
Pak Burhan sangat mengerti kenapa Ratna berbicara seperti itu, karena semua itu adalah salahnya sendiri yang sudah menelantarkan Bu Ima dan Ratna.
"Maafin Ayah Nak, Ayah benar-benar menyesal, Ayah tau kalau Ayah telah melakukan kesalahan yang sangat besar yang tidak bisa Ratna maafkan, tapi Ayah akan menebus semua kesalahan itu dengan cara apa pun juga," ujar Pak Burhan dengan airmata yang terus menetes pada pipinya.
Ratna terlihat berpikir sebelum kembali angkat suara.
"Apa Ayah yakin akan melakukan semua yang Ratna mau?" tanya Ratna.
"Iya Nak, Ayah sangat yakin," jawab Pak Burhan.
"Baiklah, kalau begitu, sekarang juga Ayah tinggalkan Istri dan Anak haram Ayah," ujar Ratna.
Degg
Jantung Pak Burhan rasanya berhenti berdetak, Pak Burhan tidak pernah berpikir kalau Ratna akan meminta hal seperti itu. Meski pun Aisyah tidak tinggal bersamanya, tapi Pak Burhan tidak akan mungkin hilang begitu saja dari kehidupan Aisyah. Pak Burhan juga tidak mungkin meninggalkan Mama Neti yang saat ini sedang sakit, sehingga saat ini Pak Burhan berada dalam dilema.
"Ratna, tidak seharusnya Ratna meminta hal seperti itu kepada Ayah, bagaimana pun juga sekarang Ayah sudah punya kehidupan sendiri, bahkan istrinya sedang sakit parah, makanya atas nama istrinya Ayah meminta maaf kepada kita," ujar Bu Ima.
"Kenapa Ayah tidak bisa meninggalkan istri dan Anaknya demi kita, sedangkan dulu Ayah telah tega meninggalkan Ibu dan Ratna yang saat itu masih berada dalam kandungan?" ujar Ratna yang masih tidak terima dengan semua yang terjadi dalam kehidupannya.
"Nak, Ayah bisa jelaskan semuanya, Ayah juga selama ini tidak tinggal dengan Anak kandung Ayah dari Neti, bahkan Neti meninggalkannya dari semenjak Aisyah masih bayi."
"Jadi nama Anak Ayah Aisyah? tapi tidak mungkin kalau Aisyah Anak kandung Ayah adalah Aisyah yang sama dengan Aisyah yang sudah kita anggap sebagai keluarga kan Bu," ujar Ratna dengan menangis, karena jika Aisyah adalah saudara satu Ayah Ratna, Ratna tidak tau harus bersikap seperti apa kepada Aisyah meski pun saat ini Ratna dan yang lainnya masih belum tau kalau Aisyah sudah ditemukan.
Pak Burhan tidak bisa menjawab apa-apa, karena Pak Burhan sendiri masih belum yakin jika Aisyah dan Bu Ima selama ini saling mengenal.
"Nak, Aisyah mana pun yang menjadi saudara satu Ayah Ratna, Ratna tidak boleh membencinya, karena dalam hal ini Aisyah tidak bersalah," ujar Bu Ima yang mencoba untuk berlapang dada.
__ADS_1
"Bu, tapi Ibu Aisyah sudah merebut Ayah dari kita," ujar Ratna.
"Bukan Nak, tapi Ibu yang mau saja dijadikan pelarian oleh Ayah kamu, karena sebelum menikah dengan Ibu, Neti adalah cinta pertama Ayah kamu, tapi dia merantau ke kota, sehingga Ayah kamu memutuskan untuk menikahi Ibu yang tidak pernah dicintainya."
"Tapi tetap saja Ayah sudah mengkhianati pernikahannya dengan Ibu," ujar Ratna.
"Mungkin semua itu sudah nasib Ibu Nak, dan Ibu sudah ikhlas menerima semuanya, apalagi sekarang Neti sedang sakit, dan Ibu tidak mau memendam kebencian sampai ajal menjemput kita, karena yang namanya umur tidak ada yang tau," ujar Bu Ima yang selalu bijak.
"Mungkin semua itu adalah karma karena dia sudah merebut Ayah dari Ibu," ujar Ratna.
Arif yang merasa khawatir terhadap Ratna, mencoba untuk kembali menenangkannya.
