
Pak Anton mendatangi kamar perawatan Viera,, ia ingin menemui Viera untuk memberikan ucapan selamat karena hari ini Viera resmi menjadi seorang ibu.
Krieet
Pintu ruangan itu terbuka, Viera yang lemas dan tak bertenaga menatap ke arah pak Anton yang masuk ke dalam kamarnya dengan senyum sumringah.
"Selamat Viera kamu sekarang sudah menjadi ibu, anak kamu perempuan, dia caaantik dan lucu" dengan gembira pak Anton memberikan ucapan selamat untuk Viera.
Bibir pucat Viera melukis senyum, wajahnya semakin lama semakin pucat pasi, tubuhnya kehilangan energi yang begitu besar sehingga rasa lemas terus menghampiri Viera.
"Terima kasih pak, kalau bukan karena bapak saya pasti tidak akan bisa melahirkan anak itu" Viera beruntung bisa bertemu dengan pak Anton yang kebaikannya luar biasa meskipun banyak orang-orang bilang kalau pak Anton cuek dan dingin.
"Sama-sama, saya itu senang bantu kamu, kamu tidak usah merasa sungkan, anggap saya kakak kamu, kita saudara"
Viera tersenyum bahagia, dia yang merupakan anak tunggal memang menginginkan seorang kakak sejak dulu dan pak Anton adalah kakak yang baik untuknya.
"Permisi"
Panggilan itu membuat pandangan mereka beralih menatap ke arah suster yang masuk ke dalam kamar ini.
"Suster di mana bayi Viera, kenapa gak di bawa kemari, kami ingin bertemu dengannya" pak Anton sudah tak sabar ingin menggendong bayi mungil itu.
"Bayi pasien masih di bersihkan, saya datang kemari ingin bertemu dengan suami pasien, apakah suami pasien ada di sini?"
Keheningan langsung terjadi, walaupun pangeran William ada di sini tapi tak mungkin mereka bilang, percuma mereka bilang pada suster itu karena suster tidak akan bisa melihatnya.
"Apakah suami pasien ada?" sekali lagi suster itu bertanya dengan menatap ke arah mereka bergantian, sebab mereka masih diam tanpa ekspresi.
"S-suami pasien ada di luar kota sus, suaminya tidak ada di sini, emangnya ada apa suster, semuanya baik-baik saja bukan?" pak Anton merasa ada sesuatu yang terjadi, ia menatap bergantian ke arah suster yang cemas dan Viera yang semakin pucat.
"Dokter ingin bicara empat mata dengan keluarga pasien mengenai hal ini tapi maaf saya tidak bisa bilang di sini, apakah keluarganya ada di sini?"
"Saya kakaknya"
"Kalau seperti itu ikutlah bersama saya pak, ada sesuatu yang ingin dokter bicarakan"
"Baik"
Pak Anton menatap ke arah Viera."Saya mau pergi dulu sebentar, kamu tetaplah di sini, saya tidak akan lama"
__ADS_1
"Pergilah pak, saya akan tetap berada di sini"
Pak Anton mengangguk, ia berjalan keluar mengikuti suster, suster itu membawa pak Anton ke ruangan dokter.
Dokter langsung menatap pak Anton yang masuk ke dalam ruangannya.
"Apakah anda suami pasien bernama Viera?" dokter itu memastikan apakah pria berjas hitam di depannya ini adalah suami Viera.
"Saya kakaknya dok, suaminya tidak ada di sini, katakan apa yang terjadi pada pasien, dia baik-baik saja kan, tidak ada masalah dengan anaknya bukan, semuanya aman kan dok?" pak Anton dengan bertubi-tubi langsung menanyakan hal itu agar hatinya bisa lega.
"Duduklah dulu"
Pak Anton duduk, ia semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi sehingga dokter memanggilnya kemari.
"Ada apa dengan adik dan keponakan saya dok, semuanya baik-baik saja bukan?" sekali lagi pak Anton bertanya pada dokter bernama Jeff yang tengah memegang kertas putih.
