Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Bab 79 ( Menyatukan Bu Ima dan Pak Burhan )


__ADS_3

Ratna kembali meminta maaf kepada Aisyah dan Pak Burhan atas semua kesalahan yang telah ia lakukan.


"Aisyah, Ayah, maaf ya karena Ratna sudah jahat sama kalian. Terimakasih karena Ayah dan Aisyah masih mau menyelamatkan hidup Ratna."


"Nak, sudah seharusnya kami melakukan semua itu, karena Ratna adalah Putri Ayah juga."


"Iya Ratna, dan kita berdua adalah saudara yang akan selalu menyayangi," ujar Aisyah.


Bu Ima sangat bersyukur karena akhirnya Ratna mau membuka mata hatinya.


"Alhamdulillah, akhirnya mata hati Ratna terbuka juga," ucap Bu Ima.


Aisyah sebenarnya sangat berharap jika Bu Ima dan Pak Burhan kembali hidup bersama, karena Aisyah merasa kasihan kepada Ayahnya. Meski pun Pak Burhan masih memiliki Aisyah dan Ratna beserta Cucu-cucunya, tapi mereka juga memiliki kehidupan masing-masing, dan hanya seorang istri yang akan selalu menemani suaminya hingga maut yang memisahkan mereka.


"Bu, sebenarnya Aisyah sangat berharap jika Ibu dan Bapak bisa kembali hidup bersama, karena itu juga yang menjadi keinginan terakhir mendiang Ibu Neti."


"Iya Bu, Ratna juga tidak bisa selalu menemani Ibu, apalagi kami sudah berencana akan tinggal di rumah yang baru saja selesai Mas Arif bangun untuk keluarga kecil kami. Seandainya Ibu dan Ayah kembali bersatu, Ratna tidak akan merasa khawatir meninggalkan Ibu."


Bu Ima dan Pak Burhan larut dalam pikiran masing-masing, sampai akhirnya Bu Ima dan Pak Burhan angkat suara secara bersamaan.


"Kalau Ibu terserah Ayah kalian saja."


"Kalau Ayah terserah Ibu kalian saja."


"Alhamdulillah, jadi artinya Ibu dan Ayah bersedia untuk rujuk lagi Ratna," ucap Aisyah dengan memeluk Ratna.


"Iya Aisyah, nanti kalau Lebaran kita bisa mudik ke rumah Ibu dan Ayah," ujar Ratna yang merasa bahagia juga.


Ustad Mahmud yang kebetulan berada di sana menyarankan supaya secepatnya Bu Ima dan Pak Burhan kembali mengucap ijab kabul, apalagi dulu Pak Burhan tidak pernah menggugat cerai Bu Ima secara Negara, jadi mereka masih tercatat sebagai Suami istri, meski pun menurut hukum agama jika seorang Suami tidak menafkahi istrinya selama enam bulan, maka sudah jatuh talak satu, jadi Pak Burhan hanya perlu mengucap ijab kabul saja.


"Sebaiknya nanti malam saja Ibu dan Ayah melakukan ijab kabul pernikahan, karena besok Aisyah dan Kak Raihan akan kembali lagi ke Jakarta."


"Kok cepet banget sih pulangnya, aku kan masih kangen," ujar Ratna.


"Kalau kami terlalu lama di sini, kasihan si Kembar, nanti Lebaran kan Aisyah dan keluarga insyaallah bakalan mudik."


"Aku juga kangen sama Nathan dan Nala, mereka pasti sudah besar ya."

__ADS_1


Aisyah memperlihatkan fhoto kedua Anaknya kepada Ratna, dan mereka terlihat bahagia juga saling menyayangi sebagai saudara.


"Sayang, Ibu tidak melupakan sesuatu kan?" tanya Raihan kepada Aisyah.


"Astagfirullah, maaf sayang, saking asyiknya ngobrol sama Ratna, Ibu sampai lupa sama Ayah," ujar Aisyah dengan cengengesan.


"Tunggu saja besok hukumannya," bisik Raihan pada telinga Aisyah, sehingga Aisyah bergidik ngeri.


Aisyah, Raihan, Pak Burhan dan Bu Ima, memutuskan untuk pulang karena nanti malam Ustad Mahmud akan menikahkan mereka di kediaman Bu Ima, jadi Aisyah akan membantu Bu Ima menyiapkan makanan untuk mengadakan syukuran kecil-kecilan.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Bu Ima, Aisyah terus saja menempel pada Bu Ima, karena akhirnya perempuan yang sudah di anggap sebagai Ibu kandungnya sendiri, akan menjadi Ibu sambungnya.


"Sayang, kenapa sih nempel terus sama Ibu," rengek Raihan.


"Aisyah, sepertinya Raihan cemburu," ujar Bu Ima dengan tersenyum.


