
"Panjang ceritanya aku gak bisa ceritain sama kamu" jawab Alica.
Mana mungkin Alica bilang segalanya sama Aldi. Alica ingin tak ada yang tau jika ia hampir mati di gigit ular gara-gara mencari sosok gadis bernama Rea.
"Oh ya kenapa kamu ada di sini, kenapa kamu gak ikut acara sekolah, kenapa malah keluyuran di sini?" Keheranan Alica.
"Kalau boleh jujur aku males buat ikut, tadi aku izin sakit perut, aku ngelakuin itu karena aku gak suka aja sama acaranya. Acara tadi malam aja capek banget, eh paginya malah ada acara lagi, dengar-dengar juga nanti malam ada lagi kegiatan" jelas Aldi.
Alica tertawa kecil, menertawakan Aldi yang merasa keberatan cuman karena di suruh untuk mengikuti kegiatan yang telah di siapkan oleh para guru dan juga OSIS.
"Tapi seru loh al, masa kamu malah lewatin gitu aja" tak habis pikir Alica.
"Ya mau gimana lagi, pagi ini aku lagi gak mood buat ikutan kegiatan apapun, lebih baik aku jaga tenda aja" sahut Aldi.
"Terserah mu, tapi jangan terlalu sering bolos, takut ada yang sadar nanti kamu malah akan kena hukuman" peringatan Alica.
"Iya aku ngerti kok"
Mereka lanjut mengobrol untuk mengusir keheningan yang melanda.
Di tengah acara berlangsung Nofan terus memikirkan Alica yang ia tinggal sendirian di tempat sepi itu, jelas gak akan ada orang karena semua orang berada di acara yang sama dengannya.
"Dahlia aku mau pergi sebentar, kamu urus dulu, kalau ada apa-apa kamu minta tolong aja sama Dimas atau Reza" pamit Nofan.
"Kamu mau kemana sih fan, jangan pergi napa, acaranya belum selesai loh, kalau sewaktu-waktu ada masalah gimana" larang Dahlia.
"Sebentar kok, aku akan kembali lagi, dah aku pergi dulu"
Tanpa menunggu jawaban Dahlia, Nofan melesat pergi keluar dari kerumunan guna kembali ke tenda menemui gadis keras kepala yang di perintahkan untuk ia jaga.
Semarah apapun Nofan pada Alica, tidak mungkin Nofan membiarkan gadis keras kepala itu kesusahan, bagaimana pun Alica adalah tanggung jawabnya, pak Anton meminta Nofan untuk menjaga anak gadisnya.
Jika sampai Nofan tak menjalankan tugas dengan baik, bukan pak Anton yang akan marah tapi papanya sendiri, Karan akan menggeprek Nofan kalau sampai Nofan tak becus menjaga Alica.
__ADS_1
"Gimana sama Alica ya, aku keterlaluan juga biarin dia sendirian di sana"
"Habisnya dia gak mau ngalah sama sekali, aku kan malas buat bujuk dia"
"Aku kan ngelakuin itu semua buat dia juga, aku cuman gak mau dia kenapa-napa itu doang, tapi gak ngerti sih!"
Sembari berjalan Nofan sambil mengomel, kerisauan terlihat, langkah Nofan begitu cepat, Nofan ingin cepat-cepat sampai di tempat di mana dia meletakkan Alica.
Nofan akan memastikan terlebih dahulu apakah gadis itu baik-baik saja atau tidak.
Langkah Nofan terhenti, keningnya berkerut ketika melihat Alica bersama seorang laki-laki, tampak asik dalam sebuah obrolan, mereka layaknya orang yang sudah kenal bertahun-tahun.
Nofan menajamkan pengelihatan."Siapa dia, kok Alica kayak akrab banget sama dia?"
Dari kejauhan Nofan mencoba menebak siapa pemuda yang lagi Alica ajak ngobrol.