"Sayang, Ratna istighfar ya, kita harus ikhlas menerima takdir yang telah Allah SWT berikan untuk kita, karena Allah tau yang terbaik untuk Ummat-Nya."
"Tapi Mas, semua itu tidak adil untuk Ratna. Mas tau kalau semenjak kecil Ratna selalu dibully oleh teman-teman Ratna karena Ratna tidak memiliki Ayah."
Jadi benar kalau Aisyah yang mereka maksud adalah Aisyah Anakku juga. Kenapa Dunia ini sangat sempit? aku juga tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya kepada mereka, karena Aisyah sendiri masih belum mengetahui siapa Aku dan Neti sebenarnya, ucap Pak Burhan dalam hati.
"Ima, ini untuk kamu dan Ratna, aku harap kalian mau menerima semua ini, karena ini adalah hak Ratna," ujar Pak Burhan dengan memberikan uang satu koper yang berisi sepuluh milyar rupiah, juga sebuah sertifikat tanah yang berada tidak jauh dari Desa Nelayan.
"Semua ini tidak akan bisa menebus semua kesalahan yang telah Ayah lakukan kepada kami, karena luka hati akan sulit sembuh dibandingkan dengan luka fisik," ujar Ratna yang memang pada dasarnya mempunyai sifat keras kepala.
"Mas, sebaiknya sekarang Mas pulang dulu, saat ini suasana hati Ratna sedang tidak baik. Semoga Neti cepat sembuh," ucap Bu Ima.
"Makasih banyak Ima, karena kamu sudah berbaik hati memaafkan semua kesalahanku dan Neti. Ratna, Ayah pulang dulu Nak, semoga Ratna selalu diberikan kesehatan, dan persalinan Ratna lancar," ujar Pak Burhan, kemudian mengucap Salam sebelum akhirnya Pak Burhan pergi dari rumah Bu Ima.
......................
__ADS_1
Saat ini di kediaman Sanjaya, Gisel dan Evan yang baru pulang dari luar kota untuk urusan bisnis langsung menghampiri Aisyah dan Raihan yang terlihat menjaga Nathan dan Nala yang sedang bermain di taman.
"Assalamu'alaikum," ucap Gisel dan Evan.
"Wa'alaikumsalam. Kalian sudah pulang?" tanya Raihan.
"Alhamdulillah akhirnya Tuan Muda bisa kembali bicara. Iya Tuan, kami baru selesai meninjau proyek pembangunan yang berada di Bogor," jawab Evan.
"Aisyah, bagaimana kabarnya?" tanya Gisel yang sudah berhenti mengejar cinta Raihan, bahkan rencananya, Gisel dan Evan dalam waktu dekat ini akan bertunangan terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka berdua menikah.
"Alhamdulillah baik," jawab Aisyah.
"Maaf Gisel, Evan, saat ini Aisyah hilang ingatan, jadi Aisyah tidak mengingat kalian, bahkan Aisyah juga masih belum mengingatku," ujar Raihan.
"Semoga Anda cepat sembuh ya Nona," ucap Evan yang di Amini oleh semuanya.
"Kalau begitu kami masuk duluan Tuan, Nona," ujar Evan, kemudian menggandeng Gisel untuk masuk ke dalam rumah.
Setelah Gisel dan Evan masuk, Aisyah yang penasaran terhadap sosok Gisel dan Evan, kini menanyakannya kepada Raihan.
"Kak, apa Gisel dan Evan itu Suami istri?" tanya Aisyah.
"Bukan sayang, mereka masih pacaran, dan sebentar lagi rencananya mereka akan bertunangan sebelum menikah," jawab Raihan.
"Apa Aisyah mengingat sesuatu tentang mereka?" tanya Raihan.
"Tidak Kak, Aisyah belum mengingat apa pun. Memangnya mereka siapa Kak Raihan?" tanya Aisyah.
__ADS_1
"Gisel adalah Anak Angkat Papa, sedangkan Evan adalah Asisten Papa, tapi Evan juga tinggal di sini, dan Papa sudah menganggap Evan sebagai Anak kandungnya juga. Aisyah yang sabar ya, semoga secepatnya Aisyah mengingat semuanya," ujar Raihan dengan memeluk tubuh Aisyah, dan semua itu selalu membuat Aisyah merasa tenang dan damai.