
"Pantesan aja Nofan bersikeras buat laporin masalah ini ke jalur hukum, ternyata dia ngelakuin ini bukan buat aku tapi buat Inayah" batin Alica kini paham tujuan Nofan.
Kasus yang menimpa Inayah, 1 tahun yang lalu telah menggegerkan sekolah.
Inayah seorang gadis polos, bermata coklat, hidung kecil dan cantik, namun kalah dalam ekonomi itu harus menelan pil pahit saat dirinya di jadikan sebagai bahan lawakan dan hinaan orang-orang yang memiliki status sosial lebih tinggi.
Karena perilaku orang-orang yang seenaknya telah membuat Inayah gelap mata, ia yang frustasi melakukan aksi bunuh diri dengan cara melompat dari atas atap sekolah yang kebetulan pada waktu itu sedang pembangunan ruang kelas baru, bertepatan pembangunan di lantai 7.
Insiden itu tersebar luas seisi sekolah, tak dapat di pungkiri kalau berita itu membuat dewan guru ketar-ketir, semua orang tau semua berita miring itu. Tapi sayangnya berita kematian Inayah tak di usut tuntas dan di biarkan menggantung hingga sampai detik ini.
Pelaku pembunuh Inayah telah ketemu, namun karena latar belakang sosial keluarga mereka yang tinggi, sekolahan menjadi diam saja. Orang-orang dalam bilang kalau pihak sekolah bisa tutup mulut karena di sogok dengan nominal yang yang cukup besar.
Harapan terakhir Inayah adalah Nofan, dan tepat pada hari ini Nofan telah mengungkap siapa saja orang-orang yang meresahkan orang lain selama ini. Kini mereka terjerat kasus hukum yang berkepanjangan karena menyangkut nyawa.
Alica terus melangkah tanpa arah bersama sahabatnya, ia masih ingat betul dengan kasus Inayah yang telah mampu membuat para guru panas dingin.
Di koridor banyak sekali orang-orang yang singgah di sana, untuk ngobrol atau hal lain.
Saat melintasi mereka, lirikan tajam dan tak suka masih saja dapat mereka lihat.
Dalam waktu yang begitu dekat pandangan orang-orang pada mereka berdua benar-benar berubah, tatapan tak suka masih saja ada di sepanjang jalan.
Sebagian besar orang belum tau siapa yang bersalah dalam isu yang berkembang luas di sekolahan ini. Yang tau hanya dapat di hitung menggunakan jari, cepat atau lambat mereka juga akan tau kebenarannya.
"Fan kita kemana ini?" Alica mengajukan pertanyaan, kakinya terus saja melangkah, tapi lama kelamaan lelah sebab tak ada tujuan yang bisa mereka datangi.
"Gak tau, udah jalan aja" jawab Nofan tak mood untuk berbicara panjang lebar.
Alica mengangguk patuh, mereka terus berjalan tanpa arah, sebab benar-benar tak ada tujuan.
Tiba-tiba mereka di buat aneh dengan murid-murid yang berlarian ke arah yang sama.
"Mau kemana mereka, kenapa mereka ke sana semua" mengerutkan kening Alica.
Melihat semua orang panik dan berlarian seperti ada bahaya membuat Alica bertanda tanya ada masalah apa yang terjadi.
"Entahlah, ayo kita ke sana juga, kita cari tau ada apa di sana, aku rasa ada sesuatu sehingga bikin mereka kayak gitu" ajak Nofan berkeyakinan penuh.
Mereka yang penasaran lantas berlari mengikuti kemana semua orang akan pergi.
Kaki mereka terhenti di lapangan luas, semua murid baik siswa maupun siswi berkumpul di sana. Lapangan pun full dengan manusia, dari balkon mereka terlihat seperti semut-semut kecil saking banyaknya.
Nofan dan Alica kebingungan mengapa semua orang berkumpul di sana.
