
Jenazah Viera di bawa pulang ke desa Cempaka untuk di makamkan.
Mobil Karan mengikuti ambulance dari belakang, Maikel, ustadz Hafidz dan pak Anton berada di dalam mobil itu juga.
Pak Anton menggendong Alica yang masih bayi, ia menatap prihatin pada bayi mungil itu.
"Kasihan bayi ini, dia harus kehilangan ibunya di hari dia di lahirkan, tapi aku akan berusaha untuk jadi ayah sekaligus ibu baginya, tidak akan aku biarkan dia kekurangan kasih sayang" batin pak Anton prihatin pada Alica yang sudah menjadi anak piatu di usianya yang masih bayi.
Mobil ambulance melaju dengan kecepatan normal, suara sirine ambulance menggema di seluruh desa Cempaka.
Pangeran William berada di dekat istrinya yang sudah tak lagi bernyawa, ia menangis tanpa henti saat Viera yang dia sayangi setengah mati pada akhirnya harus pergi dari hidupnya.
"Viera bangun, buka mata kamu, jangan tinggalin aku, aku mohon kamu jangan pergi, aku akan sama siapa kalau kamu gak ada di sini, aku mohon tetaplah di sini, plis" mohon pangeran William terus menangis di dekat Viera yang terbaring kaku di dalam ambulance.
"Viera kenapa kamu harus pergi, kenapa kamu ninggalin aku, apa kejadian ini ada sangkut pautnya dengan ucapan Bara, Bara bilang kalau jarang ada orang yang bisa melahirkan anak jin dengan selamat, jika aku tau ini semua akan terjadi, aku gak akan izinin anak itu ada di dalam perut kamu, sungguh aku gak mau kamu pergi Viera, aku mohon bukalah mata mu, aku gak mau jauh dari kamu"
Pangeran William terus menangis dan menyesali semuanya, ia memang tidak mau Viera pergi dari hidupnya, namun tidak mungkin dia membunuh anak yang merupakan darah dagingnya sendiri.
"Viera jangan pergi, aku mohon tetaplah di sini, jangan tinggalin aku"
Sepanjang perjalanan pangeran William terus menangisi kepergian istrinya, hari ini merupakan hari terburuk sepanjang sejarah di hidupnya, hari ini segalanya berakhir, dia kehilangan istrinya yang sudah dia jaga selama ini.
Pak Anton terus menatap wajah Alica yang tertidur pulas di pangkuannya, di dalam mobil ini tidak ada percakapan yang terjadi, mereka semua larut dalam pikiran masing-masing.
Mobil ambulans berhenti tepat di depan rumah pak Anton, di sana banyak warga-warga yang menyambut kedatangan mereka.
Duka menyelimuti desa ini, semua warga-warga bahu membahu menolong Viera, mereka akan segera memakamkan jenazah Viera yang sudah tak lagi bernyawa.
Viera di baringkan di kamar, warga-warga membacakan surat Yasin di sana.
Arwah Viera berada di tengah keramaian, ia melihat banyak warga yang ada di dekat jenazahnya, ia menyunggingkan senyuman, mereka semua masih asing di mata Viera, mereka tidak tau seperti apa Viera, tapi mereka membantunya tanpa memandang itu semua.
Viera keluar dari kamar itu, ia mendekati pak Anton yang terus menggendong anaknya, tak sekalipun pak Anton meletakan Alica yang sedang tidur.
"Gemes banget, tapi sayang aku gak bisa lama-lama berada di dekatnya, semoga saja pak Anton bisa jagain dia, aku percayakan semuanya sama pak Anton, aku berharap pak Anton bisa menjaganya" Viera melukis senyum menatap wajah bayinya yang terlelap dalam tidurnya.
Viera beralih menatap ke arah pangeran William yang berada di sana, ia tak henti-hentinya menangisi kepergiannya.
"Kenapa kamu pergi" tangis pangeran William pecah melihat istrinya yang kini sama sepertinya.
