Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Membuat mengaku


__ADS_3

Dalam hati Nofan tertawa puas, para pembully yang meresahkan masyarakat sekolah itu kita seperti orang kesurupan karena ulahnya.


"Rasain itu, suruh siapa kalian gak pernah dengarin perintah ku, sekarang kalian akan tau rasa" batin Nofan bahagia di atas penderitaan mereka.


Sekali-kali Nofan harus keju, biar gak ada yang meremehkan dia lagi.


Tatapan mautnya beralih menatap para guru-guru yang memucat akibat ulah yang sudah ia bikin.


Mereka semua gelisah walaupun bukan mereka yang tertangkap polisi.


"Kalian tidak percaya pada ku bukan, aku akan bikin kalian tambah menderita lagi, ini adalah balasan karena kalian tak mau percaya pada orang yang benar. Sedikit egois tapi kalian jauh lebih egois" batin Nofan, senyum tipis merekah di bibirnya.


"Tapi Nofan alangkah baiknya kita selesaikan masalah ini dengan jalur kekeluargaan saja, tak perlu melibatkan hukum" usul Bu Mesi.


Senyuman mematikan Nofan keluar, guru-guru begitu membela 6 anak yang sudah di tetapkan sebagai tersangka.


"Kenapa pake jalur kekeluargaan, apa kalau membawa hukum masalah ini tidak akan kelar?" Tanya Nofan.


Kepala mereka langsung menggeleng, wajah mereka panik tak ketulungan.


"Bukan seperti itu, tapi baiknya aja di selesaikan dengan jalur kekeluargaan saja, ibu yakin mereka pasti akan berubah mereka tidak akan melakukan kesalahan yang sama" jawab Bu Mesi terus membela mereka berharap Nofan akan lunak.


Nofan tertawa paksa."Mereka yang sudah melakukan kesalahan berkali-kali, sudah keluar masuk ruang BK, sudah hampir setiap hari mereka mendapatkan ragam hukuman, tapi pihak sekolah masih membelanya?" jeda Nofan.


"Apa kabar dengan saya yang sudah lama berjuang mati-matian agar sekolahan ini aman dan para guru bisa tenang dalam mengajar, tapi karena satu isu yang menyeret nama saya kalian malah langsung tidak mempercayai saya, kalian lebih percaya pada orang lain dan membuang saya seperti layaknya SAMPAH!" Teriak Nofan mengeluarkan kekecewaan mendalam pada pihak sekolahan.


Terbungkam, itulah yang terjadi, mulut semua guru terdiam, mereka tak mengeluarkan sepatah kata untuk membalas Nofan.


Kekecewaan Nofan begitu besar, walau apapun yang terjadi Nofan tak akan mencabut laporan itu. Ia ingin melihat bagaimana respon sekolahan terkait masalah yang sudah ia besarkan saking besarnya sampai membawa-bawa polisi.


"Kalian itu gak adil, kalian lebih membela orang yang jelas-jelas salah, sementara saya tak pernah kalian bela, malh kalian ikut menghakimi. Di mana keadilan di sekolahan ini, apa karena orang tua mereka sudah menyogok kalian sehingga kalian diam saja hah!" Tutur Nofan membuka semua aib yang ia simpan.


"Cukup Nofan, kamu jangan bicara lagi!" Hardik keras pak Bambang.


Jika di biarkan Nofan akan membuka semua kebusukan baik para siswa maupun para guru.


"Oke, saya gak akan bicara lagi, sekarang kalian urus saja sendiri masalah yang sudah kalian tutupi selama ini. Permisi!" Nofan yang kecewa langsung pergi meninggalkan mereka yang panas dingin di kantor.


Amarah menjadi-jadi di tubuh Nofan, ia benar-benar kecewa. 1 tahun yang lalu pasca meninggalnya Inayah karena furtasi akibat di jadikan bahan bullyan oleh kawan-kawannya, Nofan mendengar jika orang tua tersangka menyogok sekolah agar tutup mulut dan tidak membawa kasus itu jalur hukum.


Nofan waktu itu tak bisa berbuat banyak, wewenangnya tak setinggi yang lain, dia hanya bergelar ketus OSIS, ia hanya miris saja karena tidak adanya keadilan di dalam sekolahan yang menaunginya.


