
Papa Herdi, Evan dan Gisel yang baru tiba di kediaman Pak Burhan, langsung menghampiri Aisyah, Rayhan dan Pak Burhan untuk mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Bu Neti.
"Pak Burhan, kami turut berduka cita atas meninggalnya istri Bapak, semoga Amal ibadahnya di terima oleh Allah SWT," ucap Papa Herdi kepada Pak Burhan yang saat ini berada di samping Aisyah dan Raihan.
"Terimakasih banyak karena Tuan sudah menyempatkan diri untuk datang ke sini. Atas nama mendiang istri saya, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Tuan dan keluarga karena istri saya telah membuat kesalahan di masalalu," ucap Pak Burhan.
"Sekarang kita adalah keluarga, sebaiknya kita lupakan masalalu dan membuka lembaran baru. Saya juga sudah tau dalang dibalik semuanya, jadi Pak Burhan jangan terus merasa bersalah," ucap Papa Herdi.
Setelah Papa Herdi menyalami Pak Burhan, Papa Herdi memeluk tubuh Aisyah dan Raihan.
"Nak, yang sabar ya, Papa tau kalau semua ini berat untuk Aisyah, tapi Papa yakin kalau Aisyah bisa melalui semua ini, karena Raihan pasti akan selalu ada untuk Aisyah."
"Terimakasih banyak ya Pa, karena Papa juga sudah berbesar hati memaafkan semua kesalahan mendiang Ibu," ucap Aisyah.
"Semua ini sudah takdir yang digariskan oleh Allah SWT, karena hikmah dari kejadian penculikan Raihan, Papa bukan hanya mendapatkan seorang Putra yang membuat Papa bangga, tapi Papa juga mendapatkan seorang Putri yang cantik dan baik hati seperti Aisyah."
"Tidak ada kata lain selain terimakasih yang bisa Aisyah ucapkan kepada Papa dan keluarga."
"Pa, bagaimana Nathan dan Nala, apa mereka tidak rewel?" tanya Raihan yang mencemaskan kedua Anaknya.
"Alhamdulillah mereka tidak rewel sama sekali Nak, jadi Aisyah dan Raihan tidak perlu mencemaskan keadaan mereka, karena di kediaman Sanjaya banyak yang menjaga Nathan dan Nala," jawab Papa Herdi sehingga membuat Aisyah dan Raihan menjadi tenang, karena mereka tidak mungkin meninggalkan Pak Burhan dalam keadaan masih berduka cita, setidaknya mereka akan pulang setelah acara tahlil ke-7 hari mendiang Bu Neti.
Gisel terlihat ragu untuk menghampiri Pak Burhan, karena Gisel takut jika Pak Burhan akan murka terhadapnya.
"Sayang, jika kamu ingin melakukan kebaikan, jangan pernah merasa ragu ya, insyaallah semuanya akan baik-baik saja, dan apa pun yang terjadi, aku akan selalu berada di sampingmu," ujar Evan dengan menggandeng tubuh Gisel untuk menghampiri Pak Burhan dan Aisyah.
"Om, kami turut berduka cita, semoga Almarhumah mendapatkan tempat terbaik di Surganya Allah SWT," ucap Evan yang di Amini oleh Pak Burhan.
__ADS_1
"Asisten Evan, terimakasih karena telah datang ke sini," ucap Aisyah.
"Iya sama-sama Nona. Nona yang sabar ya," ujar Evan.
Evan terus menggenggam erat tangan Gisel untuk memberikan support.
"Om, atas nama Mama Rita, Gisel meminta maaf, karena kesalahan yang telah Ibu kandung saya perbuat, mendiang Tante Neti harus menanggungnya," ucap Gisel.
"Nak, semuanya sudah terjadi, dan mendiang Tante kamu sudah mengikhlaskan semuanya, jadi Gisel jangan merasa bersalah ya, jadikan semua ini sebagai pelajaran untuk kita semua supaya berpikir terlebih dahulu dalam bertindak, jangan sampai kita membuat kesalahan yang akan merugikan oranglain," ujar Pak Burhan.
"Terimakasih banyak ya Om. Aisyah, maafin aku juga ya, jika aku pernah melakukan kesalahan kepada kamu, bagaimanapun juga kita masih saudara, jadi aku harap kita akan selalu saling menyayangi," ucap Gisel.
