
Matahari telah terbit, sinar terangnya telah mengusir kegelapan malam yang ada di dalam hutan ini.
Di pagi yang sejuk ini semua siswa baik siswi telah berkumpul setelah mendengar informasi kalau ada kegiatan yang akan di selenggarakan.
"Semuanya sudah berkumpul?" Tanya pak Bambang menggunakan speaker.
"Sudah pak" jawab mereka.
"Anak-anak di pagi yang cerah ini kita akan melakukan perjalanan menuju suatu tempat yang indah, kalian gak akan nyesel datang ke sana" ujar pak Bambang begitu membuat orang-orang penasaran tempat apa yang akan mereka kunjungi.
Mereka semua senang dan gembira, beda dengan orang yang sudah tau hal-hal miring yang ada di hutan, mereka diam dan tidak bersemangat sama sekali.
"Ayo kita berangkat, awas jangan sampai pisah dari rombongan ya" peringatan pak Bambang.
Mereka pun dengan semangat berjalan mengikuti pak Bambang sambil melihat-lihat hutan Pinus yang begitu indah tersebut.
Tapi belaku di pagi hari, ketika sudah malam, semuanya berubah 180 derajat.
Semua orang terus membuntuti pak Bambang yang memimpin jalan, ia begitu antusias membawa rombongan yang rata-rata adalah para anak-anak didiknya.
Guru-guru juga ikut dan memantau mereka dari kanan dan kiri.
Alica menatap sekitar, berkat kegiatan ini Alica bisa tau ada apa saja di hutan Pinus, Alica akan memanfaatkan moment ini untuk melihat situasi yang sebenarnya terjadi.
"Alica, aku mau nanya sesuatu tapi kamu harus jawab jujur ya" ucap Nofan agak sedikit memelankan suara.
"Kamu mau nanya apaan?" penasaran Alica.
"Kalau hantu itu gimana sih wujudnya"
Alica mengerutkan kening, ia merasa aneh dengan pertanyaan yang Nofan ajukan begitu di luar nalar.
"Kok tumben kamu nanya itu, kenapa emangnya, kamu ketemu sama hantu ya" tebak Alica.
"Enggak" bantah Nofan cepat.
Tebakan Alica tepat sasaran, walaupun Nofan membantahnya tapi Alica dapat merasakan jika Nofan berbohong.
"Masa iya kamu ketemu sama hantu fan" tak percaya Alica.
"Enggak, siapa yang bilang aku ketemu sama hantu, aku cuman mau nanya tentang hantu, kenapa kamu malah nuduh aku ketemu sama hantu" elak Nofan.
Nofan belum percaya 100 persen kalau gadis yang tadi malam ia jumpai adalah hantu, bukan manusia.
"Emangnya ca hantu itu kayak gimana sih, apa ada yang modelannya gak serem?" Penasaran Nofan mencari tau informasi tentang hantu.
"Ada lah, hantu gak semuanya muncul dengan wujud serem, ada banyak pula hantu yang modelannya kayak biasa-biasa aja tapi wajahnya puceeett" sebut Alica dengan sangat menjiwai.
Nofan menegak ludah pahit, mengingat-ingat kembali gadis yang kemarin malam ia temui, dari segi wajah tak seram namun ada satu hal yang membuatnya merasa kalau gadis itu adalah makhluk halus, yakni wajahnya yang pucat pasi.
"Bahkan hantu yang ngasih tau aku kalau di hutan ini ada begituan juga gak serem, dia malah cantik dan terkesan kayak bukan hantu, modelannya kayak kita, kayak manusia biasa deh tepatnya, tapi sebenarnya dia hantu, cuman wujudnya aja gak serem" tambah Alica.
Nofan makin diam, ia tak mengeluarkan sepatah katapun, kini ia yakin kalau orang yang kemarin malam di temuinya bukan lah manusia, tapi mereka yang biasa di sebut makhluk halus.
