
Sebelum acara Tahlil Bu Neti dimulai, Raihan terlebih dahulu mewakili Pak Burhan untuk mengucapkan terimakasih kepada semua yang hadir, dan Raihan juga meminta maaf atas nama Almarhumah jika mempunyai kesalahan semasa hidupnya.
Acara Tahlil pun berjalan dengan lancar dengan dipimpin oleh Ustad yang berada di lingkungan rumah Pak Burhan.
Setelah acara Tahlil selesai, Raihan kembali menghampiri Aisyah yang saat ini masih mengompres dahi Pak Burhan yang masih belum sadarkan diri.
"Sayang, bagaimana sekarang keadaan Ayah? apa panasnya sudah turun?" tanya Raihan.
"Alhamdulillah Kak, sekarang badan Ayah udah tidak terlalu panas, tapi Ayah masih belum bangun juga," jawab Aisyah.
"Kalau begitu biar Kak Raihan ganti dulu baju Ayah, kasihan pakaian Ayah terlihat kotor karena belum diganti," ujar Raihan.
Meski pun Aisyah Anak kandung Pak Burhan, tapi Aisyah tidak berani mengganti bajunya, karena Aisyah masih merasa canggung terhadap sosok Ayah yang baru dia kenal beberapa bulan saja, sehingga Aisyah memutuskan untuk ke luar terlebih dahulu dari kamar Pak Burhan ketika Raihan mengganti baju Pak Burhan.
Setelah Raihan selesai mengganti pakaian Pak Burhan, Raihan membuka pintu untuk memberitahu Aisyah jika pakaian Pak Burhan telah selesai diganti.
"Sayang, sekarang Aisyah sudah bisa masuk lagi, Kak Raihan sudah selesai mengganti baju Ayah."
"Makasih banyak ya Kak, maaf kalau Aisyah sudah merepotkan."
"Sudah berapa kali Kakak bilang kalau Aisyah jangan ngucapin terimakasih, masa sama Suami sendiri ngucapin terimakasih sih," ujar Raihan dengan memeluk tubuh istrinya tersebut.
Raihan dan Aisyah duduk di samping ranjang Pak Burhan dengan terus mengompres dahinya, sampai akhirnya Pak Burhan secara perlahan membuka matanya.
"Alhamdulillah, akhirnya Ayah bangun juga, Ayah sudah membuat kami khawatir," ujar Aisyah.
Raihan membantu Pak Burhan untuk duduk, dan Aisyah melangkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil makanan, karena dari siang Pak Burhan masih belum makan.
__ADS_1
"Ayah sekarang makan dulu ya, terus minum obatnya," ujar Aisyah dengan menyuapi Pak Burhan.
"Nak, maaf ya kalau Ayah sudah membuat kalian merasa khawatir," ucap Pak Burhan yang merasa tidak enak terhadap Raihan dan Aisyah, apalagi saat ini Pak Burhan melihat bajunya yang sudah diganti.
"Ayah jangan terlalu banyak pikiran, sekarang sebaiknya Ayah makan yang banyak, terus minum obatnya supaya lekas sembuh," ujar Aisyah, dan Pak Burhan yang ingin segera sembuh memaksakan diri untuk makan dan meminum obat, karena Pak Burhan tidak mau terus-terusan merepotkan Aisyah dan Raihan.
......................
Satu minggu pun kini telah berlalu, dan hari ini akan di adakan tahlil 7 hari Almarhumah Bu Neti. Biasanya acara tahlil dilaksanakan setelah Shalat Ashar, tapi hari ini acara tahlil sengaja diselenggarakan selepas Dzuhur, karena rencananya Aisyah dan Raihan akan kembali ke Jakarta, begitu juga dengan Pak Burhan yang akan ikut dengan mereka, karena Aisyah tidak tega jika meninggalkan Ayahnya hidup sendirian di Kalimantan.
Setiap pagi, Aisyah, Raihan dan Pak Burhan selalu melakukan ziarah ke makam Almarhumah Bu Neti, dan mereka selalu menyempatkan untuk membaca Surat Yasin di makam Bu Neti.
"Nak, ini adalah barang-barang milik Ibu, Ayah harap Aisyah bisa menggunakan serta menyimpannya dengan baik," ujar Pak Burhan dengan memberikan beberapa kotak perhiasan dan tabungan milik Bu Neti semasa hidupnya. Pak Burhan juga memberikan sertifikat rumah dan beberapa aset yang sudah atas nama mendiang Bu Neti.
"Yah, kenapa Ayah memberikan semua ini kepada Aisyah? terus bagaimana dengan Ratna?"
"Ayah sudah memberikan hak Ratna saat Ayah menemui Ratna dan Ima di Desa Nelayan. Jadi, semua ini Ayah berikan untuk Aisyah dan keluarga."
