
Alica tolah toleh ke sana kemari, namun ada sesuatu yang membuat Alica merasa janggal.
"Fan, Nofan" panggil Alica pelan.
"Apa lagi sih ca?" Tanya Nofan mulai kesal tapi dengan nada pelan.
"Fan aku merasa ada yang aneh dari desa ini" jawab Alica.
Nofan mengerutkan kening tanda tak paham."Aneh? Aneh gimana, kalau kata aku sih baik-baik aja, semuanya normal, gak ada tuh yang aneh-aneh seperti yang kamu maksud"
"Fan aku beneran, ada yang aneh, biasanya kalau di setiap tempat itu mesti ada makhluk halus walau hanya satu atau dua, tapi di desa ini aku gak liat satupun makhluk halus, kan aneh namanya" jelas Alica.
Pertama kali bagi Alica tak dapat melihat mereka yang tak kasat mata dan tempat itu adalah desa nenek ini.
Satupun makhluk tak kasat mata tak tampak di matanya, walaupun desa ini terkesan sepi dan sunyi.
Nofan berdecak."Apanya sih yang aneh, kalau gak ada makhluk halus kan namanya desa ini tentram, aman, damai. Warga-warga bisa hidup dengan tenang, seraya kan gak ada makhluk halus. Tapi kenapa kamu malah bilang aneh, bukannya bagus kalau gak ada makhluk halus"
Nofan geleng-geleng kepala, meratapi keanehan sahabatnya.
"Iya sih, tapi yang jadi masalahnya baru pertama kali ini aku datang ke suatu tempat yang gak ada satupun makhluk halus yang tampak. Sebelumnya aku gak pernah kayak gini fan" ujar Alica kekeh dengan pendiriannya.
"Udah napa ca gak usah permasalahin itu, kalau kata aku itu bagus, kita bisa tenang berada di sini tanpa harus mikirin makhluk astral" ucap Nofan.
"Tapi fan-
"Kalian lagi ngobrolin apa?" Tanya nenek merasakan bahwa mereka berdua terus menerus berbisik-bisik.
"Ah, enggak kok nek, kita lagi ngebahas tentang desa ini yang asri dan nyaman, cocok kalau buat piknik untuk menjernihkan pikiran, karena kan tempat ini bersih gak ada polusi seperti di kota" jawab Nofan sambil tersenyum.
Di hati Nofan berharap bahwa nenek percaya dan tidak menaruh kecurigaan sama sekali pada mereka.
__ADS_1
"Owh, kalau seperti ayo kita lanjut jalan lagi, kita harus cepat-cepat sampai di rumah" tutur nenek.
Nenek kembali melangkahkan kaki. Seketika hati Alica dan Nofan lega, seperti orang yang baru keluar dari dalam penjara.
"Kamu sih, untung aja gak ketahuan, kalau sampai nenek dengar perbincangan kita, jadinya gak enak kan, dia itu udah baik bantu kita di dalam masa sulit ini, kita harus bersyukur. Kalau gak ada nenek kita pasti masih diam di pinggir jalan gak tau harus kemana" bisik Nofan mengeluarkan tatapan tajam.
Alica merengut, ia langsung diam dan terus berjalan walau masih merasa ada yang aneh, tapi tak berani bicara lagi karena Nofan pasti akan tambah marah.
"Nah ini rumah nenek, maklum rumahnya masih sederhana, jauh berbeda dengan rumah-rumah yang ada di kota" ujar nenek berhenti di depan rumah kayu sederhana namun bersih dan rapih.
"Gak papa kok nek, ini udah lebih dari cukup buat kami. Kami gak mandang apapun, di terima dengan baik aja di sini kami udah bersyukur sekali" sahut Nofan.
"Nenek senang kalian mau tinggal di rumah nenek. Ya udah ayo masuk, sebelum hujan turun" ajak nenek.
Kaki mereka masuk ke dalam rumah nenek.
Tiba-tiba terdengar suara hujan lebat yang mengguyur daerah itu.
"Untung aja kita udah sampai di rumah ini, kalau enggak kita pasti akan kedinginan kayak tadi" tutur Nofan bersyukur karena tubuhnya tak di jatuhi air hujan lagi.
"Iya, untung kita ketemu sama nenek, aku tadi udah bingung banget harus kemana lagi" sahut Alica.
"Nenek terima kasih udah nolongin kita, kami gak tau harus balas kebaikan nenek dengan cara apa" ucap Nofan.
Di keadaan yang sulit ini di tolong oleh orang lain adalah paling berarti di hidup mereka berdua, karena jarang ada orang yang mau menolong orang lain yang sedang kesusahan.
"Sama-sama, nenek ikhlas kok bantu kalian" jawab nenek menyunggingkan senyum dan tak sengaja memperlihatkan satu gigi emasnya yang mengkilap.
Melihat nenek tersenyum bukannya senang mereka malah takut.
"Di luar lagi hujan, kalian menginap lah di sini, sekarang kalian ganti baju biar gak kedinginan" nenek menyerahkan baju milik cucunya pada mereka berdua.
__ADS_1
Dengan senang hati mereka mengambilnya, mereka sangat butuh baju kering hari ini, mereka tak pernah membayangkan akan terkena musibah seburuk ini.
"Baik nek" jawab mereka.
"Di sana ada dua kamar, kalian bisa tempati kamar itu untuk istirahat malam ini" tunjuk nenek pada dua kamar di paling pojok, ukurannya terbilang kecil namun cukup di tempati untuk satu orang.
Mereka mengangguk cepat, mereka langsung bergegas masuk ke dalam kamar itu untuk berganti baju sebelum makin kedinginan.
Alica menatap dirinya di cermin, baju pemberian nenek terkesan seperti baju pada zaman dulu dan jauh dari kata kekinian.
Walaupun begitu Alica harus tetap bersyukur. Di masa sulit seperti ini ia tak bisa menuntut ini itu, di tolong oleh orang baik saja sudah paling bahagia di hidupnya.
Selepas ganti baju mereka pun makan bersama dengan nenek dan cucunya.
Makanan yang di hidangkan pun begitu sederhana, namun tak mengurangi rasa lezatnya.
Alica melirik ke arah wanita berkulit sawo matang yang duduk tepat di dekatnya, ia ingin menyapa gadis itu, tapi wajah gadis itu yang dominan cuek serta dingin sehingga membuat Alica mengurungkan niatnya.
"Bilqis, dua anak ini nenek temukan di pinggir jalan, mereka tersesat, mereka akan menginap malam ini di rumah kita" ujar nenek memperkenalkan Nofan dan Alica pada Bilqis setelah selesai makan.
"Nenek harap kamu bisa berteman baik sama mereka" sambung nenek.
"Iya nek" jawab Bilqis dengan nada malas.
"Ya udah nenek tinggal ke kamar dulu, nanti kalian berdua tidurlah di kamar yang sudah nenek beritahukan tadi" suruh nenek.
Nofan dan Alica mengangguk cepat di iringi senyuman. Nenek pun bangkit dari duduk dan masuk ke dalam kamarnya.
Kini di sana tersisa mereka bertiga yang masih diam di tempat tanpa pergerakan.
Bilqis menatap mereka dengan sinis dan tajam, sedangkan yang di tatap menelan ludah pahit.
__ADS_1
"Kenapa sih kalian harus minta tolong sama nenek aku, kenapa gak cari orang lain aja" ucap Bilqis tak suka dengan keberadaan mereka berdua.
"Masalahnya gak ada orang lain lagi, hanya nenek kamu yang kami temui di sana" jawab Alica.