"Kenapa kamu hanya soal hantu, apa benar kamu ketemu sama hantu" Alica terus mendesak Nofan agar mengaku, karena tak pernah Nofan bertanya padanya tentang hal ini.
"Aku gak tau sih ca dia hantu bukan, tapi wajahnya pucat banget, dia bilang dingin terus, aku ketemu sama dia tadi malam" jawab Nofan membuka mulut.
Mata Alica membulat sempurna."Yang bener aja kamu ketemu sama hantu"
Alica terkaget-kaget, tak ia duga kalau sahabatnya malah berjumpa dengan mereka yang tak kasat mata di hutan Pinus.
__ADS_1
"Iya, tapi aku gak yakin kalau dia hantu, soalnya dia gak kelihatan kayak hantu, cuman misterius aja. Tapi yang bikin aku yakin dia hantu karena wajahnya pucat, terus aku gak ngenalin dia. Kata anak-anak gak ada murid baru selama aku gak masuk seminggu. Ya kalau dia bukan anak baru siapa lagi kalau bukan hantu" jelas Nofan.
Alica menutup mulut terkejut."Ya ampun, gak di duga kalau kamu akan ketemu sama hantu, tapi hantu itu gak ngapa-ngapain kamu kan, dia gak ganggu kamu kan?"
Ragam pertanyaan Alica ajukan, sebab hantu yang biasa ia temui selalu menganggu dan suka membuatnya celaka.
"Enggak, dia gak ngapa-ngapain aku, dia cuman bilang dingin doang, gak tau apa maksudnya" jawab Nofan.
Lega hati Alica kala mendengar penjelasan Nofan, meski Nofan telah berjumpa dengan hantu kalau dia tidak berbahaya hutan ini masih di kategorikan aman.
"Owh syukurlah kalau begitu, soalnya kebanyakan hantu ingin bikin kita celaka, mangkanya kamu harus hati-hati, kalau ketemu sama hantu, langsung lari, jangan nunggu lebih lama lagi, sebelum dia keburu ngapa-ngapain kamu" tips Alica agar selamat dari yang namanya hantu.
"Hmmm" balas Nofan dengan dehaman.
Kaki mereka terus berjalan, suasana sejuk di pagi hari membuat mereka begitu senang, banyak para siswa dan siswi yang mengambil gambar di sana, mereka ingin mengabadikan moment ini sebelum balik lagi ke kota.
Suasana di pagi hari begitu indah, sejuk dan segar.
Alica melihat kanan dan kiri, memperhatikan setiap tempat yang ia lalui, namun yang temui adalah ragam pohon Pinus yang tumbuh di kanan dan kiri.
"Fan gimana ya kalau ada yang tersesat di hutan ini, bisa gak ya dia balik lagi ke tempat perkumpulan kita, secara kan di hutan ini banyak sekali pohon. Di pagi hari aku pergi sendiri aja kayaknya gak akan bisa balik ke tempat tadi apalagi di malam hari" Alica memikirkan bagaimana jika sampai ada orang yang tersesat, ia khawatir orang tersebut tak bisa kembali ke tempat mereka berada.
"Ya mangkanya jangan sampai ada yang tersesat, aku juga yang akan repot, aku yang pasti di suruh buat nyari sampai ketemu" sahut Nofan.
Menjadi ketua OSIS tak gampang, harus bertanggung jawab penuh pada apa yang terjadi.
"Itu derita mu, suruh siapa semangat banget jadi ketua OSIS, gini kan jadinya" ucap Alica mumet jika menjadi Nofan, saat ada masalah Nofan yang kerap di panggil.
"Kalau aku gak jadi ketua OSIS, semuanya terbengkalai, aku gak jabat jadi ketua OSIS sehari aja, kawan-kawan ku pada bingung gak tau harus bagaimana, mereka gak tau harus mulai dari mana, mangkanya aku mau kembali lagi. Kamu ini gimana sih, kemarin kamu sendiri yang minta aku buat kembali tapi kenapa sekarang malah ngeledekin" tak habis pikir Nofan.
