Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Misteri penampakan di layar hp Alica


__ADS_3

Kelompok Alica masih berseru, bangga serta bahagia karena mereka mendapatkan juara pertama dan telah berhasil mengalahkan semua orang yang satu sekolah dengannya.


Kebahagiaan itu tak kunjung pudar, rasa gembira dan bahagia menyelimuti mereka.


"Ya ampun gak nyangka banget kalau kita yang menang, aku udah gak berharap lagi padahal, tapi ternyata malah kita yang menang" takjub Keysa akan sesuatu yang menurut mereka bagai keajaiban saking tak percayanya.


Harapan yang tadinya pupus malah membuat mereka menjadi sang bintang pada malam hari ini.


Mereka setengah tak percaya karena dapat mengalahkan semua orang baik putra maupun putri.


"Iya, aku tadi juga udah putus asa loh" timpal Nadia berseru.


"Mangkanya kalian itu jangan putus asa, kita harus tetap berharap, hasilnya antara baik atau buruk, setidaknya kita udah berusaha" sahut Alica.


Mereka mengangguk, perjuangan mereka tak sia-sia, sebuah penghargaan telah berada di tangan mereka.


Pangeran William yang melihat mereka senang ikut bangga, senyum mengambang menghiasi wajah. Pangeran William lantas pergi meninggalkan mereka setelah berhasil membantu mereka.


Sorakan gembira masih keluar dari bibir Alica, Keysa, Popy, Nadia dan Susi.


"Sana kalian bawa hadiah ini ke tenda, aku mau ke Nofan dulu" suruh Alica.


Mereka mengangguk patuh, lalu kembali ke tenda untuk menaruh hadiah yang telah mereka dapatkan.


Alica mendekati Nofan yang duduk di batang pohon sendirian.


"Fan" panggilnya di iringi senyum yang tak kunjung pudar.


"Widih kayaknya happy nih ye" ledek Nofan.


"Oh iya dong, kamu gak liat tadi aku yang menang" balas Alica.


"Iya deh yang dapat juara satu" puji Nofan agar Alica senang.


Di puji membuat Alica senang, perjuangannya sama teman-temannya gak sia-sia.


"Oh ya fan besok ada lomba apa aja?" Penasaran Alica.


"Kamu gak perlu tau, besok kamu juga akan tau kok ragam acaranya" jawab Nofan seperti tak mau memberikan jawaban.


Alica mengerucutkan bibir."Pelit amat, masa cuman nanya gini doang masih aja gak mau ngasih tau!"

__ADS_1


"Aku bukannya gak mau ngasih tau, tapi aku tau akal busuk kamu, kamu datang ke sini nanya lomba biar kamu bisa persiapkan diri. Udahlah ca aku udah tau akal-akalan kamu, kamu gak perlu ngelak" ucap Nofan.


Alica terkekeh, niatnya dapat Nofan tebak dengan mudah, dalam waktu secepat itu Nofan bisa menyadarinya.


"Iya dong biar aku lagi yang jadi juaranya" sahut Alica mengaku.


"Gak boleh, itu namanya curang, anak-anak akan demo kalau tau ada tindak kecurangan" larang keras Nofan.


"Iya aku kan cuman becanda, gak serius kok" jawab Alica.


Alica mengeluarkan hpnya, menscroll hasil foto yang ia tangkap di air terjun.


Mata Alica membulat sempurna, terkejut menatap pemandangan yang tadi pagi indah dan banyak hamparan rumput-rumput hijau namun mengapa ketika di malam hari malah berubah total dan jauh dari kata indah.


Pemandangan di air terjun yang tadi ia potret berubah total, daun-daun pepohonan yang hijau berubah menjadi kering, rumput-rumput juga kering. Tempat yang tadinya sepi dan hanya pemandangan alam yang terlihat malah banyak sekali penampakan sosok wanita dan laki-laki.


Di dalam layar ponsel Alica sosok-sosok yang tertangkap kurang lebih jumlah 15 orang, 5 laki-laki 10 perempuan.


Bentuk tubuh sosok-sosok itu tak karuan, ada yang tidak punya mata, matanya tinggal satu, ada yang tidak punya tangan dan kaki, bahkan hanya tinggal kepala saja.


Di gambar yang berhasil di ambil terlihat jika wajah merah penuh dengan darah, baju-baju mereka bolong-bolong, penampilan mereka begitu lusuh dan menyeramkan.


