Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Memulai kehidupan baru


__ADS_3

Keesokan harinya.


Mereka semua yang sudah semalam terlelap dalam tidurnya bangun, mereka membersihkan tubuh di kamar mandi masing-masing habis itu keluar dari dalam kamar.


Pak Anton keluar dari dalam kamarnya, pandangannya langsung tertuju pada seseorang yang berjalan mendekat.


"Karan, kamu bangun dari jam berapa?" kaget pak Anton ketika mendapati Karan yang baru masuk ke dalam rumah.


"Dari tadi, ini aku bawa makanan buat kalian, kalian makan dulu, kalian pasti lapar" Karan meletakkan makanan itu di meja makan.


Mereka semua mulai menyantap makanan itu, mereka akan kembali memulai hidup mereka di desa, mereka berharap ke depannya hidup mereka akan lebih baik lagi ketimbang di desa anggrek.


"Ustadz sama Maikel kalau kalian butuh kerja, kalian bisa kerja di tempat ku, aku punya usaha kecil-kecilan, tapi lumayan untuk kebutuhan sehari-hari" Karan memulai pembicaraan di tengah sarapan berlangsung.


"Boleh, emangnya kamu punya usaha apa" penasaran Maikel yang tidak tau menahu tentang usaha Karan selama ini.


"Aku punya bengkel, lokasinya di jalan raya di dekat kota, gak terlalu jauh dari desa ini, kalian bisa pulang ke sini setiap hari sama aku, gimana kalian mau gak kerja di sana?" tawar Karan, tempatnya lagi butuh karyawan dan semoga saja mereka mau kerja di sana.


"Boleh, ketimbang nganggur saya mau kerja di tempat kamu" jawab ustadz Hafidz.


"Iya, aku juga mau" sambung Maikel, ia memang membutuhkan pekerjaan untuk keperluan hidupnya sendiri.


"Alhamdulillah, nanti kalian habis ini ikut aku ke sana, kalian mulai kerja hari ini, aku akan ajarkan bagaimana cara kerja kalian" senang Karan karena hari ini tempatnya mendapatkan dua karyawan baru.


Mereka mengangguk, mereka senang habis keluar dari desa anggrek yang banyak kejadian tragis bisa mendapatkan pekerjaan yang baik dan halal.


"Pak apakah ada lowongan kerja buat saya" Viera membuka suara, dia ingin kerja juga untuk mengumpulkan uang, dia tidak bisa diam begitu saja.


"Kamu mau ngapain!" pak Anton menatap tajam ke arah Viera.


"Saya mau kerja pak, saya ingin ngumpulin uang, buat biaya lahiran dan lain-lain, mangkanya sekarang saya lagi ingin nyari kerja, mudah-mudahan ada"

__ADS_1


"Udah kamu gak usah kerja, saya yang akan tanggung semuanya, kamu hanya tinggal di rumah saja, gak perlu kerja capek-capek di luar" larang pak Anton yang khawatir pada anak yang ada di dalam kandungan Viera.


"Tapi pak...."


"Gak ada tapi-tapian, udah dengarin apa yang saya katakan, saya itu lakuin semua ini biar anak yang di dalam kandungan kamu tetap sehat, kamu jangan kerja keras-keras, nanti kalau ada apa-apa sama anak kamu gimana!"


Viera menghela nafas panjang, ia tidak enak dengan pak Anton, pak Anton sudah melakukan banyak hal padanya, dia tidak mungkin hanya duduk diam di tempat begitu saja, setidaknya dia tidak ingin menyusahkan pak Anton.


"Baiklah saya gak akan kerja" pasrah Viera, ini semua dia lakukan biar anaknya tetap sehat.


"Pak gimana dengan saya, saya masih belum lulus sekolah, haruskah saya putus sekolah" Ema bingung, dia masih duduk di bangku kelas 3 SMP dan akan segera lulus tahun ini.


