
Mama Rita terkejut mendengar perkataan Gisel yang mengatakan bahwa Aisyah adalah Anak dari Neti Adik sepupunya.
"Jadi Aisyah adalah Anak Neti? pantas saja mereka berdua sama-sama kampungan," ujar Mama Rita yang tidak ada sedikit pun rasa kasih sayang dalam hatinya untuk Aisyah.
"Gisel tidak heran mendengar Mama berbicara seperti itu, jangankan kepada Aisyah, bahkan kepada Gisel pun Mama tega menjadikan Gisel sebagai boneka dan alat untuk mencari harta kekayaan. Ma, apa Mama tidak punya hati nurani sedikit saja? Gisel juga ingin merasakan bagaimana rasanya disayang oleh Ibu kandung Gisel sendiri."
"Mama melakukan semua itu demi kamu Gisel, karena Mama sayang sama kamu."
"Tapi tidak dengan cara seperti ini Ma, kita akan berdosa karena telah menipu oranglain, bahkan kita sudah merampas hak oranglain. Apa Mama sadar dengan semua itu? Gisel harap Mama akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi, kita harus bertaubat selagi masih ada waktu."
"Sudahlah Gisel, kamu tidak usah menggurui Mama, Mama lebih tau apa yang terbaik untuk kehidupan kita."
"Ma, harta kekayaan yang kita dapat dengan cara yang tidak benar, nantinya tidak akan berkah. Harta juga tidak akan dibawa mati, harusnya Mama menyadari itu semua."
"Kamu sekarang sudah berubah Gisel, Mama kecewa sama kamu. Pasti kamu berubah gara-gara kebanyakan bergaul dengan si Kacung itu."
"Ma, Gisel sangat bersyukur, karena telah dipertemukan dengan Evan, dan sosok Evan telah membuka mata hati Gisel untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi."
"Cinta memang sudah membutakan kamu Gisel, percuma Mama bicara sama kamu, karena kamu sudah tidak memperdulikan Mama lagi. Sekarang lebih baik Mama mati saja."
"Ma, cukup. Hentikan sandiwara Mama. Sudah cukup Mama membodohi Gisel selama ini. Sebaiknya sekarang Mama pergi dari sini sebelum Papa Herdi melihat Mama."
Mama Rita akhirnya memutuskan untuk pergi, karena saat ini dirinya merasa percuma jika berbicara dengan Gisel.
"Lihat saja nanti, aku pasti akan membalas kalian semua," gumam Mama Rita dengan mengepalkan kedua tangannya.
Evan yang melihat Mama Rita sudah meninggalkan Gisel, bergegas menghampiri Gisel yang saat ini terlihat menangis. Awalnya Evan akan ikut mendampingi Gisel saat bertemu dengan Ibu Kandungnya, tapi Gisel melarang Evan, sehingga Evan hanya mengawasi Gisel dan Mama Rita dari dalam mobil saja.
"Sayang, kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Evan dengan memeluk tubuh Gisel.
"Aku tidak tau harus berbuat apa lagi untuk menyadarkan Mama Van. Aku tidak mau kalau Ibu kandungku sendiri terus saja berbuat dosa."
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya, aku yakin jika suatu saat nanti, Mama kamu pasti akan menyadari segala kekeliruannya selama ini. Ya sudah sebaiknya sekarang kita segera pulang, sekarang sudah sore juga," ajak Evan dengan menggandeng tubuh Gisel untuk kembali ke dalam mobil.
......................
Keesokan pagi nya, Aisyah dan Raihan sudah terlihat bersiap untuk menuju Kalimantan. Tadinya mereka akan membawa Nathan dan Nala, tapi Nenek Rose melarangnya supaya kedua Anak kembar Aisyah dan Raihan tidak merasa kecapean.
"Nek, maaf ya kami selalu merepotkan karena Nenek harus menjaga Nathan dan Nala," ucap Aisyah yang merasa tidak enak kepada Nenek Rose.
"Nak, Nenek justru senang karena Nenek tidak merasa kesepian lagi. Kalian tidak perlu khawatir, di sini banyak Asisten rumah tangga yang akan membantu Nenek menjaga Si Kembar, apalagi sekarang Nathan dan Nala sudah tidak meminum Asi lagi, jadi kalian jangan terlalu banyak pikiran.
"Van, apa kamu sudah menyiapkan Jet Pribadi untuk Aisyah dan Raihan?" tanya Papa Herdi, karena beliau ingin yang terbaik untuk Anaknya, padahal tadinya Raihan dan Aisyah akan naik pesawat umum saja.
