
Aisyah dan Raihan begitu terkejut saat mendengar jika Bu Ima dan Ratna adalah istri dan Anak Pak Burhan yang telah beliau telantarkan.
"Semua ini pasti berat untuk Ratna, karena Aisyah juga merasakan bagaimana ada di posisi Ratna. Nanti setelah Ibu sembuh, kita harus menemui Bu Ima dan Ratna supaya Ibu juga bisa meminta maaf secara langsung kepada mereka."
"Semoga saja Ibu bisa sembuh secepatnya, karena Ibu juga selalu bilang ingin bertemu dengan Ima dan Ratna untuk meminta maaf secara langsung."
"Aisyah tidak tau bagaimana nanti reaksi Ratna dan Bu Ima setelah mengetahui bahwa Aisyah adalah Anak dari perempuan yang telah merebut kebahagiaan mereka. Padahal sebelum Aisyah mengetahui jika Ratna adalah saudara Aisyah, kami sudah saling menyayangi seperti Kakak beradik, begitu juga dengan Bu Ima yang sudah Aisyah anggap seperti Ibu kandung Aisyah sendiri."
"Semoga saja tidak ada yang berubah dengan hubungan kalian, karena Aisyah tidak ada kaitannya dengan dosa yang telah Ayah dan Ibu lakukan kepada mereka, bahkan Aisyah juga sudah menjadi korban kami."
"Semoga saja, karena Aisyah pasti akan sedih jika Bu Ima dan Ratna sampai menjauhi Aisyah setelah mereka mengetahui yang sebenarnya."
"Ayah tau jika luka yang Ayah torehkan kepada kalian begitu dalam dan sangat sulit untuk dimaafkan, tapi terimakasih banyak karena Aisyah sudah berlapang dada memaafkan semua kesalahan yang Ayah dan Ibu perbuat."
"Mungkin jika tidak ada Kak Raihan, Aisyah juga akan sulit memaafkan kesalahan Ayah dan Ibu, tapi Kak Raihan adalah sosok Malaikat tak bersayap yang Aisyah miliki, karena Kak Raihan selalu ada untuk mengingatkan Aisyah dalam kebaikan, serta selalu menjaga dan melindungi Aisyah," ujar Aisyah dengan memeluk tubuh Raihan.
"Aisyah benar, dan Ayah sangat bersyukur karena Aisyah mendapatkan Suami yang sangat mencintai serta menyayangi Aisyah."
Beberapa saat kemudian, Dokter ke luar dari dalam ruang IGD, dan mereka bertiga bergegas menghampiri Dokter untuk menanyakan keadaan Bu Neti.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Pak Burhan.
"Keadaan Pasien saat ini sedang kritis, karena gagal ginjal yang beliau derita sudah sangat parah."
"Dok, apa Ibu masih bisa sembuh jika mendapatkan donor ginjal?" tanya Aisyah yang sudah bertekad untuk mendonorkan ginjalnya.
__ADS_1
"Kemungkinan Pasien bisa sembuh sudah sangat kecil meski pun kita melakukan pencangkokan ginjal. Sebaiknya sekarang Pasien dipindahkan ke ruang perawatan saja, supaya keluarga bisa terus mendampingi di sisa usia yang Pasien miliki," jelas Dokter.
Aisyah langsung menangis mendengar semua itu, karena Aisyah tidak mengira jika setelah mengetahui kalau Mama Neti adalah Ibu kandungnya, usia Mama Neti sudah tidak lama lagi.
"Kak, apa boleh Aisyah mendonorkan ginjal untuk Ibu?" tanya Aisyah.
"Maaf sayang, Kakak tidak akan mengijinkan Aisyah melakukannya. Hidup dengan satu ginjal itu tidak akan mudah, dan Kakak tidak mau Aisyah sampai kenapa-napa."
"Yang dikatakan oleh Raihan benar Nak, dan Ibu juga pasti tidak akan mau kalau Aisyah sampai mengorbankan ginjal Aisyah untuknya, apalagi kemungkinan Ibu untuk sembuh sudah sangat kecil, jangan sampai pengorbanan Aisyah sia-sia."
"Tapi kita tidak akan tau kalau belum mencobanya," ujar Aisyah.
"Sayang, ikhlaskan semuanya, karena yang namanya umur tidak ada yang tau," ujar Raihan.
Beberapa saat kemudian, Mama Neti ke luar dari dalam ruang IGD untuk dipindahkan menuju kamar perawatan, dan kondisi beliau saat ini masih belum sadarkan diri.