"Apa dia teman baru Alica yang gak aku ketahui, tapi setau ku Alica gak punya teman yang akrab banget di sekolah"
Dengan wajah bak udang rebus Nofan melangkah mendekati Alica dan Aldi, sifat dinginnya ikut, gini-gini juga Nofan masih gengsi untuk minta maaf duluan.
Percakapan mereka terhenti kala Nofan menghampiri.
"Siapa kamu, kenapa kamu di sini, kamu jangan macem-macem ya" tuduh Nofan yang bukan-bukan.
"Apaan sih fan, datang-datang langsung marah-marah aja. Dia gak macem-macem kok, dia cuman nemenin aku di sini. Kurang baik apa coba dia udah rela-relain buat jaga aku saat gak ada orang di sini. Gak kayak si onoh tuh, yang malah ninggalin aku sendirian" sindir Alica.
Sindiran Alica menusuk jantung hingga ke tulang-tulang Nofan. Begitu tajam dan dapat melukai hati kecil Nofan.
Nofan sadar betul siapa yang Alica maksud, ia hanya melet lidah sambil menyilang tangan di dada.
Mata Nofan menatap lekat pria yang menemani Alica saat ia tinggal pergi.
"Kok mukanya kayak gak asing, kok aku ngerasa aku pernah ketemu sama dia, tapi di mana" batin Nofan mulai mengingat-ingat.
__ADS_1
"Owwh kau, kau bukannya orang yang ada di desa gaib itu bukan" tebak Nofan heboh kala teringat siapa pemuda itu.
Aldi tersenyum tipis, Nofan masih tak lupa dengannya walau perjalanan panjang telah mereka lewati.
"Iya itu aku, aku orang yang pernah kalian tolong" sahut Aldi.
"Kenapa kamu bisa ada di sini, kamu piknik di sini juga atau gimana?" Nofan terkejut ketika bertemu lagi dengan Aldi, pria yang hampir menjadi bagian dari penduduk gaib jika sampai telat di selamatkan.
"Aku sekolah di sini juga, sehari setelah aku masuk sekolah aku di bawa ke alam gaib. Saat berada di alam gaib di dunia aku hiatus kurang lebih 2 bulanan. Setelah berhasil keluar aku kembali melanjutkan pendidikan yang udah ketinggalan jauh karena lama gak masuk" jelas Aldi.
Nofan hanya mengangguk-angguk kepala, rupa-rupanya Aldi adalah adik kelas yang juga satu sekolah dengannya.
Tak pernah Nofan duga sebelumnya kalau mereka akan bertemu kembali.
"Kamu ngapain di sini, sana pergi, urus tuh acara yang udah kamu bikin" usir Alica ketus.
Amarah Alica belum reda, ia masih jengkel pada pria mengenakan jas OSIS tersebut.
Nofan menoel gemas pipi Alica."Udah deh gak usah ngambek segala, ayo naik, aku akan bawa kamu ke sana biar kamu bisa lihat anak-anak lomba"
Nofan berjongkok, meminta agar Alica agar naik ke pundaknya dan ia akan membawa Alica ke tempat di mana acara di langsungkan dengan penuh kemeriahan.
Dengan gengsi Alica pun naik, suara teriakan anak-anak terdengar hingga ke tempat di mana Alica berada, ia penasaran kemeriahan yang berlangsung.
Nofan menggendong Alica menuju tempat yang tidak di tumbuhi pepohonan atau biasa di kenal lapangan, tempat itu sudah di siapkan untuk di jadikan arena pertandingan.
"Kalau jadi orang itu jangan ngambekan, aku itu larang kamu bukan karena aku punya niatan jahat, aku cumam mikirin keselamatan kamu doang" ucap Nofan sambil menggendong Alica.
"Iya" jawab Alica mengacak-acak kesal rambut yang Nofan tata dengan rapih.
Bukannya marah Nofan malah tertawa, setidaknya Alica sudah tak marah lagi.
Aldi mengikuti mereka ke lapangan dari belakang.
__ADS_1