Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Bruukkkk


__ADS_3

Nofan kembali dengan membawa makanan kesukaan Alica yakni bakso.


"Nih makan, mumpung masih sepi kamu bisa makan sepuasnya di sini, kalau nanti udah istirahat akan antri" suruh Nofan meletakkan bakso itu di atas meja.


Alica tanpa bicara menyantap makanan itu dengan lahap, perutnya sudah kosong dan butuh di isi sebelum cacing-cacing di perutnya akan menyiksanya.


Sehabis makan Alica bersyukur karena perutnya sudah terisi dengan penuh.


"Alhamdulillah kenyang" syukur Alica.


Lagi-lagi bola mata Alica melirik ke sampingnya yang terdapat makhluk hitam itu yang masih terus menjaga gadis yang belum di ketahui latar belakangnya.


Alica menelan ludah pahit kala ingat tentang peringatan keras yang di berikan sosok hitam menyeramkan itu.


"Kenapa, kok liatin dia mulu. Apa ada yang aneh?" Nofan menyadari jika ada yang tak beres dari temannya itu.


"Sini mendekat" suruh Alica memelankan suaranya.


Nofan mendekatkan telinganya pada Alica. Nofan amat penasaran apa yang akan Alica katakan, ia merasa hal ini sangat serius.


"Fan kamu lihat kan gadis itu?" Tanya Alica menunjuk gadis yang senang makan.


Nofan mengangguk."Iya, kenapa dengan dia?"


"Kamu tau gak, di belakang gadis itu ada makhluk hitam yang menjaganya. Aku penasaran sekaligus khawatir ada apa-apa yang terjadi sama dia, karena kelihatannya makhluk hitam itu berbahaya" bisik Alica menceritakan segala sesuatu yang mengganggu pikirannya.


"Kalau memang sekiranya berbahaya kenapa gak kamu tolongin aja" timpal Nofan dengan entengnya.


"Masalahnya dia ngacem aku, dia akan ngasih aku pelajaran kalau aku ikut campur dalam masalah dia" sahut Alica.


Nofan terdiam, persoalan yang di hadapi Alica cukup berat. Walaupun Nofan tak bisa melihat secara langsung seperti apa sosok seram yang katanya mengikuti gadis itu, namun ia yakin sosok itu berbahaya.


"Gimana ini fan, apa yang kudu aku lakuin, masa iya aku biarkan gadis itu terluka gara-gara makhluk halus, tapi kalau aku nekat bantuin dia, aku yang akan kena masalah" Alica meminta saran Nofan barang kali Nofan dapat menyelesaikan masalahnya.


"Ya sudah kamu jangan ngambil resiko, kamu jangan nekat bantu gadis itu, sayangi nyawa kamu. Lagi pula kalau ayah kamu tau, kamu akan di marahin" larang Nofan karena menurutnya itu yang terbaik.


"Iiih kamu gimana sih, bukannya nyelesain masalah kamu malah memperumit masalah. Iya aku tau kamu khawatir sama aku, tapi nyawa gadis itu lebih penting saat ini. Masa aku diam aja di saat ada orang yang butuh bantuan aku" timpal Alica kebingungan harus melakukan apa.


Nofan menghela nafas."Alica, bantu orang itu boleh aja, asal gak ngebahayain kamu sendiri. Kalau nanti ayah kamu tau kamu nekat bantu orang hingga membahayain nyawa kamu sendiri, bukan hanya kamu aja yang di marahin tapi aku. Aku akan di marahin papa habis-habisan karena biarin kamu kenapa-napa" larang Nofan keras biar Alica tidak nekat membantu orang hingga mengorbankan nyawanya.

__ADS_1


"Tapi fan...."


Ucapan Alica menggantung, matanya melirik ke arah gadis yang masih di ikuti makhluk hitam di belakangnya.


"Udah, kamu jangan ngambil resiko, biarkan dia. Pasti ada orang lain yang akan bantu dia" ucap Nofan.


Alica mengerucutkan bibirnya saat Nofan tak mau berpihak dengannya.


"Dari pada kamu bimbang gak jelas kayak gini, mending kamu ikut aku aja ke kelas 10 A3, aku sama teman-teman ku mau ke sana" ajak Nofan biar Alica tidak terlalu kepikiran dengan gadis yang di ikuti sosok menyeramkan di belakangnya.