Tapi hari ini Nofan tak peduli, ia sudah bukan ketua OSIS lagi, ia tidak perlu menjaga atau menutupi sesuatu yang menjadi bebannya. Biar mereka semua sadar walau ia harus melakukan tindakan yang terbilang ekstrim.


Sementara itu.


Alica berjalan di koridor, ia bingung harus kemana, telinganya mendengar jika kedatangan aparat kepolisian atas laporan yang sudah Nofan ajukan.


Semua murid terbengkalai, mereka memenuhi sekolahan, tak ada yang masuk ke dalam kelas, laporan yang sudah Nofan buat telah membuat aktivitas sekolahan terhenti.


Alica berjalan tanpa arah, ia tak tau harus menyembunyikan keresahannya dengan cara apa lagi.


"Gilani emang ya, udah bersekutu sama iblis dia pake lapor ke polisi masalah pembully di sekolahan ini. Dia mau cari apa lagi sih, dia mau cari sensasi apa!" Suara ketidak sukaan seseorang masuk ke dalam telinga Alica.


Telinga Alica panas mendengar obrolan orang yang jaraknya tak terlalu jauh.


"Dia pasti ngelakuin itu agar semua orang berempati padanya, padahal gak sama sekali!" Sahut Anna terus menerus menjelek-jelekkan nama Nofan dan terus memperkeruh situasi.


"Emang dasarnya si Nofan itu gak bener, udah tau salah masih aja bikin masalah" ujar Anna lagi.


Alica yang mendengar mengepal kuat, gertakan gigi Alica terdengar, ia dengan kesal mendekati mereka di iringi tatapan maut.


Plaaaakkk

__ADS_1


Suara tamparan menggema di koridor.


Anna meringis menahan sakit, pipinya merah akibat tamparan yang telah Alica layangkan.


"Apa kamu bilang hah, Nofan caper, cari masalah? Jelas-jelas di sini anda yang salah, masih aja ngelak. Apa kurang jelas peringatan yang udah Nofan berikan hah!" Naik pitam Alica.


Tak terima Alica ketika mendengar tak berhenti sama sekali, malahan mereka membuat suasana makin kacau.


"Kamu apa-apa sih, main nampar orang aja, kamu mau aku laporin ke polisi!" Ancam balik Anna kali ini tak akan tinggal diam lagi karena gadis di depannya terus menerus melakukan kekerasan fisik lantaran emosi yang meluap-luap.


"Laporin aja, aku gak takut, proses aja, mumpung sekarang ada polisi di sekolahan ini!" Balas Alica tak gentar akan ancaman layaknya sebiji jagung yang Anna lontarkan.


Anna geram, makin lama Alica makin berani padanya, tak sama seperti Alica yang baru pertama kali ia kenal yang polos dan ramah.


"Kamu itu percuma belain Nofan, sudah jelas-jelas dia bersalah, masih aja belain orang yang salah. Percuma tau gak sih!" Tutur Anna terus melemparkan masalah pada Nofan.


"Apa kamu bilang? Nofan bersalah? Di sini itu kamu yang bersalah, keluarga mu yang busuk, tapi kalian malah melempar masalah pada kami, kalian benar-benar keterlaluan, kalian iblis, kalian yang bersekutu dengan iblis, bukan kami" teriak lantang Alica.


Percekcokan yang terjadi antara Anna dan Alica telah menjadi pusat perhatian orang-orang.


"Jangan percaya, dia yang salah, kalian jangan percaya pada dia, dia itu cuman mau lempar masalah sama aku doang, kalian gak mungkin percaya kan sama orang yang jelas-jelas salah!" Bantah Anna tak akan biarkan semua orang percaya pada penuturan Alica.


"Aaahhhh!" Pekik Anna keras.


Alica yang kelewat kesal menjambak keras rambut Annq, karena kebusukan keluarga Anna nama baik Nofan tercemar, ia akan pulihkan nama baik Nofan yang sudah di rusak oleh Anna.


"Kamu itu udah salah masih aja mengkambing hitamkan orang lain. Sekarang kamu akui semua kesalahan kamu!" Perintah Alica menjambak rambut Anna yang keras, tak peduli rintihan dan teriakan Anna akibat rasa sakit di kepadanya.


