
Malam harinya, suasana malam tak gelap, sebab obor-obor yang di buat secara manual oleh para murid telah selesai. Segala penjuru terpasang obor yang membuat kegelapan sedikit menyingkir tak ada rasa takut yang teramat sangat yang menghantui mereka.
Di malam yang sejuk, semua murid baik laki-laki maupun perempuan berkumpul di tempat biasa.
"Perhatian anak-anak" seru pak Bambang, berdiri di depan mereka.
Obrolan mereka langsung terhenti, mereka diam dan mendengar dengan seksama apa yang akan pak Bambang katakan.
"Malam ini kami ingin mengadakan kegiatan jurit malam" tutur pak Bambang.
Semua mulut murid-murid melongo, begitu pula dengan Alica.
"JURIT MALAM" tersentak kaget mereka mendengar kegiatan yang cukup ekstrim dan menguji jiwa serta batin.
"Yah jurit malam, rute sudah kami siapkan, dalam jurit malam ini setiap kelompok harus mengumpulkan bendera yang kami sembunyikan di setiap rute perjalanan. Siapapun yang berhasil mengumpulkan bendera paling banyak dia yang akan menjadi pemenangnya. Dan pemenangnya akan mendapatkan hadiah misteri dari pihak sekolah" ucap pak Bambang.
"Huuuu"
Murid-murid bersorak penasaran hadiah apa yang akan di siapkan oleh pihak sekolah.
"Sekarang kalian persiapkan diri, kalian sudah punya kelompok kan?" Memastikan pak Bambang.
"Sudah pak" jawab kompak mereka.
"Bagus, setiap kelompok hanya punya jahat 2 obor sebagai penerangan jalan, gak boleh lebih dan gak boleh curang. Kalau di temukan tindakan kecurangan pihak sekolah berhak untuk mendiskualifikasi peserta dari kegiatan ini" tegas pak Bambang biar tak ada anak yang curang.
Mereka semua diam, bukan tindakan kecurangan yang mereka takutkan tapi rute perjalanan serta tantangan yang membuat andrenalin mereka ketar-ketir.
Masuk ke dalam hutan yang gelap mereka telah ketar-ketir apalagi kini pihak sekolah mengeluarkan kegiatan yang benar-benar menguji mental.
"Semuanya sudah siap?" Pak Bambang untuk mendengar kesiapan para murid-muridnya.
"Siaaap pak" teriak murid-murid begitu semangat.
"Sekarang mulai" lantang pak Bambang berteriak dan meniupkan peluit.
Mereka semua pun langsung masuk ke dalam hutan yang gelap, di tangan mereka terdapat obor sebagai penerangan jalan mereka selama mereka mengikuti tantangan yang menyeramkan, tak hanya di tantang tentang keberanian mereka juga di tantang untuk mengumpulkan bendera sebanyak-banyaknya yang terpasang di setiap rute perjalanan.
Alica dan kelompoknya yang beranggotakan 5 orang, berjalan sambil melihat ke kanan dan kiri mencari bendera yang katanya wajib untuk mereka cari.
Dengan bantuan dua obor di tangan Alica dan satunya di tangan Susi mereka terus berjalan mencari keberadaan bendera tanpa harus berpisah.
"Mana benderanya, kenapa gak kunjung ketemu juga, bener gak sih kalau pihak sekolah nyelipin bendera di setiap rute" merasa tak yakin Jasmin.
"Pasti dong, masa boong, kita cari aja dulu, kalau memang gak ada baru kita lapor" timpal Popy, matanya terus mencari bendera yang mungkin ada di kanan kiri namun mereka kurang teliti.
Butuh pengelihatan tajam untuk menemukan bendera yang tersebar di sepanjang rute, suasana malam yang gelap membuat mereka kesulitan untuk mencarinya.
Alica fokus melihat ke kanan dan kiri, di depannya banyak anak-anak, di belakang juga sama.
__ADS_1
"Eh liat itu, itu benderanya" refleks Alica berteriak saat melihat ada sebuah bendera yang berada di dekat batu, samping pohon.
