
"Kamu yang sabar, kamu berdoa aja semoga ibu kamu lekas sembuh" Alica memberi semangat pada Anna.
Anna mengangguk, dengan harapan dunianya kembali baik-baik saja. Sejak berurusan dengan dukun kehidupannya mulai tidak tenang dan satu persatu anggota keluarganya meregang nyawa.
"Makasih, makasih kamu udah mau datang ke sini dan bantu aku, aku gak tau harus minta bantuan sama siapa lagi, satupun orang di kampung ini gak ada yang bisa bantu aku, mereka hanya bisa bantu doa aja. Aku bingung banget harus selesain ini semua dengan cara apa" Anna sangat-sangat bersyukur karena takdir telah mempertemukannya dengan Alica. Orang yang bisa menyelamatkannya dan membantu keluarganya.
"Sama-sama, aku senang kok bisa bantu kamu" balas Alica.
Hati Alica begitu berbunga-bunga karena kemampuannya dapat berguna bagi orang lain yang lagi membutuhkan.
Krieet
Suara pintu kamar terbuka, sontak mereka pun terdiam, percakapan langsung terhenti, keheningan tiba-tiba melanda.
"Anna, siapa mereka, kenapa mereka ada di sini?" Seorang wanita berusia 24 tahun mengerutkan alis melihat Nofan dan Alica yang begitu asing di matanya.
"Ini teman-teman Anna kak, dia yang mau bantu kita, Anna beruntung banget bisa bertemu sama mereka, Anna harap setelah ini keluarga kita akan kembali aman dan dukun jahat itu gak akan ganggu keluarga kita lagi" jelas Anna di iringi senyuman yang terus merekah menghiasi wajahnya.
"Owh, jadi ini teman-teman kamu, kenapa kamu gak bilang kalau ada tamu, kita gak nyiapin apa-apa" kakak Anna yang di ketahui bernama Tara itu tak enak hati lantaran tak bisa menyuguhkan makanan untuk kedua tamu spesial itu.
"Maaf kak, soalnya ini dadakan, Anna juga baru ketemu sama mereka dan mereka bersedia membantu keluarga kita. Sebelumnya Anna gak tau kalau rumah kita akan kedatangan tamu" sahut Anna lupa mengabari orang rumah bahwasanya akan ada teman-temannya yang akan main ke rumah.
"Kamu itu emang kebiasaan, sana kamu beli makanan, mereka pasti lapar" suruh kak Tara.
"Ah tidak perlu kak, gak perlu repot-repot, kita datang ke sini cuman mau jenguk Tante Lasmi aja, habis itu kita mau pulang" tolak Alica tak enak hati jika keluarga Anna harus repot-repot mengeluarkan hidangan untuk mereka.
"Gak papa, anggap saja ini adalah ucapan terima kasih kami" jawab kak Tara ramah.
Alica tak tenang, ia tak enak hati merepotkan keluarga Anna yang sudah sangat baik memperlakukannya.
"Anna ajak teman-teman kamu ke meja makan, kita makan siang di sana, kebetulan kakak baru aja selesai buat makan siang" suruh kak Tara.
Anna mengangguk cepat."Baik kak, ayo kak Nofan, Alica kita makan siang bareng" ajak Anna.
"Gak usah na, kita mau langsung pulang aja, kita akan makan di rumah aja" tolak Nofan lembut.
"Ayolah kak Nofan, makan di sini aja, gak ngerepotin kok, kalian gak usah gak enak hati segala kayak sama siapa aja" bujuk Anna biar teman-temannya mau makan siang bersamanya.
__ADS_1
Alica dan Nofan saling bertatapan.
"Gimana ini ca" pelan Nofan menyenggol sedikit lengan Alica.
"Mana aku tau, jangan tanya aku, aku juga sama-sama gak tau" balas Alica sambil mengurangi volume suaranya.
Kedua sahabat itu diam, untuk menerima ajakan mereka, mereka tak nyaman karena itu terlalu berlebihan. Tapi untuk menolak seakan-akan mereka tak bisa.
"Kok bengong, ayo kita ke meja makan, kakak udah siapin makanan yang kebetulan cukup banyak, buruan kita ke sana sebelum makanannya keburu dingin" ajak kak Tara.
Nofan dan Alica tak memiliki pilihan lain selain makan siang bersama keluarga Anna.
Dengan canggung Alica dan Nofan duduk di meja makan.
"Ini siapa, teman-teman kamu?" Tanya seorang pria berperawakan tinggi, kumis lebat, bola matanya terarah pada Alica dan Nofan.
