkan dampak negatif yang akan ia peroleh jika nekat mencari Rea di tengah malam.
"Ingat kita lagi ada di mana, kita saat ini ada di hutan, kita masih baru di sini, kita harus hati-hati karena kalau sampai kita kesesat akan sulit untuk mencari jalan keluar lagi" imbuh Nofan.
Helaan nafas berat Alica hembuskan, Nofan kekeh melarangnya keras, padahal Alica tak bisa lagi menahan gejolak di tubuh yang ingin menemui gadis pucat yang membuat ulah sehingga dirinya kepikiran terus.
Tapi apa yang Nofan katakan ada benarnya, di hutan yang seluas dan gelap seperti ini sulit bagi Alica mencari gadis pucat, apalagi ini masih malam. Gelapnya malam akan menjadi penghalang.
"Ya udah deh aku gak akan pergi, aku akan tetap stay di sini, besok pagi-pagi baru aku akan selesain masalah ini"
__ADS_1
Alic pasrah, ia pun setuju walau ia harus berperang terlebih dahulu dengan hati dan pikiran yang tak bisa menerima.
Terbit senyum di wajah pucat Nofan, Alica yang keras kepala dapat ia lunakkan, itu adalah sesuatu yang amat langka.
"Nah gitu dong, dengerin apa yang aku bilang, kamu jangan ngotot pergi sendiri apalagi ini masih malam. Kalau sampai kamu tersesat aku gak tau mau cari kamu di mana"
Anggukan Alica berikan, ia duduk bersama para laki-laki, ia satu-satunya perempuan di sana.
Mereka membahas tentang gadis pucat yang barusan mengganggu Nofan dengan cara menakut-nakutinya.
Alica tak fokus apa yang mereka bahas, ia terus memikirkan bagaimana caranya menemukan gadis pucat itu di hutan yang seluas ini.
Malam yang makin larut mengharuskan Alica untuk istirahat, ia kembali ke tenda saat jam menunjukkan larut malam.
Walau sejenak Alica harus tetap istirahat karena jadwalnya pagi esok begitu padat, Alica tak ingin hanya karena kurang tidur membuatnya tak fokus pada apa yang besok harus ia lakukan.
Ancang-ancang telah siap, hanya tinggal menunggu hari esok saja baru semuanya akan kembali terkendali.
Keesokan harinya.
"Rea kamu di mana, Rea keluar, aku mau ngomong sesuatu sama kamu"
Dengan menjerit Alica berteriak memanggil nama Rea, sosok makhluk astral yang menjadi tujuan utamanya bangun pagi-pagi. Bahkan ia satu-satunya orang yang bangun sepagi ini, teman-temannya tak ada yang bangun, mereka masih terlelap dalam tidur nyenyak.
"Reaaaa"
Jeritan terus Alica lakukan, tapi tak ada tanda-tanda kemunculan gadis pucat sama sekali.
Alica tak akan berhenti sampai kapanpun itu, sebelum Rea ia temukan Alica tidak akan pernah meninggalkan hutan.
Kegigihannya dalam mencari tersangka utama yang pasti namanya akan di bicarakan di seluruh sekolah begitu tinggi, tak akan pupus sama sekali walau ada banyak orang yang ingin menghentikannya.
Selagi langkah yang Alica tempuh benar Alica tidak akan mundur apalagi menyerah meski orang penting yang mencoba menghentikan niatnya.
__ADS_1
"Rea kamu di mana" teriak Alica sambil melihat ke depan dengan posisi kaki yang terus melangkah.
Di sekeliling hutan sepi, tanda-tanda akan ada manusia nihil, bahkan nyaris tak akan pernah ada manusia di dalam hutan ini. Karena semua manusia tengah lelap dalam tidur mereka.
"Reaaa"
"Aarrrggghhh!" Jerit Alica tak sengaja menginjak lubang dan membuat satu kakinya masuk ke dalam.
Alica sampai terduduk di bawah, Alica meringis menahan sakit, kakinya susah untuk di gerakan.
"Auuuw, sakit banget" rintih Alica.
Dengan menahan rasa sakit yang luar biasa Alica mencoba mengeluarkan kakinya dari lubang yang tak dalam itu tapi mampu meninggalkan rasa sakit di kakinya.
Setelah susah payah kaki Alica akhirnya keluar dari lubang itu.
Alica dengan sulit mencoba meluruskan kaki, Alica menjerit keras, kakinya begitu sakit, di lurusin saja sakitnya luar biasa, untuk berdiri dan berjalan Alica tak sanggup.
"Auuuw sakit banget, Nofan tolong aku" teriak Alica keras.
Di tenda mata Nofan terbuka lebar, dengan panik ia bangun dari tidur.
"Alica"
Kata pertama yang Nofan ucapkan adalah nama Alica, perasaannya langsung tak enak, pikiran buruk tentang Alica berdatangan.
"Kenapa perasan aku gak enak banget, ada apa yang terjadi sama Alica?"
"Gak mungkin dia dalam masalah!"
"Tapi aku harus tetap cek, aku gak akan bisa tenang sebelum liat langsung kalau Alica baik-baik saja"
Nofan tergesa-gesa keluar dari tenda lalu berlari mendekati tenda milik Alica.
__ADS_1
Walau tak ada yang memberitahu Nofan secara langsung kalau Alica dalam bahaya, tapi firasatnya yang membuatnya tak bisa tenang sehingga terus memikirkan Alica.