"Cepat ambil sebelum keburu di ambil orang" teriak Nadia heboh sebelum ada orang yang mengambil bendera yang begitu sulit untuk mereka temukan.
Dengan secepat mungkin Keysa berlari, lalu mengambil bendera itu dengan cekatan sebelum di ambil oleh orang lain.
"Dapat" teriak Keysa dengan bendera di tangannya.
Mereka semua gembira, begitu senang walaupun baru satu bendera yang mereka kantongi.
"Tuh kan ada benderanya, kita cuman kurang teliti aja, secara gak mungkin kalau bendera yang di suruh cari di letakkan di tempat yang gampang di jangkau, pasti para guru maupun kakak-kakak OSIS menyelipkan bendera itu di tempat yang sulit" ujar Alica.
Nadia mengangguk."Iya, kita harus cari sebanyak-banyaknya bendera itu biar kita bisa jadi pemenangnya"
Niat mereka untuk menjadi sang pemenang begitu tinggi, mereka bersedia kalau bersaing dengan semua murid di sekolah.
"Ayo kita lanjut jangan lagi, kita harus cari bendera sebanyak mungkin biar kita jadi pemenangnya, ingat kita gak boleh kalah sama yang lain, kita harus bisa menang" ambisius Susi.
Serempak mereka mengangguk, kobaran semangat pun menyatu. Jiwa semangat dan penuh kegigihan melekat di diri mereka berlima.
Dengan pasti kaki mereka kembali melangkah, bola mata mereka mencari bendera di setiap penjuru tempat.
Banyaknya anak-anak yang berlomba mencari bendera untuk memenangkan kompetisi ini membuat mereka tak merasa takut walau mereka berada di tengah gelapnya hutan. Obor menjadi satu-satunya penerang jalan mereka.
Mereka berlima terus mengumpulkan bendera, sudah lumayan banyak bendera yang mereka kumpulkan dengan susah payah.
"Udah banyak nih, tapi kayaknya ini masih kurang, liat tuh kelompok sebelah banyak banget bendera yang udah mereka dapat. Kayaknya semua bendera di borong sama mereka" iri Nadia pada kelompok sebelah yang mengantongi bendera lebih besar dari pada kelompoknya.
"Kalian jangan patah semangat dong, perjalanan kita masih panjang loh, waktu belum berakhir, jangan menyerah dulu, perjuangan kita belum usai" Alica mencoba memberi semangat agar mereka tak menyerah hanya karena perbedaan jumlah bendera yang mereka peroleh jauh dengan kelompok sebelah
Wajah mereka tetap manyun, keinginan memenangkan kompetisi harus di urungkan melihat jumlah bendera yang gak sebanding dan lalu jauh dari sebelah.
"Kita masih punya waktu, kita gunakan waktu yang gak seberapa ini buat nyari bendera lagi, kita harus temukan bendera yang mungkin ngumpet dan gak di sadari oleh anak-anak" ucap Alica.
"Tapi ca sebentar lagi kita akan sampai finis, bendera kita cuman dikit, kita akan kalah" tak semangat lagi Nadia dalam mengumpulkan bendera.
Rasa semangat Nadia telah menurun draktis, dia tadi yang paling bersemangat, tapi sekarang dia kehilangan 180 derajat semangatnya.
"Hei kalian jangan sedih dong, kalah menang dalam sebuah perlombaan itu hal yang wajar, yang penting kita udah berusaha, kita juga sudah melakukan yang terbaik, hasilnya itu yang kita dapatkan" timpal Alica tak ingin semangat kawan-kawannya hancur.
Helaan nafas berat yang terdengar, wajah masam mereka tak dapat di sembunyikan.
Alica mencoba mencari cara agar teman-temannya bisa kembali semangat.
Mata Alica salfok lada seorang pria, bibir ranum, kulit putih, memiliki mata biru, rambut hitam, berdiri di samping pohon sembari tersenyum.
