
"Maaf Alica, aku sungguh minta maaf, aku tau aku salah" ucap Rea merasa bersalah.
"Rea kesalahan mu itu begitu fatal, maaf tidak akan bisa mengembalikan semuanya, kamu itu benar-benar egois. Sungguh baru kali ini aku bertemu dengan orang tidak bisa berterima kasih sama sekali!"
"Cukup Alica, sudah cukup kau bicara. Kau jangan terus menghakimi ku!" Perintah Rea mulai terpancing emosi.
Wajah Rea yang tadinya tertunduk merasa bersalah terangkat dengan wajah sangar.
Alica tersentak kaget, Rea yang ia lihat sekarang benar-benar mulai menunjukkan sifat aslinya.
"Aku gak akan berhenti, kau itu benar-benar munafik, kemarin kau sudah berjanji pada ku tidak akan mengganggu ku dan teman-teman ku, namun mengapa kau tetap aja melakukannya, kau benar-benar munafik!"
"Kau memang tidak bisa di percaya Rea!"
Alica mengeluarkan semua unek-uneknya, gadis pucat di depannya tidak tau diri dan ingin menang sendiri.
"Alica berhenti, sudah ku bilang cukup ya cukup, kenapa kau terus mengoceh, mengapa seakan-akan hanya aku di sini yang paling salah" muak Rea sebab terus di hakimi.
Amarah Rea keluar, gadis pucat itu mencoba membela diri.
"Jelas-jelas di sini memang kau yang salah, siapa lagi kalau bukan kau"
"Rea kau itu benar-benar gak tau malu, Nofan udah menolong mu, tapi apa balasan mu. Sumpah kesalahan mu itu benar-benar gak bisa di ampuni!"
"Rea seharusnya kau sadar kesalahan mu di mana, tapi apa ini!"
"Kau malah tidak merasa bersalah sedikitpun, kau juga ingin membela diri mu yang jelas-jelas salah. Benar-benar kau tidak punya otak, di mana akal mu, mengapa tidak kau gunakan!"
Teriakan penuh amarah Alica keluarkan, Alica tak ingin kalah dari gadis bernama Rea yang dengan tega jadi musuh dalam selimut.
Mata Rea membulat sempurna, matanya merah tanda kalau dia marah besar. Tak hanya mata tangan Rea mengepal kuat, otot-ototnya terlihat jelas.
"Kau benar-benar banyak omong, tidak akan aku biarkan kau selamat juga Alica!" Teriak Rea di penuhi dendam yang tiada tanding.
Alica melototkan mata, ia mencoba bangun, gadis pucat di depannya begitu berbahaya.
Rea mendekati Alica dengan tangan yang siap untuk mencekik gadis yang wajahnya mulai memucat.
Kepala Alica menggeleng ketika tangan Rea semakin mendekati leher.
__ADS_1
"Jangan, jangan lakuin itu, Rea jangan lakuin itu aaaaahhhhh....."
Dengan keras Alica berteriak sambil memejamkan mata.
Mata Alica terbuka kala tak merasakan apapun, ia dengan terkejut menangkap seorang pangeran yang rela pasang badan untuk menolongnya.
"Papa" sebut Alica di iringi senyum penuh kebahagian.
"Tunggu di situ, akan papa beresin sampah masyarakat ini" perintah pangeran William.
Alica mengangguk, ia diam di tempat, ada ayah yang akan membereskan Rea yang telah tega mengkhianatinya.
Tajamnya tatapan pangeran William jatuh pada Rea."Beraninya kau ingin mengganggu putri ku, apa kau belum tau kalau gadis yang hendak kau celakai itu putri kerajaan hah!"
Bentakan keras pangeran William menggelegar hingga seisi tempat.
Jangankan sosok itu Alica juga tersentak kaget, ketika marah pangeran William tak ada duanya.
"J-jadi ini ayah mu?" Tanya sosok itu tercekat.
Alica mengangguk, pangeran William memang ayahnya walau berbeda spesies, tapi tetap dia ayahnya.
Rea ketar-ketir, orang yang berdiri di depannya bukan orang sembarangan, mana mungkin Rea dapat menghadapinya.
