
Pak Burhan yang mendengar pertanyaan Aisyah langsung saja memeluk tubuh Aisyah.
"Maafkan Ayah Nak, maafkan Ayah," ucap Pak Burhan dengan menangis, sehingga membuat Aisyah dan Raihan menjadi bingung.
"Kenapa Ayah harus meminta maaf? Ayah tidak melakukan kesalahan apa pun kepada Aisyah."
"Tidak Nak, Aisyah belum mengetahui semua kebenarannya, karena bukan hanya Ibu yang telah melakukan kesalahan kepada kalian, tapi Ayah juga telah melakukan kesalahan yang sama, karena Ayah kandung Aisyah bukan Imron, tapi Ayah," ujar Pak Burhan, sontak saja Aisyah langsung melepaskan tubuhnya dari pelukan Pak Burhan.
"Tidak, tidak mungkin, ini semua tidak mungkin. Permainan apa yang sudah kalian lakukan dalam kehidupan kami? apa belum cukup kalian membuat kami menderita dan menjadi bahan hinaan semua orang dari semenjak kami masih kecil? orangtua macam apa yang tega membuang Anaknya sendiri untuk dibesarkan oleh oranglain, kalian bukan hanya menelantarkan kami, tapi kalian juga sudah menjadi penyebab Bapak Imron meninggal dunia," teriak Aisyah yang meluapkan emosinya karena kecewa kepada kedua orangtuanya sendiri.
Raihan yang berada di sana terus memeluk tubuh Aisyah yang saat ini terlihat menangis.
"Aisyah, kami benar-benar minta maaf Nak, Ayah dan Ibu menyesal telah melakukan semua itu kepada Aisyah dan Raihan," ujar Pak Burhan.
"Percuma sekarang kalian menyesali semuanya, karena semua yang telah terjadi tidak akan bisa terulang kembali," ujar Aisyah dengan menjatuhkan tubuhnya di atas lantai karena sudah tidak kuat menahan sesak dalam dadanya.
"Sudah sayang, istighfar, ikhlaskan semuanya," ujar Raihan yang tidak mengira jika Aisyah akan bereaksi seperti itu terhadap kedua orangtuanya sendiri, padahal selama ini Aisyah adalah sosok yang lemah lembut serta pemaaf, bahkan Aisyah tidak pernah berbicara dengan Nada yang tinggi kepada oranglain.
"Kak, Aisyah kecewa karena mempunyai orangtua yang tidak punya hati, bahkan mereka sudah tega membuang darah dagingnya sendiri? seandainya tidak ada sosok Kak Raihan yang membesarkan Aisyah, mungkin sejak dulu Aisyah sudah tiada."
"Sayang, Aisyah tidak boleh berkata seperti itu, Aisyah boleh kecewa, tapi Aisyah tidak boleh berkata sembarangan, karena Kak Raihan tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Aisyah."
"Kak, sebaiknya sekarang kita pulang lagi ke Jakarta, semuanya sudah jelas, dan Aisyah sudah mengetahui semua kebenaran yang telah mereka tutupi selama ini," ujar Aisyah dengan memegang tangan Raihan kemudian mengajak Raihan untuk meninggalkan rumah kedua orangtuanya.
Mama Neti dan Pak Burhan yang mendengar perkataan Aisyah tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena mereka mengerti jika tidak akan mudah bagi Aisyah memaafkan semua perbuatan yang telah mereka lakukan.
"Aisyah tunggu Nak," ujar Mama Neti, tapi Aisyah terlihat enggan untuk melihat ke arah Mama Neti.
__ADS_1
Mama Neti yang merasa syok dengan penolakan Aisyah akhirnya pingsan juga.
"Aisyah, Ibu pingsan, sebaiknya kita lihat keadaan beliau," ujar Raihan.
"Untuk apa kita memperdulikan orang yang tidak peduli sama kita Kak," ujar Aisyah yang saat ini masih emosi.
"Sayang, Kakak tau kalau Aisyah kecewa dengan semua ini, begitu juga dengan Kak Raihan. Mana Aisyah yang pemaaf, mana Aisyah yang selalu menjadi contoh baik untuk orang lain?"
"Astagfirullah, ampuni hamba Ya Allah," ujar Aisyah yang sangat menyesali semuanya karena Aisyah sudah terbawa emosi, padahal awalnya Raihan yang akan marah kepada Mama Neti, tapi Raihan begitu terkejut melihat Aisyah yang baru kali ini meledakkan emosinya, sehingga Raihan tidak dapat bicara apa-apa lagi.
