Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Mata batin Alica (season 2)


__ADS_3

Alica, gadis mungil yang di tinggalkan oleh ibunya sejak saat lahir itu kini tumbuh besar. Usia Alica kini menginjak 5 tahun.


"Ayah, ayah ayo kita ke ibu, ayah udah janji mau ajak Alica ke sana" Alica menagih janji pak Anton dan terus membujuknya agar bisa membawanya menemui ibu tercintanya.


"Iya ayo" balas pak Anton menutup laptopnya.


Senyuman merekah di bibir gadis mungil yang kehilangan ibunya saat dia di lahirkan ke dunia, namun pak Anton berupaya keras agar Alica mendapatkan kehidupan yang layak dan tidak kekurangan kasih sayang meskipun dia seorang diri yang membesarkannya.


Setibanya di pemakaman umum pak Anton langsung menatap orang yang amat ia cintai dengan tatapan sedih dan penuh kerinduan yang mendalam.


"Sekar, mas datang, kamu apa kabar, sudah lama mas tidak dengar suara kamu lagi" gumam pak Anton menatap sedih makam mendiang istrinya tercintanya sambil sesekali mengusap lembut batu nisan Sekar.


Seandainya Sekar masih ada mungkin anak mereka kini sudah besar dan kehidupan pak Anton penuh dengan warna namun meskipun Sekar sudah pergi pak Anton tak kesepian karena kini ada malaikat kecil yang harus dia besarkan meskipun itu bukan darah dagingnya sendiri.


Pak Anton rela dan ikhlas membesarkan Alica. Malahan sejak kehadiran Alica kehidupan pak Anton berubah 180 derajat.


"Ayah, itu makam siapa?" tanya Alica kini berada di dekat makam mendiang ibunya, Viera.


"Ini makam istrinya ayah" jawab pak Anton.


"Bunda sama istrinya ayah itu beda ya" ujar Alica dengan polosnya.


"Beda" balas pak Anton menyunggingkan seulas senyum mendapati kepolosan putri kecilnya.


"Kenapa kok beda, emangnya gak sama, padahal ibu semua orang sama" terheran-heran Alica.


"Nanti kalau kamu udah besar kamu pasti akan tau kenapa itu semua berbeda" jawab pak Anton.


"Owh gitu ya ayah" sahut Alica memeluk erat batu nisan Viera.


"Alica ini udah sore, ayo kita pulang, besok kita ke sini lagi" ajak pak Anton.


"Baiklah"


Alica mengikuti ayahnya pulang kembali ke rumah meskipun ia masih ingin berada di dekat mendiang ibunya.

__ADS_1


Di perjalanan pulang Alica di gandeng oleh pak Anton dengan berjalan kaki, jarak antara pemakaman umum tidak begitu jauh sehingga mereka hanya perlu berjalan kaki saja.


"Ayah, liat di sana ada orang" tunjuk Alica pada pohon besar yang tumbuh di pinggir jalan.


Pak Anton melihat pohon yang Alica tunjuk.


"Di mana? Gak ada apapun kok" tanya pak Anton tak menemukan orang yang Alica maksud.


"Itu ayah, dia duduk di sana" tunjuk Alica pada ranting pohon.


Pak Anton terdiam, pak Anton tak dapat melihat apa yang Alica maksud.


"Di mana nak, di sini gak ada siapa-siapa?" tanya pak Anton menatap pohon besar itu dengan teliti.


"Itu ayah dia duduk di ranting pohon, masa ayah gak liat" jawab Alica.


"Seperti apa ciri-cirinya" timpal pak Anton.


"Dia makai baju putih, rambutnya panjang banget, wajahnya ancur, tapi dia gak jahat kok ayah. Buktinya dia gak ngapa-ngapain kita, dia cuman mau duduk di sana aja" jelas Alica.


Seketika pak Anton langsung menggendong tubuh mungil Alica dan membuat gadis itu terkejut.


"Alica sayang, kamu jangan dekat-dekat sama orang kayak dia, dia itu jahat, nanti dia celakain kamu gimana, ayah juga yang akan repot" ujar pak Anton.