"Iya Gisel, apa pun permasalahan yang telah terjadi di antara orangtua kita, jangan sampai semua itu mempengaruhi hubungan kita, dan mulai sekarang kita harus berusaha melupakan semua kejadian di masalalu, serta membuka lembaran baru untuk saling menyayangi sebagai saudara," ucap Aisyah dengan memeluk tubuh Gisel, sehingga Gisel bisa bernapas lega.
Papa Herdi sudah menyuruh orang untuk menyelidiki semua kejahatan yang telah dilakukan oleh Mama Rita, dan Papa Herdi akan melaporkan semua itu kepada pihak berwajib.
"Gisel, maaf ya kalau Papa akan tetap melaporkan Mama kamu karena telah melakukan banyak kejahatan terhadap keluarga Sanjaya, bahkan Mama kamu juga sudah berniat untuk mencelakakan Aisyah dan Nala seandainya Pak Burhan tidak menemukan mereka," ucap Papa Herdi.
"Aku bangga sama kamu sayang," bisik Evan di telinga Gisel.
Semuanya memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu secara bergantian, karena masih banyak pelayat yang datang di kediaman Pak Burhan, apalagi Jenazah tidak boleh sampai ditinggalkan sendirian.
......................
Keesokan paginya, semuanya telah bersiap untuk mengantar Jenazah Bu Neti menuju tempat peristirahatan terakhirnya, termasuk Aisyah meskipun kondisi kesehatan Aisyah sedang tidak baik.
"Apa Aisyah yakin kalau Aisyah akan kuat mengantar Jenazah Ibu menuju tempat peristirahatan terakhirnya?" tanya Raihan yang merasa khawatir terhadap kondisi Aisyah saat ini.
__ADS_1
"Insyaallah Aisyah kuat, kan ada Kak Raihan yang akan selalu menjaga Aisyah," ucap Aisyah dengan tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu kita berangkat sekarang, yang lain sepertinya sudah berkumpul di bawah," ujar Raihan dengan menggandeng tubuh Aisyah.
Pak Burhan yang melihat Aisyah dan Raihan turun dari kamar mereka, menyuruh Aisyah dan Raihan untuk sarapan terlebih dahulu.
"Nak, sebaiknya kalian berdua sarapan dulu," ujar Pak Burhan.
"Ayah sudah sarapan belum?" tanya Aisyah yang merasa khawatir juga kepada Ayahnya, apalagi semalaman Pak Burhan tidak dapat tidur karena terus menerima tamu.
"Aisyah tidak perlu mengkhawatirkan Ayah, Ayah barusan sudah sarapan," jawab Pak Burhan.
Raihan mengambil satu piring nasi dan lauk, kemudian Raihan makan dengan menyuapi Aisyah yang saat ini bersandar pada bahu Raihan dengan memandang fhoto keluarga yang terpajang di ruang keluarga.
"Kak, Aisyah ternyata mirip Ibu ya," ucap Aisyah dengan tersenyum tipis.
"Iya sayang, Aisyah dan Ibu sama-sama cantik," ujar Raihan.
"Kak, apa nanti kita akan bertemu lagi dengan Ibu?" tanya Aisyah.
"Insyaallah sayang, semoga suatu saat nanti kita semua bisa berkumpul di Surganya Allah ya, yang penting mulai sekarang kita harus terus menabung amal kebaikan mungpung masih diberikan kesempatan," ujar Raihan yang di Amini oleh Aisyah.
Setelah semuanya selesai sarapan, akhirnya Jenazah Bu Neti di bawa menuju tempat pemakaman umum yang tidak jauh dari kediaman Pak Burhan.
Aisyah berusaha untuk tegar ketika mendengar Raihan mengumandangkan Adzan setelah Jenazah Bu Neti dimasukan ke dalam liang lahat.
Setelah selesai Adzan, Raihan naik ke atas dan kembali memeluk tubuh Aisyah yang masih terlihat rapuh, karena Raihan takut jika Aisyah kembali pingsan.
__ADS_1
Secara perlahan tanah terus mengisi liang lahat, sampai akhirnya Jenazah tidak terlihat lagi karena sudah terkubur oleh tanah.
Ya Allah ampunilah semua dosa Ibu hamba selama hidupnya, serta terimalah amal ibadahnya. Selamat jalan Ibu, terimakasih untuk semuanya, meskipun kita hanya diberikan waktu sebentar saja untuk bersama dan saling menyayangi, semoga suatu saat nanti kita akan bertemu kembali di Surganya Allah SWT, ucap Aisyah dalam hati.