"Tidak ada masalah dengan anak pasien, semuanya aman, tapi tidak dengan ibunya"
Pak Anton langsung terkejut, ia kaget dengan penuturan dokter, ia bertanya-tanya apa yang di maksud oleh dokter itu.
"Maksud dokter apa, adik saya baik-baik saja bukan, tidak ada yang terjadi padanya kan?" wajah pak Anton panik, ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Viera.
"Dokter, kenapa dokter diam saja, katakan ada apa yang terjadi pada adik saya, cepat katakan saya ingin tau!" mulai kesal pak Anton sebab dokter itu tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Pasien pendarahan, kami tidak bisa menyelamatkannya"
Jantung pak Anton langsung berhenti berdetak, ekspresi wajahnya langsung berubah setelah tau apa yang menyebabkan dia di panggil kemari.
"A-apakah pasien bisa sembuh?"
Dokter itu menggeleng."Kami sudah melakukan segala macam cara namun darah tak berhenti mengalir, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena kali ini kami tidak bisa menolong pasien"
Dada pak Anton langsung terasa sesak, walaupun Viera bukan siapa-siapanya, tapi dia prihatin pada bagi mungil itu jika sampai terjadi sesuatu pada Viera yang merupakan ibunya.
"Apa ibunya sudah tau?"
"Pasien sudah tau, kami sudah memberi tahunya"
Pak Anton diam seribu bahasa, ia tidak tau harus melakukan apa jika pihak kedokteran saja menyerah.
__ADS_1
Dokter melihat pak Anton pasti berat mendengar berita ini.
"Bapak yang sabar, berdoalah semoga ada keajaiban"
Pak Anton mengangguk, ia dengan tanpa ekspresi keluar dari ruangan itu, ia berjalan ke kamar perawatan Viera, pikirannya terus terngiang-ngiang dengan ucapan dokter.
"Pasien pendarahan, kami tidak bisa menyelamatkannya" kalimat itu terus berputar-putar di benak pak Anton.
Pak Anton yang tadinya senang dan gembira karena akan ada malaikat kecil di hidupnya, tapi semuanya harus kandas saat mendengar berita buruk yang menimpa Viera.
"Pak" panggil suster yang mengejar pak Anton dari belakang.
Pak Anton langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap suster itu.
"Ini pak bayinya, dia sudah selesai di mandikan, bapak bisa menggendongnya" suster itu memberikan bayi Viera pada pak Anton, dia berpikir kalau pak Anton adalah suami Viera.
"Terima kasih" suster itu membalas dengan senyuman, kemudian pergi dari sana.
Pak Anton menggendong bayi mungil itu, ia membawanya ke kamar Viera.
Krieet
Viera menyambut kedatangan pak Anton dengan senyuman, ia menatap wajah pak Anton yang datar.
Pak Anton berjalan mendekati Viera dengan menggendong bayi mungil itu.
"Ini anak mu, dia sangat cantik"
Viera yang lemah mengambil anak itu, ia menatapnya dengan menahan tangisan, ia membelai lembut wajah putrinya, untuk pertama kalinya Viera mencium wajah anaknya setelah 9 bulan dia berjuang.
"Assalamualaikum sayang, ini bunda, kamu baik-baik di sini ya, kamu harus jadi anak yang baik, kamu jangan nakal"
Bayi mungil itu diam, matanya masih terpejam kuat.
Viera menciumi wajah anaknya dengan bertubi-tubi, ia menahan air matanya, ia menatap ke arah pak Anton yang diam dengan wajah datar.
"Viera anak itu butuh kamu, kamu harus bertahan, dia butuh kehadiran kamu, kasih sayang kamu dan semua perhatian kamu, kamu harus bisa bertahan demi anak itu!" mohon pak Anton.
Viera membalas dengan senyuman."Maaf pak, saya gak bisa, saya gak bisa bertahan lagi, umur saya udah gak lama lagi"
__ADS_1