"Enggak kok ayah, dia gak jahat, dia gak pernah ganggu Alica, ayo ayah cepat turunin Alica" titah gadis mungil itu sekali lagi.


"Enggak, udah kamu dengarin apa kata ayah aja, kamu jangan main-main dengan makhluk kayak dia, kalau ayah sampai tau, ayah akan marah besar" timpal pak Anton sedikit mengancam.


Alica pun diam, ia pasrah saat ayahnya membawanya pergi dan ia hanya bisa menatap makhluk halus itu dari kejauhan lalu pelan-pelan menghilang karena jaraknya yang cukup jauh.


"Kenapa Alica bisa melihat makhluk yang tak bisa aku lihat, apa mungkin dia menuruni ibunya Viera, bagaimana ini, kalau kayak gini aku harus jaga Alica dengan baik, aku tidak boleh lalai" batin pak Anton di serang rasa gelisah yang begitu besar.


Pak Anton menggendong Alica pulang ke rumahnya.


Ketika sampai di rumah pak Anton membawa Alica masuk, ia tidak akan membiarkan Alica keluar sendiri karena itu akan membahayakan dirinya.

__ADS_1


Pak Anton duduk di ruang tamu dengan gelisah, sambil sesekali melirik Alica yang bermain boneka dan berbicara dengan orang yang tak bisa pak Anton lihat.


"Anton" panggil Karan melangkah mendekati pak Anton yang gelisah tak menentu.


"Anton, ada apa dengan mu, kenapa sepertinya kau gelisah gitu?" Karan menyadari adanya kegelisahan yang teramat di wajah pak Anton.


"Bagaimana aku tidak gelisah, lihat itu. Alica ngomong sendiri kayak ada orang yang ngajak dia ngomong" jelas pak Anton.


"Kok bisa gitu, aku heran kenapa tiba-tiba Alica jadi aneh gini, padahal sebelum-sebelumnya dia biasa-biasa aja" takjub Karan melihat keanehan dari diri Alica.


"Assalamualaikum" salam ustadz Hafidz.


"Wa'alaikum salam" jawab mereka semua.


"Ada apa nih, kok muka kalian pada tegang?" tanya ustadz Hafidz mengambil duduk di dekat Karan.


"Ustadz, ustadz bisa lihat siapa yang Alica ajak bicara?" tanya balik pak Anton panik.


Pandangan ustadz Hafidz seketika terarah pada Alica.


"Kok dia sekarang ngomong sendiri ya tadz, dia juga bisa lihat makhluk yang tidak bisa saya lihat, saya takut ada apa-apa sama Alica" khawatir pak Anton tanpa sebab saat putrinya mulai terlihat berbeda.


"Dia lagi ngobrol dengan ayahnya" jawab ustadz Hafidz.


"AYAHNYA?" terkesiap mereka berdua.


Kepala ustadz Hafidz mengangguk."Benar, ayahnya yang sudah mengajaknya main"


Dunia pak Anton seakan terguncang, sedari tadi ia hanya menduga-duga namun kini dugaannya terbukti.


"Gimana ini tadz, kok saya jadi khawatir sama Alica" gelisah pak Anton.


"Kamu tidak perlu khawatir Anton, Alica baik-baik saja, ayahnya tidak akan membiarkan dia terluka, mulai saat Alica masih kecil, Wiliam sudah menjaganya dan tidak akan membiarkan makhluk halus mengganggu Alica" jelas ustadz Hafidz.


Hati pak Anton sedikit lega, meskipun dia tidak bisa menjaga Alica dari serangan makhluk halus, kini perasaannya telah lega setelah mengetahui bahwa pangeran William yang akan menjaga putrinya dengan sebaik mungkin.

__ADS_1


"Mata batin Alica terbuka, itu tidak berbahaya karena akan ada dua ayah yang menjaganya" sambung ustadz Hafidz.


Pak Anton cukup lega, setidaknya dia sudah tidak khawatir lagi meskipun mendengar bahwa anaknya berbeda dengan manusia pada umumnya.


__ADS_2