
Pak Anton dengan cepat langsung pulang ke rumahnya lagi, dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, dia khawatir ada apa-apa sama Viera dan juga anaknya, ia takut sekali di antara mereka tidak tertolong kalau sampai dia letak bawa Viera ke rumah sakit.
Di tengah perjalanan tiba-tiba hp pak Anton berbunyi, dengan keadaan masih fokus menyetir pak Anton mengangkat panggilan itu.
"Anton kamu pergi kemana, kenapa karyawan mu bilang kalau kamu pergi secara tiba-tiba, ada masalah apa sama kamu!" penasaran Karan sebab ada karyawan yang melapor jika pak Anton pergi tanpa aba-aba.
"Viera akan melahirkan, dia lagi kontraksi di rumah, aku terpaksa pulang karena harus bawa dia ke rumah sakit"
"Viera akan segera lahiran!" Karan kaget, prediksi dokter memang bulan ini Viera akan melahirkan.
"Karan aku tutup dulu, aku mau bawa Viera ke rumah sakit, aku gak bisa bicara panjang lebar, aku mohon urus restoran aku"
"Iya, aku yang akan handle"
Pak Anton langsung mematikan sambungan, ia ingin fokus mengemudikan kendaraannya karena tidak mau ada kejadian buruk yang menimpanya.
Setibanya di sana pak Anton langsung berlari masuk ke dalam kamar Viera.
"Viera" kaget pak Anton yang melihat banyak darah yang mengalir di kaki Viera, terlihat juga wajah Viera yang kesakitan.
"Aaauw sakit pak, tolong saya" rintih Viera dengan memegangi perutnya yang kesakitan.
"Ayo kita ke rumah sakit, kamu harus di bawa ke sana"
Pak Anton menggendong tubuh Viera dan membawanya masuk ke dalam mobilnya, pak Anton dengan kecepatan tinggi melajukan mobil menuju rumah sakit yang letaknya ada di kota.
Perjalanan ke sana memakan waktu seenggaknya 30 menit atau 1 jam.
"Lebih cepat lagi pak, saya sudah gak tahan lagi, sakiiiit" teriak Viera yang kesakitan.
"Kamu yang sabar Viera, kita pasti akan segera sampai di sana"
__ADS_1
Viera masih tidak bisa diam, ia terus berteriak-teriak kesakitan, pangeran William semakin gelisah, ia sebisa mungkin memberikan semangat pada istrinya yang menahan sakitnya kontraksi.
Pak Anton ikutan panik dan tegang, walaupun begitu ia harus tetap fokus menyetir mobil, ia dengan kecepatan tinggi membawa mobil itu keluar dari desanya dan masih harus melewati puluhan desa untuk sampai di kota.
"Pak Anton saya sudah gak tahan lagi, sakit pak, saya mohon lebih cepat lagi hiks hiks hiks" tangis Viera yang tak betah menahan rasa sakit itu.
"Kamu yang sabar Viera, tahan sedikit lagi, sebentar lagi kita akan segera sampai di sana" pak Anton menenangkan Viera, ia semakin menambah kecepatan agar segera sampai di rumah sakit.
Viera menangis kejer di dalam mobil, rasanya nyawanya seperti akan melayang karena sudah tak tahan dengan rasa sakit itu.
Pak Anton dengan panik, tegang dan cemas terus membawa mobil itu ke rumah sakit.
Setelah 1 jam akhirnya mobil sampai di depan rumah sakit besar bernama rumah sakit Medika, pak Anton dengan tergesa-gesa keluar dari dalam mobil.
"Suster tolong kami, cepaaaat!" terima pak Anton.
Suster-suster di sana langsung berlari mendekati pak Anton, mereka membawa Viera ke ruangan gawat darurat.
Pak Anton dengan gelisah menunggu di luar, ia terus berdoa semoga Viera melahirkan dengan lancar dan selamat.
Pak Anton tak henti-hentinya berdoa meminta kelancaran untuk proses melahirkan Viera.
