Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Bab 56 ( Tes DNA )


__ADS_3

Mama Neti merasa malu kepada Aisyah karena Aisyah masih saja bersikap baik, meskipun Mama Neti selalu berperilaku buruk kepada Aisyah, sampai akhirnya Mama Neti memutuskan untuk menyayangi Aisyah dengan tulus.


"Makasih banyak ya Nak, Aisyah sudah bersedia merawat Ibu, padahal selama ini Ibu selalu bersikap tidak baik kepada Aisyah."


"Bu, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, karena manusia adalah tempatnya khilaf dan dosa, dan Ibu tidak perlu mengucapkan terimakasih kepada Aisyah, bukankah Ibu sudah menganggap Aisyah sebagai Anak kandung Ibu sendiri? dan sudah menjadi kewajiban seorang Anak untuk berbakti kepada orangtuanya," ujar Aisyah dengan mengelap tubuh Mama Neti.


Pak Burhan sebenarnya sudah menyuruh Perawat untuk merawat Mama Neti, tapi Aisyah bersikeras kalau Aisyah sendiri yang akan merawatnya, sampai akhirnya Pak Burhan dan Aisyah bergantian menjaga Mama Neti.


"Nak, sebaiknya Aisyah jangan terlalu lama di Rumah Sakit, kasihan Nala kalau Aisyah terus berada di sini."


"Aisyah sudah menyetok Asi di kulkas Bu, Nala juga Alhamdulillah tidak pernah rewel, jadi Bi Minah gak kerepotan, biar nanti Aisyah pulang setelah Ayah datang ke sini," ujar Aisyah, kemudian membantu Mama Neti memakai pakaian.


Setelah selesai memakaikan pakaian pada Mama Neti, Aisyah menyuapi Mama Neti dengan telaten.


Apa seperti ini rasanya mempunyai seorang Anak yang menyayangi orangtuanya? seandainya Aisyah adalah Putri kandungku, aku pasti akan sangat bahagia, ucap Mama Neti dalam hati.


Aisyah dan Mama Neti semakin dekat, dan mereka saling menyayangi dengan tulus.


Pak Burhan yang baru datang ke Rumah Sakit untuk bergantian menjaga Mama Neti, begitu bahagia melihat kedekatan Mama Neti dan Aisyah, karena entah kenapa Pak Burhan sangat yakin kalau Aisyah adalah Anak kandungnya.


Apa sebaiknya aku melakukan tes DNA kepada Aisyah, supaya aku bisa mengakui Aisyah sebagai Anak kandungku? tapi bagaimana kalau nanti ingatan Aisyah kembali, Aisyah pasti merasa kecewa kepada aku dan Neti yang sudah meninggalkannya, ucap Pak Burhan dalam hati.


"Lagi pada ngobrolin apa sih, kelihatannya seru sekali," ujar Pak Burhan yang memutuskan untuk masuk ke dalam kamar perawatan Mama Neti.


"Kami lagi ngobrolin masa muda Ayah sama Ibu dulu. Katanya Ayah cinta pertamanya Ibu ya," ujar Aisyah dengan tersenyum, kemudian Aisyah memegang kepalanya yang tiba-tiba merasa sakit, karena sekilas Aisyah mengingat kebersamaannya dengan Raihan, sampai akhirnya Aisyah menyebutkan satu nama.


"Kak Raihan," ucap Aisyah.


Bu Neti dan Pak Burhan merasa terkejut karena Aisyah menyebut nama Raihan, sehingga mereka mempunyai pemikiran yang sama dan semakin yakin kalau Aisyah adalah Anak mereka.


Sepertinya benar kalau Aisyah adalah Anak kandungku, dan dia mengingat nama Raihan, yaitu Anak Mas Herdi yang aku culik, ucap Mama Neti dalam hati.

__ADS_1


"Aisyah kenapa? apa Aisyah mengingat sesuatu?" tanya Pak Burhan.


"Kepala Aisyah sakit Yah, dan Aisyah tiba-tiba mengingat nama Kak Raihan, apa mungkin kalau Kak Raihan adalah Nama Kakak atau Suami Aisyah?"


Mama Neti dan Pak Burhan saling berpandangan, mereka bahagia sekaligus khawatir seandainya Aisyah adalah Anak mereka.


"Aisyah jangan terlalu berpikir keras ya, sekarang sebaiknya Aisyah pulang dulu, tadi Ayah sudah berpesan sama Supir supaya mengantar Aisyah pulang. Apa Aisyah mau Ayah anterin sampai tempat parkir?" tanya Pak Burhan.


"Tidak perlu Yah, Aisyah baik-baik saja, lagian kasihan Ibu kalau ditinggal sendirian," ujar Aisyah kemudian memeluk tubuh kedua orangtuanya.


Bu Neti mengelus lembut rambut Aisyah, dan Bu Neti sengaja mengambil sampel rambut Aisyah supaya mereka bisa melakukan tes DNA.


