Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Tak bisa di ajak kompromi


__ADS_3

Motor yang Nofan kendarai terus melaju kencang dan mulai memasuki desa Cempaka. Setelah tiba di rumah Alica langsung ciut, bagaimana tidak, pria berjas hitam berdiri di ambang sambil berkacak pinggang di sertai tatapan mata tajam.


"Dari mana aja kalian, lihat ini udah jam berapa, jam 4. Kalian ini sekolah apa gimana, kenapa pulangnya lama banget, parahnya lagi gak ada kabar, di hubungin berkali-kali gak ada jawab!" Pak Anton langsung mengintrogasi kedua bocah yang menunduk merasa bersalah lantaran pergi tanpa pamit.


"Jawab, kenapa kalian diam aja, jelaskan dari mana kalian berdua sampai-sampai pulang setelat ini!" Perintah pak Anton.


"Maaf ayah, Alica gak sempat kabarin ayah, tadi itu Alica mampir ke rumah  salah satu teman Alica, Alica ada tugas kelompok di sana" jawab Alica.


"Bohong om" bantah Nofan.


Alica melongo, Alica kini di serang rasa panik saat Nofan tiba-tiba membantah jawabannya.


"Dia gak kerja kelompok om, dia datang ke rumah Anna mau bantu keluarga Anna yang di ganggu sama dukun, di rumah Anna itu banyak hantunya om, ada banyak saudara Anna yang meninggal gara-gara dukun itu. Dan sekarang Alica mau bantu mereka, jangan di kasih om itu berbahaya" jelas Nofan sejujur-jujurnya biar sahabatnya tidak dalam bahaya.


Alicia panik, Alica berusaha untuk menutup mulut Nofan, namun sayangnya Nofan tak bisa di ajak kompromi.


"Bener itu Alica?" Tanya pak Anton.


"Enggak ayah, ayah jangan percaya, Nofan boong aku gak boong" jawab Alica berusaha membela diri.


"Jangan percaya om, dia yang bohong, kalau om gak percaya sama aku, akan aku ajak om ke rumah Anna biar om percaya kalau kami pulang telat kayak gini gara-gara mampir ke sana dulu" timpal Nofan tak mau di salahkan karena di sini ia tidak salah.


"Alica, ayah tanya sekali lagi, apakah yang Nofan katakan benar atau tidak?" Suruh pak Anton serius.


Mulut Alica diam tak bergeming, di sini ia salah dan sulit untuk menang.


"Alica jawab ayah, jangan nunduk. Ayah tanya sama kamu apakah yang Nofan katakan itu benar atau tidak!" Titah pak Anton mulai naik pitam.

__ADS_1


Dengan takut kepala Alica mengangguk, wajah tertunduk ke tanah tak berani menatap wajah ayahnya.


"Alica kenapa kamu harus boong sih nak, ayah kan udah bilang lebih baik jujur dari pada harus bohong kayak gini. Dari kecil ayah gak pernah ngajarin kamu buat bohong!" Pak Anton kecewa dengan Alica yang sudah berani berbohong untuk menyembunyikan masalah ini.


"Ayah Alica gak bermaksud, Alica lakuin ini agar ayah gak marah, Alica takut ayah akan marahin Alica karena Alica bantu keluarga Anna" jawab Alica tak ingin ayahnya kecewa.


"Apapun masalahnya kamu gak boleh boong lagi, ayah gak suka kamu bohong kayak gini. Kalau sekali lagi ayah tau kamu bohong ayah gak akan bolehin kamu bantu-bantu orang lain lagi" ancam pak Anton agar Alica tak meremehkannya.


Alica melongo, ancaman ayahnya berhasil membuatnya tersiksa.


"Ayah jangan gitu, ayah jangan lakuin itu, Alica janji Alica gak akan boong lagi sama ayah, tapi plis kali ini Alica mohon izinin Alica bantu keluarga Anna, kasihan mereka ayah, Alica mohon tok Ng izinin Alica buat bantu keluarga Anna, masa Alica Dian aja liat mereka menderita gara-gara ulah dukun yang jahat itu" mohon Alica.