"Bu, bangun Bu, Aisyah sudah memaafkan semua kesalahan Ibu, Aisyah sudah ikhlas menerima takdir Aisyah. Jadi, sekarang Ibu harus sembuh, apa Ibu tidak ingin bermain dengan kedua Cucu Ibu?"
Mama Neti secara perlahan membuka matanya, dan Mama Neti begitu bahagia setelah mendengar perkataan Aisyah yang sudah memaafkannya.
"Aisyah, terimakasih Nak, karena Aisyah sudah mau memaafkan kesalahan Ibu, Ibu bahagia karena di sisa usia Ibu, Aisyah mau mendampingi Ibu," ucap Mama Neti dengan lirih.
"Ibu tidak boleh berbicara seperti itu, Ibu pasti sembuh, dan Aisyah akan mendonorkan ginjal Aisyah untuk kesembuhan Ibu."
"Tidak Nak, Ibu sudah tidak kuat, ikhlaskan kepergian Ibu, sekarang Ibu sudah bisa beristirahat dengan tenang karena Aisyah sudah mau memaafkan kesalahan Ibu. Nak Raihan, maafkan Ibu juga ya Nak, terimakasih Nak Raihan telah menjaga Putri Ibu dengan baik. Ibu bangga kepada kalian, semoga kalian selalu diberikan kebahagiaan," ucap Mama Neti dengan nafas yang sudah semakin lemah.
__ADS_1
"Raihan dan Aisyah sudah mengikhlaskan semuanya Bu, sekarang sebaiknya Ibu kembali beristirahat supaya Ibu bisa cepat sembuh," ujar Raihan.
"Tidak Nak, waktu Ibu sudah tidak banyak lagi. Ibu titip Ayah sama kalian, kasihan Ayah sudah tidak punya siapa-siapa lagi di Dunia ini selain Aisyah, tapi Ibu masih berharap Ratna juga mau memaafkan Ayah, dan semoga saja Ayah bisa bersatu kembali dengan Ima."
"Sudahlah Ma, Mama jangan terlalu banyak bicara. Selamanya cinta Papa hanya untuk Mama, karena Mama adalah cinta pertama dan terakhir Papa."
"Pa, terimakasih karena selama ini Papa sudah menjadi Suami yang baik untuk Mama, semoga kalian semua selalu bahagia," ucap Mama Neti dengan suara terputus.
Pak Burhan menekan tombol di atas ranjang pesakitan Mama Neti, dan beberapa saat kemudian Dokter pun datang, tapi Dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menyembuhkan Bu Neti.
"Maaf Tuan, kami sudah melakukan yang terbaik untuk Pasien, tapi kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sekarang yang hanya bisa kita lakukan hanyalah membantu do'a supaya Pasien bisa beristirahat dengan tenang," ujar Dokter.
Raihan yang melihat Mama Neti sedang mengalami sakaratul maut membantu membimbing Mama Neti untuk membaca dua kalimat syahadat dengan berbisik di telinga beliau, sampai akhirnya Mama Neti mengembuskan nafas terakhirnya.
"Innalillahi waina ilaihi raji'un," ucap semua yang berada di sana.
"Sus, catat waktu kematian Pasien," ujar Dokter, kemudian Jenazah Mama Neti ditutup menggunakan selimut yang beliau gunakan.
"Ibu, jangan tinggalin Aisyah Bu, maafin Aisyah," teriak Aisyah yang begitu syok melihat Ibu kandungnya sendiri meninggal dunia di hadapannya.
"Sayang, Aisyah yang sabar ya, ikhlaskan kepergian Ibu, supaya Ibu tenang di alam sana," ujar Raihan dengan memeluk tubuh Aisyah, sedangkan Pak Burhan terlihat lebih tegar, karena Pak Burhan juga merasa kasihan jika Mama Neti hidup tapi harus terus merasakan sakit.
Pak Burhan juga ikut memeluk tubuh Aisyah yang terlihat rapuh.
"Nak, ikhlaskan semuanya, kasihan Ibu jika harus tetap hidup dengan menahan sakit yang tiada habisnya. Sekarang kita berdo'a semoga Ibu bisa beristirahat dengan tenang. Nak Raihan, Ayah titip Aisyah, Ayah akan mengurus Administrasi kepulangan jenazah Ibu," ujar Pak Burhan.
__ADS_1
"Biar Raihan saja yang mengurus semuanya Yah, Ayah tolong jaga Aisyah saja," ujar Raihan, kemudian melangkahkan kaki menuju bagian administrasi, karena Raihan sangat memahami keadaan Pak Burhan saat ini, meski pun beliau terlihat tegar, tapi Raihan yakin kalau Pak Burhan juga sangat sedih dan merasa kehilangan istrinya tersebut.