"Salah sakit, Alica lepasin, kamu udah gila apa" jerit Anna berusaha melepaskan cengkraman kuat tangan Alica yang *******-***** rambutnya hingga tak berbentuk.


Orang-orang meringis melihat adegan series itu, mereka bergidik ngeri kala Alica yang di kenal polos berubah menjadi singa yang garang.


"Iya aku emang udah gila, ini semua gara-gara kamu, sekarang kamu akui kesalahan kamu, kalau kamu gak mau ngaku aku akan jambak rambut kamu sampai kepala kamu bersih tanpa ada satu helai rambut pun" ancam Alica.


Kesabaran seorang Alica telah di ambang batas, segala macam cara di lakukan tetapi tetap saja tak membungkam mulut busuk Anna yang bagai siluman ular yang berbisa.


Mendengar respon Anna Alica makin keras menjambak rambutnya. Rambut itu ia bayangkan sebagai mulut, ingin ia teriak habis-habisan biar Anna gak punya rambut.


"Arrrrrgghhh!" Teriak Anna keras saat rambutnya seakan tercabut dari kepadanya.


"Ngaku gak, kalau kamu gak mau ngaku, aku akan pastikan kamu pulang tanpa kepala!" Kecam Alica.


Anna menghela ludah pahit, makin lama ancaman yang Alica keluarkan makin berbahaya.


"Adoooi sakiiiit, lepassss!" Titah Anna.


"Gakkk, aku gak bakal lepasin sebelum kamu ngaku!" Teriak Alica tepat di telinga Anna.


Kuping Anna serasa pengang, gendang telinganya terganggu dan itu semua gara-gara Alica.


"Cepat ngaku!" Teriak Alica lagi.


"Gak, aku gak mau ngaku" sebut Anna kekeh dengan pendiriannya.


"Owh gitu, sekarang kau ikut aku, akan aku bikin kau menderita!" Alica menyeret paksa Anna untuk mengikutinya meski posisi tangan msush terus menjambak keras rambutnya.


"Alica, lepas, Alica lepasin aku, lepas sakit bodoh" berontak Anna tak bisa menumbangkan Alica.


"Minggir!" Teriak Alica.


Semua orang pun menyingkir, mereka memberi mereka jalan, mereka tak mau menjadi korban pelampiasan kemarahan Alica.


"Alica, lepas Alica sakit!" Titah Anna tak tahan dengan rasa sakit yang seperti akan membuat kepalanya terbelah.

__ADS_1


Alica tak peduli, sedikitpun tak ada rasa iba di hatinya, dengan tatapan mata tajam Alica berjalan lurus ke depan tanpa peduli dengan orang yang jahatnya nauzubillah seperti Anna.


Bugh


Alica menendang keras sebuah pintu dan membuat semua orang yang berada di dalam terkejut.


"Ayo ikut!" Teriak Alica keras sembari menyeret paksa Anna untuk masuk ke dalam walau Anna tak mau.


Anna terpaksa ikut masuk sebab Alica tak membiarkan rambutnya terlepas.


"Sekarang kamu jelasin semua yang udah kamu bikin!" Perintah Alica berteriak keras di kantor.


Di mana di tempat itu ada banyak para guru yang pontang-panting karena kasus yang Nofan bawa ke jalur hukum.


Anna ciut, melihat tiga orang berseragam aparat tubuhnya ketar-ketir, untuk berbohong ia rasanya tak bisa.


"WAJAB!" bentak keras Alica.


Anna tersentak kaget, tak hanya Anna orang-orang yang ada di sana ikutan kaget.


Monster yang sesungguhnya telah keluar dari permukaan laut, demi membela kebenaran ia rela mengeluarkan sesuatu yang bahkan tak ada di pikirkan orang-orang.


"S-sebenarnya Nofan gak salah, dia gak bersekutu sama iblis, saya dan keluarga saya lah yang bersekutu dengan iblis. Kami sebenarnya tidak ada niatan untuk jebak mereka dan bikin rusak nama Nofan" ucap Anna terbata-bata, ia terpaksa jujur karena keadaan yang tak bisa memungkinkan lagi baginya untuk berbohong.


Mata semua orang terbelalak, saking terkejutnya mereka sampai bangkit dari duduk.


"Tunggu-tunggu maksudnya gimana, coba kamu cerita yang sedetail mungkin biar kami semua paham" titah pak Bambang.