"Hati-hati ya Nak, nanti kalau sudah sampai rumah Aisyah kasih kabar," ujar Bu Neti.


"Kalau begitu Aisyah pulang dulu ya Bu, Yah," ucap Aisyah dengan mencium punggung Mama Neti dan Pak Burhan, kemudian mengucap Salam sebelum ke luar dari kamar perawatan Mama Neti.


Setelah Aisyah pulang, Mama Neti memberikan sampel rambut Aisyah kepada Pak Burhan.


"Kenapa tidak dengan Mama saja?" tanya Pak Burhan.


"Kalau Mama dan Aisyah cocok, apa Papa akan yakin kalau Aisyah adalah Anak kita bukan Anak Mama dari Imron? jadi lebih baik Papa yang melakukan tes DNA, jika hasilnya Aisyah dan Papa cocok, berarti Aisyah adalah Anak Mama."


"Ma, sebenarnya Papa bahagia sekaligus takut jika kenyataannya Aisyah adalah Anak kandung kita."


"Mama juga sama Pa, makanya kita harus merahasiakan dulu semuanya dari Aisyah, yang penting kita bisa memberikan kasih sayang kepada Aisyah dan Cucu kita, karena Mama takut kalau Aisyah akan membenci kita jika sampai ingatan Aisyah kembali pulih."


"Ya sudah kalau begitu Papa ke Laboratorium dulu untuk mengantarkan sampel rambut kami."


Pak Burhan bergegas menuju laboratorium untuk meminta petugas Lab supaya melakukan tes DNA, dan Pak Burhan meminta yang hasilnya paling cepat.


"Tolong tes nya dilakukan secepatnya, dan saya akan membayar berapa pun biaya nya," ujar Pak Burhan.

__ADS_1


"Baik Pak, kami akan melakukan tes secepatnya, semoga hasilnya bisa keluar dalam hitungan jam," ujar Petugas Laboratorium.


......................


Sepanjang perjalanan menuju kediaman Pak Burhan, Aisyah terus saja melamun memikirkan bayangan Raihan yang sempat muncul dalam ingatannya.


"Siapa sebenarnya Kak Raihan, kenapa jantungku berdetak kencang ketika mengingat namanya," gumam Aisyah.


"Non Aisyah, Apa Nona baik-baik saja?" tanya Pak Supir yang melihat Aisyah terus memegang kepalanya yang selalu terasa sakit apabila mencoba mengingat wajah Raihan.


"Saya tidak apa-apa Pak, saya hanya sedikit pusing saja," jawab Aisyah dengan tersenyum.


......................


Besok Nathan akan merayakan Ulang tahunnya yang Pertama, dan Raihan semakin sedih, karena sudah empat bulan lamanya Aisyah dan Nala masih belum juga ditemukan.


"Aisyah sayang, kamu dimana? besok adalah hari ulang tahun Nathan dan Nala yang ke-1, tapi kita tidak bisa merayakan nya bersama. Kasihan Nala jika Ulang tahunnya tidak dirayakan. Aisyah, Nala, Ayah kangen sekali sama kalian," gumam Raihan dengan menitikkan airmata.


Raihan dan Papa Herdi sudah beberapa kali mencari Raihan ke Desa Nelayan, bahkan mereka sempat mencari ke rumah lama Raihan yang terbakar, dan saat ini rumah tersebut Papa Herdi bangun menjadi sebuah Masjid yang diberikan nama Aisyah-Raihan.


Semua orang yang dulu sudah menghina serta menghakimi Aisyah dan Raihan merasa malu karena kenyataannya kalau Raihan dan Aisyah bukanlah Adik Kakak kandung, dan mereka semua meminta maaf kepada Raihan ketika Raihan meresmikan Mesjid yang Papa Herdi bangun.


Selama empat bulan ini Raihan masih belum mempunyai semangat hidup, sehingga membuat Papa Herdi dan Nenek Rose selalu merasa prihatin melihat kondisi Raihan, apalagi Raihan jarang sekali berbicara dengan siapa pun juga.


"Nak, apa Raihan sudah makan?" tanya Papa Herdi dengan menghampiri Raihan yang saat ini sedang duduk di depan jendela dengan melihat ke arah luar jendela.


"Raihan tidak ingin apa pun Yah, Raihan hanya ingin Aisyah dan Nala kembali," jawab Raihan.


"Raihan harus semangat, Aisyah pasti sedih jika melihat Raihan terus seperti ini. Apalagi sekarang tubuh Raihan sangat kurus."


"Semangat hidup Raihan adalah Aisyah dan kedua Anak Raihan, jika mereka tidak ada, buat apa Raihan hidup di dunia ini."

__ADS_1


Aku harus bagaimana lagi? setiap Raihan disuruh makan, Raihan selalu menjawab dengan perkataan yang sama, batin Papa Herdi yang selalu merasa bingung menghadapi Raihan yang semakin hari semakin merindukan Aisyah dan Nala.


__ADS_2