
Alica berjalan di hutan Pinus, suasana masih terang, matahari masih menyinari bumi.
Gadis bermata biru itu berjalan melihat-lihat isi hutan Pinus sembari mencari keberadaan wanita yang di temukan dalam keadaan tak bernyawa di air terjun.
Kali ini Alica pergi dari sana tanpa pengawasan, ia juga tak pamit sebab Alica yakin kalau dirinya tidak akan di izinkan.
Mata birunya menatap sekitar, mengamati sekeliling dengan seksama.
"Gak ada yang aneh di sini, semula aman-aman aja, gak ada yang mencurigakan, gak ada tuh yang serem-serem"
Tak ada satupun hal berbau mistis setelah Alica menginjakkan kaki di dalam hutan Pinus yang di beritakan menjadi tempat pembuangan mayat. Kalau di lihat dari luar suasana suramnya hutan begitu terlihat, tapi ketika masuk ke dalam itu semua menyingkir.
Langkah Alica terhenti, di depannya terdapat seorang wanita, sebaya dengannya, berdiri membelakangi tubuhnya.
Alica menegak ludah pahit, baju putih gadis itu terkena noda, ia mulai di serang penasaran siapa gadis yang berdiri membelakangi tubuhnya.
"Permisi" Alica mencoba berinteraksi dengan gadis itu.
Pelan-pelan, kepalanya berputar, lalu berbalik menatap Alica.
Alica langsung menelan ludah pahit, sorot mata tajam, wajah datar dan tak ekspresi mengarah padanya.
"Kau, kau bukan gadis yang tadi di temukan meninggal di air terjun itu kan" Alica langsung mengenali gadis yang berdiri menatapnya dengan wajah serius tanpa seulas senyum
Pelan-pelan, kepala gadis itu mengangguk, tatapan matanya menatap tajam tanpa berkedip.
Alica tak gentar, tak ada keinginan untuk lari, rasa takut juga tak ada, meski di tatapan seseram itu.
"Kalau aku boleh tau, kenapa kamu bisa meninggal, apa karena kecelakaan, ketidakseimbangan atau karena ada unsur kesengajaan?" Bertubi-tubi pertanyaan Alica ajukan.
Teka-teki yang terus menyerang kepalanya harus di pecahkan, mumpung di depannya terdapat orang yang bersangkutan.
Hening, tak ada sahutan, tak ada tanda-tanda bahwa gadis itu akan merespon jawaban Alica.
Hanya tatapan maut yang di suguhkan oleh gadis itu.
Alica diam, tak ingin kembali bertanya atau pergi dari sana, sebelum hal yang mengganggu pikirannya terjawab ia tidak akan pergi.
"Sengaja, mereka sengaja ingin melenyapkan ku" tutur gadis itu tegas penuh penekanan setelah lama keheningan terjadi.
"Siapa, siapa orang yang sengaja melakukan itu?" Alica makin penasaran, dugaan-dugaan datang menghampirinya namun ia menunggu jawaban langsung dan akurat dari gadis itu, sebab gadis itu adalah korbannya langsung.
"Coba kamu ceritakan kronologi yang membuat kamu meregang nyawa di tempat ini" titah Alica.
"Waktu itu....
Cerita gadis misterius korban pembunuhan di hutan Pinus lokasi terakhir (AIR TERJUN).
Jam menunjukkan pukul 1 siang, semua anak-anak murid melakukan apa yang mereka mau, ada yang mengobrol ada yang memasak serta ada banyak kegiatan yang lain.
Di batu besar ada seorang gadis duduk mengamati sekeliling. Tiba-tiba terdapat 3 orang anak perempuan yang menghampirinya.
"Rea ikut kita yuk" ajak Liana, gadis bermata sipit, kulit putih, berdiri tepat di hadapan Rea, di perkirakan Liana merupakan gadis berketurunan Tionghoa.
Gadis berprestasi bernama Rea mengerutkan alis."Kemana?"
"Udah kamu ikut aja, kita akan bawa kamu ketempat indah dan menakjubkan, kamu pasti akan suka" timpal Giselle.
Rea diam, memikirkan mateng-mateng tentang ajakan mereka yang begitu aneh tapi membuatnya penasaran.