"Sebenarnya waktu itu...


Flashback off


Keluarga Anna mengalami kesulitan ekonomi, di mana telah jarang ada anak kecil yang berkeliaran di dekat permukaan mereka karena warga yang begtu waspada takut anak mereka hilang seperti anak warga-warga lainnya.


Mereka curiga kalau keluarga Anna yang sudah melakukan niat jahat itu.


Di tengah malam yang sepi, pak Basuki pulang ke rumah dengan wajah gusar.


Kak Tara yang melihat perubahan dari wajah ayahnya lantas bertanya."Ada apa pak, kok pulang-pulang wajahnya ditekuk gitu, ada masalah apa?"


"Iya tuh, kok kayak ada banyak masalah aja" sahut Anna merasakan hal yang sama.


"Gimana bapak gak puyeng coba, sekarang ini mbah Sutomo minta tumbal lagi, dan kali ini tumbalnya lebih berat alias sulit di temukan" jawab pak Basuki, mengambil duduk di kursi kosong.


Kak Tara pun menjadi penasaran apa yang kali ini mbah Sutomo inginkan terkait masalah tumbal. Mbah Sutomo adakah dukun yang menjadi backingan di belakang mereka, mereka sudah berkawan baik dengan dukun hanya untuk keperluan dunia semata.


"Tumbal apa yang mbah Sutomo inginkan, apa anak kecil lagi, atau yang masih bayi?" Tanya kak Taraa antusias.


"Bukan, mbah Sutomo itu mau tumbal anak indigo, gak tau kenapa dia sekarang malah minta tumbal anak indigo. Dia ngasih kita waktu 7 hari, dalam 7 hari kita harus menemukan tumbal anak indigo padanya kalau tidak kita akan sengsara. Tapi yang jadi permasalahannya kita mau cari di mana anak indigo, di kampung ini gak ada anak spesial kayak gitu" jelas pak Basuki.


Kepala pak Basuki puyeng karena permintaan mbah Sutomo cukup berat dan sulit untuk di cari. Walaupun ada itupun jarang.


"Bapak gak perlu khawatir, Anna dengar di sekolah ada anak yang bisa liat makhluk halus yang biasa di sebut indigo gitu. Anna akan coba deketin dia lalu kita bisa jadikan dia sengaja timbal selanjutnya" sahut Anna memberi solusi atas kepahitan yang melanda keluarganya.


Senyum bengis merekah di bibir pak Basuki."Kamu memang pintar Anna, kamu dan Tara adalah anak bapak yang paling bisa di andalkan, gak kayak si Dewi itu yang terus saja berpihak pada ibunya. Sekarang dia tau rasa, dia lagi di bawa oleh jin yang menghamilinya ke alam gaib"


Anna dan kak Tara yang di puji gembira dan senang, mereka begitu bahagia saya usaha dan bantuan mereka berati.


Waktu itu faktor yang membuat Nofan tak dapat melihat perut besar kak Dewi bukan karena dia gak punya indera keenam, tapi karena yang waktu itu duduk makan bersama mereka adalah jin yang menjelma menjadi kak Dewi untuk mengantikan perannya sementara.


Seolah-olah hal itu tidak akan terbesit kecurigaan di hati Nofan dan juga Alica.


"Tapi pak, anak indigo itu di jaga sama ketua OSIS, gak ada yang berani dekatin dia, karena ketua OSIS itu menjaganya drngan ketat. Bagaimana Anna bisa dekatin dia dan bawa dia ke rumah kita kalau backingannya ketua OSIS sekolah yang garang" Anna sedikit menemukan hambatan untuk mendekati Alica.

__ADS_1


"Kamu tenang aja, bapak akan pikirkan cara yang tepat agar anak indigo itu bisa mampir ke rumah kita. Besok bapak akan datang ke sekolahan kamu, bapak akan survei langsung kayak apa anak indigo yang kamu maksud" timpal pak Basuki begitu senang karena ada anak indigo yang bisa di jadikan tumbal dari ketamakannya.


Kepala Anna menggeleng dengan senang hati ia akan memberitahukan bapaknya siapa itu Alica. Di sekolah hanya Alica satu-satunya anak indigo yang ia ketahui.


__ADS_2