Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Jalanan aneh


__ADS_3

Alica menatapi punggung ibu-ibu yang menjauhinya dan mendekati para ibu-ibu lainnya.


Setelah tak ada lagi orang di dekatnya, senyuman manis itu berganti menjadi sinis.


"Dia kira hanya dirinya aja yang bisa nipu, akan aku perlihatkan kalau aku juga bisa menipu mu" ucap Alica mengeluarkan ekspresi wajah yang dingin, sambil tersenyum sinis.


Kebohongan di balas kebohongan akan Alica lakukan. Ia sudah terlanjur tercebur ke dalam kegelapan, maka ia harus menambah suasana makin menjadi gelap biar impas.


"Alica" panggilan itu seketika membuat ekspresi wajah Alica kembali normal, tak menakutkan seperti tadi.


"Kamu ngapain di sini sendirian, di mana Anna, kenapa kamu gak bareng sama dia?" Tanya Nofan tak mendapati keberadaan Anna di dekat Alica.


"Anna ada di dalam sama keluarganya, aku sengaja ada di sini, karena di dalam panas" jawab Alica.


Nofan membalas dengan kata 'O'. Nofan telah kembali dari pemakaman umum bersama warga-warga sekitar.


Setelah pemakaman selesai, satu persatu warga-warga tampak meninggalkan rumah Anna dan pulang ke rumah masing-masing.


Kini di halaman rumah Anna sepi, hanya Nofan dan Alica yang berada di sana.


Alica makin paham mana yang benar dan mana yang salah setelah usainya pemakaman Bu Lasmi.


Warga-warga sekitar bersih, tak ada di area halaman rumah Anna sedikitpun, mereka semua terlihat tak ingin lama-lama berada di rumah Anna walaupun hari masih terang.


"Kok semua orang pada pulang ya, biasanya kalau di desa kita kan masih bantu-bantu, gak langsung pulang kayak gini. Oke kalau cowoknya pulang no problem, tapi ini semuanya gak terkecuali" makin janggal Nofan dengan pemandangan yang di suguhkan.


"Gak tau, mungkin adat mereka seperti ini. Ayo kita dekati Anna dan keluarganya, kita harus pamit sama mereka, kita juga harus pulang bukan" timpal Alica.

__ADS_1


Nofan mengerutkan kening."Kok tiba-tiba Alica ngajak pulang, perasaan aku gak ngajakin dia pulang. Ada apa ini, kenapa dia tiba-tiba mau pulang" batin Nofan terheran-heran.


Biasanya Alica begitu betah tinggal di rumah Anna meskipun aura rumah Anna gelap dan banyak kesan mistis. Tapi kali ini Alica malah ingin cepat-cepat meninggalkan rumah itu hingga membuat Nofan merasa ada yang aneh.


"Ayo kita ke sana, liat mereka udah keluar, ayo kita dekati mereka, sekalian kita pamit sama mereka" ajak Alica.


Nofan tak ada pilihan selain mengikuti Alica. Mereka menghampiri keluarga Anna yang baru keluar dari rumah.


"Anna" sapa Alica, senyuman manis terukir indah di bibirnya.


"Alica kamu dari mana aja, kenapa aku cariin kamu malah gak ada, ternyata kamu ada di sini" ujar Anna.


"Aku ada bersama para warga lainnya sambil nunggu Nofan kembali. Oh ya Anna dan semuanya aku pamit pulang dulu, takut di cariin ayah" pamit Alica.


"Kenapa buru-buru sekali, aku kira kamu akan pulang nanti, tapi sayangnya kamu malah ingin pulang" kecewa Anna seperti tak rela melepas kepergian Alica.


"Wa'alaikum salam" jawab mereka.


Nofan mengendarai motornya dan membawa Alica pergi meninggalkan kampung Anna. Keluarga Anna hanya menatap kepergian mereka.


"Ca, kok tiba-tiba kamu ngajak pulang, ada apa emang?" Nofan yang tak tahan menyembunyikan sesuatu yang mengganggu pikirannya akhirnya berani bertanya langsung pada Alica.


"Udah kamu diam aja, nanti kalau udah sampai di rumah aku akan ceritain semuanya, yang jelas sekarang cepat bawa aku pulang dari sini" suruh Alica ingin cepat-cepat sampai di rumah.


Nofan tak banyak bicara dan terus melajukan motor dengan kecepatan normal, hatinya merasa ada sesuatu yang Alica sembunyikan tapi terdengar bahwa Alica tak ingin mengatakannya sekarang.


Kecurigaan Nofan makin mencuat, tapi bibirnya tetap saja bungkam serta pandangannya terus lurus ke depan.

__ADS_1


Setelah keluar dari gapura desa Alica merasakan surga di muka bumi ini, sejak masuk ke dalam kampung Anna ia merasakan hawa tak nyaman dan itu tak bisa ia sembunyikan. Tak hanya Alica, Nofan juga dapat merasakan hal yang sama.


Alica memperhatikan jalanan yang aneh dan asing, jalanan yang kini ia lalui tak sama dengan jalanan biasanya ia lewati.


"Fan kamu mau bawa aku kemana, kenapa lewat jalanan ini, bukannya tadi kita gak lewat jalan ini, tapi kenapa kamu malah ambil jalanan ini" ujar Alica merasa aneh dan mulai tak tenang.


Nofan menyusuri sekitar."Iya ya, kok jalanan yang kita lewati pas berangkat berbeda dengan jalanan yang kita lewati saat pulang. Perasaan aku udah gak berbelok-belok loh, kok bisa berubah, aneh"


Mereka berdua sadar bahwa jalanan yang mereka lalui tak sama dengan jalanan yang mereka lewati.


"Gimana ini fan, kita gak tau kita ada di mana" gelisah Alica celingukan ke sana kemari mencari bantuan tapi tak satupun manusia tampak di matanya.


"Malah gak ada orang lagi, kita mau nanya sama siapa kalau kayak gini" bingung Alica cemas di tengah jalan.


"Kamu tenang aja ca, kita pasti bisa keluar dari jalanan ini, kamu gak perlu khawatir" Nofan mendinginkan suasana yang mulai memanas.


Resah dan gelisah tak dapat di sembunyikan lagi meski ada beribu-ribu orang yang telah menenangkan dan memberi semangat.


Perasaan Alica makin tak enak, tempat yang mereka lintasi makin lama makin aneh dan menyeramkan.


Ragam pohon yang tumbuh di kanan dan kiri berbentuk aneh dan tak wajar. Alica begidik melihat pohon-pohon yang seram melebihi hantu.


"Fan, lebih baik kita kembali lagi ke kampung Anna, kita minta tolong sama Anna buat anterin kita pulang, dari pada kita terus jalan dan makin nyasar kayak gini" usul Alica.


"Enggak, aku gak mau ke sana lagi, gerah aku berada di rumah mereka, aku gak akan sudi lagi buat menginjakkan kaki di sana. Cukup hari ini aja, lain kali aku gak mau ke sana apalagi minta tolong sama mereka" tolak Nofan cepat.


"Tapi fan kalau kita gak ke sana kita akan makin ke sasar, aku gak mau kita terjebak di sini selamanya. Kamu jangan egois napa, ayo cepat kita ke sana lagi yang penting kita bisa kembali pulang ke rumah lagi. Aku takut ada di sini" bujuk Alica bergetar takut menatap satu persatu pohon-pohon yang bentuknya seram.

__ADS_1


Nofan terpaksa memutar arah dan berbalik menuju rumah Anna kembali meski hati dan jiwanya sama-sama tak mau ke sana lagi.


__ADS_2