"Semua ini sudah hak Aisyah, dan semua yang Ayah dan mendiang Ibu berikan, tidak akan sebanding dengan kesalahan yang telah kami perbuat di masalalu."
"Sebaiknya kita lupakan masalalu Yah, jangan sampai kita terus melihat ke belakang. Bagaimana dengan Perusahaan Ayah di sini, apa Ayah sudah menitipkannya kepada orang kepercayaan Ayah?" tanya Aisyah.
"Perusahaan di sini sudah Ayah titipkan kepada Asisten kepercayaan Ayah, sampai suatu saat nanti keturunan Ayah ada yang bisa meneruskan bisnis di Kalimantan. Karena Nak Raihan akan meneruskan usaha Tuan Herdi yang di Jakarta, mungkin nanti Nathan, Nala, atau Cucu Ayah dari Ratna bisa menjadi penerus Ayah."
"Siapa pun penerus Ayah nanti, semoga bisa mengelola Perusahaan dengan baik" ujar Aisyah yang di Amini oleh Raihan dan Pak Burhan.
......................
__ADS_1
Acara Tahlil ke-7 hari mendiang Bu Neti pun sudah selesai, Aisyah, Raihan dan Pak Burhan sudah terlihat bersiap menuju Jakarta.
"Bi, titip jaga rumah ya, kapan-kapan kami pasti akan datang ke sini," ujar Pak Burhan kepada Asisten rumah tangganya sebelum pergi.
"Iya Tuan, saya pasti akan selalu membersihkan rumah seperti biasa, semoga Tuan dan keluarga selalu diberikan kesehatan," ujar Bi Ijah.
"Amin, makasih banyak ya Bi atas semuanya, kalau ada apa-apa Bibi hubungi kami saja," ujar Aisyah dengan memeluk tubuh Bi Ijah, Aisyah juga sebelumnya sudah membagikan uang, serta barang-barang milik mendiang Bu Neti kepada para pekerja di rumah Pak Burhan.
......................
Tiga jam kemudian, Aisyah, Raihan dan Pak Burhan akhirnya tiba di kediaman Sanjaya, dan Si Kembar sudah terlihat menyambut kedatangan kedua orangtuanya.
"Ibu kangen sama Nathan dan Nala, Anak-anak Ibu gak nakal kan?" tanya Aisyah dengan memeluk tubuh kedua Anaknya yang semakin hari semakin menggemaskan.
"Alhamdulillah Nathan dan Nala tidak pernah rewel Nak, jadi kami tidak kerepotan mengurus mereka," ujar Nenek Rose.
"Ayah juga kangen sama Anak-anak Ayah yang lucu ini. Sekarang Nathan dan Nala Salim dulu sama Kakek," ujar Raihan, dan kedua Anaknya langsung menghampiri Pak Burhan serta mencium punggung tangan Kakeknya tersebut.
"Cucu cucu Kakek udah pinter ya," ujar Pak Burhan yang merasa bahagia karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan kedua Cucunya. Pak Burhan tadinya berniat akan membeli rumah disekitar komplek rumah Papa Herdi, tapi Papa Herdi menyuruh Pak Burhan untuk tinggal di Kediaman Sanjaya supaya Aisyah bisa terus memperhatikan Ayah kandungnya tersebut, apalagi Evan dan Gisel akan pindah dari kediaman Sanjaya setelah menikah nanti.
"Selamat datang Besan, ayo masuk, kami sudah masak yang banyak untuk menyambut Besan dan Anak-anak," ujar Papa Herdi dengan merangkul Pak Burhan untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Saya jadi tidak enak sudah merepotkan Besan" ujar Pak Burhan, karena Papa Herdi sudah melarang Pak Burhan untuk memangilnya Tuan.
"Kita kan keluarga, jadi tidak ada kata merepotkan. Saya justru senang karena bisa ada teman main catur, apalagi Raihan sebentar lagi akan sibuk mengurus perusahaan serta meneruskan Sekolahnya," ujar Papa Herdi.
"Aisyah sayang, sebaiknya nanti saat Raihan sudah lulus Paket A dan Paket B, Aisyah bareng sama Raihan lanjutin Paket C," ujar Papa Herdi.
__ADS_1
"Kita lihat dulu situasi nanti seperti apa Pa, Aisyah juga kasihan kalau terus-terusan ninggalin Nathan dan Nala, Aisyah juga tidak mau kalau Anak-anak sampai kurang perhatian dari kedua orangtuanya."
"Rencananya kami juga bakalan nambah lagi Anak Pa," celetuk Raihan, sehingga membuat Aisyah merasa malu.