"Kamu gak akan putus sekolah, kamu tidak usah khawatir, saya sudah pindahin kamu ke sekolah yang ada di sini, besok kamu sudah mulai sekolah di sini"


Ema tersenyum, meskipun sekarang tidak ada orang tuanya, dia harus tetap sekolah untuk mewujudkan cita-citanya yang ingin menjadi dokter hebat di mana depan dan berharap bisa membantu orang-orang yang lagi sakit.


"Terima kasih pak, terima kasih sudah mau bantu saya" senang Ema.


"Iya pak kami akan tetap berada di sini" jawab mereka berdua.


"Ooooom" teriak anak kecil berusia 3 tahun yang berlari mendekati pak Anton.


"Hei ganteng" pak Anton membawa bocah kecil itu ke pangkuannya.


"Om dari mana aja, kenapa gak pulang-pulang ke sini lagi, Nofan rindu om" Nofan memeluk tubuh pak Anton yang sudah lama tak dia jumpai.


Nofan anak ketiga Karan yang baru berusia 3 tahun itu.


"Om kan kerja, sekarang om akan tinggal di sini lagi, kita akan main tiap hari" dengan gemes pak Anton menoel pipi Nofan yang cubby.


"Yeyyy" bocah umur 3 tahun itu merasa senang, dia sangat menyayangi pak Anton meskipun lama berpisah.

__ADS_1


Pak Anton menatap Nofan dengan tersenyum, melihat Nofan dia teringat pada anaknya, namun sayangnya anak yang dia tunggu-tunggu meninggal padahal kurang 2 hari dia akan di lahirkan.


"Andai anak ku masih hidup, aku tidak akan kesepian lagi" batin pak Anton menatap sedih, seandainya anak itu sampai lahir dia akan memiliki keluarga yang lengkap.


"Nofan mana mama mu, kenapa kamu ke sini sendirian" panggil Karan, Nofan merupakan anak Karan, dia menikah tak lama setelah Sekar meninggal dunia.


"Mama ada di rumah pa, mama nyuruh Nofan ke sini duluan" jawab Nofan.


"Ayo kalian ikut aku ke bengkel ku, mumpung masih pagi" ajak Karan yang sudah selesai makan.


"Iya ayo" setuju mereka.


"Nofan kamu habis ini pulang ke rumah, jangan main terus!" suruh Karan.


"Iya pa, nanti Nofan akan pulang kok, papa tenang aja" jawab Nofan, dia ingin berada di rumah pak Anton dulu, baru setelah dia puas dia akan pulang ke rumahnya.


"Kami berangkat dulu, assalamualaikum" salam mereka.


"Wa'alaikum salam" jawab mereka.


Karan, Maikel dan ustadz Hafidz berangkat ke bengkel, ustadz Hafidz tidak pulang ke desanya, dia malah ikut bersama mereka, nanti setelah waktunya sudah tepat dia akan balik ke desanya yang sudah tak pernah ia kunjungi.


"Om mereka siapa, kenapa om bawa mereka kemari" Nofan masih merasa asing pada Ema dan Viera, dia tidak pernah melihat mereka di desa ini sebelum-sebelumnya.


"Mereka adalah teman-teman om, mereka akan tinggal di sini juga" jelas pak Anton.


"Kenapa mereka tinggal di sini om, di mana rumah mereka, kenapa mereka gak tinggal di rumahnya saja" heran Nofan yang masih penasaran dengan mereka.


"Urusannya panjang baanget, om gak bisa cerita sekarang, kamu udah makan belum?" pak Anton mengalihkan pembicaraan agar bocah itu tak terus menerus bertanya ini itu padanya.


"Belum, aku mau pulang dulu om, nanti aku akan ke sini lagi"

__ADS_1


Pak Anton mengangguk, Nofan berlari keluar dari rumah pak Anton untuk pulang ke rumahnya yang berada di sebelah rumah pak Anton.


__ADS_2