Viera menyunggingkan senyuman."Maaf pangeran, aku harus pergi, aku gak bisa berada di dekat kamu lagi, aku berharap kamu bisa lupain aku, habis ini kamu bisa cari orang lain yang lebih pantas bersanding dengan mu, bukan kayak aku yang gak selevel sama kamu"
Pangeran William menggelengkan kepalanya."Enggak, aku gak mau, aku hanya mau kamu seorang, aku gak mau orang lain lagi, aku mohon kamu jangan pergi, tetaplah di sini, jangan tinggalin aku"
"Aku gak bisa pangeran, takdir dari awal sudah gak ngerestui hubungan kita, aku gak bisa egois buat maksain selalu ada di dekat kamu"
Pangeran William tertunduk sedih, semesta memang tidak mengizinkan mereka untuk bersama, kini semesta menghukum mereka dengan cara memisahkan mereka, kedua-duanya sama-sama terluka, namun mereka harus terima karena itu resiko mereka.
"Aku mohon jaga anak ku, dia juga anak mu, aku gak bisa jaga dia lagi, aku yakin kamu bisa jaga dia, aku titip dia sama kamu"
"Kamu gak bisa berada di sini lagi?" dengan air mata yang sesekali mengalir pangeran William menatap ke arah Viera.
"Maaf pangeran aku gak bisa, aku gak bisa berada di sini lagi, mungkin ini saatnya aku harus pergi dari muka bumi ini, aku hanya minta sama kamu jaga anak kita Alica, dia memang tidak punya ibu, tapi dia punya ayah, kamu ayahnya, kamu harus jagain dia"
__ADS_1
"Aku pasti akan jaga dia, aku akan selalu jagain dia, kamu tidak perlu khawatir lagi tentangnya"
"Aku percayakan dia pada mu"
Pangeran William mengangguk dengan butiran-butiran bening yang sesekali mengalir.
Jenazah Viera kini di mandikan, habis itu di sholatkan, baru setelah itu di makamkan.
Warga-warga laki-laki mengangkat keranda yang berisikan jenazah Viera di dalamnya menuju pemakaman umum yang letaknya tak jauh dari sana.
Pak Anton ikut bersama mereka, ia tak membawa Alica, ia meletakkan Alica di box bayi, tak mungkin ia membawa bayi itu ke kuburan juga.
Jenazah Viera di makamkan dengan layak, letak makam Viera di dekat makam Sekar, pak Anton sengaja menempatkan Viera di sana agar tak jauh untuk di jangkau.
Semua orang membubarkan diri dari sana setelah upacara pemakaman selesai di lakukan.
Pak Anton berjongkok, ia menatap kuburan Viera yang penuh dengan bunga.
"Viera kamu istirahat yang tenang di alam sana, anak mu akan aman bersama ku, aku akan selalu menjaganya, kamu tidak perlu takut dia kenapa-napa lagi"
Viera yang mendengarnya tersenyum, ia merasa lega untuk meninggalkan dunia ini karena anaknya pasti akan aman bersama pak Anton.
"Terima kasih pak Anton, bapak orang yang baik, saya doakan bapak selalu di lindungi sama Allah" doa Viera namun pak Anton tak bisa mendengarnya.
Viera menatap ke arah pangeran William."Pangeran sudah saatnya aku pergi, sekali lagi aku minta sama kamu jaga Alica untuk ku"
Pangeran William mengangguk."Pergilah, aku rela melepas mu, aku janji aku akan jaga anak kita dengan sebaik mungkin"
"Aku pasti akan menjaga diri ku dan juga anak kita, kamu tak perlu khawatir pada kami"
"Aku pergi dulu pangeran, selamat tinggal" pamit Viera dengan melambaikan tangannya.
"Selamat tinggal"
Viera tersenyum pelan-pelan tubuhnya menghilang dari sana, tangis pangeran William pecah saat dirinya tak lagi bisa melihat wajah Viera yang amat dia cintai, gadis itu pergi ke tempat yang tak bisa dia kunjungi lagi.
Meskipun Viera sudah tidak ada di dekat pangeran William lagi, dia janji dia akan menjaga baik-baik putrinya seperti apa yang Viera mau.
...•••...
Hari-hari berlalu, kini sudah 2 hari Viera pergi meninggalkan dunia ini, pangeran William di selimuti duka selama 2 hari ini, namun dia harus bisa kuat karena Viera menitipkan Alica padanya, pangeran William terus menjaga putrinya yang menggemaskan.
Pak Anton menjaga Alica dengan baik, ia merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Pak Anton terbangun dari tidur lelapnya, ia langsung mendekati box bayi untuk melihat wajah Alica yang ia anggap seperti anaknya sendiri.