"Kamu mau ngasih pelajaran sama orang-orang yang udah bully Rere?" Memastikan Alica.


"Iya, ayo kamu ikut aku ke sana, kamu nanti bisa lihat sendiri bagaimana bestie mu ini menegakkan keadilan" sahut Nofan.


"Widih gila-gila, kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita ke sana, aku udah gak sabar lihat pembully-pembully itu ciut" setuju Alica dengan tawaran Nofan.


Mereka berdua dengan santai keluar dari dalam kantin dan menuju kelas 10 A3 yang menjadi target utama mereka hari ini.


Brukkk


Nofan menendang keras pintu kelas 10 A3. Di mana kelas itu sedang tidak ada gurunya atau biasa di sebut jam kos.


Kesenyapan terjadi, suasana kelas yang tadinya bising tiba-tiba langsung hening.


Nofan menyeret kursi guru, dan duduk di depan menatap para adik-adik kelasnya yang tegang.


"Yang namanya di sebut harap acungkan tangan" ujar Nofan dengan lantang.


Murid-murid yang tidak tau apa-apa ketar-ketir tanpa sebab.


"Lilik" panggil Nofan sambil memegang secarik kertas yang telah Alica tulis.


Anak bernama Lilik itu mengacungkan tangannya di sertai wajah yang mendadak pucat.


Nofan tersenyum sinis. Semua orang yang melihatnya tambah ketar-ketir.


"Lira" panggil Nofan.


Gadis bernama Lira mengangkat tangan seperti hanya dengan Lilik.

__ADS_1


"Vely" panggil Nofan.


Gadis bernama Vely mengacungkan tangannya dengan kebingungan karena tak pernah Nofan datang ke kelasnya. Dia juga bingung mengapa Nofan menyebut namanya.


"Dan Rika" panggil Nofan.


Rika mengangkat tangannya sambil menelan ludah pahit.


Nofan menatap tajam pada empat orang yang telah ia sebut.


"Kalian yang namanya di sebut harap maju ke depan" perintah Nofan.


Keempat orang itu maju ke depan dengan ketar-ketir dan yang bisa mereka lakukan hanya meremas jemari tangannya sendiri.


Nofan tersenyum sinis melihat empat orang yang wajahnya mulai memucat.


"Ada apa kak, kenapa kakak manggil kami kemari?" Rika memberanikan diri untuk bertanya.


Nofan bangkit dari duduk, ia mengelilingi tubuh keempat orang yang ketar-ketir tersebut.


"Tadi saat aku sampai di sekolah ada laporan yang mengatakan kalau di kelas 10 A3 ini terjadi pembullyan yang di alami oleh seorang anak bernama Rere" ucap Nofan penuh penekanan.


Mereka menelan ludah pahit, ternyata hal itu yang telah membuat mereka di panggil oleh ketua OSIS bernama Nofan.


"Sekarang aku tanya, apa benar kalian semua udah bully Rere habis-habisan hingga dia gak masuk sekolah hari ini?" Tanya Nofan serius.


"B-bukan kami kak, tapi dia" tunjuk Lilik ke arah seorang gadis yang duduk di sebelah barat.


Nofan melirik ke arah gadis polos yang terkejut saat di antara mereka menunjuk ke arahnya.


"Dia yang udah bully anak-anak selama ini kan" ujar Lira.


"Kami gak ngelakuin apapun, dia yang jahat, seharusnya dia yang kakak hukum" tambah Vely.


"Benar itu kak, dia itu selama ini cuman pura-pura polos, tapi aslinya jahat dan kejam" sahut Rika.


"Jangan coba-coba untuk mengkambing hitamkan orang yang tidak bersalah. Kalian kira aku akan dengan mudah kalian kelabui begitu?" Tatapan maut Nofan terarah pada mereka.


Mereka yang di tatap seperti itu makin ciut, mereka tak menduga jika Nofan akan sulit untuk mereka kelabui.

__ADS_1


"Aku tidak bodoh sehingga akan percaya dengan mulut wanita ular seperti kalian semua. Sebelum aku datang ke sini aku udah cari tau siapa saja yang terlibat, jadi jangan sok-sokan melempar masalah pada orang lain yang jelas-jelas tidak ada sangkut pautnya dalam masalah ini" tegas Nofan tak main-main.


__ADS_2