Aisyah dan Raihan kembali menghampiri Pak Burhan yang saat ini terlihat memeluk Mama Neti.
"Pak, sebaiknya sekarang kita bawa Ibu ke Rumah Sakit," ujar Raihan dengan membantu Pak Burhan dan Supir menggotong tubuh Mama Neti.
Setelah mobil Pak Burhan melaju menuju Rumah Sakit, Raihan menghampiri Aisyah yang masih terlihat diam mematung memikirkan semuanya.
"Aisyah tidak tau apa jadinya jika tidak ada Kak Raihan yang selalu ada untuk Aisyah."
"Sayang, kita harus mengambil hikmah dibalik semua ini, Kak Raihan tau jika Aisyah tidak akan mudah memaafkan kesalahan yang telah kedua orangtua Aisyah perbuat, dan mungkin Kak Raihan juga akan bersikap seperti itu jika berada pada posisi Aisyah saat ini. Tapi kita harus ingat, mungkin kalau Kak Raihan tidak merawat Aisyah dari bayi, kita tidak akan mungkin saling mencintai, dan kita akan selamanya hidup sebagai Adik Kakak."
Aisyah menghela nafas panjang, dan Aisyah memutuskan untuk mencoba mengikhlaskan semuanya.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita menyusul Ibu dan Ayah ke Rumah Sakit, karena Aisyah tidak mau menjadi Anak durhaka. Terimakasih ya, karena Kak Raihan selalu mengingatkan Aisyah."
"Iya sama-sama Ibu Nathan dan Nala," ucap Raihan dengan tersenyum, karena kejadian yang mereka alami barusan, Raihan dan Aisyah sampai lupa dengan panggilan yang sebelumnya sudah mereka ganti.
Setelah Aisyah dan Raihan sampai Rumah Sakit, mereka menghampiri Pak Burhan yang terlihat duduk di depan ruang IGD.
__ADS_1
"Pak, Apa Dokter belum ke luar dari ruang IGD?" tanya Raihan.
Pak Burhan merasa senang karena Raihan dan Aisyah ternyata mau menyusulnya.
"Belum Nak. Maafkan Ayah Nak, Ayah sudah membuat hidup Raihan dan Aisyah menderita. Maaf karena kami sudah membuat Raihan mengorbankan hidup Raihan untuk Aisyah, dan terimakasih banyak karena Raihan sudah menjaga dan membesarkan Aisyah dengan baik," ucap Pak burhan dengan memeluk tubuh Raihan.
"Sejak pertama Aisyah dilahirkan ke Dunia ini, Tuhan sudah menitipkan Aisyah kepada Raihan, dan selama Raihan masih bisa bernafas, Raihan akan selalu menjaga serta melindungi Aisyah dengan segenap jiwa dan raga Raihan."
Pak Burhan sangat bersyukur karena Aisyah mendapatkan Suami yang baik dan sangat mencintai Aisyah dan keluarga.
Aisyah secara perlahan mendekati Raihan dan Pak Burhan, dan tiba-tiba Aisyah memeluk tubuh Pak Burhan.
"Ayah," ucap Aisyah dengan airmata yang berderai membasahi pipinya.
"Alhamdulillah, Aisyah mau mengakui Ayah sebagai Ayah kandung Aisyah. Maafin Ayah Nak, Ayah sudah berdosa kepada Aisyah dan Ratna," ucap Pak Burhan.
"Apa maksud Ayah?" tanya Aisyah yang terkejut mendengar Pak Burhan menyebut nama Ratna.
"Ratna dan Ima adalah Anak dan Istri Ayah yang sudah Ayah telantarkan juga, dan ketika Ayah menemukan Aisyah, saat itu Ayah sedang mencari keberadaan Ima dan Ratna ke Desa Nelayan untuk meminta maaf, tapi ternyata takdir telah mempertemukan Ayah dengan Aisyah."
"Kenapa Dunia ini begitu sempit? jadi ternyata Aisyah dan Ratna adalah saudara satu Ayah?" tanya Aisyah.
"Iya Nak, Aisyah benar, Ratna dan Aisyah adalah saudara satu Ayah."
"Apa Ratna sudah mengetahui semua ini?" tanya Aisyah.
"Ayah belum sempat menceritakan kepada Ratna kalau kalian adalah saudara. Saat Ayah mengantarkan Aisyah ke Jakarta, Ayah sudah berhasil menemui Ima dan Ratna, tapi Ratna menolak Ayah dan belum bisa memaafkan semua kesalahan yang telah Ayah perbuat kepada mereka."
__ADS_1