Bertapa terkejut pak Anton saat mata Alica kini sudah terbuka, setelah 2 hari lamanya baru sekarang mata Alica terbuka.
Alica tersenyum ke arah pak Anton, orang pertama yang dia lihat setelah matanya bisa terbuka.
"K-kenapa ini bisa terjadi, ini aneh, benar-benar aneh"
Pak Anton dengan cepat keluar dari kamarnya, ia ingin memberitahukan masalah ini pada teman-temannya.
__ADS_1
"Karan, Karan kamu di mana!" teriak pak Anton yang heboh.
Karan yang lagi bersantai di ruang tamu bersama ustadz Hafidz dan Maikel langsung bangkit dan mendekati pak Anton.
"Ada apa, kenapa kamu teriak-teriak, ada apa dengan anaknya Viera, dia baik-baik saja bukan?" ikut khawatir Karan yang merasa ada sesuatu yang telah terjadi.
"Ada sesuatu yang aneh padanya, ayo ikut dengan ku" ajak pak Anton.
Karan, Maikel dan juga ustadz Hafidz langsung bergegas mengikuti pak Anton ke kamar.
"Apanya yang aneh, katakan apa yang menurut mu aneh dari Alica" heran Karan yang berjalan mendekati box bayi.
"Lihatlah, mata Alica berwana biru, matanya Viera kan coklat, kenapa dia matanya berwarna biru" pak Anton merasa aneh dengan kejadian ini.
"Iya juga, kenapa matanya bisa berwarna biru, sementara mata ibunya coklat" sahut Maikel yang juga merasakan keanehan yang sama.
"Itu karena dia menuruni ayahnya" jawab ustadz Hafidz.
"Ayahnya?" kaget mereka semua kompak.
"Benar, matanya sama dengan mata ayahnya, mata biru itu turunan dari ayahnya" jelas ustadz Hafidz.
"Pantesan aja matanya beda sama kita-kita" tak heran lagi Karan.
"Tunggu-tunggu kenapa kamu bisa tau kalau ayah Alica matanya berwarna biru?" penasaran pak Anton.
"Saya bisa melihatnya, dia ada di sini juga bersama kita, dia terus menjaga anaknya" jawab ustadz Hafidz.
"Oh pantesan aja kamu tau tentangnya" ujar Maikel.
"Lihatlah wajah Alica adalah campuran dari Viera dan suami gaibnya, tapi matanya ikut ayahnya, dia akan menjadi gadis cantik di masa depan" prediksi ustadz Hafidz.
"Itu pasti, dia akan menjadi gadis yang sangat cantik, aku akan merawatnya dengan penuh kasih sayang, sekarang kalian keluar dari sini, biarkan dia istirahat" usir pak Anton.
"Kau menyebalkan sekali, tadi teriak-teriak minta kami kemari, tapi sekarang malah ngusir kami" komplain Karan.
"Itu kan tadi, sekarang beda, sana kalian keluar, jangan ganggu putri ku" usir pak Anton dengan membawa mereka keluar dari kamarnya.
Langkah mereka tiba-tiba terhenti, Alica mengeluarkan suara khas bayi yang tengah tertawa, mereka semua merasa aneh mengapa bayi mungil itu tertawa dan tersenyum.
Mereka kembali mendekati box bayi dan menatap secara langsung bagaimana Alica tersenyum dan tertawa untuk pertama kalinya.
"Kenapa dia tertawa, siapa yang sudah membuatnya tertawa" heran Karan karena tidak ada satupun orang di dekatnya yang dia lihat.
"Ayahnya, dia yang membuat Alica tertawa" jawab ustadz Hafidz.
"Semoga ayahnya bisa menjaga Alica dengan baik meskipun tidak ada Viera di sini" harapan Maikel.
"Tentu saja, dia pasti akan menjaganya dengan baik, jelas-jelas Alica itu adalah anaknya, tak mungkin dia menelantarkan anaknya" sahut Karan.
"Aku juga akan jaga dia, aku akan merawatnya sampai dia tumbuh besar" janji pak Anton tersenyum menatap wajah Alica yang menggemaskan.
Mereka semua tersenyum melihat Alica yang tersenyum, wajah bayi mungil itu di penuhi tawa dan semoga saja dia tak akan berhenti tertawa sampai dia dewasa.
__ADS_1