"Biarin aja Bu, kapan lagi Aisyah bisa nempel sama Ibu, nanti malam kan Ibu nempelnya sama Ayah," goda Aisyah.


Pak Burhan dan Bu Ima tersenyum malu mendengar Aisyah yang terus saja menggoda mereka.


......................


"Aisyah, udah Nak, make up nya jangan terlalu tebal, Ibu malu kalau terlalu menor."


"Ibu gak menor kok, sekarang Ibu sudah semakin cantik, dan Ayah pasti akan semakin mencintai Ibu," ujar Aisyah.


Aisyah menggandeng Bu Ima untuk ke luar dari dalam kamar menuju ruang keluarga, dan di sana Ustad Mahmud berserta para saksi dan juga tetangga sudah terlihat berkumpul untuk menghadiri pernikahan Bu Ima dan Pak Burhan.


Ustad Mahmud membuka acara dengan bacaan Basmalah, dan beliau menjadi Penghulu sekaligus Wali hakim untuk Bu Ima, karena Ayah kandung Bu Ima sudah meninggal dunia, dan Bu Ima juga tidak memiliki saudara laki-laki.


Pak Burhan mengucap ijab kabul dengan lantang, dan setelah para Saksi mengucapkan Sah, semuanya terdengar mengucap Alhamdulillah.


Bu, sekarang Aisyah sudah menyatukan Ayah dan Bu Ima sesuai permintaan terakhir Ibu, semoga Ibu selalu tenang di alam sana ya, ucap Aisyah dalam hati.


Acara pun dilanjutkan dengan pembacaan do'a sekaligus syukuran pernikahan Bu Ima dan Pak Burhan.


Setelah acara syukuran selesai, Raihan memutuskan untuk mengajak Aisyah ke rumah lama mereka, karena Raihan sudah membangun kembali rumah yang dulu mereka tinggali, dan setiap minggu ada orang yang ditugaskan untuk membersihkan rumah supaya selalu terawat.

__ADS_1


"Yah, Bu, kami pamit dulu ya, Raihan mau mengajak Aisyah ke suatu tempat."


"Kalian memangnya gak mau menginap di sini?" tanya Bu Ima.


"Nanti kalau kami menginap di sini takutnya mengganggu Ibu dan Ayah," ujar Aisyah.


"Aisyah nakal sekali sih godain terus Ibu sama Ayah," ujar Pak Burhan dengan memeluk tubuh Aisyah.


"Ya sudah, kalau begitu kami pergi dulu ya, Assalamu'alaikum," ucap Aisyah dan Raihan.


Raihan mengajak Aisyah berjalan kaki, karena mereka ingin mengenang masalalu ketika tinggal di Desa Nelayan.


"Kita mau kemana sih Yah?" tanya Aisyah.


"Kita mau mengenang masalalu, dan Ayah punya kejutan untuk Ibu," ujar Raihan.


Aisyah diam mematung ketika melihat rumah yang dulu mereka tempati sudah berubah menjadi sebuah rumah yang begitu mewah.


"Yah, bukannya dulu rumah ini adalah rumah kita ya?" tanya Aisyah.


"Dan sekarang, rumah ini juga tetap menjadi rumah kita, karena saat Ibu dan Nala hilang, Papa Herdi membangun rumah ini supaya kita bisa pulang kapan saja ke Desa Nelayan, karena dari dulu impian Ibu kan ingin tinggal di rumah yang berada di tepi pantai, jadi nanti setelah kita berdua tua, kita bisa menghabiskan masa tua kita di sini bersama Anak dan Cucu kita," ujar Raihan kemudian mengajak Aisyah masuk ke dalam istana mereka.


Aisyah masih tidak percaya karena saat ini Aisyah bisa memiliki rumah yang sama persis dengan rumah impiannya.


"Yah, kenapa bisa rumahnya sama persis dengan rumah impian Ibu?" tanya Aisyah.


"Ayah pernah melihat gambar rumah yang Ibu buat, jadi Ayah mencoba untuk mewujudkan impian Ibu."


Raihan mengajak Aisyah menuju kamar mereka yang berada di lantai dua, dan Aisyah semakin takjub melihat keindahan pantai yang bisa ia nikmati dari jendela kamarnya.


"Indah sekali Yah, terimakasih banyak Suamiku sayang," ucap Aisyah dengan memeluk tubuh Raihan.


"Apa hanya kata terimakasih saja yang bisa Ibu ucapkan?" tanya Raihan.


"Maksudnya?" tanya Aisyah yang terlihat bingung.


"Sekarang giliran Ayah untuk menghukum Ibu, karena hari ini Ibu sudah melupakan Ayah."

__ADS_1


"Katanya hukumannya besok," protes Aisyah.


"Jika bisa sekarang kenapa harus menunggu sampai besok," ujar Raihan, kemudian melancarkan aksinya.


__ADS_2