"Sudah Tuan, semuanya sudah siap," jawab Evan.
"Nak, apa benar kalian tidak ingin Papa mendampingi kalian?"
"Tidak perlu Pa, apalagi saat ini kondisi kesehatan Papa sedang tidak baik. Kami minta do'anya saja ya, semoga semua urusannya cepat selesai," jawab Raihan.
"Kami semua pasti akan selalu medo'akan yang terbaik untuk kalian. Semoga selamat sampai tujuan ya Nak, Papa titip salam untuk Pak Burhan."
Aisyah sudah terlihat cemas, karena Aisyah rasanya masih belum percaya jika Mama Neti adalah Ibu Kandungnya.
"Ibu tenang ya, apa pun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama," ujar Raihan dengan menggenggam erat tangan Aisyah.
Setelah sampai Bandara, Aisyah dan Raihan langsung menaiki Jet Pribadi milik Sanjaya Grup, dan sepanjang perjalanan, Raihan menyuruh Aisyah untuk tidur, supaya Aisyah tidak kepikiran terus dengan kenyataan yang nanti akan mereka hadapi.
Raihan dan Aisyah yang sudah ditunggu oleh Supir Pribadi saat turun dari Jet pribadi mereka langsung menuju kediaman Pak Burhan yang tidak jauh dari Bandara.
Aisyah dan Raihan sengaja tidak memberikan kabar kedatangan mereka terlebih dahulu kepada Pak Burhan dan Mama Neti, supaya kedua orangtua Aisyah tersebut tidak menghindar, apalagi kalau sampai Mama Neti sampai mengetahui Aisyah datang bersama Raihan, karena pasti Mama Neti tidak akan mau bertemu dengan Raihan.
Satpam rumah Pak Burhan yang sudah mengenal Aisyah, langsung saja membuka gerbang saat melihat Aisyah yang datang.
__ADS_1
"Pak, Ayah sama Ibu ada di rumah?" tanya Aisyah kepada Satpam tersebut.
"Ada Nona, kebetulan hari ini Tuan tidak masuk bekerja, karena kemarin kondisi Nyonya sempat drop ketika Non Aisyah pulang ke Jakarta," jawab Satpam.
"Makasih ya Pak, kalau begitu kami masuk dulu," ujar Aisyah kemudian menyuruh Supir untuk kembali melajukan mobilnya memasuki halaman rumah Pak Burhan.
Sesampainya di depan rumah Pak Burhan, Aisyah menekan bel, dan yang membuka pintu rumahnya adalah Mama Neti sendiri.
"Aisyah sayang, kenapa mau main ke sini gak ngasih kabar dulu sama Ibu?" tanya Mama Neti dengan memeluk tubuh Aisyah, dan Aisyah hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Mama Neti.
"Bu, kenapa Ibu dulu sudah tega meninggalkan Aisyah dan Kak Raihan?" tanya Aisyah.
Deg
Jantung Mama Neti rasanya berhenti berdetak ketika mendengar pertanyaan Aisyah, karena Mama Neti tidak mengira jika Aisyah sudah mengetahui semuanya.
"A_apa maksud Aisyah?" tanya Mama Neti dengan suara tergagap.
Mama Neti semakin terkejut ketika melihat sosok lelaki yang saat ini menghampiri mereka berdua.
"Apa kabar Bu? apa Ibu masih ingat kepada saya?" tanya Raihan.
"Rai_raihan," ucap Mama Neti.
"Raihan kira Ibu sudah lupa kepada Raihan. Kami kesini mau bertanya, Kenapa Ibu meninggalkan kami?" tanya Raihan dengan tatapan penuh kebencian.
"Maafkan Ibu Nak, Ibu terpaksa meninggalkan kalian berdua," jawab Bu Neti dengan lirih.
Pak Burhan yang mendengar suara Aisyah dari luar rumah, bergegas menyusul Mama Neti.
"Aisyah sayang, Raihan, kenapa kalian datang tidak memberi kabar dulu? Ayo masuk Nak," ujar Pak Burhan, tapi Aisyah dan Raihan masih terlihat diam mematung, sehingga membuat hati Pak Burhan bertanya-tanya.
__ADS_1
"Kenapa kalian berdua tidak mau masuk? masuklah Nak, ini rumah kalian juga," ajak Pak Burhan.
"Ayah, apa Ayah sudah tau kalau sebenarnya Aisyah adalah Anak kandung Ibu dari mendiang Suami Ibu sebelumnya?"