
Setelah Raihan mengurus administrasi kepulangan jenazah Bu Neti, Raihan menelpon Papa Herdi untuk memberitahukan kabar meninggalnya Bu Neti.
Papa Herdi memutuskan untuk berangkat menuju Kalimantan bersama dengan Evan dan Gisel supaya bisa mengucapkan bela sungkawa secara langsung, karena bagaimana pun juga Bu Neti dan Pak Burhan adalah Besannya terlepas dari masalalu yang pernah terjadi karena perbuatan Bu Neti yang telah menculik Raihan, dan Gisel juga akan meminta maaf atas nama Mamanya kepada Pak Burhan dan Aisyah karena Bu Neti melakukan semua itu atas suruhan Ibu kandung Gisel.
Raihan menghampiri Aisyah dan Pak Burhan yang sudah berada di depan kamar jenazah, dan Aisyah masih begitu terpukul atas meninggalnya Bu Neti.
"Yah, administrasinya sudah selesai, kita sekarang sudah bisa membawa jenazah Ibu pulang. Apa Ayah sudah menghubungi Asisten rumah tangga tentang kabar meninggalnya Ibu?" tanya Raihan.
"Makasih banyak ya Nak, Ayah tidak tahu apa jadinya jika tidak ada Raihan dan Aisyah. Tadi Ayah sudah sempat telpon Supir untuk pulang dan memberitahukan kepada semua yang berada di rumah, juga mengumumkan kabar meninggalnya Ibu di Masjid, Ayah juga sudah meminta supaya mereka menyiapkan tenda untuk menyambut kepulangan jenazah Ibu."
"Sudah seharusnya semua itu kami lakukan Yah. Kalau begitu kita pulang sekarang supaya jenazah bisa segera dimandikan dan dishalatkan, dan mungkin jenazah baru bisa dikebumikan besok, karena sekarang hari sudah sore dan cuaca juga masih hujan. Ayah mau ikut mobil kami atau bagaimana?" tanya Raihan.
"Ayah sebaiknya ikut Ambulance saja untuk menemani Ibu Nak."
"Yah, Aisyah ikut naik mobil Ambulance juga ya."
"Jangan Nak, kondisi Aisyah sedang tidak baik, Ayah takut jika Aisyah tidak akan kuat jika terus berada di samping Ibu," ujar Pak Burhan.
"Iya sayang, Ayah benar, kondisi Aisyah saat ini sedang tidak memungkinkan, jangan sampai airmata Aisyah nanti menetes pada tubuh Ibu, sehingga akan membuat beliau merasa berat untuk meninggalkan Dunia ini," ujar Raihan dengan merangkul tubuh Aisyah.
"Kalau begitu kalian pulang duluan, Ayah sebentar lagi menyusul dengan Perawat yang akan membantu membawa Jenazah Ibu."
Aisyah dengan berat hati melangkahkan kakinya meninggalkan Pak Burhan dan Jenazah Bu Neti yang akan menggunakan Ambulance untuk pulang.
Sebelum pulang, Pak Burhan yang telah mendapatkan nomor handphone Bu Ima dari Aisyah, mencoba untuk menghubungi Bu Ima supaya bisa memberitahukan tentang meninggalnya Bu Neti.
__ADS_1
📞"Assalamu'alaikum," ucap Bu Ima saat mengangkat telpon dari Pak Burhan.
📞"Wa'alaikumsalam Ima, ini aku Burhan. Aku ingin memberitahukan tentang kabar Neti yang baru saja meninggal Dunia."
📞"Innalillahi waina ilaihi raji'un, kami turut berduka cita Mas, semoga Allah SWT mengampuni semua dosa Neti, dan menerima semua amal ibadah Neti," ucap Bu Ima yang di Amini oleh Pak burhan.
📞"Terimakasih banyak Ima. Atas nama Neti aku meminta maaf yang sebesar-besarnya karena kami sudah banyak melakukan kesalahan kepada kamu dan Ratna," ucap Pak Burhan dengan tulus.
Ratna yang berada di sana, dan kebetulan mendengar perkataan Bu Ima, langsung saja angkat suara.
"Ibu tidak perlu mendo'akan orang yang telah berbuat dzolim kepada kita, dia juga meninggal setelah diberikan penyakit terlebih dahulu karena itu adalah karma untuk dia yang sudah banyak mendzolimi orang lain," celetuk Ratna.
"Ratna, jangan berbicara seperti itu Nak, tidak baik membicarakan keburukan orang yang telah meninggal dunia," ujar Bu Ima.
"Itu fakta Bu, bukan gosip, lagian salah sendiri jadi orang kok jahat banget, pasti Anaknya juga sama jahatnya dengan si Neti itu," ujar Ratna.