Perubahan Alica terbilang singkat, kayaknya siang dan malam. Dalam waktu 24 jam harus di bagi menjadi dua, 12 jam siang, 12 jam malam.
"Adooh!" Pekik Alica menangkis tangan Nofan ketika tangannya mencubit pipinya gemes.
"Jangan cubit-cubit, sakit!" Pertegas Alica.
"Biarin, suruh siapa punya pipi tembem" balas Nofan tak peduli.
Alica mengeluarkan hp, menatap wajahnya di layar."Enggak kok, pipi aku gak tembem, normal-normal aja"
"Tembem, kalau aku bilang tembem ya tembem" tak mau kalah Nofan.
"Iiih enggak, tapi gimana sih punya pipi tembem" Alica mengidam-idamkan pipi tembem, ia meliaht orang yang memilik pipi tembem begitu lucu dan gemoy.
"Makan yang banyak, nanti juga tembem" jawab Nofan.
Alica memukul pemuda itu, dia selalu membuatnya kesal setiap hari namun jika tidak ada Nofan seperti ada yang hilang. Mereka selama ini selalu bersama untuk berpisah rasanya terdengar aneh dan tak mungkin.
Langkah demi langkah terus di lakukan, mereka terus berjalan semakin dalam, menelusuri hutan yang indah dan begitu besar itu.
"Ini sebenarnya kita mau kemana fan, kamu tau gak rute perjalanan kita kali ini?"
"Gak tau, soalnya ini private, hanya pak Bambang yang tau, guru-guru juga pada gak tau, dia cuman bilang kalau dia akan bawa kita ke tempat yang indah dan katanya bisa bikin mata kita terpesona saat menatapnya" jelas Nofan.
'O' hanya kalimat itu yang terdengar di telinga Nofan.
Nofan dan Alica terus berjalan tanpa henti mengikuti semua orang, mereka tak mau ketinggalan rombongan.
Setelah sekian lama berjalan kaki mereka terhenti di sebuah tempat yang indah dan menakjubkan, benar kata Nofan kalau orang yang menatap tempat itu akan terpesona.
Tempat itu ada di pojok hutan, jauh dari tempat tenda mereka berdiri namun tak sia-sia mereka ke sana karena pemandangannya memang begitu indah.
__ADS_1
Tempat itu tak lain dan tak bukan adalah air terjun, airnya yang jernih dan derasnya air terjun telah membuat siapa saja yang melihatnya ingin menceburkan diri.
"Anak-anak kita sekarang sudah sampai di air terjun, kalian bisa mandi atau selfi-selfi di sini" ucap pak Bambang.
"Tapi kalian harus ingat jangan sampai melanggar aturan, kita lagi berada di dalam hutan, jangan sampai karena satu kesatuan membuat kita semua dalam masalah" peringatan keras pak Bambang.
Semua orang mengangguk patuh, tak ada yang mau mendapatkan petaka karena melakukan kesalahan selama berada di dalam hutan Pinus.
"Sekarang kalian boleh mandi atau selfi-selfi, tapi jangan jauh-jauh ya" perintah Bu Mesi.
"Iya Bu" jawab mereka.
Semua anak-anak tampak berpencar, ada yang selfi-selfi, ada pula yang mandi di sana.
Alica memilih untuk duduk di rumput-rumput hijau menatap air terjun dari kejauhan, ia enggan untuk mandi apalagi Selfi, ia ingin menikmati pemandangan saja.
Alica meluruskan kaki yang pegal, tak hanya dia yang bersantai sampai menikmati alam, ada banyak pula yang berada di dekatnya.
Nofan hilang entah kemana, dia ikut menjadi komando bagi murid-murid yang mau mandi di air terjun, ia harus mengawasi mereka dengan baik, karena mereka semua adalah tanggung jawabnya.
Alica menghapus peluh-peluh di dahinya, ia mengeluarkan hp, memotret pemandangan yang indah untuk ia simpan, barang kali pemandangan itu akan menjadi kenangan indah untuknya setelah ia lulus dari sekolah.
