Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Bab 78 ( Donor Darah )


__ADS_3

Saat ini Aisyah dan semuanya telah sampai di Puskesmas, dan Ratna segera di bawa ke ruang bersalin oleh Bidan Azizah yang kebetulan sedang berjaga.


"Ibu takut Ratna sampai kenapa-napa Nak, apalagi tadi Ratna sudah pendarahan," ujar Bu Ima dengan menangis.


"Ibu yang sabar ya, sekarang kita harus terus berdo'a, semoga Ratna baik-baik saja," ujar Aisyah dengan memeluk tubuh Bu Ima supaya merasa lebih tenang.


Arif, dan juga keluarganya langsung menuju Puskesmas setelah Raihan menelponnya, dan Arif yang baru sampai bergegas menghampiri Bu Ima yang saat ini masih terlihat berpelukan dengan Aisyah.


"Bu, bagaimana keadaan Ratna?" tanya Arif.


"Ratna tadi mengalami pendarahan Nak, semoga saja Ratna dan bayinya selamat."


"Semoga saja Bu. Ibu tenang dulu ya, sekarang fasilitas kesehatan di sini sudah komplit, jadi tidak ada yang perlu Ibu khawatirkan, bukan hanya Kak Azizah saja yang membantu persalinan Ratna, tapi sekarang sudah ada Dokter kandungan yang membantu si sini. Jadi, Ratna dan Anak kami pasti akan selamat," ujar Arif yang berusaha untuk menenangkan diri sendiri supaya Bu Ima juga merasa lebih tenang.


Sesaat kemudian Bidan Azizah ke luar dari ruang tindakan.


"Kak, bagaimana keadaan Ratna dan bayi kami?" tanya Arif.


"Alhamdulillah bayi kalian sudah lahir dengan selamat dan sehat dengan berjenis kelamin laki-laki," jawab Bidan Azizah.


"Alhamdulillah," ucap Arif dan semuanya yang merasa bahagia atas kelahiran bayi Ratna.


"Tapi Dokter bilang keadaan Ratna saat ini kritis karena mengalami pendarahan, dan Ratna membutuhkan dua kantung transfusi darah, dan saat ini stok golongan darah A sedang kosong. Jika harus menunggu untuk mengambil ke PMI membutuhkan waktu lama, dan Dokter takut jika nyawa Ratna tidak dapat diselamatkan." jawab Bidan Azizah yang terlihat panik.


"Kalau begitu ambil darah saya saja, kebetulan golongan darah saya A," ujar Aisyah.


"Tapi dari mana kita akan mendapatkan satu labu lagi?" gumam Bidan Azizah.


"Saya bisa mendonorkan darah untuk Ratna, karena saya Ayah kandung Ratna, dan golongan darah kami juga sama," ujar Pak Burhan yang baru selesai mengurus administrasi Ratna.


"Alhamdulillah, kalau seperti itu, mari Bapak dan Aisyah ikut saya untuk melakukan pengambilan darah, karena waktu kita tidak banyak," ujar Bidan Azizah.

__ADS_1


"Bu, apa Ayah perlu mendampingi Ibu?" tanya Raihan kepada Aisyah yang akan pergi menuju ruang transfusi.


"Ayah tunggu saja di sini, Ibu juga masuk ke dalam sama Ayah Burhan," jawab Aisyah.


Arif dan keluarganya yang mendengar Aisyah memanggil Ayah juga kepada Ayah kandung Ratna kini bertanya-tanya.


"Han, kenapa Aisyah memanggil Ayah juga kepada Ayah kandung Ratna?" tanya Arif.


"Karena Aisyah dan Ratna adalah saudara satu Ayah dan kami baru mengetahui semuanya ketika menjenguk mendiang Ibunya Aisyah yang sedang sakit, bahkan Pak Burhan yang dulu menyelamatkan Aisyah saat gempa dan Tsunami di Desa Nelayan ini, padahal saat itu beliau belum mengetahui jika Aisyah adalah Anak kandungnya.


"Subhanallah, ternyata Dunia ini sempit sekali ya, pantas saja Ratna dan Aisyah begitu mirip," ujar Arif.


"Iya Rif, aku juga tidak pernah mengira tentang semua itu. Semoga saja Ratna bisa segera menerima Aisyah dan Ayah Burhan sebagai keluarga, karena tadi juga Ratna habis-habisan menolak Aisyah dan Ayah Burhan," ujar Raihan.


"Atas nama Ratna, aku minta maaf yang sebesar-besarnya ya Han, nanti aku akan mencoba memberi pengertian kepada Ratna," ujar Arif.


Setelah melakukan transfusi darah, Aisyah dan Pak Burhan bergandengan tangan untuk ke luar dari ruang transfusi karena mereka berdua merasa lemas dan pusing.


"Sayang ini diminum supaya tidak pusing. Ini juga untuk Ayah," ujar Raihan dengan memberikan Teh manis kotak kepada Aisyah dan Pak Burhan.


