Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Bab 83 ( Hamil )


__ADS_3

Gisel yang sedang berpelukan dengan Aisyah ketika Aisyah dan Raihan naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat, tidak sengaja melihat Mama Rita yang mengeluarkan pistol dan mengarahkannya kepada Aisyah.


"Aisyah awas," teriak Gisel dengan mendorong tubuh Aisyah kepada Raihan yang berada di sebelahnya, sehingga peluru yang ditembakkan oleh Mama Rita akhirnya mengenai perut Gisel.


Evan yang melihat Gisel terkena tembakan langsung menangkap tubuh istrinya tersebut, dan berteriak meminta tolong untuk memanggilkan Ambulance.


"Gisel," teriak Mama Rita dengan menangis, kemudian pistol yang ia pegang terjatuh karena dirinya sudah menembak Anaknya sendiri.


Petugas keamanan langsung menangkap Bu Rita yang saat ini berlari menghampiri Gisel.


"Gisel, maafkan Mama Nak, kenapa kamu menghalangi Mama untuk menembak Aisyah?" ujar Mama Rita dengan menangis.


"Ma, Gisel tidak ingin Mama semakin menambah dosa, sudah cukup Mama menyakiti banyak orang, biarlah Gisel yang menjadi korban terakhir Mama. Ma, Gisel harap Mama segera bertaubat selagi ada kesempatan. Gisel sayang Mama," ucap Gisel dengan lirih, sampai akhirnya kesadaran Gisel mulai hilang.


"Gisel, jangan tinggalin Mama Nak," teriak Mama Rita, kemudian dibawa oleh petugas keamanan untuk diserahkan kepada pihak berwajib.


Evan berlari menggendong tubuh Gisel menuju Ambulance yang baru datang, dan Evan terus menitikkan airmata karena takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Gisel.


"Kamu harus kuat sayang, aku yakin kamu akan baik-baik saja," ucap Evan dengan mencium tangan Gisel ketika mereka berdua berada di dalam Ambulance.


......................


Raihan terus memeluk tubuh Aisyah yang masih terlihat syok, begitu juga dengan Raihan yang merasa ketakutan jika sampai terjadi sesuatu yang buruk kepada Aisyah.


"Yah, kita harus segera menyusul Gisel dan Evan ke Rumah Sakit," ujar Aisyah yang sudah mulai merasa tenang.


"Iya sayang, tapi sekarang Ibu sudah merasa lebih tenang kan?" tanya Raihan memastikan Aisyah sudah baik-baik saja.


"Ibu sudah baik-baik saja Yah, kasihan sekali Gisel, dia sudah rela mengorbankan dirinya sendiri."


Aisyah, Raihan, dan Papa Herdi bergegas menuju Rumah Sakit setelah sebelumnya menitipkan Nathan dan Nala kepada Nenek Rose, Bu Ima dan Pak Burhan untuk dibawa pulang, dan sesampainya di Rumah Sakit, mereka langsung menghampiri Evan yang terlihat menunggu Gisel di depan ruang IGD.


"Evan, bagaimana keadaan Gisel?" tanya Papa Herdi.


"Dokter masih belum ke luar dari ruang IGD Pa, Evan takut kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk kepada Gisel."

__ADS_1


"Kamu yang sabar ya Van, kita harus terus berdo'a untuk keselamatan Gisel, Aku yakin kalau Gisel akan baik-baik saja," ujar Raihan dengan menepuk bahu Evan.


Beberapa saat kemudian, Dokter ke luar dari ruang IGD.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Evan.


"Saat ini Pasien masih belum sadarkan diri, tapi kami sudah berhasil mengeluarkan peluru dari dalam perut istri Anda, beruntung pelurunya tidak terlalu dalam, dan sekarang Pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan," jelas Dokter kemudian berlalu menuju ruangannya.


"Alhamdulillah," ucap semuanya yang sudah bisa bernapas lega.


"Kalau begitu kami urus administrasi Gisel dulu ya Van," ucap Raihan.


"Makasih ya Tuan muda, maaf saya sudah merepotkan," ucap Evan.


"Kita sekarang adalah saudara, kenapa kamu masih memanggilku Tuan muda, sedangkan kamu sudah memanggil Papa dengan sebutan Papa," protes Raihan.


"Makasih Raihan," ucap Evan dengan merangkul tubuh Raihan.


Raihan dan Aisyah melangkahkan kaki menuju bagian administrasi, dan setelah selesai mengurus semuanya, Raihan dan Aisyah menuju kamar perawatan Gisel, tapi tiba-tiba Aisyah merasakan mual dan langsung berlari menuju kamar mandi.


"Sayang, Ibu kenapa?" tanya Raihan ketika melihat Aisyah keluar dari toilet.