Selain Nofan Alica juga harus mencairkan hari ayahnya agar dirinya di perbolehkan untuk membantu teman yang sedang kesusahan.


"Alica, itu bahaya nak, kamu jangan bantu mereka, ayah hanya takut kamu kenapa-napa" khawatir pak Anton.


Sebagai ayah pak Anton memiliki rasa khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada putri satu-satunya yang ia miliki, walaupun Alica bukan anak kandungnya.


Pak Anton menghembuskan nafas berat."Ya sudah ayah bolehin, tapi ingat kamu harus hati-hati, ayah gak dengar ada hal buruk yang terjadi sama kamu, kalau sampai ada, ayah dari akan bolehin kamu temanan lagi sama orang yang namanya Anna itu"


Senyuman manis mengambang di wajah Alica, kegembiraan Alica tak dapat di sembunyikan lagi.


"Iya ayah, Alica pasti akan hati-hati, Alica yakin gak akan ada yang terjadi sama Alica, ayah tenang aja" sahut Alica senang, sampai-sampai senyuman manisnya terus mengambang menghiasi wajahnya.


Nofan mumet, ia mengatakan yang sebenarnya dengan tujuan bahwa pak Anton akan melarang Alica namun yang ia dapatkan malah sebaliknya.


"Om Nofan pulang dulu, bye" pamit Nofan dengan wajah di tekuk.

__ADS_1


"Iya sana kamu pulang gih, dari tadi papa kamu nyariin kamu terus" valas pak Anton.


Tak ada sahutan yang keluar, Nofan tanpa mengatakan sepatah katapun pulang ke rumahnya yang ada di sebelah rumah Alica.


"Alica, kenapa Nofan, kenapa mukanya di tekuk kayak gitu" pak Anton merasa ada yang aneh, tak pernah Nofan tidak sesemangat ini sebelumnya.


"Dia marah karena kalian bandel, dia dari tadi larang Alica terus, padahal gak ada apa-apa yang terjadi sama Alica, kan aneh" balas Alica.


"Nanti kamu bujuk Nofan biar dia gak marah lagi" suruh pak Anton di balas anggukan oleh Alica.


"Ayo masuk, ini udah mau sore" ajak pak Anton.


Alica masuk ke dalam rumah, ia lalu menuju kamarnya dan merebahkan tubuh yang letih di atas kasur yang empuk.


"Papa" sontak Alica pun bangkit dan menatap pria tampan yang selalu menemaninya namun hanya dia yang bisa melihatnya.


Pria bernama pangeran William itu duduk di tepi kasur, tepat di sebelah Alica.


"Papa dari mana aja, kenapa papa gak ada saat Alica lagi di rumah Anna?" Penasaran Alica.


Padahal ketika Alica berada di kediaman Anna, Alica mengalami sedikit kesulitan dan dia butuh sosok papanya.


"Maaf nak, papa gak bisa datang ke sana, tapi papa dapat melihat dengan jelas situasi yang ada di rumah teman kamu itu" jawab pangeran William.


"Kayak apa situasi di sana pa, soalnya Alica gak sempat keliling dan lihat situasi asli di rumah Anna?" Tanya Alica antusias.


Semangat menolong orang berkobar di jiwa Alica, Alica seperti mendapatkan kebahagiaan tersendiri saat membantu orang-orang yang kesusahan.

__ADS_1


"Parah, di dalam rumah itu ada banyak hal negatif" sahut pangeran William.


Meski tadi Alica tak dapat melihat pangeran William di sana, tapi pangeran William terus memantau gerak-gerik Alica, karena semakin dewasa semakin ada banyak tantangan dan bahaya yang mengancam putri tercintanya.


__ADS_2