Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Bab 54 ( Separuh jiwaku hilang )


__ADS_3

Aisyah merasa tidak enak karena Pak Burhan dan Mama Neti jadi bertengkar karena dirinya.


"Aku jadi tidak enak karena kedatanganku, Ayah dan Ibu jadi bertengkar. Apa aku pergi saja dari rumah ini? tapi kalau aku pergi, aku harus tinggal dimana? apalagi aku baru saja datang ke Kalimantan. Sebaiknya nanti aku meminta maaf saja sama Ibu karena telah membuat beliau salah paham," gumam Aisyah.


Aisyah yang merasa capek pun ikut tertidur dengan Nala. Akan tetapi, baru juga Aisyah memejamkan matanya sebentar saja, Mama Neti sudah membangunkan Aisyah.


"Heh bangun Putri tidur, enak sekali kamu kerjaannya cuma tiduran. Di Dunia ini gak ada yang gratis kalau kamu mau makan harus kerja dulu," ujar Bu Neti dengan menggoyangkan tubuh Aisyah.


"Maaf Bu, Aisyah sudah ketiduran."


"Udah pake nama Anakku, lagak nya kayak Tuan Putri. Jangan bermimpi aku akan menerima kamu sebagai Anakku, karena aku tidak akan sudi menerima orang asing dalam kehidupanku. Ingat ya Upik Abu, di sini kamu hanya Pembantu, jadi jangan berlagak seperti Tuan Putri, ngerti kamu?" bentak Mama Neti.


"Iya Bu, Aisyah ngerti. Maaf jika kedatangan Aisyah sudah mengganggu ketenangan Ibu serta membuat Ibu sudah salah paham terhadap Ayah," ucap Aisyah.


"Bagus deh kalau kamu mengerti, tapi di belakang Suamiku, kamu harus memanggil Aku Nyonya, dan kamu harus memanggil Suamiku dengan sebutan Tuan. Enak aja panggil Ayah, Anak kandungku sendiri belum pernah manggil Ayah kandungnya dengan sebutan Ayah," gerutu Mama Neti, kemudian ke luar dari kamar Aisyah.


Setelah Mama Neti ke luar dari kamarnya, Aisyah langsung menangis dengan memeluk tubuh Nala.


"Aku harus kuat demi Nala, tidak apa-apa meskipun di sini aku hanya di anggap sebagai seorang Pembantu, yang penting aku dan Nala masih bisa mendapatkan makanan. Semoga aku segera mengingat semuanya," gumam Aisyah.


......................


Kondisi Raihan saat ini sudah lebih baik, dan hari ini Raihan sudah diperbolehkan pulang. Meskipun fisik Raihan membaik, tidak dengan psikisnya, karena Raihan merasa separuh jiwanya telah pergi.


Separuh jiwaku telah hilang bersama Aisyah dan Nala yang saat ini masih belum ditemukan, aku harus mencari mereka kemana? batin Raihan kini bertanya-tanya.


"Nak, sebaiknya kita pulang sekarang ya," ajak Papa Herdi, dan Raihan hanya menganggukan kepalanya saja sebagai jawaban.


Meskipun kondisi kesehatan Raihan sudah berangsur-angsur pulih, tapi sepertinya akan sulit untuk menyembuhkan mental nya, apalagi sekarang Raihan jarang sekali berbicara, ucap Papa Herdi dalam hati.

__ADS_1


Raihan saat ini digandeng oleh Papa Herdi untuk ke luar dari kamar perawatannya. Ketika Papa Herdi membuka pintu, Gisel tiba-tiba datang dan langsung memeluk Raihan.


Raihan yang tidak mau dipeluk oleh Gisel pun langsung mendorong kuat tubuh Gisel hingga hampir terbentur tembok, untung saja ada Asisten Evan yang dengan sigap menangkap tubuhnya.


"Jangan pernah berani menyentuhku lagi, karena hanya Aisyah yang boleh menyentuhku !!" tegas Raihan, kemudian berjalan mendahului Papa Herdi.


"Gisel, apa-apaan kamu? kamu tau sendiri kalau saat ini Raihan masih terpukul dengan hilangnya Aisyah dan Nala, jadi kamu jangan berbuat macam-macam," ujar Papa Herdi, kemudian bergegas menyusul Raihan.


Gisel dan Evan saat ini saling menatap, dan Gisel sebenarnya sudah jatuh cinta pada sosok Evan, tapi Mama Rita menyuruhnya untuk terus mendekati Raihan, dan mau tidak mau Gisel harus menuruti semua kemauan Ibunya.


"Gisel, kamu baik-baik saja kan?" tanya Evan yang merasa cemas karena Gisel masih diam mematung.