"Mereka akan bawa aku kemana, kok tumben mereka ngajak aku, biasanya mereka gak suka sama aku. Kenapa tiba-tiba mereka baik begini" batin Rea janggal dengan sikap mereka.
"Kok bengong sih, ayo ikut kita" ajak Vila agak sedikit maksa agar Rea setuju untuk ikut bersama mereka.
Rea pasrah, ia pun ikut bersama mereka, ia penasaran kemana mereka semua akan membawanya pergi.
"Kok ke arah sana, kita mau ngapain ke sana, ada apa di sana?" Rea yang merasa aneh langsung bertanya pada mereka.
Mereka bertiga berjalan ke sebelah barat, Rea yang tak tau seluk beluk tentang hutan Pinus itu penasaran ada apa di sana. Ajakan mereka yang terkesan aneh telah membuatnya penasaran, karena rasa penasaran itu pula ia bersedia untuk ikut bersama mereka.
__ADS_1
"Udah kamu diam aja, nanti kamu juga akan tau kita akan bawa kamu kemana, kami yakin kok kamu pasti akan suka" sahut Diandra begitu meyakinkan.
"Iya Rea, kamu diam aja, nanti kamu juga akan tau kok, sebentar lagi kita akan sampai di sana" timpal Liana.
Seulas senyuman bengis penuh kelicikan terukir di wajah Liana.
Rea yang polos dan gampang percaya sama orang pun hanya diam, kakinya terus berjalan mengikuti kemana mereka akan pergi.
"Sebenarnya mereka mau bawa aku kemana sih, kenapa ke sana, aku gak pamit sama guru-guru lagi, bagaimana kalau mereka nyariin aku, aku harus alasan apa kalau guru-guru marah karena aku tiba-tiba ngilang tanpa pamit dari sana" batin Rea was-was, khawatir di marahi oleh guru-guru.
Kaki Rea terus berjalan, walaupun isi pikiran dan hatinya tak tenang, tapi karena ia terlanjur setuju, ia tak enak untuk pergi begitu saja, sebab mereka begitu antusias mengajaknya pergi.
Mendadak langkah mereka terhenti, di sebuah air terjun indah yang bersih. Suara gemericik air mengundang siapa yang mendengarnya untuk bermain di sana.
"Nah kita sekarang udah sampai ke air terjun, indah kan?" Takjub Giselle menatap indahnya air terjun, terletak di tempat yang memang jauh dari tenda mereka di bangun.
"Indah, gak salah kita ke sini" jawab Liana ikutan senang.
Rea tak merespon, walau air terjun itu begitu indah, tapi dia tidak alay seperti mereka bertiga.
"Ayo kita ke sana, aku udah gak sabar buat main di sana" tak sabaran Diandra untuk mengajak kawan-kawannya mendekati air terjun.
Mereka pun setuju, mereka berempat pelan-pelan turun ke bawah, dengan susah payah mereka tiba di bawah.
"Rea bagus kan air terjunnya?" Tanya Liana.
"Bagus kok" jawab Rea, matanya fokus menatap ke depan.
Rea menikmati suasana sejuk dan air serta indah di dekat air terjun tersebut, kakinya melangkah dengan mata melihat ke atas tiba-tiba.
Byuurrr!
Salah satu gadis bernama Liana mendorong tubuh Rea dan membuat Rea masuk ke dalam air terjun.
Mereka tertawa puas melihat Rea basah kuyup.
"Rasain itu, suruh siapa dia caper terus sama guru-guru" tutur Gisella tersenyum puas melihat Rea yang menderita.
"Mentang-mentang dia berprestasi, seenaknya aja guru-guru main bandingin kita sama dia" timpal Diandra menatap tak suka pada Rea yang kesulitan untuk bernafas sebab di sekelilingnya hanya ada air yang pelan-pelan ingin menenggelamkannya.
"Ini adalah pelajaran setimpal karena kamu udah bikin nama-nama kita jelek di sekolahan, aku yakin setelah ini kamu akan tau siapa kami dan kamu gak akan remehin kita lagi" sambung Liana geram betul dengan Rea.
Rea memang sering mengharumkan nama baik sekolahan dengan memenangkan kejuaraan mulai antara sekolah atau kota maupun provinsi.