Dalam sekejap Rea menghilang dari hadapan Alica dan jaga pangeran Wiliam.
"Sialan, kenapa dia pergi, dasar pengecut!" Gerutu pangeran William.
"Udahlah pa, biarkan aja, dia pasti takut sama papa, aku yakin dia gak akan ganggu aku lagi" timpal Alica.
Pangeran William mengangguk, Rea sudah pergi, putrinya tidak akan kenapa-napa lagi.
"Kalau ada apa-apa atau kamu butuh bantuan panggil papa saja, papa pasti akan nolongin kamu" perintah pangeran William.
Alica mengangguk cepat, ia akan melakukan itu, jika dalam keadaan urgent akan ia panggil papanya.
"Papa pergi dulu, kamu jaga diri baik-baik"
"Iya, papa pergilah, aku akan baik-baik aja"
__ADS_1
Pangeran William lantas pergi meninggalkan Alica sendirian.
Sesaat setelah pangeran William pergi, suasana hutan senyap, benar-benar sepi, kelebat mahkluk halus pun menyingkir, bahkan tak ada satupun makhluk yang berani menampakkan batang hidupnya di depan Alica.
Alica menghembuskan nafas kasar."Aku harus kemana ini, kenapa Nofan jahat banget, kenapa dia ninggalin aku sendirian di sini"
Amarah yang bersarang di dada Alica keluarkan melalui teriakkan panjang.
Alica membenamkan wajahnya di lutut, bingung harus kemana lagi lantaran ia tak bisa kembali ke tenda.
Tiba-tiba Alica merasakan ada seseorang yang berdiri di depannya, ia lantas mengangkat wajah.
"Kenapa kamu di sini, kenapa gak ikut acara sekolah?" Tanya seorang pemuda, dengan gaya rambut belah tengah, bibir tipis, di lengkapi hidung mancung.
"Kamu, kamu bukannya orang yang keluar bareng aku dari desa gaib itu, kenapa kamu bisa ada di sini!"
Alica terkejut, pemuda yang berdiri di depannya pernah ia lihat, ia masih ingat betul siapa pemuda tersebut.
Pemuda yang Alica tunjuk tersenyum tak menyangka kalau Alica masih ingat padanya.
"Iya ini aku, aku memang orang yang pernah kamu tolongin" sahut pemuda bernama Aldi tersebut.
"Kok kamu ada di sini, apa kamu juga sekolah di sini?" Kaget Alica.
Menurut data tak ada murid baru yang masuk ke sekolah selama kurun waktu 1 bulan terakhir ini.
Namun mengapa pemuda bernama Aldi bisa berada di hutan yang sama dengan Alica.
"Aku memang masuk ke sekolah mu 1 hari sebelum aku di bawa ke desa gaib. Setelah aku keluar dari sana aku melanjutkan studi ku kembali dan ternyata malah ada camping yang mengharuskan semua orang kudu ikut"
"Sebenarnya aku ragu buat ikut, tapi mau gimana lagi. Aku murid baru yang datang ke sekolah namun karena di bawa ke desa gaib aku hiatus kurang lebih 2 bulanan"
"Owh gitu, pantesan aja aku gak pernah liat kamu di sekolah, ternyata sehari setelah kamu masuk ke sekolah ku kamu malah di culik dan di bawa ke desa gaib" Alica manggut-manggut mendengar perkerasan Aldi.
"Kamu kenapa di sini, sendirian lagi, kenapa gak ikut acara sekolah, mereka pada seru-seruan di sana loh, masa kamu malah milih ada di sini, gak ada orang loh di sini?" Heran Aldi.
"Sebenarnya aku mau ikut, tapi kaki aku sakit, kayaknya keseleo, aku gak bisa jalan, ya udah aku diam di sini" jelas Alica.
Kaki Alica tak memungkinkan untuk berjalan, hari ini ia hiatus mengikuti kegiatan yang di langsungkan di sekolah.
__ADS_1
Keadaan yang tidak memungkinkan membuatnya ketinggalan acara.
Aldi mengambil duduk di sebelah Alica."Kok bisa keseleo, kamu habis dari mana?"