Cup


Evan tiba-tiba mengecup sekilas bibir Gisel, sehingga menyadarkan Gisel dari lamunannya.


"Apa yang kamu lakukan Evan?" teriak Gisel dengan memukul dada Evan.


"Kamu sudah mengambil ciuman pertamaku Evan, kamu harus bertanggung jawab," ujar Gisel yang tidak terima dengan perlakuan Evan.


"Baiklah kalau kamu meminta pertanggung jawaban dariku, aku akan segera menikahimu," ucap Evan dengan tersenyum, dan melangkahkan kaki meninggalkan Gisel yang masih diam mematung.


Kata-kata itu yang selalu aku tunggu kamu ucapkan, tapi aku takut kalau Mama akan berbuat nekad jika aku menikah dengan lelaki lain selain Raihan, ucap Gisel dalam hati.


Evan yang melihat Gisel tidak kunjung melangkahkan kaki nya akhirnya kembali menghampiri Gisel.


"Sampai kapan kamu mau diam di sini?" tanya Evan kemudian menggandeng Gisel untuk berjalan, dan Gisel hanya menurut saja tanpa menolak perlakuan Evan.


Gisel, aku tau kalau kamu memiliki perasaan yang sama denganku, tapi ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, dan aku harus segera menyelidikinya supaya tidak ada halangan untuk kita bisa bersama, ucap Evan dalam hati.

__ADS_1


......................


Raihan dan Papa Herdi tiba lebih dulu di kediaman Sanjaya, karena saat ini Evan mengajak Gisel untuk makan siang di luar sebelum pulang ke kediaman Sanjaya.


"Alhamdulillah Cucu Nenek sudah pulang," ucap Nenek Rose, dan Raihan hanya tersenyum mendengar perkataan Neneknya tersebut.


Raihan kini menghampiri Nathan yang terlihat bermain dalam kamar bermain yang khusus dibuatkan untuk Anak Raihan tersebut.


Nathan mendapatkan semuanya di kediaman Sanjaya, tapi bagaimana dengan nasib Nala, bahkan aku tidak tau Aisyah dan Nala mendapatkan makanan atau tidak, ucap Raihan dalam hati dengan menitikkan airmata.


Papa Herdi yang melihat Raihan kembali menangis akhirnya mengajak Raihan menuju kamarnya.


"Sekarang sebaiknya Raihan istirahat dulu supaya cepat pulih, kalau Raihan sudah pulih, kita cari Aisyah dan Nala ke Cirebon," ujar Papa Herdi, dan Raihan hanya menganggukan kepalanya saja sebagai jawaban.


Papa Herdi memberi Raihan obat yang diberikan oleh Dokter, sampai akhirnya Raihan tertidur karena pengaruh obat yang dia minum.


"Herdi, kenapa Raihan jadi seperti itu?" tanya Nenek Rose yang menghampiri Papa Herdi di kamar Raihan.


"Sebaiknya sekarang kita membicarakan semuanya di luar Ma, supaya tidak mengganggu Raihan," jawab Papa Herdi dengan menggandeng Nenek Rose untuk ke luar dari kamar Raihan.


Papa Herdi mengajak Nenek Rose untuk duduk di ruang keluarga, kemudian beliau beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum angkat suara.


"Dokter bilang kalau kondisi mental Raihan akan sulit untuk sembuh, karena obat satu-satunya yang bisa menyembuhkan Raihan hanyalah Aisyah dan Nala. Semangat hidup Raihan sudah hilang, dan Herdi tidak tau harus berbuat apa lagi untuk menyembuhkan Raihan selain menemukan keberadaan Aisyah dan Nala yang hilang tanpa jejak."


"Kasihan Raihan, cintanya untuk Aisyah begitu besar, sehingga Raihan merasa jika separuh jiwanya telah pergi bersama Aisyah."


"Iya Ma, bahkan tadi Raihan mendorong Gisel ketika Gisel tiba-tiba memeluk tubuh Raihan. Untung saja ada Evan yang segera menangkap tubuh Gisel supaya tidak terbentur tembok," ujar Papa Herdi.


"Kenapa Evan pake nolongin si Nenek sihir segala sih, padahal biarin aja tuh Anak terbentur tembok, siapa tau dengan begitu dia akan berubah menjadi lebih baik lagi," ujar Nenek Rose.

__ADS_1


"Ma, walau bagaimanapun juga, Gisel adalah Anak angkat Herdi, kalau sampai terjadi sesuatu sama Gisel, kita juga yang repot."


"Lagian salah sendiri, jadi perempuan kok keganjenan. Sebaiknya kita segera menikahkan Gisel dengan Evan, karena Mama tidak mau kalau Gisel sampai mempunyai niat untuk mendekati Raihan."


__ADS_2