Mereka yang tak senang dengan pencapaian Rea memiliki ide buruk untuk menghancurkan Rea atau menyingkirkan Rea.
Rea yang tak bisa berenang mencoba untuk meminta bantuan mereka, ia berteriak-teriak meminta tolong, tapi mereka tetap diam menertawakan Rea yang tengah kesusahan.
"Ayo geis kita tinggalin dia, biarkan aja dia di sana, gak penting juga ngurusin dia" ajak Diandra.
"Iya, nanti dia juga akan naik sendiri" sahut Liana.
Dengan teganya mereka meninggalkan Rea sendirian di sana dalam keadaan Rea yang kesusahan. Mereka menganggap kalau Rea dapat berenang, niat awal mereka untuk mengerjai namun berakibat fatal.
Rea berupaya keras untuk meminta tolong namun tak ada orang satupun di sana, hanya mereka bertiga yang ia lihat, tapi sayangnya mereka tak ingin membantunya, malah memilih untuk meninggalkannya.
"Tolong" teriak Rea, berusaha keras untuk naik ke permukaan.
Air yang menggenang di air terjun itu terlihat dangkal tapi ternyata sangat dalam.
Rea yang kehabisan nafas tak bisa berteriak lagi, tubuhnya pun langsung tenggelam.
Rea berusaha keras untuk naik, namun bukannya naik tubuhnya malah semakin turun ke bawah.
Matahari mulai terbenam, tapi gadis bernama Rea masih berada di dalam air terjun, lama-kelamaan tubuhnya mengapung, arus air yang deras menyeret tubuhnya, tapi batu besar menghalanginya sehingga jasad Rea tak dapat kemana-mana lagi.
Di tempat yang indah dan menakjubkan itu nyawa seorang gadis bernama Rea harus berhenti, karena kejahatan kawan-kawannya ia harus kehilangan nyawanya.
"Begitulah ceritanya kenapa aku bisa meninggal di air terjun" jelas Rea menyudahi ceritanya.
__ADS_1
Alica yang mendengarnya menutup mulut tak percaya, dapat di simpulkan kalau awalnya mereka tak ingin membunuh Rea tapi mereka ingin mencelakai Rea, sayangnya tindakan mereka malah menghilangkan nyawa Rea tanpa mereka duga.
"Mereka udah bunuh aku, tapi mereka juga yang sudah membuat berita kalau aku hilang biar gak ada yang curiga kalau mereka yang udah bunuh aku, mereka memang licik, aku gak tau kenapa nasib ku seburuk itu bisa bertemu dengan orang-orang seperti mereka" sedih Rea saat teringat tindakan jahat mereka padanya sampai-sampai ia harus meregang nyawa di tempat ini.
Alica merasakan kesedihan mendalam di diri Rea.
"Kamu yang sabar, karma tetap berlaku, walau mereka pergi ke ujung dunia pun, yang namanya karma akan terus berjalan, mereka akan mendapatkan ganjaran atas perbuatan mereka, tak perlu kau yang membalasnya biar hukum alam yang bekerja dan kau hanya bisa melihat kalau kelak mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal" ujar Alica.
Hanya anggukan yang dapat Rea berikan, kekecewaan dan dendamnya masih terlihat jelas namun mendengar kata-kata Alica hatinya sedikit merasa tenang.
"Kamu yang sabar, jasad mu sudah di bawa ke rumah duka, jasad mu akan di makamkan dengan layak, kamu bisa tenang sekarang" ucap Alica.
"Terima kasih, terima kasih kamu dan teman-teman mu udah baik mau membawa jasad ku pulang, keinginan ku tidak banyak, aku hanya ingin jasad ku di makamkan dengan layak dan kedua orang tua ku tau kalau aku udah gak ada" Rea menatap langit-langit, kesedihan terpancar jelas di wajahnya.
Prestasi yang Rea capai selama ini untuk menjadi orang sukses malah di patahkan oleh orang-orang yang memiliki penyakit jasad (iri dan dengki).
"Sama-sama, aku minta sama kamu, kamu jangan ganggu teman-teman ku, tujuan kami datang ke sini cuman ingin piknik, kami gak punya niatan jahat, kami mohon kamu jangan ganggu mereka" titah Alica.