"Papa" batin Alica tersenyum meliaht papanya di tengah-tengah kegiatan yang di selenggarakan oleh sekolahan.
Pangeran William menghampiri Alica, ia ikut berjalan bersama Alica. Alica merasa tenang saat papanya ada di sampingnya, ia tak khawatir karena mereka jelas tak akan dapat melihat kalau di tengah-tengah mereka ada pangeran William, si raja jin.
__ADS_1
"Alica, di dalam sana ada tiga bendera, kamu ambilah" tunjuk pangeran William pada sebuah tumpukkan dedaunan kering, letaknya berada di dekat pohon besar.
Alica langsung menatap tumpukan daun yang memang terlihat mencurigakan, tapi hebatnya orang-orang melewatinya, mereka tak menaruh kecurigaan sama sekali.
"Eh gais tunggu bentar" cegat Alica.
Seketika langkah mereka terhenti, menatap Alica terkejut.
"Kenapa ca, kok berhenti di sini?" Jiwa penasaran Keysa meronta-ronta.
Tangan Alica menunjuk ke sebuah tumpukkan dedaunan kering."Liat, tumpukan daun-daun yang menggunung itu mencurigakan bukan?"
Mereka melihat ke sana, serempak kepala mereka mengangguk.
"Aku ramal di dalam tumpukan daun-daun itu ada bendera" ramal Alica.
Mereka berseru, ada yang membantah ada pula yang mendukung.
"Masa iya di sana ada bendera, gak mungkin sih" serasa tak percaya Popy.
Bendera-bendera yang mereka peroleh rata-rata mereka temukan tergantung di atas pohon atau tertancap di pepohonan.
"Bisa jadi, kita gak ada yang tau bendera-bendera yang tersebar luas di hutan ini di tarok di mana aja" sependapat Jasmin dengan Alica.
Bisa jadi bendera bersembunyi di tempat yang mencurigakan.
"Ah gak mungkin, gak mungkin di sana ada bener, udah kita lanjut pulang aja, kita gak akan menang kok, pasti kelompok sebelah yang memang, jumlah bendera yang kita dapatkan juga jauh berbeda dengan mereka. Kita pasrah aja" ajak Popy tak punya semangat lagi.
"Tapi lebih baik kita periksa aja dulu, kalau gak ada kita tinggal lanjut jalan" usul Susi.
"Ayo siapa takut, aku berani jamin kalau gak ada apa-apa di sana" Popy berkeyakinan penuh dengan pendiriannya.
"Oke" sahut Alica menerima tantangan Popy.
Mereka pun setuju, mereka mendekati tumpukan daun-daun kering yang menggunung.
Dengan brutal Jasmin menendang daun-daun itu dan membuatnya berserakan.
"Astoge" kaget Jasmin, saking kagetnya mulutnya sampai terbuka lebar, matanya membulat sempurna.
"Ya ampun bendera, ternyata di dalam daun-daun ini ada bendera" terkejut Popy mengambil tiga bendera yang ada di bawah daun-daun kering.
"Untung aja kita gak lewatin, kalau enggak kita akan kehilangan tiga bendera, malah banyak lagi bendera yang ada di dalam daun-daun ini" ujar Keysa.
"Tuh kan apa aku bilang kalau di dalam daun-daun ini ada bendera, sekarang tau kan siapa yang menang" Alica bangga dengan dirinya sendiri, bantuan gaib memang benar-benar akurat dan mudah.
"Iya deh, aku ngaku aku kalah" jawab Popy pasrah.
"Kita jangan remehkan lagi tempat-tempat kayak gini, ayo buruan kita jalan lagi, kita harus lebih teliti lagi, aku yakin masih ada banyak bendera yang tersembunyi di sepanjang jalan" ajak Alica senang karena di dalam daun-daun kering itu beneran ada bendera bukan zonk.
__ADS_1
Mereka pun mengangguk, dengan senyum yang sesekali terukir mereka terus melangkah maju ke depan mengikuti kelompok-kelompok lain yang tadi berada di belakang mereka kini menyalip mereka.