Di dalam Viera seperti orang yang akan di cabut nyawanya, ia berusaha melahirkan anak itu dengan susah payah, sakitnya nauzubillah.
"Sakit dok, tolong saya dok, saya sudah tidak tahan lagi dok" teriak Viera yang perutnya seperti di tusuk-tusuk.
"Ayo bu, ibu pasti bisa, ibu harus semangat!" dokter itu terus memberikan semangat pada Viera agar Viera tidak patah semangat.
Viera berusaha mengeluarkan anaknya, ia menahan rasa sakit yang luar biasa, baru kali ini merasakan rasa sakit seperti di patahkan seluruh tulang-tulang yang ada di dalam tubuhnya.
Pangeran William yang melihat Viera kesakitan seperti itu sangat tak tega, ingin rasanya dia meminta pada sang ilahi agar semua rasa sakit yang Viera alami di limpahkan padanya, ia rela menanggung itu semua yang penting Viera tidak merasakan sakit.
__ADS_1
Viera terus menangis, ia tak sanggup rasanya untuk melahirkan anak itu, ia menatap ke arah pangeran William yang terus menerus memberikan semangat padanya.
Viera membulatkad tekad untuk yakin kalau dia bisa melahirkan anak itu dengan selamat, ia rela merasakan sakit yang luar biasa agar malaikat kecil yang ada di dalam perutnya lahir.
"Ayo bu, terus bu!" teriak dokter itu yang membantu persalinan Viera dengan sangat sabar.
Viera mencoba sekali lagi, rasanya tulang-tulang di patahkan serentak ketika bayi itu akan segera keluar.
Suara tangisan bayi terdengar seisi ruangan, pak Anton yang mendengar suara bayi yang menangis tersenyum senang, segala ketakutannya langsung buyar.
"Alhamdulillah akhirnya anak Viera lahir juga" wajah pak Anton di hiasi senyuman, walaupun dia bukan siapa-siapa Viera, dia merasa sangat gembira, dia tau seperti apa perjuangan Viera ketika mengandung anak itu.
Viera terkulai lemas, setelah sekian lama dia berusaha akhirnya dia sampai ke garis finis juga, rasa sakit itu memang sangat-sangat luar biasa, meskipun rasa sakit itu seperti akan membunuhnya Viera merasa lega karena bisa melahirkan anak itu dengan penuh perjuangan, tak heran kalau surga berada di kaki ibu.
Pintu ruangan UGD terbuka, pak Anton langsung mendekati suster yang menggendong bayi mungil yang masih belum di bersihkan.
"Suster, apa ini anaknya Viera?" dengan tak percaya pak Anton menatap ke arah bayi mungil yang suster itu gendong.
"Benar pak, ini anak pasien bernama Viera, anaknya cantik dan sempurna" puji suster itu.
Pak Anton tersenyum senang menatap bayi itu."Suster bolehkan saya menemui Viera, saya ingin melihat keadaannya?"
"Pasien masih ada di dalam, tidak boleh ada orang yang masuk ke dalam kecuali petugas, tapi habis ini pasien akan di pindahkan ke ruangan perawatan, bapak tunggu saja sebentar"
"Baik sus, saya akan tunggu"
"Saya pergi dulu, saya ingin membersihkan bayi ini dulu"
Pak Anton mengangguk senang, suster itu pergi membawa anak Viera, pak Anton sungguh senang meskipun yang lahir bukan anaknya.
"Syukurlah anak itu lahir juga, semoga saja setelah dia lahir keadaan Viera akan kembali seperti dulu lagi" harapan pak Anton.
__ADS_1
Pak Anton masih diam di tempat, dia menungggu suster mengeluarkan Viera dari dalam ruangan UGD.
Pak Anton tak sadar kalau pangeran William berjalan mengikuti suster yang akan membawa kemana anak itu pergi, dia akan menjaga anaknya dengan baik, sedikit saja tidak akan dia biarkan ada orang yang melukainya.