Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Kontraksi


__ADS_3

Hari-hari berlalu, bulan-bulanan bertukar, semuanya terlewati dengan baik, tidak ada kejadian apapun selama beberapa bulan ini, mereka semua bisa menjalani kehidupan mereka seperti dulu lagi.


Juragan Doni mendapatkan hukuman pidana seumur hidup karena kasus kejahatannya begitu berat, anak-anak buah juragan Doni rata-rata mendapatkan hukuman sekitar 25-20 tahun, sementara bu Jamilah di hukum 20 tahun penjara.


Kini usai kandungan Viera menginjak 9 bulan, perutnya sudah membesar, sudah tak lama lagi Viera akan segera melahirkan.


Selama masa kehamilan Viera menjadi lemas, dia tidak bisa melakukan pekerjaan apapun, kesehariannya ia habiskan untuk beristirahat saja, sungguh tubuhnya mulai menjadi lemas ketika usia kandungannya menginjak 4 bulan.


tok


tok


tok


Viera yang tengah duduk di tempat tidur menatap ke arah pintu.


"Masuk pak, pintunya gak di kunci kok" Viera sudah tau siapa yang ada di balik pintu meksipun ia tidak melihat orangnya secara langsung.


Pak Anton masuk ke dalam kamar Viera dengan membawa secangkir susu hamil agar kandungan Viera tetap sehat, ia memperhatikan betul-betul kesehatan Viera, ia memperlakukan Viera seperti adiknya sendiri.


"Ini minumlah, biar anak kamu sehat" pak Anton menyodorkan susu itu ke arah Viera.


Viera mengangguk, ia meminum susu hamil itu, tubuhnya semakin lama semakin kurus, wajah Viera terus menerus pucat.


Pangeran William selalu menemani Viera, dia tidak pergi kemana-mana selama ini, saat ini pangeran William menatap ke arah orang yang dia cintai dengan sangat prihatin.


Kekhawatiran terpancar di wajah pangeran William, ia takut istrinya kenapa-napa, ia memang ingin anak itu segera lahir, namun ia takut ada apa-apa dengan Viera yang kondisinya semakin lama semakin memburuk.


Viera meminum susu itu hingga tandas meskipun lidahnya terasa pahit.


"Minum vitaminnya, jangan lupain itu" suruh pak Anton.


Viera mengangguk."Makasih pak sudah baik selama ini sama saya, saya gak tau harus balas semua kebaikan bapak dengan cara apa"

__ADS_1


"Saya bantu kamu ikhlas, saya gak ngarep apapun, kamu gak perlu merasa gak enak hati sama saya"


Viera senang meskipun keadaannya semakin lama semakin lemas, tapi dia beruntung masih ada orang baik yang mau membantunya.


"Saya mau pergi kerja dulu, kamu baik-baik di sini, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya, saya akan segera datang ke sini"


"Baik pak, saya pasti akan hubungi bapak"


"Saya pergi dulu assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


Pak Anton berangkat kerja, di rumah ni hanya ada Viera seorang, semua orang pergi kerja, Ema juga sedang sekolah di jam segini.


Viera menatap ke arah pangeran William, wajahnya tampak sedih akhir-akhir ini, dia menyadari perubahan wajah pangeran William semenjak kondisinya yang lemah.


"Kenapa, kok liatin aku kayak gitu banget?"


"Ada apa pangeran, kenapa kamu jadi sedih terus, cerita sama aku, apa yang ganggu pikiran kamu akhir-akhir ini?" Viera mengelus rambut pangeran William.


"Aku hanya takut ada apa-apa sama kamu, mengingat kondisi kamu yang semakin lama semakin memburuk aku hanya tak mau kamu kenapa-napa karena keberadaan anak ini"


"Gak akan ada yang terjadi sama aku, semuanya akan baik-baik saja, aku pasti bisa melahirkan anak ini dengan selamat, gak lama lagi aku pasti akan lahiran" senang Viera yang sudah tak sabar menanti kelahiran sang buah hati.