Alica langsung mematikan hp, sikapnya langsung dingin, penampakkan hantu-hantu aneh terngiang-ngiang di benaknya.


Wajah Alica yang mulai memucat membuat Nofan yakin jika ada sesuatu yang terjadi menimpa sahabatnya.


Kepala Alica menggeleng cepat, bersamaan dengan itu lamunannya juga langsung buyar."Gak ada apapun kok, aman-aman aja"


Terbit senyum di wajah Alica, Alica tak ingin memberitahu siapapun apa yang barusan ia lihat hingga matanya terbelalak.


"Beneran gak ada apa-apa?" Nofan masih merasa yakin jika ada problem yang sedang di sembunyikan Alica.


"Gak ada apa-apa kok fan, semuanya aman-aman aja, kamu gak percayaan sih!" Pura-pura kesel Alica biar Nofan tak makin curiga.


Nofan pun berhenti mencurigai Alica, Nofan tak lagi bertanya ini itu agar Alica tak makin kesel.


"Fan di panggil pak Bambang, ayo kita ke sana cepat" Dahlia gadis yang merupakan sekertaris OSIS menghampiri mereka dan menyampaikan apa yang membuatnya mendatangi mereka.


Nofan melirik Alica."Aku ke sana dulu, kamu jangan kemana-mana, sebentar lagi aku akan balik kok"


Alica mengangguk patuh, tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas.

__ADS_1


Nofan dan Dahlia meninggalkan Alica sendirian di sana.


Setelah memastikan mereka pergi Alica membuka layar hpnya kembali, menatap foto angker yang banyak penampakan.


"Loh kok udah gak ada, mana tadi foto yang banyak penampakan, tadi ada di sini loh belum aku hapus, tapi kenapa malah gak ketemu" Alica kebingungan, tangannya nenggeser-geser foto namun tak ada foto aneh yang ia cari.


"Aneh banget, tadi ada sekarang malah gak ada" gerutu Alica.


Tes


Alica menghentikan aktivitas, satu tangannya menyentuh dahi yang tertimpa setetes cairan, saat di sentuh tiba-tiba telunjuk Alica berganti warna menjadi merah.


Alica mengerutkan alis."Apa ini?"


Noda merah yang berada di tangan Alica membuat Alica penasaran, ia mendekatkan tangannya pada hidung.


Bau amis darah menyeruak masuk ke dalam indera penciuman.


Alica bangkit dari duduk dan berlari mencari air untuk membasuh tangan dan wajah. Tanpa melihat ke atas Alica langsung kabur, perasaannya sudah tidak enak, Alica tidak mau mengambil resiko.


Sejak satu tetes darah mengenai wajah Alica, Alica pun tak lagi duduk di batang pohon tumbang, ia malah kembali ke tenda untuk beristirahat bersama teman-temannya.


Malam semakin larut, sunyi dan sepi terjadi, anak-anak semuanya tertidur kecuali para OSIS dan juga kelompok yang wajib ronda malam ini.


Mereka berkeliaran mengamati tiap tenda dan hampir seluruh tenda tertutup, tak ada yang keluyuran selain mereka.


Nofan berjalan sendiri sambil sesekali mengamati kanan dan kiri yang banyak tenda-tenda yang berdiri.


Mendadak langkah Nofan terhenti, ludah pahit Nofan telan, bulu kuduknya berdiri, Nofan membuang muka ke arah lain.


"Itu gadis yang tadi malam aku temui, kenapa dia bisa ada di sana lagi" batin Nofan ketar-ketir.


Gadis yang kemarin malam tak sengaja Nofan temuin saat ronda, malam ini lagi-lagi ia kembali menjumpainya.


Gadis itu duduk di batu besar, mengenakan pakaian panjang berwarna putih, jas OSIS Nofan membalut tubuhnya.


Mata gadis itu menatap Nofan tanpa berkedip.


Sementara orang yang di tatap panas dingin, Nofan sudah tau siapa gadis itu dan ia tak mau mendekatinya.


Nofan mengatur nafas, mencoba mengendalikan diri, seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan ia tidak menyadari keberadaan hantu gadis yang tewas di air terjun.

__ADS_1


Dengan tegang serta tubuh mulai di banjiri keringat dingin Nofan kembali melangkahkan kaki berlagak layaknya orang yang tidak melihat keberadaan hantu air terjun.


__ADS_2