Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Desa di tengah hutan


__ADS_3

Saat pertama kali menginjakkan kaki di hutan, Alica langsung memperhatikan sekelilingnya yang menyeramkan. Banyak bayangan-bayangan hitam dan putih yang berlari terbirit-birit dengan cepat.


"Serem banget" ucap Alica pelan, menundukkan pandangan, tak berani menatap hutan yang gelap itu lagi.


"Sstt, jangan berisik" tutur Nofan.


Alica pun diam, tak mengeluh dan terus membuntuti nenek dari belakang.


"Fan, nenek-nenek itu akan bawa kita kemana, kenapa dia malah bawa kita masuk ke dalam hutan segelap dan seseram ini, aku takut fan, di sini banyak hantunya" keluh Alica memegang erat lengan Nofan.


"Udah diam aja, kita percaya saja kalau nenek itu akan bisa bawa kita pulang, sekarang kita tinggal ikuti dia saja, jangan banyak komen" jawab Nofan.


Alica tak bisa apapun selain mengikuti nenek-nenek itu dari belakang walau nenek itu terkesan sinis dan misterius. Di tambah tempat ini yang membuatnya makin menyeramkan.


Mereka makin masuk ke dalam hutan, semakin lama Alica semakin merasa tak tenang, suasana hutan yang seram telah membuat bulu kuduknya bangkit.


"Fan, nenek-nenek itu sebenarnya akan bawa kita kemana, kenapa ke arah sana. Sebenarnya dia itu mau nolong kita apa gimana, kok aku makin curiga kalau sebenarnya dia malah ingin buat kita makin ke sasar" ujar Alica overthinking.


Semenjak di tipu oleh Anna, Alica menjadi sulit untuk percaya dengan orang asing yang tak di ketahui latar belakangnya.


"Udah kita ikuti aja, kamu jangan banyak ngebantah, kalau sekiranya nanti nenek-nenek itu malah makin bikin kita ke sasar atau bikin kita dalam bahaya, kita lari aja, gampang kan" sahut Nofan.


Alica geleng-geleng kepala, bukannya memecahkan masalah Nofan malah mengentengkan masalah yang terjadi.


"Tapi fan aku takut, kita balik aja napa, kita cari jalan lain, gak usah ikut nenek-nenek itu lagi" ajak Alica.

__ADS_1


Tak ada tanggapan, Nofan diam dengan kaki terus mengikuti nenek-nenek bungkuk itu dari belakang.


Alica kesal, di abaikan lebih sakit ketimbang di hina."Iih kenapa Nofan malah diem aja, sebenernya nenek-nenek itu akan bawa aku kemana, kenapa pake masuk ke dalam hutan segala, emang di hutan ini ada apaan coba" batin Alica ngumpat kesal.


Kaki mereka terus melangkah, tak terasa mereka kini sudah berada di tengah-tengah hutan.


Sepanjang perjalanan tak meluncur sepatah katapun yang keluar di bibir nenek, ia fokus berjalan tanpa tolah-toleh.


Kini kaki nenek misterius berhenti di tengah hutan, matanya menatap sebuah gapura desa yang berada tepat di depannya.


Alica dan Nofan terkejut, tak pernah merasa sangka bahwa di dalam hutan gelap dan seram ini ternyata ada sebuah desa yang jauh dari kata maju dan juga keramaian.


Dari luar terlihat jika ukuran desa itu tak besar, serta desa itu sepertinya adalah satu-satunya desa yang berada di sana.


"Ini di mana nek?" Alica memberanikan diri bertanya, baru pertama kali baginya menginjakkan kaki di tempat ini.


"Kenapa harus besok nek, kenapa gak hari ini aja" Nofan pengen segera sampai di rumah tak mau menunda-nunda waktu lagi.


"Langit sudah mendung, tanda hujan akan segera turun, kalau kalian maksa untuk pulang sekarang, kalian akan basah kuyup dan bisa-bisa jatuh sakit. Serta jarak tempuh menuju jalan keluarnya jauh dari sini, mending kalian nginap aja di rumah nenek karena cuaca yang tidak memungkinkan" jelas nenek.


Mereka berdua pun langsung melihat ke atas, dan benar saja bahwa langit mendung, dari prediksi mereka hujan akan kembali turun dan kali ini akan lebih lebat lagi.


Pekatnya awan hitam membuat mereka begidik ngeri, jika sampai hujan kembali turun, kira-kira untuk berhenti kembali harus butuh waktu cukup lama, yakni sekitar 2-3 jam.


"Beneran fan langit masih mendung" ujar Alica dengan mata fokus ke atas.

__ADS_1


"Gimana ini ca, kalau sampai hujan turun lagi kita akan teduh di mana" risau Nofan.


"Kalian tak perlu khawatir, kalian menginap lah di rumah nenek malam ini. Besok ketika matahari telah muncul nenek akan langsung anterin kalian pulang" ucap nenek memberikan solusi yang terbaik.


Alica menatap Nofan."Gimana ini fan, masa iya kita nginap di sini, ayah akan marah kalau kita gak pulang"


Alica meminta pendapat Nofan, di satu sisi suasana dan cuaca tak mendukung baginya untuk pulang ke rumah, tapi di sisi lain ia sangat takut ayahnya marah karena dia tidak pulang malam ini.


"Aku juga gak tau ca, tapi kalau menurut aku keputusan paling tempat yang bisa kita pilih di keadaan sesulit ini, ialah kita harus nginap di rumah nenek, kalau pun kita maksa buat pulang itu juga akan percuma, nenek bilang jarak tempuhnya jauh dan butuh waktu, kalau semisal di tengah jalan hujan turun gimana, kita akan neduh di mana, bisa-bisa kita akan jatuh sakit" timpal Nofan memiliki opini yang sama dengan nenek.


Alica mengerucutkan bibir, berat baginya harus tinggal di tempat ini bersama orang asing.


"Ya udah deh kita ikut nenek aja, tapi besok pagi-pagi sekali kita harus pulang ke rumah, aku gak mau ayah marah dan hukum aku karena gak pulang" pasrah Alica lantaran tak ada pilihan lain yang bisa mereka ambil.


"Iya, besok kita akan pulang pagi-pagi sekali, aku juga akan ngomong ke ayah kamu kalau kita kesasar dan terpaksa harus nginap di rumah nenek, ayah kamu juga pasti akan ngerti, dia gak akan marah kok" tutur Nofan.


Hanya anggukan yang dapat Alica berikan, tubuhnya terasa letih, matanya berat namun di paksa harus tetap terbuka.


"Ayo kalian berdua ikut nenek pulang ke rumah sebelum hujan turun" ajak nenek.


"Di mana rumah nenek, apa masih jauh dari sini?" Penasaran Alica.


Kaki Alica mulai tak sanggup untuk melangkah di tempat yang jauh lagi, energinya sudah berkurang, 1 karena tidak tidur semalaman, 2 karena belum makan, saking terburu-burunya ingin ke rumah Anna, Alica tak sempat sarapan.


"Enggak kok, rumah nenek dekat dari sini, ayo kalian ikut aja, kalian bisa tinggal di rumah nenek" timpal nenek.

__ADS_1


Mereka kembali mengikuti nenek pulang.


Di desa yang di pijak oleh Alica dan Nofan begitu asri dan nyaman, walau begitu sederhana, bentuk rumah-rumah warga terbilang kuno, per rumah di pisahkan dengan jarak yang lumayan jauh sehingga terlihat seperti orang yang lagi bermusuhan.


__ADS_2