"Ada apa ini fan, kenapa semua orang kumpul di sini?" Tanya Alica menatap kanan dan kiri yang penuh dengan manusia.
"Mana aku tau, aku bukan ketua OSIS lagi, aku gak tau apapun lagi, kamu jangan nanya aku" timpal Nofan.
Alica berdecak kesal saat Nofan tak lagi bisa di andalkan.
Kebisingan terjadi di sana, tak hanya Alica banyak para siswi baik siswa yang juga sama-sama bingung ada apa ini semua sehingga semua orang berkumpul di sana.
Di tengah kebingungan para siswa dan siswi, tiba-tiba segala kebisingan terhenti sebab para dewan guru berdiri di depan mereka semua.
Guru-guru baik perempuan maupun laki-laki berjejer rapih di depan lapangan.
"Perhatian semuanya, saya selaku kepala sekolah membuat klarifikasi tentang isu yang menyeret nama ketua OSIS, yakni Nofan Algaza. Hari ini kami umumkan kalau dia tidak bersalah, dia hanya di fitnah oleh anak berinisial A. Untuk itu tolong berhenti menghujat Nofan karena di sini dia tidak bersalah" lantang pak Bambang menggunakan mix biar semua orang dapat mendengar jelas bait-bait kata yang ia ucapkan.
Di tengah kerumunan massa senyum sumringah merekah di bibir Nofan, klarifikasi yang di buat oleh sekolahan akan membuat namanya bersih dan pandangan buruk semua orang jelas akan berubah.
"Kedua kami mengumpulkan kalian karena kami akan mengadakan camping di hutan pinus besok, di harapkan semua siswi baik siswa untuk ikut partisipasinya" tambah pak Bambang.
Informasi kedua itu telah berhasil membuat para murid bersorak gembira, rencana camping itu dapat di terima dengan baik oleh sebagain besar murid yang butuh lingkungan jauh dari polusi dan udaranya yang bersih.
"Harap tenang dulu. Tapi untuk murid yang berhalangan atau enggan mengikuti camping tinggal datang ke kantor berserta alasan yang jelas biar pihak sekolahan memperbolehkan untuk tidak ikut dalam acara ini" ucap pak Bambang.
"Sekarang kalian semua boleh pulang untuk siap-siap, jangan lupa jam 6 pagi kalian harus sampai di sekolah" suruh pak Bambang.
Satu persatu murid membubarkan diri setelah pak Bambang menyudahi pidato singkat.
Nofan dan Alica diam di tempat, di saat semua orang berdesakan untuk pulang, beda halnya dengan mereka yang diam bagaikan patung.
Nofan tersentak kaget, ia memikirkan rencana sekolah yang begitu dadakan, saking dadakannya tak ada dalam listnya.
"Kok tiba-tiba ada camping, perasaan gak ada rumor pihak sekolah akan ngadain camping" Nofan keheranan, walaupun ia sudah bukan ketua OSIS, tapi dalam waktu dekat ia tidak menerima rencana akan ada camping seperti yang di umumkan hari ini oleh pak Bambang.
__ADS_1
"Kamu cari tau aja sama teman-teman mu, mereka pasti tau alasan mengapa sekolah mau ngadain camping. Guru-guru pasti musyawarah dulu sama mereka baru menetapkan ini semua" usul Alica.
Mata Nofan celingukan mencari keberadaan Calvin, Dimas dan Reza yang merupakan anggota OSIS.
"Di mana tiga bocah itu, kenapa pas di cari malah gak ada" gumam Nofan berusaha keras mencari kawan-kawannya.
"Nah itu mereka, ayo kita samperin mereka" ajak Nofan menemukan batang hidung orang yang ia cari-cari.
Bergegas mereka berdua mendekati Calvin dan yang lain sebelum mereka pulang ke rumah.
"Viiin tunggu!" Teriak Nofan menghentikan langkah Calvin.
