
Setibanya di tenda Alica, empat orang gadis yang lagi nongkrong di depan tenda sambil memegang secangkir susu hangat menatap Nofan terkejut.
"Di mana Alica?" Tanya Nofan tak mau basa-basi.
"Kami gak tau kak, Alica gak ada di tenda saat kami bangun, kami kira Alica ada sama kakak" jawab Nadia.
Nofan di serang rasa panik, ia tanpa mengucapkan sepatah kata mencari Alica.
"Ini pasti Alica nyari gadis itu, aku harus hentiin dia, aku gak mau dia di apa-apaan sama hantu"
Dengan panik Nofan masuk ke dalam hutan, ia menebak kalau Alica pasti berkeliaran di hutan demi mencari Rea.
Dari semalam niat Alica yang berkeinginan untuk menemui Rea sangat tinggi, walau Nofan telah melarang Alica begitu keras kepala.
"Alica, Alica kamu di mana"
"Alica"
"Alica pulang ca"
Teriakan dengan keras Nofan lakukan, di hutan yang banyak pepohonan Nofan di haruskan menemukan Alica.
"Alica, Alica kamu di mana"
Alica yang mendengar teriakan itu langsung menoleh ke kanan dan kiri, wujudnya tak ada tapi suaranya ada. Dan Alica mengenal betul suara yang memanggil namanya berulang kali.
"Nofan, itu suara Nofan"
"Nofan aku di sini" teriak Alica membalas.
Nofan langsung berhenti, ia menoleh ke kanan dan kiri, tapi tak ada orang namun ia mendengar suara Alica.
"Alica, Alica kamu di mana"
Dengan gigih Nofan berjalan mencari Alica, Nofan yakin keberadaan Alica tak jauh lagi.
"Di sini fan, aku ada di sini" jerit Alica memberikan kode agar Nofan menemukannya.
Alica tak bisa bangun, kakinya sulit untuk di gerakkan.
Mata Nofan membulat sempurna saat melihat Alica duduk bersimpuh dengan menahan sakit.
"Nofan tolong aku" titah Alica gembira ketika Nofan telah ia lihat dengan mata kepalanya.
"Ca kamu jangan bergerak" suruh Nofan.
Alica kebingungan, Nofan terlihat panik, tak tau apa yang Nofan takutkan.
"Ada apa?" Tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Sstt jangan berisik, kamu jangan bergerak, jangan panik" titah Nofan.
Alica makin tak paham."Ada apaan sebenarnya?"
"Di belakang kamu ada ular, kamu jangan banyak gerak" ucap Nofan.
Mendengar itu Alica pelan-pelan menghadap ke barat, kepala ular kobra langsung berada di depan mata.
Ludah pahit Alica telan, ular kobra berwarna coklat sudah siap untuk mematuknya.
Alica panik, tak ia sangka kalau di dekatnya ada hewan berbisa yang dapat menghilangkan nyawa.
"Kamu tangan bergerak, jangan panik, jangan takut, aku ada di sini, aku gak akan biarin kamu terluka" imbau Nofan agar Alica tidak panik.
Walau begitu kepanikan tak luput sama sekali, Alica mencoba menahan jeritan supaya ular itu tak mematuknya dan nyawanya dapat di selamatkan.
Alica mencoba untuk diam, kalau dia berteriak nyawanya yang akan melayang, meski sulit Alica pasti bisa.
Nofan dengan gerakan pelan mengambil kayu yang berada di samping kirinya, ia lalu melangkah dengan pelan-pelan.
Keringat-keringat dingin bercucuran di wajah Alica, menahan ketakutan jauh lebih sulit dari pada menahan rasa sakit.
"Jangan gigit aku, Nofan tolong aku, aku tidak mau mati" batin Alica memohon pada ular yang siap menggigitnya.
Suara mendesis terdengar, rasanya Alica ingin menangis kejer, ia ingin lari sekecang mungkin namun kakinya tak bisa di gerakan.
Kepala ular kobra bergerak mematuk Alica, Alica langsung berteriak dengan mata tertutup.