"Aku gak akan lakuin itu, aku tau kamu dan teman-teman mu orang baik, aku gak mungkin ganggu orang baik. Aku cuman bisa peringatkan pada kalian kalau biasanya hutan di jadikan tempat pembantaian" sela Rea.
"Kalau kamu bisa melihat dengan teliti banyak kerangka-kerangka manusia yang berserakan, kamu jangan kaget kalau bertemu hal-hal begituan" peringatan Rea.
"Iya, aku juga udah tau kalau hutan ini di jadikan tempat pembuangan mayat, aku di kasih tau oleh salah satu makhluk halus yang menghuni hutan ini" jawab Alica.
"Aku peringatkan pada mu jangan keluar malem-malem, aku hanya takut kau mendapatkan sesuatu yang buruk dan naasnya gak ada orang yang bisa menolong mu" sebut Rea.
Tanpa aba-aba Rea langsung menghilang tanpa sebab.
Alica langsung mengerutkan alis."Sesuatu yang buruk? Sesuatu yang buruk apa, apa yang dia maksud coba"
Alica heran tak paham kemana arah pembicaraan Rea.
"Pasti ada sesuatu di balik itu semua, tapi aku gak mau mikirin hal itu, lagian selama aku berada di sini gak ada masalah, kalau ternyata ada bahaya atau ada kendala yang menyangkut orang banyak baru aku akan kasih tau Nofan agar mereka semua waspada, tapi untuk saat ini masih aman-aman aja aku gak akan kasih tau siapa-siapa, aku cuman gak mau orang-orang tau hal-hal miring yang ada di hutan ini"
Alica akan menyimpan semuanya sendiri, setidaknya ia sudah tau kalau Rea meninggal karena di bunuh oleh teman-temannya sendiri.
Pelan-pelan tubuh Alica berbalik. Alangkah kagetnya ia saat tiba-tiba sosok bersagul berdiri dengan mata melotot tajam.
Sontak Alica memundurkan tubuh karena terkejut.
"Huft, kenapa kamu ngagetin aku" cenat-cenut jantung Alica saat tiba-tiba sosok bersagul itu berdiri di belakangnya.
"Ngapain kamu ada di sini?" Tanya sosok itu mengeluarkan tatapan maut.
"Aku tadi cuman mau jalan-jalan sekalian liat situasi serta mau cari tau kenapa gadis itu meninggal di air terjun" jelas Alica.
Sosok bersagul itu diam, tatapan mata tanpa berkedip mengarah pada Alifa, Alica yang di tatap seperti itu pun menelan ludah pahit.
"Kenapa dia natap aku seperti itu, apa salah ku" batin Alica.
Sorot mata hantu bersanggul begitu tajam, setajam silet.
"Ayo ikut aku" ajak sosok itu.
Alica mengerutkan alis namun kakinya terus melangkah mengikuti kemana sosok itu akan membawanya pergi.
"Kamu akan bawa aku kemana?" Alica yang penasaran mengajukan pertanyaan.
"Aku akan membawa mu pulang, aku gak mau kamu tersesat di hutan ini" jawab sosok bersagul.
"Gak mungkin, aku masih hafal jalan pulang, gak mungkin aku tersesat" ujar Alica.
"Kau memang hafal, tapi kau pasti akan lupa kalau ada hantu usil yang ingin membuat mu tersesat, ingat di sini bukan tempat mu, ada ragam hantu di sini, kau jangan merendahkan mereka, mereka kalau sekalinya bertindak bisa membuat siapa saja yang terjebak tak akan bisa keluar selamanya" tekankan sosok itu.
Alica terkejut, ia tak menyangka kalau hantu di tempat ini begitu garang dan jahat sampai-sampai mereka segitunya hanya karena ingin menjebak manusia.
"Segitunya mereka yang ingin jebak orang" batin Alica terkejut hebat.
Kaki Alica mengikuti sosok itu dari belakang. Sosok itu membawa pulang ke tenda tanpa tersesat sedikit pun, Alica mengucapakan terima kasih yang sebanyak-banyaknya karena sosok itu telah membantunya.
__ADS_1