"Nofan, Nofan kamu dari mana aja, kenapa kami cari gak ketemu juga!" Tutur Calvin dengan wajah panik.
Calvin dan kawan-kawannya sedari tadi mencari keberadaan Nofan tapi hasilnya nihil.
"Aku ada di sini, aku mau tanya kenapa tiba-tiba sekolahan mau ngadain program camping?" Tanpa basa-basi Nofan langsung bertanya tentang masalah yang mengganggunya.
"Peralihan isu aja, seraya kan di sekolahan ini baru aja ada enam siswi yang ketangkap polisi, untuk itu pihak sekolahan melakukan ini agar berita itu bisa tertutup walaupun seperempat" jelas Dimas.
"Ooowh begitu, pintar juga mereka. Pantesan aja niat mereka yang mau ngadain program ini terbilang dadakan" manggut-manggut Nofan setelah paham tujuan sekolahan mengadakan camping dalam waktu yang bisa di hitung dengan jari.
"Fan, kami mohon sama kamu, kamu kembali lagi ya, kamu jangan mengundurkan diri, sumpah kami bingung saat gak ada kamu. Kami mohon kamu jangan mengundurkan diri, sekolahan butuh kamu!" Mohon Reza.
Tak ada Nofan di antara mereka, mereka kebingungan dan sulit untuk menjalankan tugas, beda jika Nofan ada di sisi mereka.
"Gak bisa, aku udah keluar, aku gak mau kembali lagi" tolak Nofan.
Wajah mereka murung, penolakan Nofan telah mematahkan harapan besar mereka.
"Ayolah fan, masa kamu masih marah, nama kamu udah bersih kok, sekolahan udah bikin klarifikasi, semua orang udah tau siapa yang salah, kami mohon sama kamu, kamu kembali lagi seperti dulu" bujuk Calvin.
Nofan bimbang, untuk kembali rasanya ia enggan, namun saat ada orang yang menduduki jabatannya rasanya ia tidak terima.
Menjadi ketua OSIS tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada banyak pekerjaan yang harus di tuntaskan, mereka juga harus mengurus masalah yang berkembang di sekolahan. Jika tidak mempan/ tidak ada perubahan terpaksa mereka membawa orang tersebut ke hadapan dewan guru, biar dewan guru yang mengambil keputusan yang tepat.
Melihat Nofan yang diam Reza kembali membujuk Nofan."Ayolah fan kamu kembali lagi, kami gak bisa kalau gak ada kamu, apalagi di acara camping nanti, kami pasti akan makin bingung kalau gak ada komandonya"
"Betul itu fan, kamu harus kembali, kamu jangan pergi gitu aja, masalahnya sekarang udah clear kan, kamu gak perlu larut dalam masalah yang udah berlalu" sambung Dimas berupaya keras agar Nofan kembali menjadi ketua OSIS.
"Kalau masalah itu kamu gak perlu khawatir, ada kami di sini, kami akan bujuk para guru agar kamu bisa kembali jadi ketua OSIS" sahut Reza akan mengoptimalkan agar Nofan kembali duduk di tempatnya.
"Kalau sekiranya mereka gak setuju atau menentang keinginan kita, gampang kita ngambek aja, kita ikut mengundurkan diri sama kayak kamu. Aku jamin deh mereka pasti akan setuju" yakin penuh Calvin.
"Sekarang itu semua keputusan ada di tangan kamu, iya atau tidak. Tapi kami harap kamu kembali" tambah Dimas.
Nofan mikir keras, ia diam mencoba mengambil keputusan sematang mungkin dan sekiranya tak berakibat fatal atau membuat orang lain kecewa lagi.
"Udah fan iyain aja, mereka itu butuh kamu, gak cuman mereka sekolahan butuh kamu. Guru-guru juga pasti butuh kamu, mereka gak akan berlarut-larut marah sama kamu walau kamu udah lapor polisi tentang masalah perundungan. Mereka pasti juga meratapi kesalahan mereka sendiri, gak mungkin mereka gak merasa bersalah" Alica mengeluarkan suara untuk membujuk Nofan.