📞"Mas, atas nama Ratna, aku minta maaf, semoga kamu tidak merasa tersinggung."
📞"Tidak apa-apa Ima, itu semua memang kesalahan kami. Atas nama mendiang Neti, sekali lagi aku minta maaf yang sebesar-besarnya," ujar Pak Burhan kemudian menutup telponnya setelah sebelumnya mengucapkan Salam.
Pak Burhan kembali menitikkan air mata, karena ternyata sampai saat ini Ratna masih belum bisa memaafkan semua kesalahannya.
"Ternyata Ratna masih saja memendam kebencian terhadap aku dan Neti, bagaimana jadinya jika Ratna sampai mengetahui jika Aisyah adalah Anakku dan mendiang Neti, apa Ratna juga akan membenci Aisyah? semoga saja pintu hati Ratna segera terbuka dan memaafkan kesalahanku dan Neti seperti Aisyah dan Raihan," gumam Papa Herdi.
Perawat saat ini mendorong Jenazah Bu Neti untuk di antarkan ke rumah duka, dan sepanjang perjalanan, Pak Burhan menahan airmata kepedihan karena kehilangan istri tercinta.
__ADS_1
"Ma, semoga Mama beristirahat dengan tenang," ucap Pak Burhan dengan mengelus lembut rambut Bu Neti yang saat ini sudah terbujur kaku di hadapannya.
Sesampainya di halaman rumah, Aisyah, Raihan bersama Asisten Rumah Tangga, juga tetangga yang sudah datang untuk melayat mendiang Bu Neti, sudah terlihat menunggu kedatangan Jenazah.
Jenazah Bu Neti di sambut oleh isak tangis orang-orang terdekatnya, bahkan Aisyah yang sudah tidak kuasa melihat Jenazah Ibunya yang dikeluarkan dari dalam Ambulance akhirnya pingsan juga, untung saja Raihan dengan sigap memeluk tubuh Aisyah.
"Nak, sebaiknya Nak Raihan bawa Aisyah masuk ke dalam kamar," ujar Pak burhan.
Salah satu Asisten rumah tangga kini mengantar Raihan yang menggendong Aisyah menuju kamar yang sudah mendiang Bu Neti persiapkan untuk Aisyah dan keluarga, bahkan di setiap ruangan rumah Pak Burhan, terlihat banyak fhoto Aisyah dan Nala yang dipajang di sana.
"Sayang, jangan buat Kak Raihan khawatir, Kak Raihan yakin kalau Aisyah adalah perempuan yang kuat, dan kita bisa melewati semua ini bersama," ujar Raihan dengan mengelus lembut kepala Aisyah, kemudian ikut berbaring di samping Aisyah serta memeluk tubuh istri tercintanya tersebut.
Aisyah terbangun ketika mendengar suara Adzan Maghrib berkumandang, dan Aisyah terlihat memegang kepalanya yang sedikit pusing.
Saat ini Raihan sudah terlihat duduk di samping Aisyah, dan Raihan sudah berganti pakaian, karena di dalam lemari yang berada di dalam kamar tersebut, mendiang Bu Neti sudah mempersiapkan baju-baju baru untuk Aisyah dan keluarga kecilnya jika sewaktu-waktu Aisyah pulang ke Kalimantan.
"Alhamdulillah, Akhirnya Aisyah bangun juga. Bagaimana keadaan Aisyah saat ini, apa ada yang sakit?" tanya Raihan dengan memberikan segelas air putih kepada Aisyah.
"Makasih banyak ya Kak atas semuanya. Aisyah masih sedikit pusing, mungkin karena tadi kebanyakan nangis," jawab Aisyah.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita Shalat Maghrib berjamaah, supaya setelah itu kita bisa mengirim do'a untuk mendiang Ibu," ujar Raihan dengan membantu Aisyah untuk pergi ke kamar mandi.
Setelah Aisyah dan Raihan selesai melaksanakan Shalat Maghrib berjamaah, mereka memutuskan untuk membaca surat Yasin di depan Jenazah Bu Neti yang sudah terbujur kaku di ruang tengah rumahnya.
Sepanjang membaca Surat Yasin, Aisyah tidak kuasa menahan airmata yang terus saja mengalir pada pipinya, dan Raihan selalu setia berada di samping Aisyah, Raihan juga terus menghapus Airmata Aisyah.
__ADS_1
Bu, Semoga Ibu beristirahat dengan tenang di Alam sana, Aisyah pasti akan selalu mengirim do'a untuk Ibu, karena hanya itu yang saat ini bisa Aisyah lakukan untuk Ibu. Aisyah sayang Ibu, terimakasih telah melahirkan Aisyah ke Dunia ini, walau pun kita tidak tidak bisa saling menyayangi setelah mengetahui hubungan kita yang sebenarnya, ucap Aisyah dalam hati.