Kepala Anna mengangguk."Iya pak, ini teman-teman Anna, mereka datang ke sini karena mau bantu keluarga kita, kebetulan Alica itu punya kemampuan melihat makhluk-makhluk tak kasat mata, Alica pasti bisa bantu keluarga kita terlepas dari dukun yang jahat itu"
"Ooowh" kepala pria bernama Basuki itu manggut-manggut.
"Makasih ya nak udah repot-repot mau datang kemari jauh-jauh, kami bersyukur sekali karena akhirnya ada orang yang mau bantu keluarga kami, kami bingung sekali harus meminta bantuan sama siapa lagi" raut wajah pak Basuki sedih, ketakutan yang mendalam mencuat di bola matanya.
"Sama-sama om, Alica malahan senang bisa bantu keluarga Anna, Alica harap kalian semua bisa terlepas dari dukun itu dan gak ada ganggu lain lagi" harapan besar Alica.
"Amiiin" sahut mereka kompak.
"Tara, di mana kakak kamu, kenapa gak keluar kamar, sana panggilin dia, suruh keluar kita makan bareng" suruh pak Basuki.
"Baik pak" kak Tara beranjak dari tempat duduk, lalu melangkah mendekati salah satu kamar yang lokasinya tak jauh dari meja makan.
"Tunggu ya sebentar, lagi manggil kakaknya Anna" ujar pak Basuki.
Nofan dan Alica membalas dengan senyuman, sangat terlihat jika mereka gugup dan canggung saat duduk satu meja bersama dengan orang-orang asing.
Tak lama kemudian kak Tara kembali dengan membawa seorang wanita berusia 27 tahun, wajahnya pucat seperti tak teraliri darah, matanya sayu dan tatapannya kosong.
Alica terkejut melihat wanita yang seperti tak bersemangat untuk hidup itu, ia terkaget-kaget melihat perut wanita yang buncit, di prediksi wanita itu tengah hamil besar dan seperti akan segera melahirkan.
__ADS_1
Alica menatap intens wanita pucat itu, yang membuatnya tak berhenti menatapnya lantaran aura wanita itu gelap, tak sama seperti saudara-saudaranya yang lainnya, sadisnya lagi di belakang wanita itu terdekat makhluk hitam menyeramkan yang terus mengikutinya.
"S-siapa wanita itu, kenapa dia di ikuti oleh makhluk halus, apa mungkin dia yang akan di jadikan target selanjutnya setelah Anna?" Batin Alica menebak-nebak.
"Tapi sepertinya kasus Anna dan wanita ini agak beda, kalau Anna memang lagi incar nyawanya, tapi untuk itu sepertinya dia....." Batin Alica terpotong.
Alica tak bisa duduk dengan tenang seperti tadi, matanya celingukan mencari seseorang yang tak tau siapa.
"Ayo-ayo makan, nanti makanannya keburu dingin" ajak pak Basuki.
Mereka pun mulai menyantap makanan yang sudah di hidangkan dengan rapih di meja makan.
Di sela-sela makan sesekali mata Alica melirik wanita hamil itu. Alica ngebet ingin bertanya latar belakang wanita itu yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Namun untuk bertanya ia tak punya keberanian.
"Fan" panggil Alica pelan, pandangannya terus terarah pada wanita pucat itu.
"Fan" panggil Alica sekali lagi karena tak ada sahutan dari bibir orang yang berada di samping Alica.
"Ada apa, kenapa kamu manggil aku?" Tanya Nofan pelan.
"Sana kamu tanya kenapa wanita itu kelihatan pucat banget" titah Alica.
"Mungkin karena dia kecapean kali" sahut Nofan.
"Tapi bisa jadi dia pucat karena lagi hamil, kok aku jadi penasaran kayak apa suaminya" ucap Alica.
Nofan mengerutkan alis."Hamil? Mana ada orang hamil di sini?"
Sontak bola mata Alica melotot ke arah Nofan."Wanita itu lagi hamil, masa kamu gak liat perut besarnya?"
Nofan menajamkan pengelihatannya, dengan seksama ia melihat wanita pucat pasi yang tengah menyantap makanan.
"Mana, perutnya rata kok, masa perut serata itu kamu bilang dia lagi hamil, ngaco deh" Nofan menertawai Alica atas kengawurannya.
"Nofan aku beneran, dia lagi hamil perutnya besar banget, dan ada makhluk lain di belakangnya" jelas Alica berusaha meyakinkan Nofan.
Nofan pun tercekat, tiba-tiba bibirnya terkunci rapat.
__ADS_1