Terbit senyum di wajah mereka bertiga saat Alica berpihak dan mencoba membantu mereka untuk mengembalikan Nofan.
"Ya udah deh, aku akan kembali, tapi kalian ajukan dulu, kalau ternyata pihak sekolahan gak mau, aku gak bisa berbuat banyak. Keputusan ada di tangan mereka" setuju Nofan walaupun berat.
Senyuman di wajah mereka makin mengambang.
"Nah gitu dong fan, kamu itu harus kembali, jangan pergi, kami gak tau harus mulai dari mana kalau gak ada kamu" senang Calvin kala Nofan dapat di ajak kompromi.
"Iya puas kan kalian, tapi aku hanya takut kalau pihak sekolahan gak mau aku kembali" keresahan Nofan.
"Kalau masa itu kamu gak perlu khawatir, biar kami aku yang urus" sahut Reza.
"Eh kalian semua di panggil ke kantor sekarang!" Suruh Dahlia, sekretaris OSIS.
"Sana kalian ke kantor, kalian yang di panggil" suruh Nofan.
"Kamu juga fan, kamu di panggil juga ke sana" jawab Dahlia setengah berteriak lantaran jarak yang cukup jauh.
Nofan mengangkat satu alis."Kok aku juga kena"
"Udah kamu jangan banyak tanya, mending sekarang kita ke sana, kita tanya apa lagi yang mau di musyarawah kan" ajak Dimas.
Nofan pun setuju, secara bersama-sama mereka berjalan menuju kantor karena di sini mereka juga ikut di panggil entah ada persoalan apa lagi.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
Reza mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuk" titah seseorang yang menunggu kedatangan mereka dari dalam.
Ragu-ragu mereka pun masuk ke dalam, di sana sudah ada banyak guru yang masih belum meninggalkan sekolahan, karena pikiran mereka masih kacau lantaran ulah Nofan.
"Duduk kalian semua" suruh pak Bambang tegas.
Mereka pun duduk, sesuai perintah pak Bambang.
"Ada apa pak, kenapa kami di panggil kemari?" Calvin mengajukan pertanyaan dari pada rasa penasaran itu mengganggu pikirannya.
"Kalian sudah tau kan kalau besok kami akan mengadakan camping di hutan yang memang agak jauh dari sekolah ini?" Tanya balik pak Bambang.
Serentak kepala mereka mengangguk, berita itu telah tersebar luas, semua orang juga sudah tau dengan rencana sekolah.
"Itu kami lakukan agar mengalihkan suasana yang tengah panas-panasnya di sekolahan ini dan itu semua gara-gara kamu Nofan" mata pak Bambang menunjuk Nofan yang berada bersama mereka.
Kekecewaannya akan tindakan Nofan masih tampak, tapi karena Nofan memiliki sifat tak peduli sehingga ia tidak mempermasalahkan itu.
"Saya akui saya salah karena telah membuat semua dewan guru kecewa serta marah. Saya sadar saya tau itu membuat kalian marah. Tapi itu saya lakukan semerta-merta hanya untuk menjunjung tinggi keadilan dan juga saya ingin melaksanakan wasiat terakhir dari mendiang Inayah" Nofan memberikan alasan mengapa ia melakukan itu.
"Tapi fan itu sangat berisiko bagi sekolahan kita, kamu seharusnya kompromi terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan" timpal Bu Mesi masih kecewa dan marah.
"Semuanya sudah terjadi Bu, nasi sudah jadi bubur, waktu yang sudah berlalu tidak bisa di putar kembali. Dengan ulah saya yajg membawa kasus ini ke jalur hukum, saya jamin yang namanya pembullyan atau perundungan di sekolahan akan menurun, karena biang keroknya telah di tangkap oleh polisi" kata Nofan berani memberikan jaminan.