"Terimakasih sayang," ucap Aisyah kepada Raihan dengan menyandarkan kepalanya di bahu Raihan.


"Terimakasih ya Nak, sekarang Ayah sudah tidak merasa lemas lagi," ujar Pak Burhan setelah meminum teh manis pemberian Raihan.


"Sebaiknya Ayah istirahat di dalam kamar pasien yang kosong saja, biar Raihan minta sama perawat untuk menyediakannya."


"Tidak usah Nak, sekarang Ayah sudah lebih baik, nanti kalau ngantuk, Ayah bisa istirahat di dalam mobil saja," ujar Pak Burhan.


"Sayang, apa Ibu mau Ayah pesankan kamar juga?" tanya Raihan kepada Aisyah.


"Tidak Yah, Ibu kan punya bahu Ayah untuk tempat bersandar, dan ini lebih nyaman dibandingkan dengan apa pun juga," jawab Aisyah dengan tersenyum.

__ADS_1


......................


Arif di ajak oleh Bidan Azizah ke ruang bayi untuk mengadzani bayinya yang baru lahir, dan Bu Ima yang juga ikut bersama Arif dan Bidan Azizah merasa bahagia dengan kelahiran Cucu pertamanya, meski pun saat ini Bu Ima masih mencemaskan kondisi Ratna yang masih belum sadarkan diri juga.


Beberapa jam kemudian, Ratna yang sudah mendapatkan transfusi darah, secara perlahan mulai membuka matanya, karena Ratna sudah berhasil melewati masa kritisnya.


Saat ini semuanya sudah berkumpul di kamar perawatan Ratna untuk menunggu Ratna sadar.


"Alhamdulillah, akhirnya Ratna sadar juga, kami semua sudah merasa cemas sama Ratna karena tadi kondisi Ratna kritis," ucap Bu Ima dengan memeluk tubuh Ratna.


Ratna yang melihat Aisyah dan Pak Burhan berada di sana kembali merasa geram.


"Kenapa kalian berdua masih berada di sini? semua ini karena perbuatan kalian, makanya aku sampai mengalami pendarahan. Bu usir Aisyah dan lelaki yang sudah mengaku-ngaku sebagai Ayah Ratna, karena mereka bukan keluarga Ratna, jadi mereka tidak berhak ada di sini," teriak Ratna.


"Istighfar Nak, Ratna tidak boleh berkata seperti itu, karena mereka yang sudah berjasa menyelamatkan nyawa Ratna," ujar Bu Ima.


"Apa maksud Ibu? mereka tidak mungkin menyelamatkan nyawa Ratna, dan kita sebaiknya mengembalikan uang mereka, karena Ratna tidak butuh uang dari orang-orang yang tidak punya hati."


Raihan yang sudah merasa tidak tahan dengan semua perkataan Ratna, akhirnya angkat suara juga.


"Lalu apa kamu bisa mengembalikan darah yang sudah Aisyah dan Ayah Burhan berikan kepada kamu Ratna?" tanya Raihan dengan lantang, dan Ratna begitu terkejut mendengar perkataan Raihan.


"Sayang, sebaiknya kita sekarang pergi dari sini, percuma kita peduli terhadap orang yang keras hati sehingga tidak pernah mengingat dan melihat kebaikan yang telah orang lain berikan kepadanya," sambung Raihan dengan menggandeng Aisyah dan Pak Burhan untuk ke luar dari kamar perawatan Ratna.


"A_apa maksud perkataan Mas Raihan Bu?" tanya Ratna dengan tergagap.


"Iya Nak, tadi saat Ratna membutuhkan donor darah, Aisyah dan Ayah Ratna yang sudah mendonorkan darah untuk Ratna, karena stok darah di sini sedang kosong, sedangkan jika mengambil dari PMI akan lama, dan Dokter takut jika nyawa Ratna tidak tertolong lagi."


"Tidak mungkin, tidak mungkin mereka mendonorkan darah untuk Ratna, padahal Ratna sudah jahat kepada Aisyah dan Ayah. Aisyah, Ayah, tunggu, jangan pergi, maafkan Ratna, karena sudah melakukan banyak kesalahan kepada kalian," teriak Ratna ketika Aisyah dan Pak Burhan hendak ke luar dari kamar perawatan Ratna.


Aisyah dan Pak Burhan yang mendengar teriakan Ratna akhirnya menghentikan langkah mereka, kemudian Pak Burhan dan Aisyah melangkahkan kaki untuk menghampiri Ratna, dan mereka bertiga langsung berpelukan dengan menangis bahagia.

__ADS_1


Semua yang berada di dalam kamar perawatan Ratna merasa terharu sampai-sampai meneteskan airmata, karena akhirnya Ratna menyadari kesalahannya serta menerima Aisyah dan Pak Burhan sebagai keluarganya.


__ADS_2