Pangeran William tidak tau harus senang atau sedih, dia memang ingin segera bertemu dengan anaknya, tapi dia takut kehilangan istrinya, melihat kondisi Viera yang semakin lama semakin memburuk, ia khawatir ada apa-apa dengan Viera.


Pangeran William terus mengelus perut besar Viera, sesekali dia menciuminya, ia sangat menyayangi anaknya yang ada di dalam perut Viera.


"Pangeran nanti kalau anak ini lahir, kamu jaga dia baik-baik, aku takut gak bisa jaga dia dengan baik"


Pangeran William mengerutkan alis."Apa maksud kamu, kenapa kamu ngomong kayak gitu, anak ini akan kita rawat bersama, kita harus jaga dia bersama-sama pula"


"Iya aku tau, tapi yang aku maksud itu kalau semisal anak kita udah besar dan aku gak bisa ikut di kemana-mana, giliran kamu yang jaga dia, pastikan jangan sampai ada orang jahat yang apa-apain dia, aku gak mau anak aku lecet sedikit saja"

__ADS_1


"Oowh tak kirain apaan, aku pasti akan lakuin itu, gak akan aku biarkan dia di ganggu sama orang-orang jahat, kalau mereka sampai ganggu anak ku, mereka akan berurusan langsung dengan ku!" pangeran William sempat salah mengartikan maksud Viera, di pikirannya masih penuh dengan kekhawatiran yang berlebihan terhadap Viera.


Viera tersenyum, ia berharap semoga anak itu lahir dengan selamat, ia sudah sangat menantikan kehadiran anak itu.


"Pangeran apa kamu gak mau kembali ke alam mu, kamu sudah lama ada di sini, siapa yang akan urus segalanya di sana kalau kamu terus menerus ada di sini"


"Aku masih belum mau ke sana, aku mau di sini saja, aku mau jaga kamu, masalah kerajaan ada adik-adik aku yang akan urus, keadaan juga lagi aman, gak bakal ada musuh yang nyerang lagi, aku bisa bebas berada di sini sama kamu"


"Terserah kamu, aku juga gak maksa kamu terus ada di dekat aku, keadaan juga sudah aman, tidak ada lagi orang yang akan ganggu aku, semua orang-orang jahat sudah masuk ke dalam jeruji besi, aku bisa tenang"


Pangeran William ikutan senang, dia terus mengelus perut besar Viera, ia seharian akan menghabiskan waktunya untuk menemani istrinya yang lagi hamil besar.


Tiba-tiba Viera menggigit bibirnya, wajahnya tampak kesakitan, pangeran William langsung bangun dari pangkuan Viera.


"Kamu kenapa, bilang sama aku kamu kenapa?" panik pangeran William yang mendapati Viera kesakitan seperti itu.


"P-perut aku sakit banget, aduuh" pekik Viera menahan rasa sakit di perutnya yang seperti di cabik-cabik.


"Jangan bilang kamu mau lahiran!" panik pangeran William yang merasakan tanda-tanda istrinya akan melahirkan.


"Pangeran perut aku sakit banget, aku gak tahan lagi, tolong aku" rintih Viera yang memegangi perutnya yang teramat sakit.


"Cepat kamu hubungi pak Anton, suruh dia pulang" perintah pangeran William dengan paniknya.


Viera langsung menghubungi pak Anton, perutnya sudah sangat sakit, ia tidak tahan dengan rasa sakit itu.


"Halo ada apa Viera, semuanya baik-baik saja bukan?" penasaran pak Anton saat panggilan terhubung.


"Pak perut saya sakit banget, kayaknya saya akan segera melahirkan, bapak tolong ke sini, saya sudah gak kuat lagi" titah Viera dengan menahan rasa sakit.


"Baik saya akan segera ke sana, kamu tunggu saya di sana"


Viera mengangguk lalu mematikan sambungan, ia menahan rasa sakit itu, pangeran William panik melihat Viera yang kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2