"Aaaaaaaarrgh"
Brukkk
Bugh
Bugh
Bugh
Alica membuka mata kala tak merasakan apa-apa, ia terkejut saat ular kobra itu mencoba melawan ketika Nofan memukulnya.
Alica diam dan menyaksikan, tak bisa ia menolong karena rasa takut yang menamakan semua nyalinya begitu tinggi.
Kepala ular itu gepeng, Nofan tak main-main, dia membunuh ular itu yang hampir saja membahayakan nyawa Alica
Nofan beralih menatap Alica yang pucat bagai mayat hidup, ia pun mendekatinya.
"Takut" lirih Alica dengan mata berkaca-kaca.
Nofan meletakkan jari tepat di bibir Alica."Sstt jangan nangis, aku ada di sini, dia gak akan apa-apain kamu, sekarang dia sudah mati, tidak ada hal yang perlu kamu takutin lagi"
__ADS_1
Alica pun mengangguk, untung Nofan datang tepat waktu, telat sedikit saja nyawa Alica yang pastinya menjadi taruhannya.
"Kaki aku sakit fan hiks hiks hiks" tangis Alica.
Kakinya tak dapat di gerakkan, untuk bergerak Alica tak mampu apalagi bangun dan pergi dari sana.
Nofan langsung menekan kaki Alica kuat-kuat.
"Aaaaahhhhh!" Teriak Alica histeris.
"Kamu gila apa!" tutur Alica melototkan mata.
Alica terkejut, tindakan mendadak Nofan membuatnya tersentak kaget.
"Coba gerakin" suruh Nofan.
Dengan pelan-pelan Alica mencoba menggerakkan kakinya, nyeri masih terasa, tapi ada kemajuan di banding yang tadi.
"Sakit, aku gak bisa jalan" ucap Alica.
"Mangkanya kalau kaou pergi itu bilang-bilang, biar aku temenin"
"Ini yang aku takutin, untung aku datang ke sini tepat waktu kalau enggak ular itu udah patuk kamu dan kamu akan mati di sini karena gak ada orang!"
Omelan menyapa Alica, tapi bibir gadis itu tak bergeming, di sini ia salah dan ia tidak bisa kata-kata lagi.
"Maafin aku, aku kan cuman mau nyari Rea gadis yang udah datangin kamu tadi malam, eh gak taunya malah kayak gini" jelas Alica menunduk merasa bersalah.
Nasib begitu buruk, musibah ini datang tanpa di undang, tapi alhamdulilahnya Allah masih mengirim orang baik yang datang tepat waktu untuk menolong Alica.
Nofan menghela nafas berat."Tadi malam kan aku udah bilang, kamu jangan cari dia, jangan berurusan lagi sama dia. Biarin dia mau lakuin apa yang dia mau, dia cuman ganggu doang gak sampai bikin aku sama orang-orang yang ada di sini celaka"
"Gak bisa fan, dia udah janji sama aku buat gak ganggu orang-orang, tapi buktinya dia menyimpang dari perjanjian itu"
"Aku gak bisa biarin dia gitu aja, aku mau tegur dia, aku gak mau dia leluasa ganggu orang-orang" imbuh Alica.
Watak Alica yang keras kepala tak mau diam saja saat ada orang yang malah mengkhianati kepercayaannya.
"Tapi ca aku itu gak papa, gak ada yang luka, jadi kamu gak usah cari dia, biarin aja dia" larang keras Nofan.
Demi keselamatan Alica, tak segan-segan Nofan melarang Alica berurusan dengan makhluk tak kasat mata.
"Kamu memang gak luka fan, tapi aku tetap gak terima aja kalau dia masih ganggu kamu. Secara kan kamu itu yang udah nolongin dia, kalau gak ada kamu gak akan ada yang mau evakuasi mayatnya yang udah membusuk"
"Tapi apa balasan dia, dia malah gak tau diri dan gak tau terima kasih" emosional Alica.
Kemarahan Alica tak dapat terhindarkan, Rea sudah keterlaluan, telah di tolong, di selamatkan tapi tidak punya rasa terima kasih sedikitpun.
Alica yang merupakan teman Nofan tak terima atas tindakan Rea yang keterlaluan parah.
__ADS_1