Alica lanjut bermain hp, ia enggan untuk berpindah tempat.
"Mayat, ada mayat aaahhhh" teriak anak-anak berhamburan keluar dari air terjun yang agak kebawah dan harus turun ke bawah jika ingin sampai ke sana.
Mereka semua yang ada di tempat lebih tinggi terkejut, saking terkejutnya mereka langsung bangun dari duduk.
Melihat semua orang berlari berhamburan seperti di kejar setan membuat mereka bertanda tanya mengapa semua orang seperti itu.
"Ada mayat, ada mayat" teriak histeris orang-orang yang lari kembali ke atas.
"Ada apa ini, kenapa kalian teriak-teriak" panik pak Bambang menghentikan salah siswa yang ikut berlarian keluar dari tempat air terjun berada.
"Ada mayat mengapung di air terjun pak" jelas pemuda itu.
Semua guru-guru tercekat, mereka panik dan tegang, mereka langsung berlari mendekati air terjun.
Belum sempat mereka tiba di air terjun, Nofan dan anggota OSIS lainnya kembali. Nofan menggendong seseorang yang bermuka pucat, lemas tak bertenaga serta tubuhnya dingin, sedingin es batu ala bridal style.
Nofan meletakkan seorang gadis pucat pasi di tanah, gadis itu ia temui mengapung di dekat air terjun, tubuhnya tersangkut di bebatuan sehingga tak di bawa arus pergi.
Tak ada orang yang mau mengevakuasi mayat yang tidak berindentitas tersebut. Nofan dan kawan-kawannya terpaksa terjun untuk mengeluarkan gadis itu dari sana.
"Nofan, siapa dia, siapa yang meninggal?" Panik pak Bambang.
"Gak tau pak, dia kami temukan mengambang di air terjun, saya tidak mengenalinya karena dia bukan murid di sekolah kita" jelas Nofan.
Pak Bambang dan dewan guru sedikit lega setelah mendengar pernyataan kalau gadis yang di temukan meninggal di air terjun bukan berasal dari sekolahan mereka.
Jika di liat-liat gadis itu seumuran dengan Nofan, dia masih kanak-kanak, itulah yang menyebabkan pak Bambang panik takut jika gadis itu adalah murid di sekolahan, ia yang akan kena masalah jika sampai wali murid serta media mendengar kabar buruk ini.
"Siapa dia, apa kalian semua mengenali gadis ini?" Tanya pak Bambang mengeraskan suara agar semua orang yang berada di sana mendengar.
Semua orang menggeleng serempak, tak ada yang kenal dengan gadis pucat, pucat karena kedinginan sebab terendam di dalam air terjun.
"Gak ada yang kenal sama dia pak, saya perkirakan kalau dia meninggal baru-baru ini, mungkin bapak bisa cari tau pada pak Joko selaku orang yang menjaga hutan ini terkait gadis yang tewas di air terjun, barang kali pak Joko tau" ujar Nofan.
Pak Bambang mengangguk, jantungnya masih berdegup kencang, pasalnya ia membawa semua murid-muridnya ke tempat ini itu mencari aman agar terhindar dari media, tapi sayangnya mereka malah di hadang oleh masalah baru yang begitu besar.
"Iya, kita akan tanya langsung sama pak Joko, beliau pasti tau siapa gadis ini. Sekarang kita kembali ke tenda, kita urus gadis ini dulu. Nofan kamu bawa dia pulang juga" suruh pak Bambang.
__ADS_1
Nofan langsung menggendong gadis yang sudah meregang nyawa di air terjun, entah apa yang menyebabkannya kehilangan nyawanya di sana, kasusnya masih masuk ke dalam kategori misteri.
Mereka semua kembali ke tenda, tak ada yang membantah karena memang keadaan yang urgent dan mengharuskan mereka untuk kembali ke tenda lagi. Walau tempat itu begitu indah dan ada banyak pula anak-anak yang pengen berada di sana lebih lama lagi.