"Tapi itu akan merusak masa depan mereka, hidup mereka akan hancur kamu tidak mikir hal itu apa" hardik Bu Mesi terus membela mereka.
"Benar itu yang di katakan Bu Mesi, masa depan mereka akan rusak, kenapa kamu tega sekali melakukan ini semua sama mereka" sahut Bu Liana.
Pak Bambang menghela nafas lesu."Ah sudahlah, biarkanlah mereka mendekam di penjara, kalau wali murid datang ke sekolahan kami akan memberikan alasan kalau mereka yang membuat onar di sekolahan sehingga pihak sekolahan memberi tindakan tegas agar mereka sadar!"
Kepala pak Bambang mumet jika harus mendengar hal itu lagi, ia letih jika harus memikirkan masalah enam orang itu.
Guru-guru pun bungkam kalau pak Bambang sudah angkat bicara.
Pak pak Bambang sudah mengambil keputusan mereka tak bisa membantah, wewenang tertinggi di ambil oleh pak Bambang.
"Besok kalian semua berangkat pagi-pagi, kalian urus semua persiapan mulai dari kegiatan apa aja yang di lakukan selama camping di hutan. Saya mau semuanya harus perfect, gak ada masalah apapun" perintah pak Bambang.
Mereka mengangguk, mereka akan persiapkan segalanya dalam waktu yang terbilang singkat.
"Nofan kamu jangan keluar, kamu harus tetap bimbing mereka semua, kami tidak punya banyak waktu buat mencari pengganti mu!" Perintah pak Bambang.
"Baik pak, saya akan melakukan semua persiapan sebagus mungkin bersama mereka" Nofan mengiyakan karena memang tak mungkin ia meninggalkan mereka semua di saat keadaan tengah runyam seperti ini.
Jiwa OSIS sudah melekat di tubuh Nofan dan sikut untuk di hilangkan.
Keputusan pak Bambang kembali merekrut Nofan ternyata ada banyak guru-guru yang tak senang, mereka masih kecewa dengan Nofan padahal tindakan Nofan sudah benar.
"Sekarang kalian boleh pulang, pastikan semua persiapan bagus dan jangan sampai ada kesalahan yang tidak di inginkan" peringatan pak Bambang mau semuanya flawless.
Mereka berpamitan lalu meninggalkan kantor bersama-sama.
Senyum para anggota OSIS lainnya terus merekah, mereka tak pusing lagi karena sang ketua OSIS telah kembali.
"Huft aman, aku bisa tidur nyenyak malam ini, gak perlu mikirin apapun lagi" seru Dimas berjalan tanpa beban saat Nofan ada di dekatnya.
"Iya dong, secara kan Nofan yang akan ngurus segalanya, kita cuman tinggal terima jadi aja" sahut Calvin menyerahkan semua perintah pada Nofan.
"Enak aja, kalian harus ikut juga, masa aku doang yang selesain, gak adil namanya" tak terima Nofan.
"Iya kami pasti akan bantu juga, enaknya kita bikin kegiatan apa aja ya selama berada di hutan nantinya" Reza mikir keras mencari kegiatan yang tepat untuk di ikut sertakan.
"Nanti kita pikirin, masing-masing di antara kalian harus punya kegiatan yang sekiranya pas dan menyenangkan tapi gak boleh menyimpang atau aneh-aneh" perintah Nofan.
"Oke siap bos, kami akan cari kegiatan yang terbaik dan menyenangkan sehingga anak-anak gak akan bosen" setuju Calvin.
"Ya udah kita ketemu besok, tapi nanti malam kalian harus chat aku tentang kegiatan apa yang mau di ikut sertakan" suruh Nofan.
"Oke siap" jawab mereka kompak.
__ADS_1
Mereka pun berpencar dan pulang ke rumah masing-masing. Mereka harus kemas-kemas sebelum pergi camping esok pagi.