"Gak tau Yah, kepala Ibu rasanya pusing sama mual juga," jawab Aisyah dengan memegang kepalanya yang masih terasa sakit.


"Sebaiknya sekarang kita periksa ke Dokter, Ayah tidak mau kalau Ibu sampai kenapa-napa," ujar Raihan dengan menggandeng tubuh Aisyah menuju poli kandungan.


"Kenapa kita ke poli kandungan Yah?" tanya Aisyah.


"Soalnya Ayah curiga kalau Nathan dan Nala mau punya Adik," jawab Raihan dengan tersenyum.


"Kenapa Ibu tidak kepikiran sampai sana ya? padahal kalau gak salah Ibu udah telat menstruasi selama dua minggu."


"Ya sudah, biar semuanya lebih jelas, sebaiknya kita melakukan USG, semoga kita kembali diberikan titipan ya," ujar Raihan yang di Amini oleh Aisyah.


Saat ini Raihan dan Aisyah sudah berada di dalam ruangan Dokter kandungan, dan mereka sudah harap-harap cemas menunggu hasil pemeriksaan.

__ADS_1


"Apa keluhan yang Nyonya rasakan saat ini?" tanya Dokter dengan mengoleskan gel pada perut Aisyah.


"Barusan saya tiba-tiba pusing sama mual muntah Dok," jawab Aisyah.


Dokter menggerakkan alat USG pada perut Aisyah, kemudian Dokter tersenyum melihat monitor yang berada di hadapannya.


"Selamat ya Nyonya, Tuan, saat ini Nyonya positif hamil dengan usia kandungan yang sudah memasuki enam minggu," ujar Dokter kemudian menjelaskan gambar yang ada pada monitor kepada Raihan dan Aisyah.


Aisyah dan Raihan terus mengembangkan senyuman ketika mendengar kabar bahagia tersebut.


"Saya akan meresepkan obat untuk mengurangi pusing sama mual muntahnya. Nyonya juga bisa meminum susu Ibu hamil untuk mengurangi mual dan muntah nya," ujar Dokter kandungan.


"Apa ada pantangan selama kehamilan Dok?" tanya Raihan, dan Dokter tahu betul apa maksud pertanyaan Raihan.


"Pada trimester pertama kehamilan, sebaiknya olahraga malamnya dihentikan dulu ya, karena janin masih sangat lemah," jelas Dokter, dan Raihan tersenyum malu mendengar perkataan Dokter.


"Makasih banyak Dok, kalau begitu kami permisi dulu," ujar Raihan, kemudian menggandeng Aisyah ke luar dari ruang pemeriksaan.


Raihan langsung memeluk tubuh Aisyah dengan erat karena saat ini dirinya begitu bahagia dengan kehamilan Aisyah.


"Alhamdulillah Ya Allah karena telah kembali memberikan keturunan kepada kami. Sayang, terimakasih ya, karena Ibu selalu memberikan Ayah kebahagian."


"Seharusnya kata-kata itu yang selalu Ibu ucapkan kepada Ayah, karena Ayah yang selama ini sudah memberikan kebahagiaan kepada Ibu."


Setelah menebus obat, Raihan dan Aisyah menuju kamar perawatan Gisel, setelah sebelumnya Raihan menelpon Evan untuk menanyakan letak ruangannya.


"Nak, kalian habis dari mana, kenapa lama sekali? wajah Aisyah juga terlihat pucat, apa Aisyah baik-baik saja?" tanya Papa Herdi.


"Kami habis memeriksakan kondisi Aisyah dulu Pa," jawab Raihan.


"Memangnya kenapa dengan Aisyah?" tanya Papa Herdi yang terlihat cemas.


"Aisyah hamil Pa, dan Papa akan segera menjadi Kakek lagi," ujar Raihan, dan Papa Herdi terlihat begitu bahagia dengan kabar gembira tersebut, begitu juga dengan Evan dan Gisel yang baru saja sadar.


"Selamat ya sayang, terimakasih Aisyah sudah memberikan kebahagiaan untuk keluarga Sanjaya, kalau ada yang Aisyah mau, Aisyah tinggal bilang sama Papa ya, kami pasti akan mengabulkan semua keinginan Aisyah," ujar Papa Herdi dengan memeluk tubuh Aisyah dan Raihan.

__ADS_1


Aisyah sangat terharu dan begitu bersyukur karena pada kehamilannya yang sekarang mereka sudah memiliki semuanya, berbeda dengan kehamilan Aisyah dulu saat hamil Nathan dan Nala, karena saat itu ekonomi Aisyah dan Raihan masih kurang sehingga tidak pernah memeriksakan kandungannya.


__ADS_2